Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 58. Terkuak 1


__ADS_3

"Papa, Mama." Panggil triplets serempak dari kejauhan.


Filio maupun Asilla membalas dengan senyuman. Keduanya mendekat, kebetulan triplets sedang mengamati orang hutan.


"Sayang minum dulu," ujar Filio kepada triplets.


Melihat antusias Filio terhadap anak-anak tentu saja Asilla terharu.


"Terima kasih Papa," jawab mereka serempak.


"Mama lihatlah orang utan itu sedang mencari kutu. Kata Uncle mereka adalah suami istri," kata Moses dengan polosnya.


"Iya Mama. Istri orang utan sangat sayang kepada suaminya," timpal Isabella.


"Apa Mama pernah mencari kutu Papa seperti mereka?" tanya si sulung Gabriella.


Tentu saja pertanyaan Gabriella membuat Filio maupun Asilla saling mandang dengan raut wajah bingung.


"Mama," panggil Gabriella karena tidak ada jawaban dari sang Mama.


"Sayang Papa tidak ada kutu jadi buat apa Mama mencari kutu Papa," jawab Filio.


"Oh," triplets ber oh ria mendengar apa yang dikatakan Filio. Sedangkan Asilla merasa lega.


"Jika begitu kita sudahi. Kita akan ke museum kebetulan di sana mengadakan pameran lukisan," ujar Filio.


"Hore!" Sorak Gabriella dan Isabella karena kedua bocah cantik itu menyukai lukisan. Sedangkan Moses tidak begitu girang.


"Tunggu," seru Isabella sehingga mengurungkan niat kedua orang mereka.


Senyuman manis mengembang di bibir Filio maupun Asilla melihat raut wajah ceria dari Isabella.


"Papa, Mama coba lihat itu," tunjuk Isabella.


Kedua orang tua mereka serta Gabriella dan Moses mengikuti arah yang ditunjuk Isabella. Di sana mereka melihat sebuah keluarga kecil yang terdiri dari tiga anak bersama kedua orang tua sedang berselfie.


"Abel ingin mengabadikan momen kebersamaan kita," cicit Isabella.


"Iya Pa, Ma!" Seru Gabriella dan Moses setuju.


Filio menoleh kearah Asilla sehingga mata keduanya bertemu.


"Papa, Mama!" Seru triplets.


"Baiklah," ujar Filio karena jujur saja ia ingin mengabadikan momen berharga ini.


Entah sudah puluhan kali bermacam gaya yang mereka peragakan. Merasa cukup mereka mengakhiri.


"Let's go," kata Isabella sembari menarik tangan kedua orang tua mereka dengan posisi Isabella di tengah. Sedangkan Moses dan Gabriella mengikuti dari belakang dengan menggelengkan kepala.


Akhirnya mereka masuk kedalam mobil dengan penuh keceriaan sembari bercerita tentang binatang yang baru saja mereka jumpai sepanjang perjalanan. Filio serta Asilla merasakan kebahagiaan tersendiri melihat ketiga buah hati mereka.


"Ada apa?" tanya Filio menyadari jika sejak tadi Asilla terus memperhatikannya menyetir.


"Hah.... a-aku? hmmm tidak ada apa-apa," jawab Asilla dengan gugup karena ketahuan oleh Filio. Sikapnya persis seperti seorang pencuri yang ketahuan.


Filio membalas dengan senyuman, ia tidak banyak bertanya lagi. Sedangkan Asilla mengerutuki kebodohannya dan berusaha bersikap seperti tidak ada yang terjadi.


Hanya butuh waktu 30 menit jarak yang mereka tempuh. Kini mobil mewah milik Filio sudah berhenti di parkiran khusus.


"Sayang kita sudah sampai," ujar Filio sembari bersiap untuk turun.


Mendengar seruan sang Papa membuat Gabriella maupun Isabella tidak sabaran. Sedangkan Moses hanya bisa menggelengkan kepala karena melihat tingkah kedua Kakak cantiknya.

