
Hari, minggu, bulan telah terlewati. Tidak terasa Filio maupun Asilla melewati waktu selama 2 bulan. Tidak mudah bagi kedua insan tersebut. Filio sangat berusaha menjaga perasaan Asilla agar ia merasa nyaman di rumah itu. Kadang ia mengalahkan egonya sendiri agar tidak terpancing.
Asilla masih bersikap dingin kepada dirinya. Ia akan berbicara seperlunya saja, itupun masalah anak-anak. Tetapi Filio dapat memahaminya.
Seperti malam ini pria tiga anak itu baru saja pulang dari kantor. Karena pekerjaannya menumpuk sehingga membuatnya lembur sampai tengah malam.
Setelah membersihkan diri ia akan tidak absen ke kamar triplets. Merasa kelaparan ia melangkah menuju dapur, kebetulan tadi ia melewati makan malam. Dan alasan utamanya adalah ia tidak akan melewati masakan Asilla.
Di dapur ia membuka lemari tempat penyimpanan lauk pauk yang dikelola oleh Asilla. Ia membawa ke meja makan untuk di nikmati. Tentu saja semua makanan itu sudah sangat dingin. Dengan tidak sabaran ia ingin mencicipinya.
Tiba-tiba
"Itu makanan sudah dingin, biar aku panasin terlebih dahulu," suara lembut itu menghentikan suapan pertama Filio.
Tanpa mendengar jawaban Filio. Asilla langsung mengambil semua makanan untuk dipanaskan. Sedangkan Filio tercengang oleh apa yang dilakukan Asilla.
Filio memandangi kesibukan Asilla dari meja makan tanpa mengalihkan pandangannya. Sungguh ia merasa kebahagiaan luar biasa. Walaupun cuek tetapi Asilla masih memperdulikannya. Tanpa sadar ia senyam-senyum sendiri seperti orang gila.
"Makanlah," kata Asilla setelah selesai meletakan makanan yang sudah dipanaskan. Tetapi tidak membuyarkan kesadaran Filio, ia masih senyam-senyum.
Asilla menyipitkan mata melihat apa yang dilakukan Filio.
Hmmm
"Papa triplets segeralah dimakan," kata Asilla kembali dengan suara sedikit meninggi sehingga berhasil membuyarkan kesadaran Filio.
Hmmm
Filio salah tingkah tetapi ia tetap bisa menyembunyikannya.
"Kamu sudah makan?" tanya Filio tidak lagi memanggil Asilla dengan panggilan sayang karena ia tidak ingin Asilla merasa tidak nyaman.
"Sudah," jawab Asilla dengan singkat masih dengan posisi berdiri.
"Duduklah temani aku menghabiskan makanan ini," pinta Filio.
"Maaf aku masih ada pekerjaan yang belum terselesaikan, tadi hanya ingin mengambil air putih." Jawab Asilla tanpa menatap Filio yang sedang menatapnya.
Mendengar penolakan dari Asilla tentu saja ia merasa kekecewaan tetapi ia dapat memahaminya.
"Baiklah tidak masalah. Hmmm jangan terlalu memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan karena yang namanya pekerjaan itu tidak akan pernah habis. Kesehatan yang lebih diutamakan," ujar Filio sembari mulai menikmati makanan yang sudah hangat dengan wajah yang sulit dijabarkan.
Asilla mengalihkan tatapannya tepat di wajah Filio yang sedang menikmati masakan yang ia msak. Asilla tau jika pria itu sebenarnya tidak menyukai penolakannya tetapi semua ini Asilla lakukan karena ada satu hal yang tidak ingin ada yang tau.
__ADS_1
Mengetahui kepergian Asilla membuat Filio menghentikan suapan pada mulutnya. Ia memandang ke arah Asilla sampai menghilang dengan tatapan sendu.
"Aku akan sabar dengan keacuhanmu," gumam Filio.
Setelah mengisi isi perutnya Filio kembali kedalam kamar. Tanpa sengaja ia mendengar Asilla sedang mengobrol dengan seseorang dalam sambungan telepon. Suara itu begitu lantang karena ruang kerja Asilla pintunya terbuka sedikit, ya Asilla memanfaatkan ruang kosong untuk menyelesaikan pekerjaannya di butik.
"Jadi itu pekerjaan yang dia maksudkan sehingga engan menemani makan malamku." Batin Filio.
