Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 92. Malam Panjang


__ADS_3

Rencana yang sempat tertunda akhirnya honeymoon mereka berjalan sesuai rencana.


Sebelum terbang ke Paris mereka menyelesaikan masalah terlebih dahulu agar honeymoon mereka tak terganggu.


Dengan persetujuan dari Filio. Asilla memboyong kedua orang tuannya tinggal di rumah milik Filio yang pernah mereka tempati. Sedangkan Asinta bersama Grey tinggal di apartemen milik Grey. Filio memberi modal untuk Grey mengelola kembali perusahaan Candrawinata yang sudah bangkrut.


Asilla sangat berterima kasih kepada suami serta keluarga besar Januar. Berkat kebaikan mereka Asilla dapat membantu orang tuanya.


Filio dan Asilla kini berada didalam pesawat jet pribadi yang akan membawa mereka ke negara yang dikenal dengan negara romantis yaitu Paris. Ya sesuai keinginan Asilla, Filio mengabulkan permintaannya. Mereka akan mencetak anak sebanyak-banyaknya di negara romantis itu.


Tidak mudah bagi mereka meluluhkan hati ketiga buah cinta mereka. Banyak drama sehingga triplets luluh. Namanya anak-anak jadi dimaklumkarena mereka belum mengerti. Hanya di tawarkan dengan Adik bayi seketika mereka mau di tinggalkan, hanya itu senjata ampuh.


"Sayang jika lelah beristirahatlah," Filio mengusap pucuk kepala Asilla dengan penuh cinta.


"Nanti saja sayang, aku ingin membaca novel yang belum sempat di baca," jawab Asilla sembari mengeluarkan sebuah novel dalam tas jinjing branded yang diberikan sang suami.


"Novel apa? apakah novel yang ada adegan hmmm? bisa buat bekal nanti sayang," goda Filio.


Huh....


Wajah cantik itu memerah karena jujur saja setiap novel yang ia baca akan ada adegan begituan.


"Wajahmu bersemu merah sayang, berarti tebakanku benar bukan?" ya Filio kembali menggoda.


"Dasar mesvm,"


"Mesvm sama istri sendiri tidak ada salahnya bukan?" goda Filio dengan mata naik turun.


Asilla langsung membuang muka. Hal itu membuat Filio semakin gemes.


"Sayang," lirih Filio dengan manja. Tetapi Asilla masih tetap membuang muka. Mood ingin membaca novel pun jadi hilang.


Huamm....


Asilla menguap beberapa kali.


"Sayang kamu mengantuk?" Filio langsung mengangkat dagu Asilla dengan jari telunjuknya sehingga wajah itu menghadap wajahnya.


Huamm....


Sekali lagi ia kembali menguap tanpa menutup mulutnya karena kedua tangannya dicegah oleh Filio.


"Nafasmu sangat wangi sayang,"


Asilla cemberut karena itu tidaklah mungkin.


"Tidurlah di pangkuanku, biar aku sembari memijit kepalamu. Kamu sangat kelihatan lelah. Perjalanan kita masih panjang," ujar Filio lembut disertai senyuman, hal itu me. buat Asilla luluh dan terenyuh.


Tidak menunggu lama ia langsung berbaring dengan kepala di kedua paha Filio. Tanpa segan ia membenamkan wajahnya di perut rata itu dengan tangan melingkar. Tentu saja hal itu membuat hati Filio bahagia. Dan ia memijit titik-titik di kepala Asilla.


"I love you!"


"I love you too!" Balas Asilla seperti gumaman karena wajahnya masih terbenam.

__ADS_1


Senyuman merekah di raut wajah Filio.


...******...


Di Paris


Kedua pasangan itu tiba sore. Mereka langsung menuju sebuah hotel mewah. Untuk 1 minggu mereka akan berada di hotel tersebut sedangkan selebihnya mereka akan menghabiskan waktu di Penthouse milik mendiang Vicky Januar dan Toriana Januar, yaitu Eyang mereka.


"Sayang apa sebaiknya kita makan dulu atau membersihkan diri?" tanya Filio.


"Kebetulan aku lapar sayang, bagaimana sebaiknya kita cari makan," usul Asilla karena memang cacing-cacing di perutnya sudah memberi kode.


"Baiklah! Hmmm mau makan didalam atau di luar?"


"Lebih nyaman di luar saja sayang sembari cuci mata. Hmmm ini pertama kalinya aku ke sini," kata Asilla dengan jujur.


Filio tersenyum, terbesit hatinya merasa kasihan. Padahal dirinya sudah tak terhitung ke negara romantis itu.


"Akan aku ajak kamu kelilingi sampai puas sayang tetapi tunggu kita menyelesaikan tugas dulu,"


"Benarkah?" seketika mata Asilla berbinar.


"Iya istriku,"


Filio langsung mengecup sekilas bwbirr menggoda itu.


"Sangat manis,"


"Kamu pesan apa?"


"Crepe dan minumnya Citron presse," kata Asilla.


"Samakan saja," ujar Filio kepada sang pelayan.


