
1 hari berlalu
Hari ini Filio akan keluar kota karena ada masalah besar yang tidak dapat di selesaikan oleh Gio sang asisten. Mau tidak mau ia langsung terjun ke lapangan, padahal beberapa hari ini ia memang sengaja menghabiskan banyak waktu untuk keluarga kecilnya yang terutama ketiga buah hatinya.
Di meja makan kini sudah berkumpul untuk menikmati sarapan pagi. Sudah 2 hari ini Filio lah yang memasak. Sebenarnya Asilla keberatan oleh apa yang Filio lakukan tetapi ia mengalah karena tidak ingin berdebat. Jujur saja ia juga menyukai masakan apa yang di olah Filio, apa lagi pria tiga anak itu memasak kesukaan masing-masing anggota keluarga termasuk dirinya.
"Masakan Papa enak sekali," celoteh si manja Isabella memuji masakan sang Papa.
Gabriella serta Moses saling mengangguk-anggukan kepala sependapat dengan Isabella.
"Baguslah jika kalian menyukainya sayang," ujar Filio dengan bibir mengembang merasa sangat bahagia atas pujian ketiga buah hatinya.
"Apa yang dikatakan anak-anak benar. Hmmm masakan kamu sangat enak," timpal Asilla.
Huk...huk
Mendengar itu membuat Filio tersedak.
"Hati-hati," kata Asilla sembari mengusap punggung Filio berkali-kali. Setelah itu ia menyodorkan segelas air putih. "Segera di minum," sambungnya dengan wajah tersenyum.
Deg
Perlakuan Asilla tentu saja membuatnya membeku. Perlakuan yang tidak pernah terjadi pada sebelumnya tetapi pagi ini hal yang tak pernah terduga didapatkannya.
"Papa di minum," celoteh Isabella sehingga menyadarkan senyawa sang Papa. Sejak tadi tatapannya tak lepas dari wajah Asilla.
Hmmm
Karena tidak ingin ketahuan Filio langsung meneguk air minum yang di sodorkan Asilla.
"Kenyang," kata Moses setelah bersendawa dengan sopan menandakan ia sudah kenyang.
"Siang ini Papa akan segera berangkat ke kota x karena ada kepentingan mendadak selama 1 hari saja. Karena Uncle Gio banyak pekerjaan yang lain sehingga Papa turun sendiri ke lapangan," ungkap Filio memberitahukan keberangkatannya.
"Gagal deh setiap hari makan masakan Papa," cicit Isabella dengan mulut mengerucut menandakan ia sedang kesal.
"Memang tidak bisa di batalkan Papa?" timpal Gabriella karena merasa tidak ingin berpisah.
"Memang seharusnya menginap?" sambung Moses.
"Sayang Papa pergi bekerja, kalian tidak boleh begitu," nasehat dari Asilla tidak menyukai apa yang di katakan oleh triplets.
Filio tersenyum
"Sayang pekerjaan ini tidak bisa Papa batalkan. Ini semua untuk kalian, untuk masa depan kalian. Jadi Papa janji sepulang dari ini Papa akan ajak kalian liburan satu hari penuh," ungkap Filio.
Mendengar apa yang dikatakan Filio tentu saja membuat hati kecil Asilla tersentuh dan merasa terharu.
"Baiklah Papa," seru ketiganya dengan serempak.
Seperti hari biasa banyak drama dari triplets sebelum berangkat ke sekolah. Dengan penuh kesabaran Filio maupun Asilla menghadapi tingkah mereka. Kadang mereka merengek ingin di antar ke sekolah bersama sang Papa dan kadang sama sang Mama. Tanpa merasa terusik Filio mengabulkan semua apa yang ketiga buah hatinya minta selagi itu tidak merugikan mereka.
Kini hanya tertinggal Filio bersama Asilla di ruang keluarga.
"Apa keperluan kamu sudah dipersiapkan?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Filio menatap lekat wajah Asilla yang juga sedang menatapnya sehingga tatapan mereka bertemu cukup lama.
