
Cup
Filio membungkam mulut Asilla sehingga membuat Asilla tidak melanjutkan ceritanya. Seketika matanya melebar dengan tubuh menegang mendapat perlakuan dari Filio. Bagaimana tidak civman itu berubah menjadi lvmathan, hisaphan. Bahkan ia tidak menolak, dan membalas perlakuan Filio.
Hmmm
Merasa kehabisan oksigen keduanya menyudahi olah raga bhibir. Dengan segera Filio memalingkan wajahnya dan bahkan kini membalikan tubuh membelakangi Asilla.
Dahi Asilla mengerut melihat apa yang dilakukan Filio. Bukankah barusan tadi pria itu menikmati bhibirnya? tetapi kenapa secepat ini ia merubah sikapnya. Bahkan wajah Asilla bersemu merah tetapi untungnya tidak di lihat oleh Filio.
"Sayang ada apa?" tanya Asilla begitu polosnya sembari mengelus punggung kekar itu.
Filio tak bergeming bahkan wajahnya masam tetapi sayangnya wajah jelek itu tidak dilihat oleh Asilla.
"Ceritanya belum berakhir, akan aku lanjutkan tetapi------,"
"Stop!" Ujar Filio tanpa membalikan tubuhnya.
Asilla menyipitkan mata dengan bibir mengerucut sembari berpikir.
"Jangan pernah kamu sebut dia lagi,"
Mendengar itu membuat Asilla tersenyum, ia baru mengerti kenapa Filio ngambek. Ternyata pria itu cemburu dengan masa lalu dirinya yang barusan ia ceritakan.
Asilla menggeser tubuhnya semakin merapat, tidak segan ia melingkarkan tangan memeluk Filio dari arah samping dengan wajah disemayamkan di punggung kekar itu, sembari menghirup aroma maskulin.
Mendapat perlakuan tak terduga tentu saja membuat Filio membeku.
"Sayang," gumam Asilla dengan manja. Hal itu membuat Filio luruh dan tidak dapat menahan rasa merajuknya sehingga ia raih telapak tangan Asilla lalu menggenggam bahkan mengecupnya berkali-kali.
Asilla tersenyum karena ia berhasil meredakan kekesalan bayi besarnya.
Filio perlahan membalikan tubuhnya menghadap Asilla. Kini keduanya berhadapan begitu intens tanpa berkata-kata dengan saling memandang.
"Aku sangat mencintaimu dan hidupku tak ada artinya tanpa kehadiran dirimu. Kamu mengatakan itu kepada dia, sungguh dadaku sesak dan bahkan hati ini seperti di hantam ribuan kerikil," ujar Filio dengan mata memerah sembari menatap Asilla.
Mulut Asilla menganga dengan mata melebar mendengar keluh resah perasaan Filio.
"Dapat disimpulkan jika kamu tidak bisa melupakannya karena begitu besar rasa itu di hatimu," lirih Filio sembari mengedipkan mata, lidahnya keluh untuk mengatakan itu.
Asilla tersenyum hal itu membuat Filio mengeram karena ia pikir Asilla mengakuinya.
Asilla mengusap wajah cemberut itu dengan tatapan sendu.
"Sayang lihat aku," titah Asilla masih membelai halus pipi Filio. Asilla menghela nafas panjang. "Benar aku mencintainya dan bahkan tidak bisa hidup tanpa dirinya, tetapi itu du------,"
Mendengar pengakuan Asilla membuat tangan Asilla yang sedang mengusap wajahnya ditepis dan bahkan ia memalingkan wajahnya. Sungguh pengakuan itu membuatnya murka.
"Aku belum selesai berbicara," lirih Asilla. "Lihat aku," imbuhnya kembali dengan tangan meraih dagu Filio agar tetap menatap kepada dirinya.
Asilla menghela nafas panjang.
"Itu dulu dan hanya berlaku dulu," ungkap Asilla dengan mata berkaca-kaca tanpa melepaskan tatapannya dari kedua bola mata Filio. Asilla kembali mengusap wajah Filio dengan wajah mendung dan bahkan sepertinya akan datang hujan. "Dia adalah masa lalu dan kamu adalah masa depan dan akan selalu menjadi masa depan," lirih Asilla dengan mata berkaca-kaca.
Asilla menangkup wajah Filio.
"Apa kamu tidak percaya?" gumam Asilla dengan bibir bergetar, satu kali kedipan saja bulir bening itu akan bergulir tetapi dengan kuat tenaga ia menahannya dulu.
Filio terdiam tanpa menjawab.
"Aku mencintaimu dan hanya mencintaimu hiks hiks...." Akhirnya tangisan Asilla pecah.
Deg
__ADS_1
Filio terenyuh mendengar pengakuan Asilla. Sedangkan Asilla masih terisak tanpa melepaskan tangannya di wajah Filio.
Filio menyeka air mata yang sudah membanjiri wajah wanita yang sangat dicintainya.
"Apa kamu lupa? bukankah sudah aku katakan tidak ingin melihat kamu membuang air mata berharga ini?" desis Filio.
Hal itu semakin membuat Asilla terisak, bukannya berhenti. Filio menghela nafas panjang.
"Sayang," panggil Filio sembari menggelengkan kepala agar Asilla berhenti menangis.
Cup cup
Filio kecup kedua mata itu sembari menjhilatii sisa-sisa air mata yang mengenang. Lalu ia segera mendekap tubuh itu memeluknya erat masih dengan posisi berbaring.
"Aku percaya. Aku hanya cemburu terbawa perasaan, itu karena aku sangat mencintaimu sayang," ungkap Filio sembari berkali-kali mengecup pucuk kepala Asilla.
