
Farres, Lyodra, Sky serta Zeze menyambut kedatangan putra, menantu serta ketiga cucu mereka. Sesuai permintaan kedua orang tuanya Filio memboyong istri serta triplets ke Mansion.
"Opa, Oma, Eyang." Panggil ketiganya sembari berlari.
"Cucu-cucu Oma," panggil Lyodra dengan bahagia menyambut kedatangan ketiga cucunya.
Mereka saling memeluk melepas rasa rindu yang selama ini mereka rasakan.
"Sayang," panggil Lyodra kepada Asilla yang hanya terdiam.
Asilla tak bergeming ia merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan. Dengan cepat Lyodra mendekat lalu membawa Asilla kedalam pelukannya.
"Sila minta maaf Mommy," lirih Asilla sembari terisak dalam pelukan Lyodra.
"Tidak sayang ini bukan sepenuhnya kesalahan kamu, justru kami yang minta maaf," kata Lyodra.
Setelah melepaskan rindu dengan Lyodra kita giliran Zeze yang memeluk Asilla.
"Oma, Sila minta maaf," lirih Asilla dalam pelukan Zeze yang sudah berumur.
"Tidak sayang justru Oma berterima kasih kepada kamu karena telah melahirkan tiga cucu untuk kami. Oma sangat bahagia sayang, Oma tidak ingin kamu pergi lagi," ungkap wanita renta itu.
Cukup melepas rasa rindu akhirnya mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Nak mungkin kami egois karena telah memaksa kamu untuk kembali pulang. Kami sadar jika kesalahan putra kami tidak bisa dimaafkan," ungkap Farres.
Asilla tidak menjawab ia hanya bisa tertunduk.
"Kami minta maaf sayang telah buta tidak bisa melihat dan menyadari apa yang terjadi sesungguhnya. Mommy sebagai orang tua telah gagal karena telah membiarkan kamu mengandung sendirian sampai melahirkan dan membesarkan kedua cucu kami," timpal Lyodra dengan masih terisak.
Asilla menghela nafas panjang.
"Ini bukanlah kesalahan Daddy, Mommy, Opa dan Oma." Kata Asilla dengan bijak. "Sila minta maaf karena pergi tanpa memberitahu Daddy, Mommy, Opa dan Oma." Imbuhnya kembali dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar penuturan Asilla membuat mereka terdiam. Mereka paham ini semua bukan kesalahan Asilla tetapi semua ini berakar dari keluarga Candrawinata, orang tua Asilla sendiri.
"Sayang terima kasih," kata Lyodra kembali.
...******...
Di rumah kediaman
Di meja makan telah berkumpul triplets. Mereka menunggu orang tua mereka untuk memulai sarapan.
Tiba-tiba Asilla datang disela cerita Moses beserta kedua Kakaknya.
"Sayang Papa mana?" tanya Asilla karena tidak melihat kehadiran Filio.
"Mungkin Papa masih tidur Mama, begitulah biasanya karena tidak ada yang bangunin Papa." Terang Moses.
__ADS_1
"Memangnya Mama sama Papa tidak tidur satu kamar," tanya Isabella dengan polos.
Asilla terdiam tidak tau harus menjawab apa.
"Mama sebaiknya bangunkan Papa, kita-kita sudah lapar," kata Gabriella.
Asilla melebarkan mata, bagaimana mungkin ia berani membangunkan Filio. Karena ia tau sendiri bagaimana hubungan mereka.
"Mama," panggil triplets serempak.
Mau tidak mau Asilla mengikuti kemauan triplets. Ia melangkah berat menuju kamar pribadi Filio. Tiba didepan pintu kamar ia terdiam sesaat.
"Ya ampun bagaimana ini? apa aku harus membangunkannya? hmmm bagaimana ini?" gumam Asilla dengan jantung dag dig dug.
Asilla menarik nafas dalam-dalam lalu memberanikan diri mengetuk pintu kamar Filio.
Tok tok tok
Tidak ada jawaban dari dalam.
Tok tok
Tetap tidak ada jawaban.
"Papanya triplets...." Panggil Asilla.
Tetapi tetap tidak ada juga jawaban dari dalam.
Ceklek
Ia terpaksa membuka handle pintu sendiri ternyata pintu itu tak terkunci.
"Tidak di kunci," gumam Asilla.
