
Tubuh Asilla membeku sehingga tanpa sadar mencengkram atau meremas tangan Filio.
"Tidak mungkin," gumam Asilla dengan bibir bergetar disertai menggelengkan kepala.
Dengan segera Filio membawa Asilla menjauh dari tempat duduk Asinta seorang diri karena sudah ditinggalkan oleh Grey. Di kursi panjang tempat yang jauh dari keramaian Filio membawa Asilla bermaksud menenangkan.
"Mereka adalah-------, " perkataan Filio terpotong.
"Apa kamu tau siapa pria yang bersama Kak Sinta?" tanya Asilla dengan mata berkaca-kaca. Lidahnya keluh untuk menyebut siapa sosok pria itu.
"Tentu saja aku tau siapa pria brengse* itu," ujar Filio tanpa menatap Asilla yang tengah menatap kepadanya.
"Hah?" sekali lagi membuat Asilla membeku. Kedua bola matanya ingin keluar. Apa yang dikatakan Filio membuat jantungnya ingin meledak.
"Pria itu adalah suami Sinta. Orang yang juga membantu memuluskan rencana licik dari keluarga Candrawinata," ujar Filio tanpa tau apa yang Asilla pikirkan.
Duarr
Seperti disambar petir di siang bolong. Seketika bola mata Asilla melotot seperti ingin keluar dari tempatnya. Jantungnya ingin meledak mendengar apa yang Filio katakan. Sehingga membuat kedua kakinya melemah tak mampu untuk berpijak.
"A-apa?" gumam Asilla dengan bibir bergetar. Lidahnya keluh untuk bersuara.
"Iya pria itu juga ikut andil atas jebakan atau rencana busuk mereka," ujar Filio kembali.
Deg
Demi apa pun Asilla tidak sanggup lagi untuk bertahan. Kini tubuhnya merosot ke rerumputan. Dengan segera Filio memapah tubuh lemas tak berdaya itu. Sungguh ia juga binggung melihat perubahan di wajah serta tubuh Asilla.
Asilla menggelengkan kepala disertai derai air mata yang sudah membanjiri wajah pucatnya.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin," gumam Asilla dengan lirih sembari menggelengkan kepala.
"Tenanglah mereka tidak akan berani berbuat macam-macam lagi," Filio berusaha menenangkan Asilla karena ia mengira Asilla terpukul berat melihat siapa dalang yang ikut serta menjebaknya.
Asilla menatap Filio dengan derai air mata. Dengan reflek ia memeluk erat Filio sembari menangis cukup kencang.
Hiks.... hiks.... hiks....
Tangisan Asilla pecah sehingga terdengar cukup keras. Tentu saja hal itu membuat jantung serta tubuh Filio disambar petir.
"Tenanglah," hanya itu yang keluar dari mulut pria tampan itu sembari membalas pelukan Asilla. Tanpa sadar ia mengecup berkali-kali pucuk kepala Asilla. Meresapi aroma wangi dari setiap helai rambut indah yang sengaja digerai itu. Sedangkan Asilla memperdalam pelukannya, bahkan ia membawa wajah penuh air mata itu masuk kedalam leher Filio.
Tangisan Asilla tak henti-hentinya sehingga membuat Filio juga heran. Karena sedikit penasaran Filio berusaha melepaskan pelukan yang begitu erat. Mau tidak mau Asilla ikut terlepas.
Dengan hati-hati serta memberanikan diri Filio menangkup wajah Asilla agar bisa ia pandang.
Deg
Sungguh ia cukup kaget melihat wajah yang kini ia tatap dipenuhi air mata. Dengan tangan bergetar ia memberanikan diri menghapus air mata menggunakan jari jempol.
__ADS_1
Lain halnya dengan Asilla. Wanita rapuh itu tak lepas menatap Filio yang sibuk menghapus air mata yang membasahi kedua pipi mulusnya.
"Tenanglah mereka tidak akan berani melakukan apapun lagi. Aku bisa menjamin," ujar Filio sembari merapikan helaian rambut yang menghalangi wajahnya.
Hiks.... hiks.... hiks....
Tangisan Asilla pecah kembali sehingga ia kembali memeluk erat tubuh Filio. Tentu saja Filio sedikit bingung. Tetapi pikiran yang lain sama sekali tidak bermunculan dibenaknya.
"Aku tau kamu bersikap seperti ini karena mengetahui siapa dalang yang membantu menjebak kita. Kamu memelukku karena tanpa rasa kesadaran." Batin Filio sembari memejamkan mata.
Tiba-tiba
"Papa, Mama!" Seru triplets.
Filio maupun Asilla terkaget karena mendengar suara melengking dari kedua putri mereka.
