Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 102. Berakhir Bahagia


__ADS_3

"Yes Moses menang," sorak Moses sembari lompat girang karena ia memiliki Adik laki-laki. Itulah yang diinginkan Moses, sedangkan kedua Kakaknya menginginkan perempuan.


"Oke kali ini kamu menang Dek, tetapi kedepannya pasti Adik kita perempuan. Papa, Mama cetak Adik bayi perempuan lagi," cicit Isabella dengan polos. Semua yang mendengar tercengang.


"Tidak sayang, ini yang terakhir," jawab Filio dengan secepat kilat. Enak saja disuruh mencetak. Ya hanya sekedar mencetak ia pasti akan bersorak girang tetapi untuk menghasilkan benih lagi ia akan berpikir panjang dulu, mengingat perjuangan Asilla yang begitu luar biasa hmmm satu lagi membuat dirinya tidur kedinginan selama waktu yang ditentukan.


"Kenapa?" cicit Isabella ingin tau alasan sang Papa mengatakan itu.


"Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui alasannya sayang. Impas bukan 2 laki-laki dan 2 perempuan, itu sudah cukup," jelas Filio.


"Apanya yang cukup. Mommy menginginkan cucu 1 tim pemain sepak bola dalam arti kalian berusaha mencetak 8 lagi," sela Lyodra.


Mata Filio maupun Asilla melotot mendengar candaan Lyodra.


"Iya Mami juga berpikir begitu. Bisa dibagi bukan agar Oma sama Opa tidak kesepian," timpal Veronica ikut menggoda.


"Iya karena aku ingin minta satu saja untuk memancing," sambung Asinta.


"Mama juga ingin rumah Mama ramai ketika berkunjung," tandas Mira.


"Aku juga ingin satu Kak ipar," cicit Fiona.


Asilla apes mendengar permintaan itu sampai-sampai ia ingin tergolek.


"Simpan saja keinginan kalian semua. Aku mau-mau saja cara mencetaknya, bahkan setiap hari tidak akan aku lalui asalkan itu tidak menghasilkan jentik-jentik kepompong. Kalian pikir enak puasa 1 bulan bahkan 2 bulan hah?" sela Filio dengan tegas.


Semua yang ada disitu saling memandang, tidak lama mereka tertawa terbahak-bahak sehingga membangunkan baby boy yang asik tertidur.


"Tertawalah di atas penderitaanku!"


Asilla hanya bisa menggelengkan kepala.


"Sabar Nak. Daddy juga merasakan hal yang sama," ujar Farres. Ia ketika teringat saat Lyodra melahirkan Fredella puluhan tahun silam.


"Semua merasakannya Nak," timpal Hardynata.


"Apa begitu?" sela Dirly yang belum berpengalaman.


"Suatu saat kau juga merasakannya. Hmmm ngomong-ngomong belum ada tanda, hmmm apa kau kurang jurus sehingga belum menghasilkan kepompong?" ledek Filio.


"Enak saja! Bahkan kami tidak pernah melewatkan kesempatan," serkas Dirly tidak ingin di bilang lemah.


"Honey," lirih Fiona dengan wajah memerah.


"Dek lebih banyak belajar dari Kakak iparmu," sambung Filio dengan santai.


Semua tertawa sembari menggelengkan kepala.


Hmmm


Filio lalu menoleh ke arah Grey.

__ADS_1


"Kalian juga apa tidak ingin memiliki momongan?" tunjuk Filio kepada Grey dan Asilla.


Grey maupun Asinta menunduk.


"Bukan tidak mau tetapi Tuhan belum memberi kepercayaan kepada kami untuk memiliki seperti yang kamu katakan. Akibat musibah itu Sinta dinyatakan tidak bisa memiliki anak lagi," terang Grey dengan raut wajah sendu, sedangkan Asinta sudah terisak sembari menggendong baby boy.


"Mungkin itu hukuman bagi kami atas kesalahan yang pernah kami lakukan," timpal Asinta dengan wajah tertunduk sembari menatap wajah baby boy.


Suasana menjadi hening sesaat.


"Kak Sinta jangan berkata begitu. Tidak ada yang mustahil, semua sudah direncanakan," suara Asilla memecah keheningan. Semuanya menatap Asilla dengan dada sesak ketika mengingat masa lalu Asilla yang sangat menyedihkan.


"Kakak minta maaf sayang," lirih Asinta.


Tiba-tiba triplets kembali ke kamar rawat, tadi dibawa Riri sebentar untuk makan siang ketika para orang dewasa berdebat.


"Ihhh imut sekali," cicit Isabella.


"Tampan sekali," timpal Gabriella.


"Bahkan mengalahkan Dek Moses," Isabella sengaja memanasi.


"Enak saja, tidak ada yang bisa menandingi ketampanan dan kecerdasanku, jadi Kakak jangan omong kosong," serkas Moses tidak terima.


"Itu penilaian kamu Dek," Isabella tidak ingin kalah.


"Lihat saja ketika kami dewasa nanti, siapa yang paling tampan serta cerdas diantara kami berdua," Moses pun tidak ingin kalah.


"Sayang kalian cucu-cucu kami yang tampan-tampan dan cantik-cantik," Lyodra menengahi perdebatan itu sehingga membuat mereka terdiam sembari tersenyum mendapat pujian itu.


"Terima kasih Oma. Kata Bu guru kami adalah bibit unggul dari kedua orang tua kami. Bibit unggul itu maksudnya apa Oma?" tanya Isabella ingin tau.


"Pribahasa bibit unggul untuk manusia adalah suatu pujian, dimana paras wajah tampan atau cantik serta kecerdasan kita didasari atau di dapatkan dari anggota keluarga khususnya kedua orang tua. Papa sama Mama kalian berparas tampan dan cantik serta pintar, nah jadi yang kalian miliki itu berdasarkan dari Papa sama Mama. Intinya yang terbaik dan menjadi nomor satu," jelas Lyodra.