Tidak ingin membuang waktu Asilla memberanikan diri masuk kedalam kamar. Ini kedua kalinya ia memasuki kamar itu. Seketika matanya melebar dengan mulut menganga mendapati dua buah bingkai foto berukuran besar terpampang di dinding kamar itu. Di sana adalah foto pernikahan mereka serta foto ketiga buah hati mereka. Sungguh Asilla tercengang, bukankah dulu foto itu tidak ada didalam kamar itu.
Asilla menelan ludah dengan perasaan yang sulit diartikan. Sesaat matanya menatap Filio yang masih nyenyak dalam tidurnya dengan posisi memeluk guling.
"Duh bagaimana cara aku membangunkannya," gumam Asilla bingung. Ia mondar-mandir mencari cara.
Mau tidak mau Asilla mendekati kasur lalu menggoncang lembut bahu kekar Filio.
"Papa triplets agi bangun, anak-anak sudah menunggu untuk sarapan," kata Asilla sembari mengigit bibir bawahnya. Tetapi tidak membuat Filio terbangun, bahkan pria itu sama sekali tidak bergerak.
Asilla menghembuskan nafas jengah.
"Papa triplets bangun," panggilnya sekali lagi tetapi masih belum membuahkan hasil. "Harus pakai cara apa biar dia terbangun, jika seperti ini nyawanya takan aman bila dalam tidur seperti orang mati." gumam Asilla sembari mendudukkan dirinya ditepi kasur.
Di sebelahnya sudah menyunggingkan senyuman tanpa diketahui oleh Asilla.
__ADS_1
"Sayang apa kamu mengkhawatirkan diriku?" tiba-tiba suara bariton yang sangat ia kenal membuat Asilla melotot dengan tubuh membeku.
Asilla masih belum percaya dengan suara itu.
"Sayang,"
Cup
"Morning kiss," ujar Filio dengan suara serak khas bangun tidur.
Deg
"Kamu!" Asilla murka karena pria itu kembali mencuri ciuman kedua kalinya. Ia langsung bangkit menjauhkan dirinya.
"Tidak ada salahnya bukan?" ujar Filio sembari tersenyum.
Asilla mengerucutkan mulutnya, sungguh ia jengkel dengan perlakuan Filio yang kurang aja* menurutnya. Walaupun mereka adalah sepasang suami-istri tetapi hubungan mereka tidaklah sama seperti pada umumnya.
"Kamu wangi sekali sayang," ungkap Filio sengaja menggoda Asilla masih dengan posisi berbaring tetapi matanya tetap terpejam.
Wajah Asilla bersemu merah.
"Bangunlah anak-anak sudah menunggu di meja makan," Asilla memberitahukan.
Seketika Filio membuka kedua matanya.
"Kami tunggu di meja makan," kata Asilla lembut lalu berjalan melangkah keluar dari kamar itu tanpa menoleh.
Filio memandangi tubuh Asilla sampai menghilang. Tidak ingin istri dan ketiga anaknya menunggu lama sehingga membuatnya sesegera mungkin bangkit dan masuk ke kamar mandi. Di depan cermin besar di kamar mandi Filio melihat bayangan dirinya, seketika ia terkekeh karena kebodohannya berani mencuri ciuman Asilla serta berani memanggilnya dengan panggilan sayang.
"Sepertinya aku sudah gila," kekeh Filio.
Di meja makan mereka betah menunggu kedatangan Papa mereka.
"Selamat pagi son dan kedua bidadari Papa," sapaan pagi Filio untuk triplets.
"Selamat pagi Papa superhero," balas ketiganya serempak sehingga membuat kening Asilla mengerut mendengar julukan baru triplets kepada Papa mereka.
"Anak pintar," kagum Filio sembari tersenyum.
Mereka mulai menikmati sarapan disertai candaan. Asilla terdiam wajahnya masih memerah sehingga ia tidak berani menatap Filio.
Di ruang keluarga.
"Hari ini Papa akan ke luar kota selama 3 hari. Maaf karena pekerjaan penting ini tidak bisa Papa tinggalkan, hmm bukan berarti kalian tidak penting. Bahkan kalian lebih yang paling penting dalam hidup Papa." Ungkap Filio.
"Iya Papa tidak apa-apa," jawab Gabriella dan menjadi dapat anggukan dari Isabella dan Moses.
"Aku titip anak-anak," ujar Filio kepada Asilla.
__ADS_1
Asilla mengangkat wajah lalu menatap Fio yang juga menatapnya sehingga tatapan keduanya bertemu.
...******...