
Sungguh kedua bocah polos itu tidak mengerti. Yang mereka tau pria yang sedang memeluk mereka saat ini adalah Uncle mereka sejak lama.
Filio melepaskan pelukan itu karena tidak mendapat balasan dari si kembar. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca menatap wajah Gabriella dan Isabella silih berganti. Begitu juga dengan si kembar, mereka juga menatap inten kepada Filio sehingga tatapan mereka bertemu. Demi apapun jantung Filio ingin meledak menatap bola mata keduanya, sungguh ikatan batin itu ada
"Sayang Uncle yang kalian panggil ini adalah Papa kalian. Ini adalah Papa sayang," ungkap Filio dengan lembut sembari meneteskan air mata. Sehingga membuat Gabriella dan Isabella saling memandang dengan perasaan tidak paham.
"Maksud Uncle apa?" tanya Gabriella.
"Sayang intinya ini adalah Papa kandung kalian. Kalian masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi," ujar lembut Filio.
Keduanya kembali saling memandang.
"Uncle adalah Papa kami?" timpal Isabella memberanikan diri. Ia sebenarnya masih takut kepada Filio.
Mendengar Isabella mengeluarkan suara membuat Filio mengembangkan senyuman lalu meraih wajah keduanya untuk menatap wajahnya.
"Iya sayang ini adalah Papa. Kalian berdua adalah putri Papa sekaligus saudara dari Moses," terang Filio dengan lembut.
Gabriella maupun Isabella lama terdiam. Tiba-tiba.
"Papa," gumam keduanya bersamaan.
Deg
Mendengar panggilan itu tentu saja membuat jantung Filio berdebar.
"Papa," panggil Gabriella.
"Papa," timpal Isabella.
Kedua bocah itu menangis.
"Iya sayang," dengan segera Filio mendekap tubuh keduanya. "Papa sayang kalian," lirih Filio kembali meneteskan air mata, ya air mata kebahagiaan. Tanpa bersusah payah ia berhasil menyakinkan si kembar. Sungguh ini adalah sebuah mujizat terbesar bagi Filio. Tetapi ia belum bisa bernafas lega karena ia harus berjuang menghadapi Asilla, Ibu dari ketiga darah dagingnya.
"Papa hiks hiks...." Tangis keduanya membalas pelukan sang Papa.
Sungguh pandangan ini sangat mengharukan bagi siapapun yang melihatnya. Pandangan ini seperti sebuah adegan pembuatan film.
Dari jarak tidak terlalu jauh Asilla beserta Moses melihat momen itu, tetapi sayangnya mereka tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Demi apapun Asilla sangat terkejut melihat apa yang ada didepan matanya saat ini. Bukankah selama ini mantan suaminya tidak pernah melakukan hal itu kepada kedua putrinya, tetapi apa ini.
"Mama," panggil Moses sembari menarik tangan Asilla. Sehingga membuat kesadaran Asilla kembali.
Asilla menatap inten wajah Moses. Ia bingung kenapa Moses memanggilnya dengan sebutan Mama saja karena biasanya Moses akan memanggil dirinya dengan sebutan Mama Sila.
"Mama," panggil Gabriella dan Isabella secara bersamaan dari arah belakang sehingga membuat Asilla maupun Moses menoleh menatap ketiganya.
Mata Asilla membulat dengan tubuh menegang mendapati kedua putrinya di gendong oleh mantan suaminya. Dalam gendongan itu Gabriella dan Isabella sangat senang.
Filio maupun Asilla saling menatap secara diam.
__ADS_1
"Gaby, Abel." Panggil Moses langsung menghampiri.
"Kak Moses," balas keduanya langsung minta turun dalam gendongan Filio.
Ketiga bocah itu saling memeluk. Melepas kerinduan yang selama ini mereka rasakan. Sungguh pandangan ini seperti drama yang biasa kita jumpai di siaran televisi.
Filio melangkah semakin mendekati Asilla yang seperti patung saat ini.
"Si-Sila," panggil Filio dengan bibir bergetar. Tentu saja membuat tubuh Asilla membeku.
Pria tampan itu langsung berjongkok di hadapan Asilla. Sehingga membuat mata Asilla membulat dengan mulut menganga.
"Tu-Tuan," gumam Asilla sembari mundur.
Filio maju langsung memeluk pinggang Asilla dengan posisi berjongkok. Tubuh Asilla kembali membeku. Ia ingin sekali menjauh tetapi pelukan itu begitu erat.
"Sila aku minta maaf!" Ungkap Filio dalam pelukan itu.
Deg
Demi apapun seorang Asilla terkejut dan tidak percaya dengan kata yang keluar dari mulut seorang Filio.
Filio menadah wajahnya keatas untuk menatap Asilla sehingga tatapan keduanya bertemu cukup lama.
"Asilla aku adalah Ayah kandung dari Gaby, Abel." Ungkap Filio masih menatap Asilla.
Duar
"Aku adalah Papa mereka. Dalam arti mereka adalah saudara kandung Moses," ungkap Filio kembali.
Asilla menggeleng kepala dengan mata berkaca-kaca sembari berontak ingin lepas dari delapan erat itu tetapi sayangnya tenaga ia tidak sebanding dengan Filio.