"Hmmm jika belum biar aku bantu," kata Asilla kembali.
"Terima kasih tetapi tidak ada barang penting, lagi pula hanya menginap 1 malam." Jawab Filio merasa senang tetapi hanya bisa dirasakan di dalam hati.
"Oh," Asilla hanya bisa ber oh ria setelah mendengar penjelasan Filio.
"Apa kamu tidak ke butik?"
"Sepertinya tidak,"
Hmmm
Suasana kembali hening, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
...******...
Keesokan harinya
Hari ini Asilla akan berbelanja bulanan sendirian di pusat pembelanjaan terbesar di kota itu. Setelah makan siang di butik ia langsung meluncur ke tempat yang di tuju.
Dreett
Tiba-tiba getaran ponsel yang berada di dalam tas menghentikannya untuk masuk.
Papa Triplets [ Maaf menganggu hmmm kamu sedang apa? ]
Love❤ [ Tidak masalah hmmm aku sedang berada di Mall x, belanja bulanan ]
Papa Triplets [ Apakah di temani Riri? ]
Love❤ [ Aku sendiri saja karena Riri bersama anak-anak untuk berenang. Hmmm apa pekerjaan sudah selesai? ]
Papa Triplets [ Tentu dan sekarang aku sudah berada di dalam Helikopter. Tetapi aku tidak bisa langsung pulang ke rumah karena masih menemui klien dari luar negeri ]
Love ❤ [ Baiklah dan berhati-hati ]
__ADS_1
Papa Triplets [ 🙂 ]
Tanpa sadar Asilla tertawa kecil sendirian membaca pesan balasan dari Filio. Ternyata Filio yang mengirim pesan.
"Huh.... apa aku sudah tidak waras?" Asilla mengerutuki kebodohannya karena seperti orang tidak waras cekikikan sendiri.
Tidak ingin di lihat para pengunjung ia segera memasukan ponsel kembali ke dalam tas jinjingnya.
Sedangkan pria di seberang sana tidak bedanya dengan apa yang Asilla lakukan.
Asilla langsung menuju rak khusus keperluan bahan dapur. Ia tidak ingin berlama-lama sehingga membuatnya cekatan memburu keperluan yang menjadi sasaran. Ia sudah bertekad untuk makan malam kali ini ia yang masak sekalian untuk menyambut kepulangan Filio.
Hanya butuh 30 menit bagi Asilla untuk menyelesaikan pembelanjaannya. Kini ia sedang mengantri di bagian kasir.
Dreett
Sekali lagi ponselnya bergetar. Asilla meraih ponsel itu dan segera membuka pesan.
Papa Triplets [ Apa kamu sudah selesai? ]
Love ❤ [ Ini lagi mengantri di bagian kasir ]
Dreett
Asilla mengerutkan alis melihat panggilan telepon dari Filio. Sungguh ia merasa gugup serta canggung jika langsung di telepon. Walaupun bukan video call.
"Kenapa sih harus menelepon?" desis Asilla bimbang mau di angkat atau tidak.
Dreett
Sekali lagi ponselnya kembali bergetar.
Love ❤ " Hal...."
Papa Triplets: "Tolong berikan ponsel kamu kepada kasir. "
Kening Asilla mengerut dan menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara dari seberang sana cukup keras seperti menahan amarah.
Papa Triplets: "Apa kamu mendengar?"
Love❤ "Iya aku dengar."
Papa Triplets: "Aku tidak ingin mendengar kamu mengantri cukup lama seperti pengunjung lainnya. Sebagian besar saham di sana adalah milikmu."
Setelah mengatakan itu Filio langsung menutup teleponnya karena ia akan menghubungi seseorang. Sedangkan Asilla membeku sembari mencerna apa yang barusan dikatakan Filio yang menurutnya tidak masuk akal.
"Saham? milikku?" gumam Asilla bingung.
