Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 41. Bertemu Grey


__ADS_3

Di negara x


Seperti biasa setiap paginya Asilla menyiapkan sarapan untuk mengisi perut di pagi hari. Sedangkan Gabriella dan Isabella masih terlelap. Asilla akan membangunkan mereka setelah ia selesai membuat sarapan dan lain sebagainya.


Ceklek


Pintu kamar dibuka Asilla.


"Putri-putri cantik Mama sudah bangun rupanya," kata Asilla ketika melihat Gabriella dan Isabella rupanya sudah bangun. "Selamat pagi sayang," sapa Asilla kembali sembari mendaratkan kecupan di wajah keduanya silih berganti.


"Selamat pagi juga Mama," balas Gabriella dan Isabella serempak.


"Ayo saatnya kita mandi," ajak Asilla selalu mandi bersama kedua buah hatinya bila disaat pagi hari. Dengan senang hati kedua bocah cantik itu mengikuti sang Mama masuk ke kamar mandi.


Kini mereka sedang menikmati sarapan pagi. Menu hari ini adalah roti bakar beserta steak daging.


"Mama steak buatan Mama paling enak," puji Isabella seperti biasanya.


"Terima kasih sayang, jika begitu segera habiskan," kata Asilla dengan wajah senangnya.


"Mama kapan kita pulang? Gaby rindu Kak Moses, Opa, Oma semua." Kata Gabriella.


Mendengar pertanyaan sang putri tentu saja membuat Asilla tidak bisa menjawab. Sangat sulit baginya untuk mencari alasan yang tepat.


"Iya Mama. Sudah sangat lama kita disini, katanya Kak Moses akan datang tetapi sampai sekarang juga belum datang," timpal Isabella setelah menghabiskan sarapan.


"Sayang bersabarlah," hanya itu yang bisa Asilla jawab atas pertanyaan si kembar.


"Selalu begitu," gumam keduanya dengan tidak semangat.


Ketika peninggalan Gabriella dan Isabella dari meja makan Asilla termenung. Ingatannya kepada Moses membuat dadanya sesak, seperti ada ikatan batin. Untuk mengobati rasa rindunya Asilla hanya bisa melihat foto serta video Moses pada ponsel yang sengaja ia simpan.


"Sayang Aunty sangat merindukan dirimu. Aunty harap kamu baik-baik," gumam Asilla sembari memandangi foto Moses yang tersenyum. Tidak lupa ia kecup layar ponsel itu seolah mencium Moses sesungguhnya.


Kini Asilla mengantar kedua putri cantiknya ke sekolah. Setelah itu ia akan menuju tempat ia bekerja yaitu butik miliknya sendiri.


Asilla seperti biasa melakukan aktivitasnya. Butik yang baru ia dirikan cukup maju, banyak pelanggan yang puas akan hasil tangan Asilla sendiri.


Seperti siang ini ia akan bertemu dengan pelanggan langganan di sebuah restoran. Karena sang pelanggan tidak bisa ke butik, sehingga meminta bertemu di restoran.


"Lora aku akan ke restoran x," kata Asilla kepada karyawannya yang bernama Lora. "Aku minta tolong jemput si kembar siang nanti," sambungnya.

__ADS_1


"Iya Bu," jawab Lora yang biasa menjemput Gabriella dan Isabella jika Asilla tidak sempat karena setiap pulang sekolah mereka akan langsung menuju butik sampai pada saat sang Mama pulang. Tidak khawatir karena di butik itu sengaja Asilla mempersiapkan ruangan untuk kedua buah hatinya.


Asilla memperkerjakan dua karyawan untuk membantunya. Untuk sementara ia hanya mampu memperkerjakan dua karyawan saja. Maklum Asilla kembali mulai dari nol.


Dengan kendaraan roda duanya. Kini wanita berparas cantik bahkan semakin cantik ini sudah memikirkan kendaraan kesayangannya. Kendaraan yang banyak berjasa untuk mengantar jemput kan kedua putri kembar serta menemaninya bekerja dan lain sebagainya.


Tidak ingin sang pelanggan menunggu lama ia langsung masuk kedalam restoran.


"Selamat siang Miss," sapa Asilla dengan ramah.


"Selamat siang juga Bu Sila," balas wanita yang dipanggil Miss oleh Asilla.


"Maaf jika sudah lama menunggu," kata Asilla sedikit tidak enak hati.