"Maksud Tuan Gaby dan Abel bukanlah darah dagingku begitu? maksud Tuan mereka adalah putri Tuan dengan Kak Sinta begitu?" kata Asilla dengan berurai air mata. Dada serta jantungnya berdetak kencang membayangkan hal itu. "Jangan mengada-ngada Tuan, mereka adalah kedua putriku!" Teriak Asilla dengan histeris disertai tangisan. "Mereka adalah darah dagingku!" Lirihnya dengan suara rendah.
"Iya mereka adalah darah daging kita," ujar Filio dengan tegas sehingga membuat Asilla tercengang.
"Mak------,"
"Iya Sila mereka bertiga adalah putra-putri kita. Ceritanya sangat panjang," ungkap Filio tanpa melepaskan tatapan di wajah Asilla. "Mereka adalah anak-anakku dengan dirimu," sambungnya di pelukan perut Asilla.
Deg
Sekali lagi membuat Asilla membeku tidak percaya.
"Aku adalah Ayah dari mereka," lirih Filio dengan terisak. Asilla dapat merasakan tubuh Filio bergetar dalam pelukannya.
Cukup lama mereka berdiam seperti itu. Filio merasa lega serta nyaman dalam pelukan itu, walaupun tidak mendapat balasan dari Asilla. Sedangkan Asilla tidak tau apa yang telah terjadi. Ribuan pertanyaan yang ada dalam benaknya. Tidak paham dengan pengakuan Filio.
"Aku akan berjanji menjelaskan semuanya kepada kamu tetapi tidak di sini," ujar Filio sembari melepas pelukan itu.
__ADS_1
Asilla memberanikan diri menatap Filio. Sehingga tatapan mereka kembali beradu.
"Ikut aku pulang, kembali ke rumah." Ujar Filio dengan lembut.
Kedua mata Asilla membulat mendengar perkataan Filio.
"Papa, Mama." Seru triplek bersamaan sehingga membuat Filio maupun Asilla membuang muka.
"Sayang," sambut Filio dengan perasaan bahagia. Sedangkan Asilla membeku melihat hal itu.
"Mama sini bergabung," ajak triplet.
Asilla terdiam.
"Mama," panggil Moses sehingga membuat Asilla menatap Moses dengan tanpa berkedip. Pengakuan Filio membuat hatinya bingung.
"Son," ajak Mamamu untuk bergabung," ujar Filio sembari tersenyum kepada Asilla.
Dengan terpaksa Moses menarik erat tangan Asilla agar ikut bergabung. Kini keluarga baru itu saling merangkul. Tentu saja Asilla membeku, ia tidak lepas menatap Filio.
"Ini adalah putra-putri kita," ujar Filio dengan senyuman sembari menarik Asilla agar masuk kedalam dekapannya. Atas tindakan Filio membuat mata Asilla membulat.
"Ya Tuhan apakah ini benar? apakah yang dikatakannya itu adalah benar? jadi selama ini Moses juga adalah anakku? jadi pria yang meniduri aku waktu itu adalah dia?. Sebenarnya apa yang terjadi selama kami disini," batin Asilla dengan mata terpejam.
"Demi apapun aku sangat bahagia dengan hari ini, akhirnya aku berhasil berkumpul dengan keluargaku, dengan ketiga anak-anakku." Batin Filio dengan mata terpejam. Sungguh ia merasakan kebahagiaan ini seperti sebuah mimpi.
"Mama ayo kita pulang. Opa sama Oma serta eyang sudah menunggu kepulangan Mama beserta Kak Gaby dan Kak Abel," cicit Moses.
"Ayo Mama. Abel juga sudah merindukan Opa dan Oma serta eyang," timpal Isabella.
"Gaby juga ingin pulang Mama," timpal Gabriella.
Asilla terdiam.
"Apa kamu tidak mendengar apa yang mereka katakan?" ujar Filio sehingga membuat Asilla menghela nafas. "Sayang sebaiknya untuk 1 minggu kita menghabiskan liburan di sini dulu," terang Filio kepada triplek.
"Hore," girang ketiganya dengan sangat senang. Beda halnya dengan Asilla. Pertanyaan-pertanyaan masih memenuhi isi otaknya.
"Kak Gaby akhirnya kita memiliki Papa, seperti teman-teman sekolah kita," girang Isabella dengan ceria.
Mendengar perkataan Isabella tentu saja membuat Filio maupun Asilla saling memandang dengan dada sesak.
"Mama, akhirnya Abel sama Kak Gaby memiliki seorang Papa. Kenapa selama ini Mama tidak bilang jika Uncle adalah Papa Abel?" cicit Isabella dengan polosnya.
Asilla terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak tau mau menjelaskan apa. Dalam sekejam ia berpikir ternyata selama ini kedua putri kembarnya merindukan sesosok Ayah di samping mereka tetapi mereka tidak pernah mengungkapkan keinginan mereka.
"Papa minta maaf sayang," lirih Filio sembari menatap keceriaan wajah Gabriella dan Isabella.
Akhirnya dengan hati bertanya-tanya Asilla membawa Filio serta Moses ke rumah kediaman mereka.
__ADS_1
...******...