"Selamat siang Nona!" Sapa seseorang sehingga membuat Asilla tersadar.
"Mari biar saya bantu. Mohon maaf sebenarnya karena kami tidak mengetahui keberadaan Nona," ungkap seseorang yang bisa di tafsirkan adalah seorang manajer.
Asilla tak paham tetapi ia tidak menolak. Dalam hatinya bertanya-tanya ada apa sebenarnya.
Kini ia telah berada di dalam mobil. Ia akan segera meluncur pulang ke rumah.
Dreettt
Ponselnya kembali bergetar sehingga membuatnya mengurungkan niat untuk mengemudi.
Papa Triplets: "Apa kamu sudah selesai?"
Love❤: "Iya sekarang sudah berada di dalam mobil. Ada apa?"
Papa Triplets: "Tidak."
Love❤: Aku akan segera langsung pulang ke rumah."
Papa Triplets: "Baiklah aku juga tidak akan lama. Berhati-hatilah,"
Asilla langsung menjalankan mobilnya. Kini mobil mewah hasil kerja kerasnya membelah jalanan padat yang dipenuhi oleh kendaraan lainnya. Bukannya Filio tidak mau memberi mobil mewah untuk dirinya tetapi atas dasar ia sendiri sehingga pria itu tidak memaksa.
"Ahhh!" Desisnya karena terjebak oleh lampu merah padahal hanya tinggal beberapa detik lagi ia tadi akan lolos. Akibat itu membuatnya bersabar menunggu sampai lampu hijau.
Tiba-tiba ekor matanya melihat dua sosok orang yang sangat dikenalinya sedang berada di dalam mobil tepat di sebelah mobil yang ia kendarai.
Deg
"Grey!"
Sungguh Asilla kaget melihat keberadaan Asinta bersama Grey sedang bercakap-cakap di dalam mobil tanpa menyadari keberadaannya. Mungkin karena dengan keasikan obrolan mereka sehingga tidak menyadari keadaan di sekitar.
Seketika hati Asilla tersayat mengingat pengkhianatan Grey orang yang sangat ia cintai. Karena ini kesempatan baginya untuk menuntaskan masalah ini sehingga membuat Asilla bertekad membuntuti mobil yang Grey kendarai. Ia tidak ingin dibodohi lagi oleh cinta palsu Grey.
Tanpa merasa curiga mobil yang dikendarai Grey meluncur santai sehingga keberuntungan bagi Asilla untuk membuntuti. Ternyata mobil itu menuju sebuah cafe terkenal di Ibu kota.
Dengan penuh hati-hati Asilla mengikuti dari arah belakang. Grey bersama Asinta menempati meja yang jauh dari Kerajaan sehingga ini kesempatan bagi Asilla memergoki mereka.
Hmmm
Asilla berdehem dengan posisi tidak jauh.
Deg
__ADS_1
Mata Grey membulat dengan tubuh menegang melihat siapa sesosok orang yang barusan berdehem. Lain halnya dengan Asinta. Ia malah memepet tubuh Grey dengan manja bermaksud menunjukan siapa seorang Grey sebenarnya.
"Honey!"
Plak plak
Dua kali tamparan melayang di wajah Grey.
"Dasar pengkhianat! Dasar brengse*! Bajin*an!" Sumpah serapah yang Asilla lontarkan.
Tentu saja kata-kata kasar itu membuat seorang Grey tercengang tidak percaya jika orang yang melontarkan kata-kata kasar itu adalah Asilla, wanita yang sangat ia kenali atas kelemahan lembut selama ini tetapi dalam sekejap semuanya berubah.
"Kamu baru tau? hahaha....." Ejek Asinta tanpa merasa bersalah.
"Diam kamu!" Bentak Grey sembari menghempaskan genggaman Asinta.
"Honey biar aku jelaskan,"
"Jelaskan apa? mau menjelaskan siapa kamu sebenarnya? begitu?" bentak Asilla dengan mata berkaca-kaca. "Aku sudah tau semuanya Grey,"
Deg
Bagai petir menyambar di siang bolong. Perkataan Asilla sungguh menyambar hatinya.
