
Di hadapan kedua mempelai, wanita paruh baya tak bergeming. Tatapan itu tak teralihkan sama sekali, walaupun ia berkali-kali di panggil oleh Lyodra.
"Vero, Vero," panggil Lyodra.
Seakan Veronica sedang dihipnotis oleh sorot serta senyuman Asilla.
"Sayang, kamu di panggil sejak tadi," seketika Veronica tersadar atas usapan tangan di punggungnya.
"Eh iya, maaf Yora." Kata Veronica tergagap langsung memeluk Lyodra, sungguh mereka melepas rasa rindu karena sudah bertahun-tahun tidak jumpa.
"Apa kabar? tubuhmu semakin kurus," kata Asilla menatap sendu, ia tau apa yang selalu dipikirkan Veronica selama ini.
"Seperti yang kalian lihat," jawab Veronica berusaha setenang mungkin. "Maaf kami terlambat karena kendala penerbangan, untungnya kapal ini belum jauh dari pesisir," imbuhnya.
"Ada apa sih? wajahmu panik begitu. Hmmm inilah menantu kita yang sering aku ceritakan. Ayo kenalkan! Bukankah kamu sangat penasaran selama ini?" kata Asilla. "Sayang perkenalkan ini Aunty Vero sahabat Mommy sama Daddy, dan ini Uncle Hardynata," Lyodra memperkenalkan dua sahabatnya kepada Asilla.
"Kenalkan saya Sila Aunty, Uncle," Asilla mengulurkan tangan.
Dengan cepat Veronica memeluk Asilla begitu eratnya sehingga membuatnya sulit untuk bernafas.
"Kamu sangat cantik sayang, kalian sungguh pasangan serasi," kata Veronica.
"Terima kasih Aunty," balas Asilla diiringi senyuman.
Lyodra dan yang lainnya memandang dengan senyuman.
"Hmmm Aunty melupakan pria tampan?" tiba-tiba suara bariton yang sangat dikenal Veronica membuatnya melepaskan pelukan ternyaman yang baru ia rasakan setelah kejadian puluhan tahun itu.
Veronica terkekeh lalu dalam sekejap ia berada di dalam dekapan Filio.
"Selamat berbahagia buat kalian sayang, maaf waktu pemberkatan Aunty dan Uncle tidak bisa hadir," kata Veronica sembari melepaskan pelukan mereka.
"Iyo maklumi Aunty,"
"Kamu semakin tampan, hmmm istrimu sangat cantik sayang. Kamu pintar juga mencari istri hmmm," goda Veronica.
Hmmm
Sedangkan Asilla menunduk malu.
"Maaf Ar, Yora kami terlambat," kata seseorang sehingga membuat kedua mempelai ikut menoleh.
"Juna," seru Farres maupun Lyodra.
Juna tersenyum lalu melangkah memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.
"Selamat berbahagia untuk kalian," ucap Juna.
"Terima kasih Uncle," balas mereka serentak.
"Oya Dirly mana Uncle? bukankah kartu undangan sudah di tangannya?" tanya Filio seakan tidak melihat batang hidung sahabatnya dari kecil.
"Aku di sini brother ," suara bariton itu mengalihkan pandangan mereka. "Selamat berbahagia brother," keduanya saling memeluk. "Selamat berbahagia Kakak ipar, hmmm Kak ipar semakin cantik saja," goda Dirly.
"Terima kasih telah berkenan hadir Dir" kata Asilla, ya Asilla cukup mengenali Dirly karena waktu pemberkatan Dirly juga hadir dan sekarang lagi dekat dengan Fiona.
__ADS_1
"Ingat mau di putusin?" ancam Filio.
"Jangan brother hmmm selangkah lagi," jawab Dirly.
Mereka saling berbincang-bincang. Sedangkan pandangan Veronica tidak lepas dari wajah Asilla, begitu juga dengan Hardynata.
"Ada apa dengan jantungku ketika aku memeluknya, pelukan itu sangat nyaman," batin Veronica.
Ya hubungan mereka terjalin cukup baik, tidak ada rasa dendam dan lain sebagainya. 5 tahun lalu istri Juna telah meninggal dunia karena menderita kangker payvd4r4. Sampai saat ini Juna masih menyendiri dan tidak akan menikah lagi karena ia sangat mencintai mendiang istrinya yang telah memberinya dua anak. Adik Dirly sekarang masih menempuh pendidikan di luar negeri.
Sedangkan pasangan Veronica dan Hardynata hanya dikarunia putri tunggal tetapi pada usia 4 tahunan ia hilang dan sampai saat ini tidak tau keberadaannya bahkan sebagian orang mengatakan putri mereka sudah tiada, apa lagi hilang di luar negeri.
"Yora mana cucu-cucu kita yang kamu bilang mengemaskan itu," tanya Veronica karena sejak tadi tidak melihat sosok kembar tiga itu. Ya sampai sekarang Veronica belum mengenali mereka, padahal wajah triplets wara-wiri di layar televisi bisnis. Harap maklum karena semenjak kehilangan putrinya Veronica dengan sang suami tidak pernah menyalakan televisi. Karena putri mereka sangat suka menonton, maka dari itu Veronica tidak ingin mengingatnya karena sangat menyiksa bagi batinnya.