__ADS_1


"Hati-hati sayang," seru Asilla kepada kedua putrinya karena tergesa-gesa keluar dari dalam mobil. Sehingga membuatnya juga buru-buru keluar dari dalam mobil, sudah tidak sempat lagi menunggu Filio untuk membukakan pintu. "Sayang berhenti," teriak Asilla sehingga menghentikan larian kecil dari kedua bocah cantik itu. Dengan bergegas Asilla menyusul keduanya. "Kalian tidak boleh begitu," protes Asilla.


"Maaf Mama," balas keduanya.


Sedangkan Filio menghampiri Moses yang belakangan turun.


"Son ayo," ajak Filio kepada Moses.


Moses menyambut uluran tangan Filio. Keduanya menyusul ketiga bidadari yang setia menunggu di depan pintu masuk Museum. Sesampai di depan pintu masuk dengan segera Moses bergabung dengan sang Mama beserta kedua Kakaknya. Tinggallah Filio sendiri yang mengikuti dari belakang.


"Papa ikut bahagia melihat keceriaan dari kalian. Teruslah seperti itu, apapun keadaannya nanti. Papa tidak bisa mendampingi kalian lagi," gumam Filio tanpa mengalihkan pandangannya dengan perasaan hari serta sedih.


Tiba dalam Museum Gabriella maupun Isabella berhamburan melihat semua lukisan yang di pajang. Sedangkan Moses masih bersama Asilla. Tidak lama Filio ikut bergabung.


Hmmm


"Son apa kamu tidak tertarik dengan berbagai macam seni lukisan itu?" tanya Filio kepada Moses sehingga membuat Moses maupun Asilla membalikan badan.


Moses menghela nafas.


"Ini bukan bidang yang Moses geluti Papa. Moses ingin menjadi pengusaha atau pebisnis hebat seperti Papa," cicit Moses sehingga membuat kedua orang tuanya saling memandang.


Filio maju langsung menepuk punggung Moses dengan halus.


"Tentu saja son. Kamu anak lelaki satu-satunya penerus Januar. Papa akan menyerahkan semua apa yang telah menjadi milik Papa beserta keluarga besar turun-temurun Januar," ungkap Filio.


"Benarkah begitu Papa?" tanya Moses dengan polosnya.


Filio mengangguk.


"Tapi dengan syarat kamu harus menyelesaikan pendidikan," ujar Filio.


"Beres Papa," jawab Moses sembari memberi kode dengan buku tangannya.


"Semoga apa yang menjadi impian kamu akan tergapai. Teruslah belajar dan berusaha maka apa yang kamu inginkan tercapai," batin Filio didalam pelukan Moses.


"Moses sayang Papa," kata Moses.


Mendengar hal itu membuat terharu Filio maupun Asilla. Sehingga tanpa sadar pria tampan serta disegani itu meneteskan air mata tanpa diketahui oleh siapapun. Jantungnya berdebar serta tersentuh dengan perasaan Moses terhadap dirinya. Sedangkan Asilla sama halnya juga. Ia tergugu melihat pemandangan didepan matanya.


"Papa, Mama. Moses akan menyusul Kakak," kata Moses karena ia ingin bergabung dengan kedua Kakak cantiknya yang asik mengagumi bermacam lukisan yang di pajang.


"Iya sayang hmmm Berhati-hatilah," jawab Asilla karena pengunjung cukup ramai.


Moses mengangguk dan langsung melesat menerobos keramaian sehingga membuat Filio menggelengkan kepala. Ia tidak perlu khawatir karena tanpa sepengetahuan Asilla dan ketiga buah hatinya ia membawa beberapa pengawal untuk menjaga putra-putri mereka.


Kini tinggallah pria tampan serta wanita cantik yang kelihatan canggung. Siapa lagi jika bukan kedua orang tua dari triplets.


Hmmm


"Jika lelah lebih baik tunggu anak-anak di sana," ujar Filio sembari menunjuk barisan kursi yang masih kosong.


"Tidak! Anak-anak harus diperhatikan, apa lagi pengunjung cukup ramai," kata Asilla mengkhawatirkan keselamatan triplets.


Filio menyunggingkan senyuman. Ia tidak salah menitipkan triplets kepada Ibu mereka.


Drettt....


