Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 65. Tumbuh Perasaan


__ADS_3

Huwa....huwa....


Tangisan triplets memecah keheningan di meja makan. Bagaimana tidak mereka menangisi sang Papa yang pergi begitu saja tanpa berpamitan dulu kepada mereka, padahal mereka sengaja tidak ke sekolah karena ingin menghabiskan hari ini untuk jalan-jalan.


"Sayang Papa pergi karena tugas bekerja," bujuk Asilla sudah berkali-kali tetapi tidak berhasil juga meluluhkan ketiga bocah itu.


"Mama telpon Papa. Biar Abel suruh Papa kembali pulang," rengek Isabella dengan air mata membasahi wajahnya.


Asilla meraih ponsel dan langsung menghubungi nomor ponsel Filio tetapi tidak membuahkan hasil karena operator yang menjawab panggilan telepon itu. Asilla berkali-kali mengulangi terapi tetap tidak tersambung.


"Sayang ponsel Papa tidak aktif, mungkin Papa lagi sibuk sehingga tidak ingin di ganggu," terang Asilla kembali meletakan ponsel di atas meja makan.


"Kenapa kamu pergi terlalu pagi dan tidak ada waktu memberitahukan anak-anak. Lihatlah mereka sangat membutuhkanmu," batin Asilla.


Sarapan belum juga disentuh oleh mereka. Isak tangis masih berirama.


"Sayang ayo habiskan sarapan," bujuk Asilla dengan lembut.


Gabriella, Isabella maupun Moses tak bergeming mereka hanya terdiam tidak berniat menyantap sarapan yang sudah berada di hadapan masing-masing.


Asilla menghela nafas sudah menyerah dan akhirnya dia ikut terdiam juga sembari pikirannya berpusat kepada Filio. Seketika rasa ingin berada di sampingnya menghinggapi benaknya. Dengan segera ia menggelengkan kepala karena pikiran bodohnya itu.


Tap tap


Ketukan sepatu seseorang berhasil membuat lamunan mereka pudar.


"Hai keponakan tampan cantik Aunty," sapa seseorang langsung menghampiri meja makan dimana yang ditempati mereka.


"Aunty," seru ketiganya terlonjak melihat kedatangan Fiona dan Fredella yang tiba-tiba.


Fiona maupun Fredella silih berganti memeluk serta memeluk keponakan mereka.


"Kakak ipar," Fiona maupun Fredella saling memeluk Asilla.


"Apa kabar kalian sayang?" tanya Asilla kepada Fiona dan Fredella.


"Seperti yang Kakak ipar lihat. Kami baik-baik saja," jawab Fredella mewakili.


"Hmmm tetapi sepertinya ketiga keponakan Aunty sedang tidak baik-baik saja," tebak Fiona karena menyadari raut wajah triplets.


"Ini karena Papa Aunty," cicit Isabella.


Fiona maupun Fredella saling memandang.


"Iya Aunty Papa pergi ke luar kota tanpa memberitahu kami terlebih dahulu. Karena ulah Papa kami bolos sekolah," tandas Gabriella.

__ADS_1


"Padahal hari ini kami berencana ingin menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama Papa," sambung Moses.


Fiona maupun Fredella sama-sama menghela nafas mendengar aduan ketiga keponakan mereka. Mereka begitu masih polosnya.


"Oh begitu. Bagaimana jika hari ini kalian jalan-jalan dengan Aunty saja," bujuk Fredella.


"Iya sayang kita akan menonton pertunjukan lomba-lomba," timpal Fiona.


Gabriella, Isabella maupun Moses saking memandang dan seketika wajah yang tadinya buram kini berseri mendengar ajakan kedua Aunty mereka.


"Mau Aunty," seru ketiganya dengan senang sehingga membuat Fiona dan Fredella tersenyum.


"Jika begitu segera habiskan sarapan kalian hmmm jika tidak makan Aunty membatalkan semuanya," Asilla sedikit mengancam.


"Mama benar sayang," timpal Fiona.


Tidak ingin dibatalkan sehingga mereka. buat mereka langsung menyantap sarapan itu. Asilla, Fiona dan Fredella mengembangkan senyuman.


"Sayang kalian ikut sarapan juga," sapa Asilla.


"Kami sebelum ke sini sudah sarapan Kak. Kebetulan tadi pagi sarapan bersama Kak...."


Aawww


"Ada apa Aunty?" tanya Moses karena kebetulan di samping Fredella.


"Tidak tampan kaki Aunty tak sengaja tersandung meja," bohong Fredella.


"Makanya hati-hati Aunty," celoteh Isabella.


"Iya cerewet," balas Fredella.


Fiona merasa lega, hampir saja Fredella keceplosan.


