Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 78. Unek-Unek


__ADS_3

Asilla menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya ke atas.


"Kehadiran Papa, Mama dan Kak Sinta sangat berarti bagi Sila," lirih Asilla dengan tatapan silih berganti menatap orang yang sedang ia sebut. Tetapi itu tidak berlaku bagi Grey, bahkan Asilla sama sekali tidak memandangi Grey yang terdiam membisu.


"Jangan bermimpi kamu Sila! Kami tidak sudi, kamu bersenang-senang di atas penderitaan kami," decak Asinta dengan lantang sehingga membuat Asilla menutup mata sejenak.


"Ayo sayang sebaiknya kita segera pergi meninggalkan tempat neraka ini, tidak ada gunanya kamu memohon begitu. Entah hati mereka terbuat dari apa? tega memperlakukanmu dengan keji," sindir Filio ingin menuntun Asilla agar pergi meninggalkan rumah itu.


"Beri aku waktu sebentar," kata Asilla.


Filio mengangguk pasrah padahal jujur saja ia sudah gerah ditambah lagi hatinya memanas.


"Kak Sinta, bukankah semua masalah ini berawal dari rencana kalian? Sila di sini adalah korban Kak, korban atas perbuatan yang sengaja kalian rencanakan, tetapi seolah kalian menyalahkan Sila."


Semua membeku mendengar penuturan Asilla.


"Lebih baik kamu diam Sila," teriak Mira dengan wajah begitu sinis.


"Berani anda meneriaki istriku?" suara bariton Filio membuat Mira bungkam.


Asilla menggeleng memberi kode agar Filio tidak ikut campur dulu.


"Mama tolong katakan pada Sila apa kesalahan Sila selama ini? sehingga Mama sama Papa begitu membenci Sila, bahkan tidak pernah menganggap kehadiran Sila di tengah-tengah kalian. Tolong katakan hari ini juga Mama, selama ini Sila cukup penasaran dan hari ini pertama kalinya Sila memberanikan diri untuk menanyakan kesalahan yang pernah Sila perbuat," Asilla mengungkapkan isi hatinya dengan mata berkaca.


Deg


Farhan, Mira dan Asinta tersentak kaget.


"Apa kehadiran Sila ke dunia ini tidak dikehendaki? katakan pada Sila Mama. Papa sama Mama memiliki dua putri tetapi kalian beda memperlakukan kami. Di benak dan sorot mata Mama sama Papa tersimpan kebencian mendalam pada Sila, di mata Mama sama Papa, Asilla selalu salah," Asilla mengeluarkan unek-unek yang selama ini disembunyikan.


Farhan, Mira tak bergeming karena apa yang dikatakan Asilla adalah kenyataan.


Asilla mengigit bibir bawahnya, seakan kenangan pahit dimasa lalu terlintas begitu saja.


"Kadang Sila berpikir jika Sila adalah benalu, bukan bagian dari keluarga Candrawinata karena perbedaan Sila sama Kak Sinta jauh beda, seakan hanya Kak Sinta putri kandung Papa sama Mama," lirih Asilla dengan dada sesak.


Farhan maupun Mira saling memandang.


"Di saat Natal tiba Mama pasti membelikan beberapa potong baju baru dengan harga mahal untuk Kak Sinta, sedangkan Sila hanya memakai bekas dari Kak Sinta," kenang Asilla berusaha tersenyum kaku tetapi perasaan sedih tak bisa disembunyikan. Pancaran sorot matanya menggambarkan isi hatinya. "Sama halnya ketika musim naik kelas, setiap tahunnya Kak Sinta selalu mendapat hadiah sepatu dan tas baru. Hmmm dan tidak buat Sila, Sila selalu diberikan bekas dari Kak Sinta. Bukankah ini terlalu miris? Sila di sini berperan seperti anak tiri?" lirih Asilla tidak mampu untuk meneruskan pengalaman pahit dimasa lalu.

__ADS_1


Deg


Filio membeku mendengar masa lalu Asilla yang begitu miris.


"Tetapi Sila tidak pernah mempermasalahkan itu semua Papa, Mama atas perlakuan beda yang kalian berikan. Bukankah selama itu Sila tidak pernah mengeluh? atas ketidakadilan ini?" Asilla terdiam sesaat lalu menghela nafas panjang. "Hanya ada satu hal yang membuat Sila terhina, yaitu dengan teganya Mama memberi makanan basi untuk Sila seperti hewaan peliharaan hiks hiks.....tetapi Tuhan mengirimkan malaikat berhati mulia sehingga makanan tak layak itu belum sempat Sila makan. Kak Sinta selalu menjadi penyelamat," akhirnya tangis Asilla pecah dihadapan mereka sampai-sampai tubuhnya merosot ke lantai.


Filio membelalakkan mata melihat kondisi Asilla sehingga membuatnya ikut menjajarkan tubuhnya.


"Sayang sebaiknya kita pulang," bisik Filio sangat khawatir.


Asilla menggeleng ia belum puas meluapkan unek-unek selama ini ia pendam. Dan ia ingin mengetahui dasar alasan apa kedua orang tuanya membedakan mereka.