Tiba-tiba ponsel dalam tas jinjing Asilla bergetar. Dengan segera ia meraih ponsel itu. Seketika kedua alisnya tertarik melihat siapa yang menghubungi dirinya dalam suasana seperti ini.


"Maaf aku akan menerima telepon," kata Asilla bermaksud minta izin kepada Filio yang sejak tadi memusatkan tatapannya kepada Asilla. "Aku titip anak-anak sebentar," imbuhnya dengan tidak enak hati.


Dengan berat hati Filio mengangguk memberi izin. Sungguh dalam hati ia tidak suka tetapi ia tidak ada hak untuk melarang bahkan ikut campur dalam urusan pribadi dari Asilla.

__ADS_1


Dengan terburu-buru Asilla melangkah menjauh. Menuju tempat yang sepi agar tidak menganggu dalam obrolan sambungan telepon.


"Siapa yang meneleponnya sehingga tidak ingin diganggu?" gumam Filio sembari memandangi sosok Asilla yang mulai menghilang dari pandangannya dengan dada sesak sehingga pikiran negatif pun menghinggapi dirinya.


Di taman samping Museum Asilla kini menduduki dirinya sembari mengobrol dalam sambungan telepon.


["*Halo Kak Ken ada apa?"]


[-----------------------------]


["Kabar baik Kak Ken. Kak Ken sendiri*?"]


[-------------------------]


Asilla sedang asik mengobrol. Ternyata yang menghubungi dirinya adalah Kendrick. Kini Kendrick telah berada di bandara karena segera kembali lagi ke luar negeri karena suatu urusan.


["Maaf Kak Ken. A-aku sama sekali tidak punya perasaan sedikit pun terhadap dia. Di hatiku hanya ada satu nama,"]


Tidak lama Asilla mengakhiri sambungan telepon dengan hati yang sulit di jabarkan. Tanpa sepengetahuan Asilla ternyata sesosok mendengar semua ungkapan hati Asilla.


Sesosok itu mengepalkan kedua tangannya karena menahan rasa sakit.


"Buat apa aku bertahan lagi!" batin Filio dengan kedua mata memerah di balik tembok.


Dengan berusaha ia harus bersikap biasa seperti tidak ada yang terjadi. Tidak lama ia mendekati Asilla yang sedang merapikan tas jinjingnya.


Hmmm


Deheman Filio membuat Asilla mengangkat wajahnya. Seketika ia berusaha tersenyum karena jujur saja ia agak kaget melihat kedatangan Filio.


"Maaf aku cukup lama," kata Asilla merasa bersalah sembari bangkit dari duduknya.


"Tidak masalah. Anak-anak di awasi oleh penjaga," ujar Filio tanpa menjelaskan secara detail.


"Penjaga?" gumam Asilla dengan kening mengerut.


Hmmm


Keduanya melangkah berdampingan tanpa berkata-kata lagi. Beberapa langkah tiba-tiba Asilla menghentikan langkahnya karena tanpa sengaja pandangannya terarah kepada dia sosok yang amat ia kenal.


"Ada apa?" tanya Filio yang juga menghentikan langkahnya.


"Tunggu sebentar," kata Asilla tanpa menoleh kearah Filio. Dengan beberapa langkah ia semakin mendekat dengan bersembunyi di balik dedaunan lebar. Tanpa sadar ia menarik tangan Filio untuk mengikutinya.


Dibalik dedaunan mereka mendengar percakapan dua orang yang keduanya kenal. Suara itu cukup jelas terdengar. Awalnya Filio penasaran tetapi ia baru sadar setelah mengetahui siapa dua sosok itu.


"Sinta mau kamu apa lagi? hubungan kita sudah tidak ada apa-apanya lagi,"


"Dasar brengse*. Tidak semudah itu kamu bertindak sayang,"


"Aku muak Sinta. Semua impianku sirna setelah kamu hancurkan,"


"Jangan tinggalkan aku sayang. Aku sangat mencintaimu Grey,"


"Lepaskan tangan kotormu itu!"


"Grey....Grey.... hiks hiks..... "


Deg


...******...


Mohon maaf kepada semua para reader. Author sudah mengecewakan para reader. Ada alasan tersendiri author lama tak update 👏

__ADS_1


__ADS_2