"Jangan menangis lagi. Apa lagi didepan anak-anak," bisik Filio memperingati Asilla. Asilla terdiam tetapi tatapannya tidak lepas dari wajah Filio sehingga membuat Filio salah tingkah.
Hmmm
Deheman Filio menyadarkan Asilla sehingga membuatnya menunduk menahan tangisan.
"Mama ayo kita pulang, Moses bosan," ajak Moses sembari mendekati Asilla.
"Tidak! Abel belum puas," cicit Isabella.
"Tentu saja sayang, biar Papa yang beli," ujar Filio.
"Tidak Papa. Gaby ada uang tabungan sendiri yang cukup untuk membeli lukisan itu," kata Gabriella.
Tentu saja pengakuan Gabriella membuat Ayah 3 anak ini tersentuh. Sedangkan Asilla hanya terdiam seperti patung.
"Papa sangat bangga memiliki kalian. Kalian sungguh luar biasa. Untuk lukisan itu anggap saja itu hadiah dari Papa," ungkap Filio dengan mata berkaca-kaca sembari merangkul ketiga buah hatinya.
"Terima kasih Papa," seru triplets bersamaan.
"Baiklah kita beli lukisan itu dulu. Setelah itu kita akan segera pulang," ujar Filio.
"Tapi Pa," Isabella tidak setuju karena menurutnya ia belum puas.
"Sayang lain kali lagi kita akan kesini. Kebetulan Mama lagi lelah jadi kita sudahi dulu," terang Filio.
"Mama lelah?" tanya Isabella sembari menarik lengan Asilla sehingga membuatnya tersadar dari lamunan yang sejak tadi.
"Hah?" Asilla kaget dan tidak tau apa yang di ucapkan Isabella. Sungguh ia kehilangan senyawa. Bayangan Asinta dan Grey memenuhi pengelihatan serta di otaknya hanya ada dua nama itu.
"Sayang Papa sudah bilang Mama sedang kelelahan akibat liburan kita ini," dengan cepat Filio memberi alasan karena ia tau jika Asilla masih terpuruk.
"Benarkah Mama lelah?" tanya Isabella dengan polos.
__ADS_1
Hmmm
Filio sengaja berdehem sembari menatap Asilla. Sehingga Asilla juga sedang menatapnya. Filio memberi kode dengan mengangguk kepala. Seakan mengerti Asilla menyentuh pucuk kepala Isabella.
"Iya sayang Mama sedikit lelah. Hmmm bisakah sekarang kita sudahi dulu?" kata Asilla dengan lembut ia berusaha menahan gejolak serta kehancuran hatinya saat ini setelah mengetahui kebusukan orang yang sangat ia cintai selama ini. Sehingga mengakibatkan cinta seorang CEO ternama di tolak.
Isabella, Gabriella serta Moses menatap Asilla dengan lekat. Mereka cukup kaget melihat kedua mata wanita yang telah melahirkan mereka memerah serta sembam akibat menangis.
"Mama sedang menangis?" tanya Isabella tidak melepaskan pandangannya.
"Mama sedang sakit?" timpal Gabriella.
"Apa Papa yang telah membuat Mama menangis?" sambung Moses berprasangka jika sang Papa yang menyebabkan Mama mereka menangis.
Asilla menelan ludah serta berusaha menahan diri.
"Tidak sayang. Mama tidak sedang menangis atau apapun sebagainya. Mama hanya kelelahan sedikit," terang Asilla terpaksa berbohong karena saat ini anak-anak masih sangat kecil untuk memahami apa yang telah terjadi.
Ketiganya terdiam dan jujur saja mereka merasa bersalah karena terlalu happy dengan liburan itu.
"Baiklah jika begitu kita sudahi. Let's go," ajak Gabriella.
"Lukisan Abel!" Isabella masih terpikir tentang lukisan itu.
"Semua sudah berada didalam mobil," ujar Filio.
"Hah.... "
"Beres sayang," Filio mengajak rambut indah tergerai milik Isabella.
"Terima kasih Papa,"
Cup cup
Dua kecupan mendarat di kedua pipi Filio. Dengan hati bahagia Filio menerima kecupan sayang itu. Akhirnya mereka menyudahi liburan yang meninggalkan momen terindah itu bagi triplets serta Filio. Tetapi tidak bagi Asilla. Liburan yang awalnya ia merasa bahagia tetapi dibalas dengan kebalikannya setelah mengetahui rahasia terbesar dalam hidupnya.
...*****...
Apakah Asilla merasa hancur?
Apakah setelah mengetahui orang yang sangat dicintainya telah mengkhianati dirinya akan berubah pikiran untuk menerima kembali Filio?
Apakah Filio berubah pikiran sehingga menentang sendiri janji yang pernah ia ucapkan?
Nantikan kisah selanjutnya.
Gong Xi Fa Cai buat para reader yang sedang merayakannya.
__ADS_1