"Hmmm memang Kak Iyo ke luar kota ya Kak ipar?" tanya Fiona berpura-pura tidak tau apa yang terjadi di biduk rumah tangga Filio dan Asilla.


"Katanya begitu," jawab Asilla dengan tak semangat.


"Oh padahal kami berharap bisa bertemu Kak Iyo," timpal Fredella ikut bersandiwara.


Hmmm


Siang menjelang triplets bersama kedua Aunty mereka jalan-jalan. Asilla tidak bisa ikut serta karena pekerjaan di butik tidak bisa ditinggalkan.


...******...

__ADS_1


Di butik Asilla tidak bisa berkonsentrasi seperti biasanya menyelesaikan desain gaun pesanan ternama. Di bayangannya selalu terlintas wajah Filio. Sejak tadi ia selalu melirik ponsel yang berada di atas meja, berharap seseorang menghubunginya seperti biasa tetapi sampai saat ini ponsel itu begitu sepi, adapun yang mengirim pesan tetapi bukan orang yang ia harapkan.


"Ada apa denganku?" gumam Asilla sembari menghela nafas panjang.


Merasa tidak bisa berkonsentrasi akhirnya ia memutuskan pulang ke rumah. Berharap seseorang memutuskan atau membatalkan keberangkatannya ke luar kota dan sekarang berada di rumah.


Tidak butuh waktu lama kendaraan yang Asilla kendarai tiba juga di pekarangan rumah. Dengan bergegas Asilla membuka pintu mobil dan segera turun.


Ceklek


Pintu rumah terbuka. Sebelum masuk Asilla menghela nafas. Sepanjang jalan menuju dapur ekor matanya melirik ke mana-mana. Berharap sesosok itu ada tetapi sekali lagi ia menelan kekecewaan sehingga membuatnya terduduk di kursi meja makan.


"Papa triplets," gumam Asilla dengan wajah berbinar.


Seketika bayangan Filio sedang memasak terlintas di matanya sehingga membuat Asilla tersenyum. Bayangan Filio sedang mengiris sayuran sembari menatapnya dengan senyuman pesonanya. Asilla membalas senyuman itu dan segera beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Filio.


"Kamu sedang masak apa?" tanya Asilla.


Filio tidak menjawab tetapi ia balas dengan senyuman.


"Papa triplets kamu masak a...." seketika Asilla membeku karena ternyata itu hanya sebuah bayangan atau halusinasinya saja. Bayangan Filio langsung menghilang.


Asilla langsung merosot kebawah dengan perasaan yang sulit dimengerti. Ia menatap ponsel yang berada di genggamnya berharap Filio menghubunginya. Dari lubuk hati yang paling dalam ia ingin sekali menghubungi Filio tetapi butuh pertimbangan karena ia tau bagaimana hubungan mereka. Dimana mereka seperti orang asing.


Sekarang hati Asilla sudah tertutup untuk Grey. Sekarang sama sekali ia tidak terlintas lagi nama Grey di hatinya. Tetapi sekarang digantikan dengan nama Filio. Sungguh Asilla ingin sekali berada di dekat suaminya itu. Entah apa yang terjadi kepada dirinya Asilla tidak dapat memahami.


"Kamu sedang apa?" gumam Asilla kepada dirinya sendiri dengan pandangan ke depan tanpa tujuan.



...******...


Di Mansion di kamar yang luas pria tampan sedang terpuruk siapa lagi jika bukan seorang CEO terkenal akan kesuksesan bisnisnya. Seorang Ayah tiga anak.


Berhari-hari ia meratapi foto ketiga buah hatinya. Ia juga memutar berulang-ulang video yang baru tadi malam ia rekam bersama ketiga buah hatinya. Tidak ketinggalan foto Asilla juga ia amati. Senyuman manis Asilla menenangkan hatinya yang hancur. Tetapi tidak lama bayangan menyakitkan terlintas lagi. Bayangan ketika Asilla menolak atau tidak memberi kesempatan bagi dirinya untuk memperbaiki atau memulai dari awal. Lebih menyakitkan lagi bayangan Asilla berada di pelukan pria lain yang tak lain adalah pria yang menjadi bagian dalam kehidupan Asilla, pria yang dicintainya dan tak tergantikan di hatinya oleh siapapun. Begitulah pengakuan Asilla yang ia ketahui.


"Papa sangat merindukan kalian sayang." Gumam Filio sembari menciumi foto ketiga buah hatinya dengan mata memerah.


Filio menyandarkan setengah tubuhnya dengan meletakan ponsel di dadanya dengan wallpaper foto ketiga bocah tampan cantik itu.




...******...

__ADS_1


__ADS_2