"Tidak masalah karena Miss juga baru datang," jawabnya.


Keduanya asik membicarakan tentang hasil fashion yang dirancang Asilla. Merasa cukup keduanya mengakhiri pertemuan itu.


"Lebih baik aku ke supermarket dulu," gumam Asilla kepada dirinya sendiri sebelum menjalankan roda duanya.


Tidak butuh waktu lama. Kini Asilla berada di dalam supermarket, memilih barang yang ia perlukan.


Tiba-tiba ia menabrak seseorang yang berada didepannya karena tidak melihat akibat asik memilih barang.


"Maaf," kata Asilla sembari memungut barang milik seseorang yang ia jatuhkan.


"Tidak masalah," balas seseorang itu yang juga sibuk memungut barang yang terjatuh tanpa melihat siapa yang menabraknya.


Asilla bangkit bertepatan seseorang itu juga ikut bangkit.


"Sekali lagi aku minta ma-----," seketika ucapan Asilla terjeda.


"Grey,"


"Sila,"


Gumam keduanya setelah saling bertatap muka. Keduanya membulatkan mata tak percaya akan bertemu. Tepatnya lagi Asilla sungguh ia tak percaya jika pertemuan ini adalah nyata sehingga membuatnya kembali menjatuhkan barang milik seseorang itu.


"Benarkah itu kamu Grey?" lirih Asilla dengan bibir bergetar tak percaya.


"Sila," hanya itu yang bisa pria yang bernama Grey itu katakan.

__ADS_1


Asilla mengerjapkan mata beberapa kali karena ia yakin jika ini adalah sebuah mimpi saja. Tetapi sayangnya ini adalah kenyataan.


"Benarkah kamu Grey? bukankah kamu sudah dinyatakan tiada?" kata Asilla kembali sembari menarik-narik jaket kulit tebal yang dikenakan Grey.


"Ikut aku," ujar Grey sembari menarik tangan Asilla ingin membawanya pergi keluar supermarket.


Asilla tidak menolak karena ia ingin dengar apa yang terjadi sebenarnya. Bahkan ia tanpa mengalihkan pandangannya di wajah Grey.


...******...


Di sebuah taman yang tidak jauh dari supermarket. Disitulah Grey membawa Asilla.


"Apa kamu tidak merindukanku honey?" ujar Grey karena Asilla seperti tidak merindukan dirinya.


Asilla tanpa menjawab. Ia masih menatap lekat-lekat sesosok pria yang menjadi bagian masa lalunya.


"Honey," panggil Grey sembari menggenggam telapak tangan Asilla dengan erat sehingga membuat Asilla tersadar dalam lamunannya.


"Benarkah kamu masih hidup Grey?" kata Asilla sembari mengelus wajah Grey.


"Iya ini aku honey. Aku telah kembali, maafkan aku." Jawab Grey sembari memegang tangan Asilla.


"Bukankah kamu sudah dinyatakan meninggal dalam kecelakaan maut itu?" Asilla sangat tak percaya.


"Ya aku selamat. Beberapa tahun aku mengalami lumpuh sehingga tidak bisa kembali karena aku diselamatkan seseorang yang jauh dari perkotaan," jelas Grey.


"Demi apapun aku bersyukur karena apa yang aku bahkan orang-orang kira kamu telah tiada tetapi nyatanya kamu selamat." Kata Asilla dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku telah membuatmu menderita honey atas kehilanganku," ujar Grey dengan lembut sembari memeluk Asilla.


Asilla tak bergeming karena terlalu terkejut akan pertemuan itu. Pria yang pernah menjadi bagian masa lalunya kini kembali hadir dengan status dirinya yang berbeda. Seketika akal sehat Asilla kembali memenuhi otaknya.


Dengan terpaksa Asilla melepaskan pelukan erat dari Grey. Mendapat penolakan Asilla membuat Grey mengeraskan rahangnya. Sungguh ia sangat merindukan sesosok wanita yang sampai saat ini tidak bisa ia lupakan.


"Honey," panggil Grey dengan tatapan sendu. Dadanya sesak ketika mengingat perbuatannya terhadap Asilla yang dirahasiakan. "Honey aku sangat merindukan dirimu, sungguh." Lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar ungkapan Grey tentu saja membuat dada Asilla sesak.


"Grey!"


...******...

__ADS_1


__ADS_2