Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 54. Drama


__ADS_3

1 minggu setelah kejadian itu membuat hubungan kedua orang triplets renggang. Filio yang biasanya selalu mendekati Asilla kini agak menjaga jarak tetapi ia berusaha membuat Ibu dari ketiga buah hatinya selalu merasa nyaman selama tinggal bersama satu atap.


Seperti weekend kali ini ia akan berkunjung ke Mansion untuk bertemu dengan kedua orang tuanya karena ada suatu hal yang ingin ia berbagi dengan sang Mommy.


Seusai makan siang Filio berpamitan dengan triplets yang sedang bermain.


"Sayang Papa tinggal sebentar. Papa akan ke Mansion Opa sama Oma," ujar Filio sehingga membuat kegiatan bermain triplets terhenti.


"Ikut!" Seru mereka serempak.


Filio menggeleng kepala sembari tersenyum melihat antusias triplets. Andai saja mereka keluarga yang bahagia seperti pada keluarga pada umumnya, betapa sempurnanya kebahagiaan ini yang ia rasakan. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Asilla telah menutup hatinya untuk dirinya.


"Papa!" Panggil ketiganya karena tidak mendapat jawaban dari sang Papa. Bukannya menjawab Filio malah sibuk dengan pikirannya.


Hmmm


"Abel ikut ya Pa?" cicit Isabella sembari beranjak, lalu duduk di pangkuan sang Papa sehingga membuat Filio mengecup pucuk kepalanya.


"Moses juga ingin ikut, rindu Opa dan Oma." Kini giliran Moses duduk disebelah Isabella.


"Gaby juga akan ikut," timpal putri sulung mereka.


"Baiklah! Tetapi minta izin dulu kepada Mama," titah Filio karena bagaimanapun Asilla adalah orang pertama berhak atas triplets.


Mendengar perintah Filio ketiganya langsung bergegas berlari menuju dapur dimana keberadaan Asilla sekarang.


"Sayang jangan berlari, nanti jatuh," seru Asilla dari kejauhan melihat triplets sedang berlari. Sedangkan ia sedang membereskan meja makan.


Huh.... huh....


Nafas mereka yang terdengar.


"Mama kami akan ikut Papa ke Mansion," kata Gabriella mewakili dan di angguk oleh Isabella dan Moses.


Asilla terdiam sesaat.


"Kalian ingin ke Mansion?" tanya Asilla.


Ketiganya mengangguk.


"Baiklah kebetulan hari ini jadwal kegiatan kalian kosong," kata Asilla memberi izin mereka.


"Asik. Terima kasih Mama," seru mereka serempak.


"Mama tidak ikut?" tanya Moses.


"Hmmm tidak sayang, kalian saja yang pergi," jawab Asilla karena tidak ingin menganggu. Ia juga selama ini merasa canggung dengan Filio.

__ADS_1


Setelah mendapat izin triplets kembali menemui sang Papa Filio.


"Papa di izinin Mama," kata Moses mengawali sehingga membuat Filio melipat kembali koran berita hari ini karena tadi pagi ia belum sempat membacanya.


"Baiklah kita akan segera berangkat. Bersiap-siap," ujar Filio sembari bangkit.


Sesuai titah sang Papa sehingga membuat triplets beranjak ke kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan Filio kembali ke ruang kerja sebentar. Kebetulan ia berpapasan dengan Asilla sehingga membuatnya sekali memberitahukan.


Hmmm


"Aku akan ke Mansion, sesuai izin yang kamu berikan anak-anak mereka minta ikut," ujar Filio tanpa menatap Asilla ia berpura-pura sibuk dengan benda pipih di tangannya.


Asilla terdiam tetapi tatapannya tidak lepas dari Filio.


"Baiklah! Lagi pula hari ini jadwal kegiatan mereka kosong," jawab Asilla. "Maaf aku tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang belum terselesaikan," imbuhnya.


Hmmm


Filio hanya dapat mendesis karena Asilla lebih mementingkan kesibukannya dibandingkan berkumpul dengan keluarga. Sungguh Filio merasa Asilla benar-benar tidak ingin mendekatkan diri dengan keluarga besarnya, begitulah yang ia pikirkan.


"Ayo Papa," ajak triplets serempak sehingga membuat kedua orang tua mereka sama-sama menoleh.