"Oh," seru ketiganya ber oh ria, entah mereka paham atau tidak.


Filio sejak tadi terdiam sembari senyum sendiri di samping Asilla, dengan tangan masih mengusap kepala Asilla.


"Kamu kenapa?" seketika Lyodra menyadari kelakuan Filio.


Seketika Filio tersadar dari lamunannya sehingga me gubah posisi duduknya semakin tegak.


"Hmmm Iyo sangat bahagia, karena apa? karena mendapat kebahagiaan bertubi-tubi. Iyo dikaruniai 4 orang anak yang lahir sempurna. Hmmm dari keluarga Januar Iyo yang memecahkan rekor memiliki anak cukup banyak dari Eyang Vicky di karunia 1 putra, dari Eyang Glenn di karunia 3 putra, dari Opa Sky di karuniai 2 anak tetapi bertahan hanya satu yaitu Daddy. Dari Daddy di karunia 3 anak dan Iyo sendiri 4 anak. Wah benar-benar istimewa," ungkap Filio dengan bibir mengembang. Ia lalu mengusap wajah Asilla dengan penuh cinta. "Terima kasih sayang kamu telah memberi hadiah yang sangat berharga dari apapun," imbuhnya dengan sangat bahagia.


Semua terharu mendengarkan itu. Asilla tersenyum, ikut merasakan apa yang Filio rasakan saat ini.


"Terima kasih Pi, Mi telah melahirkan wanita cantik dan super hebat ini untuk Iyo. Hmmm jika bukan putri Papi sama Mami, Iyo tidak akan merasakan kebahagiaan ini," ujar Filio kepada Hardynata dan Veronica.


Kedua paruh baya saling mengangguk disertai senyuman.


Lalu Filio beralih menatap kedua paruh baya lagi.

__ADS_1


"Terima kasih Pa, Ma telah menyelamatkan serta berusaha membesarkan istriku," ungkap terima kasih Filio kepada Farhan dan Mira.


"Kami tidak pantas menerima ucapan terima kasih Nak karena kami selama ini hanya menorehkan derita kepada istrimu," jawab Farhan dengan terharu.


"Papa, bukankah sudah Sila tegaskan jangan melihat ke belakang lagi. Mulai sekarang Sila tidak ingin mendengar pembahasan di masa lalu karena kita hidup di masa sekarang," sela Asilla tidak suka bila kedua orang tua angkatnya merasa bersalah terus-menerus.


Kata-kata Asilla membuat kedua pasangan paruh baya itu terenyuh, sungguh hati wanita yang selalu disalahkan ini begitu tulus.


Semua merasa bangga dengan ketulusan hati seorang Asilla. Ya benar menantu Januar semua berhati mulia bak malaikat. Walaupun awal mula mereka di bumbui yang namanya penderitaan tapi pada akhirnya berakhir bahagia sampai ajal menjemput. Para pewaris Januar Group sangat mencintai pasangan masing-masing.


Hmmm


"Nak apa sudah kalian persiapkan nama untuk buah hati ke empat kalian?" tanya Farres pada akhirnya, ia sampai melupakan hal itu.


"Sudah Dad, dan untuk kali ini biar Iyo yang memberi nama," Filio tersenyum menanggapi pertanyaan sang Daddy.


"Siapa nama Adik bayi Pa?" tanya Gabriella tidak sabaran.


"Mischa Januar, yang berarti lelaki pemberani dan bekerja keras serta memiliki kecerdasan." Kata Filio.


Hmmm


"Semoga kamu tumbuh menjadi pribadi sesuai dengan makna namamu Nak," ujar Farres dan mendapat anggukan dari semua orang.


"Sungguh nama yang luar biasa," kata Veronica mengagumi nama pemberian sang menantu.


Semua kembali mengobrol banyak hal, menceritakan yang tidak berhubungan dengan masa lalu karena sudah ditegaskan oleh Asilla.


"Abel cantik tapi cerewet, tinggal sama Bibi dan Paman ya? biar Bibi tidak kesepian jika di tinggal Paman bekerja," bujuk Asinta kepada Isabella yang kini duduk di pangkuannya.


"Maaf Bibi Abel tidak bisa karena Abel ingin menjaga Dek Mischa," jawab Isabella. "Ajak Kak Gaby saja," usulnya.


"Gaby juga tidak bisa Bibi karena ingin menjaga Dek Mischa," sahut Gabriella dengan cepat.


Jawaban kedua bocah cantik ini membuat wajah Asinta cemberut. Berpura-pura merajuk.


"Bagaimana kalau si tampan Moses saja, mau ya sayang?" kini Asinta beralih membujuk Moses padahal ia sudah tau jawabannya. Berusaha apa salahnya bukan.


Moses tersenyum lalu bangkit mendekati sang Bibi, hal itu membuat senyuman di wajah Asinta karena ia pikir bocah tampan serta cuek itu menerima keinginannya.


"Maaf Bibi, Moses juga tidak bisa karena Moses harus menjaga ketiga saudara Moses. Sebagai penerus Januar Group Moses bertanggung jawab penuh," kata Moses seperti ucapan orang dewasa, semua saling memandang mendengar hal itu.


"Huhu baiklah jika kalian bertiga tidak mau hmmm Dek Mischa saja yang Bibi bawa," canda Asinta.


Hahaha


Tawa memenuhi kamar rawat VVIP itu.



...******...

__ADS_1


•Kisah Filio dan Asilla sampai di sini. Untuk selanjutnya akan ada pengumuman.


__ADS_2