"Terima kasih sayang," gumam Asilla dengan wajah di benamkan ke dada kekar itu.
Seketika hening. Keduanya larut dengan perasaan mereka.
Filio melepaskan pelukannya, lalu meraih tubuh Asilla untuk duduk bersandar pada dipan. Ia meletakan kepala Asilla di dadanya dengan tangan melingkar.
"Apa kamu ingin rebahan?" tanya Filio.
Asilla mengangguk.
Filio merentangkan kedua kakinya lalu menuntun Asilla agar meletakan kepalanya di kedua pahanya. Tentu saja perlakuan romantis itu membuat Asilla bahagia.
Filio membelai kepala Asilla, merapikan helaian rambut yang menghalangi wajah yang sedikit sembap akibat drama menangis tadi.
"Kita akan segera mengelar resepsi yang telah tertunda," ujar Filio.
Perkataan Filio berhasil membuat Asilla menadah wajahnya ke atas sehingga pandangan keduanya bertemu.
Asilla tersenyum sembari menggelengkan kepala.
"Aku tidak membutuhkan itu sayang. Bagiku cinta tulus kamu sudah cukup," ungkap Asilla tidak membutuhkan hal lain.
"Aku akan melakukan itu, dan aku akan mengabulkan impian itu. Akan aku sulap kamu menjadi ratu satu hari," ujar Filio seakan mengerti impian seluruh wanita di muka bumi ini. "Maaf aku terlambat mewujudkan impian itu," imbuhnya dengan wajah sendu.
"Kamu belum terlambat sayang....Hmmm bukankah aku masih bernafas saat ini? jadi tidak ada kata-kata keterlambatan,"
Filio tersenyum tetapi di dalam hati ia sangat menyesali dengan apa yang pernah ia perlakukan terhadap wanita polos dan tak bersalah ini.
"Kamu memang wanita berhati mulia. Wajah serta hatimu begitu cantik," sanjung Filio.
Sanjungan tulus itu membuat hati Asilla berbunga-bunga. Ingin sekali ia bangkit sembari melompat girang tetapi ia tidak berani melakukan itu.
"Sayang haus," kata Asilla dengan manja.
Filio langsung beranjak bangkit menghampiri nakas.
"Sayang persediaan air minum habis. Tunggu sebentar biar aku ambil,"
"Aku ikut sayang," Asilla langsung beranjak turun dari tempat tidur.
"Mau aku gendong?" tawar Filio.
Kening Asilla mengerut.
"Aku bukan anak kecil,"
"Bagiku kamu adalah bayi besar yang wajib aku rawat,"
__ADS_1
Filio duduk di tepi kasur agar memudahkan Asilla naik ke punggungnya.
"Buruan sayang, bukankah kamu kehausan?" ujar Filio karena bayi besarnya hanya berdiri mematung.
"Apa kamu kuat? aku berat loh," kata Asilla tidak yakin.
Pertanyaan Asilla berhasil membuat Filio bangkit lalu menghadap kepadanya.
"Sekedar menggendong bagiku itu hal kecil," ujar Filio menyombongkan.
Filio tersenyum semakin merapat ke tubuh Asilla.
"Bahkan di ranjang aku kuat untuk melakukan beronde-ronde. Hmmm apa perlu di buktikan sekarang? kebetulan didalam sangkar telah terbangun," goda Filio sembari menunjuk benda keramat yang betul terbangun bersembunyi didalam sangkar.
"Stop!" Asilla langsung membungkam mulut mesum itu dengan kedua telapak tangannya.
Filio terkekeh sembari berusaha terlepas.
"Sangat mesum," cicit Asilla dengan wajah bersemu merah.
"Sayang kenapa wajahmu merah seperti kepiting rebus?" goda Filio padahal ia tau penyebab wajah bersemu merah itu. "Mesum pada istri sendiri tidak ada salahnya, kecuali kepada istri orang," goda Filio kembali dengan mengedipkan mata.
"Hah....Awas saja jika berani melakukan itu," cecar Asilla dengan mata melotot tidak rela jika hal itu terjadi.
"Hmmm jadilah seorang istri siap siaga kapan saja suami minta jatah siap," sungguh ini permainan baru bagi Filio untuk menggoda Asilla.
Jlep
Wajah Asilla semakin memerah sehingga membuatnya memalingkan muka.
"Jatah pulsa sayang," bisik Filio sembari terkekeh.
"Kamu,"
Buk buk
Asilla layangkan pukulan ringan pada dada kekar itu. Bukannya merasa sakit Filio malah terkekeh melihat wajah kesal sang istri.
Dengan segera Filio menarik tangan Asilla agar naik ke punggungnya. Dengan hati masih kesal Asilla menurut.
"Lets go sayang....."
Filio membawa Asilla keluar kamar menuju dapur. Asilla melingkarkan kedua tangannya dengan erat, dengan wajah sumringah.
"Abel sangat senang bila di gendong seperti ini sayang," seketika Filio mengingat putri paling manja serta cerewet.
Asilla tercengang karena melupakan kehadiran ketiga buah hati mereka.
"Sayang kita melupakan mereka. Ayo kita susul," gumam Asilla seakan rasa rindu kini menghinggapi dirinya.
"Tidak masalah, untuk saat ini kita memang harus melupakan mereka. Bukankah kita ingin mewujudkan permintaan mereka?" sungguh Filio candu untuk menggoda wanitanya ini.
Bibir Asilla mengerucut dengan pikiran aneh karena tidak mengerti dengan pikiran pria ini.
"Permintaan apa?" tanya Asilla dengan polos.
"Cetak Adik bayi!"
Awww....
...******...
__ADS_1