"Oya tadi mereka izin ke kamar sebentar, ingin berganti pakaian katanya gerah mengenakan tuxedo serta gaun. Hmmm sebentar lagi akan kembali," terang Lyodra.
"Aunty itu Uncle," suara cempreng Isabella membuat semua orang menoleh.
Ya triplets sedang bersama Aunty mereka Fiona.
"Sayang turunkan nada suaramu," protes Fiona.
Hahaha
Isabella terkekeh.
"Oya Vero ini cucu-cucu mengemaskan itu," kata Lyodra.
Seketika mata Veronica membulat serta mulut dibungkam oleh telapak tangannya melihat triplets berdiri sejajar, begitu juga dengan Hardynata.
Triplets mendekat dan mengalami tangan itu silih berganti.
"Isabella, panggil saja Abel Opa, Oma."
"Gabriella, panggil saja Gaby Opa, Oma."
"Moses, Opa, Oma."
Dada Veronica berdegup kencang mendapati paras cantik serta tampan triplets. Belum lagi mata dan senyum Gabriella dan Isabella itu mengingatkan Veronica kepada sesosok yang sangat di rindukan dan selalu diharapkan pulang ke rumah.
"Sayang," bisik Hardynata sembari menggenggam tangan Veronica.
"Kalian sangat tampan dan cantik-cantik. Hmmm bibit unggul sih, kedua orang tua kalian juga tampan dan cantik," puji Veronica.
"Terima kasih Oma," jawab mereka serentak.
"Mata, senyum, tawa kalian mengingatkan Oma kepada putri Oma." batin Veronica.
"Kalian mengingatkan Opa sewaktu kecil," Hardynata ikut membuka suara.
Semua menatap Hardynata penuh tanya.
"Ya Opa juga memiliki saudara kembar tiga, tetapi hanya Opa yang masih bertahan. Dua saudara Opa meninggal di usia 10 tahun karena kecelakaan, keduanya perempuan dan Opa sendiri laki-laki hmmm," cerita Hardynata.
"Kami baru tau," ujar Farres karena memang tidak tau.
__ADS_1
"Papa, Mama kata Opa itu juga memiliki saudara kembar seperti kami," cicit Isabella.
Filio dan Asilla mengangguk.
Mereka kembali berbincang-bincang. Tetapi ada yang aneh dari Asilla. Ia juga merasa tidak nyaman dengan tatapan Veronica yang selalu memperhatikannya.
"Ada apa sayang?" tanya Filio karena melihat gerak-gerik Asilla yang tidak tenang.
"Sepertinya aku ingin ke toilet sayang," kata Asilla memang ingin BAK.
"Ayo biar aku antar,"
"Hmmm tidak perlu sayang lagi pula toilet di situ," tolak Asilla karena tidak enak jika meninggalkan tamu.
"Kamu mau kemana sayang? hmmm maksud Aunty Nak?" tanya Veronica.
"Istriku ingin ke toilet Aunty, hmmm memang Aunty ingin ke toilet juga?" ujar Filio.
"Baiklah, kebetulan Aunty juga kebelet," jawab Veronica.
"Aku tinggal sebentar ingin ke toilet. Hmmm Yora aku pinjam menantu ya?" kata Veronica bercanda.
Lyodra mengangguk disertai senyuman.
Toilet hanya berjarak beberapa langkah saja sehingga Asilla dan Veronica tidak banyak bicara. Keduanya masing-masing masuk kedalam toilet.
Veronica sudah selesai ia menunggu Asilla di depan cermin besar dalam toilet itu.
"Maaf membuat Aunty menunggu," kata Asilla tidak enak hati.
"Tidak masalah sayang, hmmm bolehkah Aunty memanggilmu sayang?" Veronica meminta izin.
"Tentu saja boleh Aunty," jawab Asilla singkat.
Toilet itu sepi hanya ada mereka berdua karena itu toilet khusus keluarga Januar. Jadi tidak sembarangan orang masuk kecuali orang terdekat.
Tanpa sungkan Veronica merapikan helaian rambut yang menghalangi wajah Asilla. Asilla cukup kaget dengan perlakuan itu.
"Sayang kamu sangat cantik. Mommy mertuamu sering menceritakan kamu, bahwa kamu adalah menantu idaman setiap mertua. Tenyata semua itu benar, kamu tidak hanya sekedar cantik tetapi hatimu juga cantik," puji Veronica.
"Terima kasih Aunty," jawab Asilla dengan raut wajah bersemu merah.
"Seandainya putri Aunty masih ada, maka dia seusia juga dengan kamu. Kedua putri kalian mengingatkan Aunty kepada putri kami," lirih Veronica dengan mata berkaca.
Veronica menghela nafas panjang.
"Mata, senyum, tawa mereka mengingatkan Aunty," sambungnya kembali tanpa sadar meneteskan air mata.
Asilla terenyuh melihat kesedihan wanita paruh baya yang sedang terisak di depannya. Tanpa ragu Asilla membawa kedalam pelukannya.
Mendapat perlakuan Asilla tentu saja membuat Veronica tenang.
"Sabar Aunty," gumam Asilla sembari mengusap berkali-kali punggung yang bergetar itu, bermaksud memberi kekuatan dan ketenangan.
...******...
__ADS_1
•Tinggalkan vote, like, favorit dan hadiah juga ya kak say....biar author lebih semangat update💪