
Cup
Daging tebal ranum itu langsung di bungkam. Dengan kuat tenaga Asilla mendorong dada Filio sehingga terlepas.
"Ssst jangan banyak bergerak sayang," suara bisikan serak itu berhasil membuat bulu kuduk Asilla merinding.
Asilla dengan refleks menghentikan gerakannya, ia sadar jika dibawah sana terasa benda keras yang mengganjal. Seketika wajahnya memerah tidak ingin dilihat oleh Filio.
Filio meraih tengkuk Asilla sehingga wajah mereka begitu dekat hanya berjarak berapa senti saja. Hembusan nafas hangat menerpa wajah keduanya. Irama detak jantung mereka serasa meledak dengan posisi saat ini. Sorot mata keduanya menginginkan sesuatu.
Cup
Dengan mata terpejam Filio mencivm daging tebal menggoda itu. Asilla tidak tinggal diam ia bahkan membalas perlakuan panas itu, walaupun sangat terasa kaku. Sehingga menciptakan zenzazi luar biasa.
Jari-jemari Filio tidak tinggal diam, kini jari-jemari nakal itu sudah merayapi tiap jengkal dibalik daster yang Asilla kenakan. Tanpa sadar Asilla merancau tak karuan karena baru pertama kali merasakan dirinya serasa melayang.
Hmmm
Rasa kehabisan oksigen mereka melepaskan olah raga panas itu dengan sorot mata sayu.
"Sayang," bisik serak Filio.
Uuumm
Racau manis itu semakin membuat Filio bersemangat.
Merasa tak tahan lagi Filio beranjak berdiri sembari menuntut Asilla, sehingga mereka saat ini dengan posisi berdiri tanpa Filio melepaskan dengan leher jenjang itu. Sesaat ia berhenti lalu membuka helaian kain dan melemparnya asal.
Asilla menelan ludahnya mendapati dada kekar itu. Kini daster yang dikenakan Asilla sudah berada di lantai dan terciptalah pandangan indah yang baru pertama ini di lihat oleh Filio.
Dengan segera Asilla menyilang kedua tangannya menutupi dua daging kenyal menggantung indah itu, walaupun masih berada didalam sarangnya tetapi ia masih malu memperlihatkan daerah-daerah tertutup.
Filio tersenyum melihat hal itu, lalu dengan santai ia memegang kedua bahu Asilla dengan sorot mata lapar.
"Sayang singkirkan tanganmu," bisik Filio.
"Aku, aku malu sayang," jawab Asilla gugup tidak berani menatap Filio.
"Mulai sekarang biasakan sayang, bahkan bila perlu setiap di kamar kamu tanpa mengenakan apa-apa," goda Filio, dengan segera Filio mengangkat tvbvh Asilla membaringkannya penuh hati-hati di atas kasur.
Jantung keduanya berpacu hebat dengan darah mendesir hebat. Dalam sekejap keduanya sudah polos tanpa sehelai benang.
Sungguh Filio bangga dengan keindahan tvbvh yang Asilla miliki, walau sudah beranak tiga tetapi keindahan itu tidak luntur. Dari ujung kaki sampai ujung kepala sedikitpun tak terlihat cacat di kulit putih mulus itu.
Deg
__ADS_1
Mata Asilla membulat ketika tangannya dituntun menempel pada benda mati tetapi seakan hidup. Seketika ia menutup mata dengan wajah bersemu merah. Hanya menempel saja ia sudah malu apa lagi jika matanya melihat benda itu.
Filio terkekeh melihat kepolosan Asilla sehingga membuat dirinya semakin gemas.
Kini Filio kembali memperkerjakan lid4hnya bermain dengan indah di sana.
Uuumm
Racau itu beberapa kali keluar dari mulut Asilla. Bagaimana tidak ia tidak tahan dengan jemari nakal itu mementilkan dua coklat kemerahan yang kini sedang turun naik karena mengikuti irama nafas yang tak beraturan. Kedua tangan Asilla menjambak rambut Filio , bahkan tidak sadar ia mendorong kepala itu semakin dalam dengan kedua kaki melingkar.