"Baik Tuan. Harap menunggu,"


Tidak lama pesanan mereka datang. Keduanya menikmati dengan diiringi obrolan. Sekali-kali Filio menyuapkan Asilla, begitu juga sebaliknya. Duh benar-benar so sweet banget.


Malam menjelang. Asilla kini menunggu selesainya Filio dari kamar mandi. Sedangkan ia belum membersihkan diri.


Klek


Pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah Filio dengan handuk terlilit sebatas pinggang.


Asilla terkesima.


"Sayang bersihkan segera dirimu," suara bariton itu menyadarkan Asilla sehingga membuat ia kelabakan dan salah tingkah.


Tanpa berkata-kata Asilla langsung berlari memasuki kamar mandi dengan koper kecil di tangannya, sedangkan Filio tau jika istri polosnya itu salah tingkah.


"Wanita mana yang tidak terkesima dengan tubuh sempurnaku ini, tetapi dari ribuan wanita dirimu yang beruntung," gumam Filio memuji dirinya sendiri.


Asilla merendamkan tubuhnya sebentar. Merasa cukup ia menyudahi. Ia sadar jika sudah menghabiskan waktu cukup lama. Sedangkan didalam sana pria tampan itu mondar-mandir tak karuan sembari memandangi pintu kamar mandi.

__ADS_1


Asilla pasrah karena ternyata isi koper itu semua adalah lingerie transparan semua. Padahal sebelumnya koper itu berisi pakaian yang biasa ia kenakan karena ia sendiri yang mengemasnya sebelum berangkat tetapi kenapa semuanya berubah.


"Sayang apa kamu baik-baik saja?" Filio memanggil serta mengetuk pintu beberapa kali.


"Iya sayang sebentar," jawab Asilla frustasi.


Sedangkan Filio tau apa alasan Asilla berlama didalam sana karena itu semua rencana indahnya yang dikerjakan oleh Riri.


"Huh tidak ada pilihan lain," gumam Asilla pasrah.


Ai ambil lingerie warna merah. Seketika matanya membulat melihat bayangan tubuhnya di cermin.


"Ya ampun sama saja aku tak berpakaian," gumam Asilla kaget. Seumur hidup baru kali ini ia mengenakan pakaian semacam ini, bukan pakaian tetapi jaring-jaring halus yang tepatnya.


Klek


Pintu kamar mandi ia buka pelan-pelan berusaha tak terdengar. Dari tadi Asilla berdoa agar suami mezvmnya itu sudah terlelap agar ia bisa membungkus tubuh terawngnya itu dengan selimut tebal.


Benar saja Filio terbaring dengan tubuh berselimut sampai ke leher. Asilla merasa lega. Dengan leluasa ia melangkah mendekati ranjang penuh hati-hati, takut membangunkan Filio.


Asilla beringsut naik ke ranjang.


"Sayang dari mana saja?" suara bariton itu membuat tubuh Asilla membeku dan tidak berkutik.


Filio langsung bangkit dengan bibir tersenyum. Ya dia sengaja pura-pura tidur.


"Oh shitt.... kamu sangat menggoda sayang," ya rayuan maut itu mulai beraksi.


Asilla menelan ludah sembari memundurkan tubuhnya dengan kedua tangan menyembunyikan aset berharga. Tidak ingin melewatkan kesempatan, sekilas saja pinggang ramping itu sudah di dekap Filio


Bwbrr Filio melahp bwbrr tipis Asilla. Mngvlvmnya lembut sambil mmainkn daging basah tanpa bertulang dengan bvass didalam sana. Bukan hanya Filio, Asilla juga membalas.


Filio langsung mlvmatt, mnjjlat, mngvlvvm, mrremas bahkan memberi banyak maha karya di aset kedua berharga itu. Sedangkan Asilla hanya mampu mndzah dan meracav tak jelas.


Filio sudah tak tahan. Tangannya menggapai handuk yang masih melekat, lalu membuangnya asal.


Tangan kokoh itu menjamah setiap inci tvbh Asilla, mnjelajahi dengan sangat lembut dan mendamba. Di mulai dari cervkk lher, kemudian langsung bermain di area paling sensitiff yang memberi zenzzi sengatan di sekujur tvbhnya.


"Sayang aku mulai," sejenak Filio meminta persetujuan Asilla.


Asilla mengangguk tak karuan. Ya untuk pertama kali setelah kejadian itu biarlah ia memimpin permainan.


Asilla mndezh nkmat begitu juga Filio saat milik mereka sudah sama-sama mnyatu. Tvbh Filio bahkan brgetar dengan zenzzi nkmat. Selagi Filio mngerakan pnggulnya maju mvndvr, bwirr itu tetap bkrja mlvmti bwirr ranvm Asilla. Asilla semakin mngejang nkmat.


Keduanya mngerng panjang pertanda mncapai puncak knikmtan.


Entah sudah berapa ronde mereka bergumul. Sehingga me. buat Asilla tak sanggup lagi.


"Terima kasih istriku. Aku puas," gumam Filio tak lupa memberi kecupan di dahinya. "Semoga di dalam sini segera tumbuh," sambungnya sembari mengusap perut rata itu.


Malam panjang mereka akhiri sampai subuh. Keduanya langsung terlelap.


...******...

__ADS_1


__ADS_2