"Baiklah!" Jawab Filio sehingga mengurungkan niatnya tadi ke ruang kerja dulu.


Moses gendong dari arah belakang, sedang Gabriella dan Isabella digandeng dengan posisi ia di tengah-tengah. Asilla terdiam mematung melihat kebahagiaan yang dirasakan triplets dengan Papa mereka. Seketika pikiran negatif menghampiri benaknya.


Tidak ingin larut akhirnya Asilla bergegas melihat kepergian mereka.


Sebelum naik mobil triplets main drama-dramaan terlebih dahulu.


"Mama salami Papa dan cium tangan Papa," cicit Isabella.


"Setelah itu Papa cium kening Mama," sambung Moses.


"Bilang I love you," imbuh Gabriella.


"I love you too," timpal Isabella.


Mendengar apa yang dikatakan triplets tentu saja membuat kedua orang dewasa itu saling memandang dengan mata melebar. Bagaimana tidak selama ini mereka tidak pernah melakukan adegan yang seperti itu.


"*Maafkan Papa sayang tidak pernah melakukan seperti yang kalian mau. Hubungan Papa sama Mama sedang tidak baik-baik. Mama tidak memberi kesempatan untuk Papa memperbaiki semuanya dan hati Mama tertutup untuk Papa. Mama tidak mencintai Papa. Hah kalian terlalu masih kecil untuk mengerti atau memahami semuanya." Batin Filio.


"Maafkan Mama sayang tidak bisa menjadi seorang istri serta Mama yang seperti orang tua teman-teman kalian." Batin Asilla*.


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Ayo Papa, Mama," seru Isabella karena kedua orang tuanya tak bergeming. "Mama kami ingin seterusnya Papa sama Mama melakukan itu, karena begitulah yang kami lihat kepada orang tua teman-teman di sekolah ketika Papa sama Mama mereka berpisah karena berpergian," sambungnya.

__ADS_1


Asilla menatap Filio yang juga menatap kepadanya sehingga membuat tatapan keduanya bertemu.


"Mulai Mama," oceh Moses.


Keduanya terdiam.


"Mama!" Seru triplets.


Hmmm


Asilla mendekat lalu menyalami tangan Filio lalu menciumnya sesuai yang dikatakan.


"Papa!" Seru mereka lagi karena melihat Filio terdiam.


"Maaf jika aku lancang," bisik Filio sebelum mendaratkan kecupan di kening Asilla.


Hmmm


Asilla mengangguk.


Cup


Kecupan mendarat di kening Asilla. Jantung keduanya berdegup kencang tak karuan.


"I love you," ujar Filio dengan mata terpejam.


"I love you too," balas Asilla dengan bibir bergetar.


Ungkapan yang keluar dari mulut Asilla berhasil menggetarkan hati Filio. Walaupun itu terpaksa bahkan tidak sesuai dengan hati dan perasaan Asilla tetapi ungkapan itu membuatnya terbawa perasaan. Yaitu perasaan miris dan dikasihani.


prok prok prok


Tepuk tangan triplets melihat tontonan dramatis itu. Tetapi lain halnya dengan sang pemeran. Saat ini mereka salah tingkah. Filio tau jika Asilla terpaksa melakukan hal seperti apa yang barusan mereka lakukan. Filio tau semua itu Asilla terpaksa lakukan karena ketiga buah hati mereka memaksa.


"Mulai saat ini dan seterusnya Papa sama Mama lakukan," cicit Isabella dengan polos.


Ketiganya memasuki mobil yang akan membawa mereka ke Mansion.


"Kami berangkat dulu," ujar Filio kepada Asilla sehingga membuatnya mengangkat wajah.


"Berhati-hatilah!" Balas Asilla.


"*Aku tau itu kamu lakukan demi kebahagiaan anak-anak tetapi lain halnya dengan yang aku rasakan. Andai saja rumah tangga kita seperti kedua orang tua teman-teman di sekolah anak-anak, betapa sempurnanya kebahagiaan ini aku rasakan." Batin Filio.


"Maafkan Mama sayang karena sudah gagal menjadi Ibu panutan yang baik untuk kalian." Batin Asilla*.


...******...

__ADS_1


__ADS_2