Seketika Filio menyunggingkan senyuman menyadari permainan setengahnya berhasil membuat wanitanya mencapai puncak. Sungguh Asilla merasa malu dengan itu sehingga ia tidak berani menatap bola mata yang sedang menatapnya dengan senyuman.
Kini ia kembali menikmati benda kenyal. Memberi sebanyak mungkin maha karyanya di sana, karena ia tidak mungkin menodai leher jenjang Asilla sebelum hari resepsi mereka di gelar.
"Sayang.... Hmm....Uumm," racau Asilla tak karuan. Sungguh malam ini membuatnya melayang-layang.
"Ada apa? enak sayang?" bisik Filio dengan suara serak sembari menyspu halus daun telinga Asilla.
"Buka matamu sayang," bisik Filio agar ia dapat melihat wanitanya.
Asilla menurut sehingga tatapan mereka bertemu.
"Apakah boleh aku mengambil hakku sekarang?"
Sungguh Filio sudah tidak dapat menahan adik kecilnya. Dari wajah serta sorot matanya menggambarkan ia sedang menginginkan.
"Aku akan pelan-pelan dan tidak akan menyakitimu," bisik Filio tanpa melepaskan ujung jari telunjuknya di bulatan coklat kemerahan itu.
Asilla terdiam sembari menikmati jari-jemari nakal itu.
"Tolong sayang adik kecilmu sudah sangat lapar," mohon Filio, ia langsung bangkit berdiri sehingga bend4 itu begitu menantang di atas mata Asilla.
Mata Asilla membulat melihat pemandangan yang baru kali ini dilihatnya.
"Besar, panjang. Hmmm apa itu muat?" gumam Asilla dengan raut wajah ngeri membayangkan jika benda itu memasuki aset berharga.
Mendengar sanjungan itu membuat Filio sangat bangga. Keperkasaannya di puji oleh wanitanya.
"Papa..... Mama....!" Suara melengking dari balik pintu kamar begitu menggema sehingga membuat Filio maupun Asilla kelabakan.
"Papa, Mama," suara triplets sudah berada didalam kamar.
Suuttt
Dengan secepat mungkin Filio memberi kode agar ketiga pengacau itu diam.
__ADS_1
"Mama sedang tidur sayang," kata Filio.
"Papa sama Mama sangat kedinginan ya? buktinya selimut tebal itu menutupi tubuh Papa sama Mama sampai leher," tanya polos Isabella.
"Ih kamar Papa sangat jorok. Pakaian berserakan di lantai," timpal Gabriella.
Deg
Filio maupun Asilla memejamkan mata. Bahkan Asilla berpura-pura tidur dengan wajah memerah. Sedangkan Filio mati-matian menahan sangat adik nakal.
"Cucu-cucu Oma rupanya kalian di sini," tiba-tiba Lyodra datang dengan langkah santai tanpa tau penderitaan kedua sejoli itu.
"Mommy cepat bawa mereka keluar, bukankah seharusnya mereka sudah tidur?" decak Filio dengan nada kesal.
"Tiba-tiba mereka minta pulang sayang," seketika Lyodra baru menyadari jika putra dan menantunya berada di atas ranjang.
Lyodra tersenyum kikuk karena mengerti.
"Maafkan Mommy sayang, Mommy tidak tau bahwa kalian-----,"
"Mommy tidak bisa diandalkan. Sudah berada di ujung tanduk Mom," sungguh Filio bermuka tebal tidak segan.
Awww
Ia meringis karena mendapat cubitan dari Asilla dibalik selimut.
"Ayo sayang Oma antar ke kamar," dengan sesegera mungkin Lyodra memboyong dengan paksa triplets.
Huh....
Nafas lega.
"Sayang sebaiknya kita temui Daddy sama Mommy," ajak Asilla sungguh tidak tau keadaan Filio.
"Tetapi tundaskan terlebih dahulu sayang, sungguh ini sangat menyiksa,"
"Papa, Mama segera temani kami nonton," suara melengking itu bergema kembali.
Puk
Filio menepuk keningnya merasa apes. Malam panjang yang sudah di depan mata ternyata gagal, padahal hanya sedikit lagi.
"Dasar pengacau," umpat Filio sembari beranjak bangkit untuk menuntaskan di kamar mandi seperti biasanya.
Asilla tersenyum dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
...*****"...