Farhan dan Mira terdiam membeku. Sedangkan Asinta ikut terisak. Ingatan masa kecil itu terlintas dan ia masih sangat mengingatnya. Dan Grey menatap sendu serta iba kepada Asilla, seketika dadanya seperti dihantam benda tumpul karena ikut menambah penderitaan Asilla.


"Ssst betapa mirisnya masa lalumu sayang....bahkan aku ikut menambah penderitaan mu," batin Filio meradang.


Filio mengepalkan kedua tangannya karena merasa geram.


Asilla merangkak seperti anak bayi mendekati kedua kaki Mira. Tepat di hadapan Mira Asilla berlutut, kebetulan Mira duduk di tepi ranjang.


"Mama, Papa....Sila tidak pernah membenci Papa sama Mama sampai saat detik ini. Jujur Sila hanya merasa kecewa atas apa yang kalian perbuat, tetapi membenci itu tidaklah benar," ungkap Asilla bersujud di kaki Mira dengan tangan menggenggam tangan kaku Farhan. "Katakan dan jelaskan kesalahan apa yang pernah Sila lakukan sehingga membuat Papa sama Mama sangat membenci Sila? tolong katakan pada Sila," mohon Asilla dengan lirih. Bahkan suaranya sudah parau akibat menangis.


Melihat kedua orang tuanya bungkam Asilla beralih menoleh ke arah Asinta yang berada di samping sang Mama.


"Kak Sinta pasti tau alasan semua itu, jadi Sila mohon beritahu Sila Kak," mohon Asilla kepada Asinta.


Asinta menggeleng


"Dulu Kak Sinta penyelamat bagi Sila tetapi semuanya berubah karena seseorang. Kenapa dari awal Kakak tidak memberitahu Sila bahwa Kak Sinta mencintainya? kenapa Kak Sinta merahasiakan masalah itu? andai saja itu tak terjadi maka hubungan tali persaudaraan kita tidak akan menjadi seperti ini Kak,"


"Kamu pura-pura tidak tau Sila. Bukankah dari awal sudah pernah aku katakan kalau aku menyukai Grey? tetapi tanpa memikirkan perasaanku kamu menikung dari belakang. Diam-diam kalian menjalin hubungan, dan atas tindakanmu itu membuat aku kecewa. Aku sangat mencintainya Sila, tetapi sampai detik ini rasa itu tak pernah terbalas karena sampai detik ini dia masih sangat mencintaimu. Katakan kepadaku pelet apa yang kamu gunakan sehingga diriku tak pernah tergantikan di hatinya, padahal kami sudah menikah dan bahkan aku sudah memberikan anak tetapi itu hanya titipan sesaat," cecar Asinta diiringi tangisan.


Asilla menggeleng karena tuduhan Asinta tidaklah benar. Sedangkan Filio mencerna atas perkataan Asinta. Seketika ia melirik Grey dengan posisi berdiri seperti patung di sisi ranjang tak jauh dari Asinta.


Filio memapah tubuh lemas Asilla untuk kembali berdiri.


"Sayang jadi------,"


"Iya dia adalah sosok masa lalu itu. Kamu pasti tak pernah menyangka dengan skenario kehidupan ini, dunia ternyata begitu sempit," ungkap Asilla seakan tau dengan pertanyaan Filio.

__ADS_1


Dada Filio meradang setelah mengetahui pria yang pernah singgah di hati wanita miliknya. Bahkan kedua saudara ini memperebutkan pria itu. Sungguh Filio sangat cemburu, ia tak munafik.


Filio langsung mengendong Asilla ala bridal membawanya pergi dari tempat neraka itu. Ia ingin menunjukan betapa ia mencintai dan memperlakukan Asilla seperti ratu. Asilla tak menolak bahkan ia melingkarkan kedua tangannya di leher Filio dan wajahnya terbenam di dada kekar naik turun itu pertanda ia menahan amarah.


Keempat orang itu tercengang tanpa berkata-kata melihat kepergian Filio bersama Asilla.


...******...


Usai makan malam bersama kini kedua orang tua tripleks bersantai di ruang keluarga. Mereka hanya berdua sedangkan ketiga buah hati mereka masih menginap di Mansion. Tidak ketinggalan Riri juga ikut menginap di Mansion.


"Sayang apa kamu lebih baikan?" tanya Filio cukup mencemaskan kesehatan Asilla.


Asilla mengangguk pertanda ia sedang baik-baik saja. Terlihat jelas matanya masih sembap akibat menangis sepanjang hari.


"Besok kita akan fitting baju di butik langanan jadi aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa,"


Mata Asilla menyipit.


"Sayang apa kamu lupa jika istrimu ini seorang desainer?" kata Asilla dengan bibir cemberut.


Seketika Filio bungkam baru menyadari.


Hahaha


"Maaf sayang suamimu ini pelupa,"


"Belum tua sudah mulai pikun," canda Asilla.


Aaah


Desis Asilla karena tanpa ancang-ancang tubuhnya diangkat. Filio mengendong Asilla seperti anak kecil yang digendong di posisi depan.


"Sayang kamu mau apa?" gumam Asilla dengan gugup dan was-was karena kini posisinya duduk di pangkuan Filio.


Hmmm


"Jika suami-istri sedang berduaan seperti ini pasti sudah tau dong ingin melakukan apa?"


Cup

__ADS_1


...******...


__ADS_2