Tidak ingin larut dalam kekecewaan membuat Filio bergegas menuju ke kamar miliknya.
Asilla sedang menerima telepon dari Grey. Dalam obrolan mereka Asilla banyak tertawa seperti mendapat hadiah yang luar biasa. Tanpa ia menyadari seseorang sedang tidak sengaja mengintipnya.
...******...
Pagi menjelang
Seperti hari-hari biasanya keluarga kecil yang belum tau kedepannya ini melakukan aktifitas seperti biasanya. Ketiga buah hati mereka bersekolah sedangkan Filio dan Asilla masing-masing sibuk dengan urusan pekerjaannya.
Tetapi beda dengan pagi ini tidak biasanya Filio melewati sarapan pagi. Entah apa alasannya tidak ada yang tau. Filio pergi ke kantor lebih awal sebelum triplets berada di meja makan.
Di butik Asilla sibuk dengan pekerjaannya.
Ting
Papa triplets: Bersiaplah dengan cantik jam 7 malam aku akan menjemput, mengajak ke tempat yang sudah disediakan."
Ternyata itu pesan dari Filio.
"Dia akan mengajakku kemana? tidak seperti biasanya," gumam Asilla dengan kening mengerut.
Malam tiba
Sesuai permintaan Filio dengan terpaksa Asilla menerima ajakannya. Ia tidak mungkin menolak, bagaimanapun ia harus mengalah dengan egonya.
"Wah Mama cantik sekali. Mama mau kemana?" tanya si bungsu Moses.
"Iya Mama sangat cantik," timpal Isabella.
"Mama mau kemana?" sambung Gabriella.
"Mama akan Papa bawa ke suatu tempat," tiba-tiba suara yang mereka kenali memecah kekaguman mereka terhadap sang Mama.
Melihat kedatangan Filio tentu saja membuat wajah Asilla bersemu merah. Sedangkan Filio tak berkedip menikmati paras pesona Asilla Ia mengembangkan senyuman karena Asilla tidak menolak ajakannya.
__ADS_1
"Papa, Abel ikut," kata Isabella.
"Moses juga," timpal Moses.
"Tidak sayang malam ini biarkan Papa sama Mama berkencan seperti anak remaja," goda Filio.
Mendengar perkataan Filio membuat Asilla melototkan mata.
"Berkencan itu apa Pa? Abel juga mau berkencan," cicit Isabella dengan polosnya.
Filio menepuk kening dengan pertanyaan Isabella. Sedangkan Asilla menatap tajam kepada Filio.
"Triplets ayo ikut Aunty. Hmmm Aunty punya puding kesukaan kalian," ajak Riri seakan tau. Ia akan mengalihkan perhatian triplets agar tidak menganggu acara kedua majikannya.
Tidak susah payah meluluhkan mereka. Sehingga mereka mereka mengikuti Riri.
'Tunggu sebentar aku akan berganti pakaian," ujar Filio. Keberanian sebelum pulang kantor ia lebih dahulu membersihkan diri di kamar mandi pribadi dalam ruangan kantor.
Asilla hanya mengangguk lalu berjalan ingin menunggu Filio di ruang utama.
Tidak menunggu lama akhirnya Filio menampakan diri.
Hmmm
Asilla menoleh. Seketika mulutnya menganga melihat penampilan mempesona seorang Filio. Sungguh ia tidak sadar telah menatap sang suami tanpa berkedip.
"Ayo!" Filio langsung menarik tangan Asilla membawanya masuk kedalam mobil.
Hmmm
Asilla salah tingkah berusaha menenangkan dirinya.
Filio membukakan pintu mobil lalu mempersilahkan Asilla masuk. Tentu saja hal itu membuat Asilla gugup. Didalam mobil keduanya hening dengan pikiran masing-masing. Filio berusaha menyusun kata-kata yang akan diungkapkan nantinya. Sedangkan Asilla bertanya-tanya dirinya akan dibawa kemana, karena ia sungguh tidak tau apa yang direncanakan Filio.
"Kita akan kemana?" akhirnya Asilla memecah keheningan karena ia tidak tahan dengan pertanyaan sejak tadi.
Filio menoleh sebentar. Lalu tanpa segan ia meraih tangan Asilla lalu menggenggamnya. Tetapi jantungnya saat ini berdebar-debar. Dengan cepat Asilla menarik tangannya kembali.
"Fokuslah menyetir," kata Asilla.
Hmmm
...******...
__ADS_1