"Honey!"
"Tega kamu," lirih Asilla tanpa tak terdengar karena disertai tangisan.
Demi apapun Grey tidak kuasa melihat wanita yang selama ini ia khianati sedang merasakan kekecewaan akibat perbuatannya.
"Tega kamu!"
Asilla menangis sembari menggelengkan kepala.
"Honey aku minta maaf,"
Asilla tidak ingin lagi berada di antara mereka sehingga memutuskan untuk berlari pergi. Tidak ada gunanya ia mendengar penjelasan dari Grey karena semuanya sudah jelas. Pria yang sangat dicintainya telah menggoreskan luka yang amat dalam sehingga tidak bisa di tutupi.
"Honey tunggu!"
"Sayang!" Cegah Asinta menahan lengan Grey agar tidak menyusul Asilla.
Bruk
Dengan terpaksa Grey mendorong keras tubuh Asinta sehingga membuatnya tersungkur di lantai. Tanpa mengkhawatirkan Asinta, Grey langsung berlari mengejar Asilla dengan jarak cukup jauh.
"Brengse*" umpat Asinta dengan mata melebar serta rahang mengeras menahan amarah.
Asilla berlari tanpa henti ingin keluar dari cafe. Kebetulan meja yang di tempati Grey dan Asinta adalah di lantai dua sehingga membuatnya harus berhati-hati.
"Honey,"
"Lepas!" Bentak Asilla berusaha menghempaskan cengkraman Grey di lengannya. Ternyata Grey berhasil mencegah Asilla.
Grey langsung bersimpuh di kaki Asilla sehingga. membuat Asilla menatap tajam dan memundurkan langkahnya tetapi sayangnya ia terjebak pembatas yang terbuat dari kaca.
"Honey aku minta maaf. Aku sadar atas kesalahan yang aku lakukan, tetapi dibalik itu------"
"Cukup!" Bentak Asilla sembari menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir membasahi wajahnya.
"Grey semuanya telah berakhir. Aku dengan ikhlas menerima pengkhianatan ini,"
"Tidak honey,"
Asilla menggeleng
"Walaupun ini tidak mudah bagiku karena kamu sendiri juga tau," lirih Asilla sembari memejamkan mata. "Cintai Kak Sinta dan terima kasih atas segalanya," sambungnya sembari meneteskan air mata terakhir yang bisa di lihat oleh Grey.
Grey menggeleng
"Hari ini semuanya berakhir. Aku mohon jangan menganggu atau menambahkan luka lagi untukku," lirih Asilla dengan tergugu menahan tangis. "Apa selama ini penderitaan yang aku jalani belum juga cukup? orang yang selama ini aku agungkan juga telah mengkhianati dan menggoreskan luka yang sulit untuk di keringkan kembali," ungkap Asilla.
"Tidak honey,"
"Jika aku membuat malapetaka tolong jangan libatkan kepada anak-anakku, mereka tidak tau apapun."
Setelah mengatakan itu Asilla menepis genggaman erat di telapak tangannya. Dengan segera ia melangkah.
Buk
Tiba-tiba Grey menarik cukup keras tangan Asilla sehingga membuat mereka dengan posisi berpelukan karena Asilla tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya.
Deg
Tanpa disadari ternyata sesosok pria melihat hal itu. Ia dapat melihat Asilla berada dalam pelukan pria yang ia tidak jelas dengan wajahnya karena dengan posisi membelakangi. Sedangkan wajah Asilla begitu jelas terpampang dari pembatas kaca besar.
"Tuan!"
Panggilan itu membuat pria itu mengalihkan pandangan.
"Mari lanjutkan,"
Sesaat ia menoleh ke arah yang menjadi pusat perhatiannya tadi tetapi ia tidak mendapati sesosok itu lagi.
__ADS_1
...******...