
Kini kehamilan Asilla menginjak 9 bulan, tinggal menunggu hari saja.
"Sayang boleh meminta sesuatu?" Asilla berusaha bangkit dan mendudukkan dirinya di samping Filio yang masih terlelap. "Sayang," panggil Asilla kembali dengan suara lembutnya sembari mengusap wajah lelah lelakinya itu.
Filio menggeliatkan tubuhnya dan berusaha membuka mata. Wajah memelas Asilla menyambut bangun tidur yang terpaksa ia lakukan.
"Ada apa sayang? apa ada yang sakit? apa saatnya kamu akan melahirkan?" pertanyaan cemas bertubi dari Filio dengan wajah panik, ia bahkan langsung mendudukkan dirinya sembari memeriksa tubuh Asilla.
Asilla tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah lucu Filio menurut dirinya.
"Stop sayang, semua pertanyaanmu itu hmmm bukan itu. Aku baik-baik saja tetapi anak kita minta di isi perut Mamanya hmmm katanya lapar dan harus Papanya yang masakin," kata Asilla sehingga membuat Filio bernafas lega.
"Mau makan apa anak Papa?" tanya Filio sembari menciumi serta mengusap perut buncit itu.
"Mau nasi goreng Papa," jawab Asilla menirukan suara anak-anak.
"Baiklah akan Papa masakin yang paling enak. Hmmm sayang kamu tunggu di sini atau ikut turun?"
"Ikut saja sayang sekalian makan di meja makan. Sayang maaf selalu merepotkanmu ya, padahal sekarang masih dini hari," kata Asilla dengan tidak enak hati.
"Itu sudah menjadi kewajibanku sayang. Jangan merasa bersalah begitu, asalkan kamu tau aku malah senang melakukan ini karena momen seperti ini tidaklah selalu datang." Kata Filio sembari mengusap kepala Asilla dengan penuh cinta.
"Sekali lagi terima kasih sayang," Asilla langsung mengecup pipi tampan itu dengan manjanya.
"Kamu sangat mengemaskan. Hmmm tubuhnya sangat menggoda sayang dan hal itu semakin membuatku selalu ingin memakanmu, hmmm depan belakang sama-sama montok hahaha....."
"Sayang," rengek Asilla dengan wajah memerah.
Ya tubuh Asilla semenjak mengandung tidaklah buruk malahan sebaliknya. Aura kehamilannya menambah kesempurnaan yang sudah ia miliki. Oleh karena itu membuat Filio semakin panas.
"Ayo," Filio merangkul bahu Asilla membawanya turun ke bawah menuju dapur. Tidak sulit karena kamar dilengkapi dengan lift menuju dapur, itu semua dilakukan oleh Filio semenjak kehamilan Asilla.
...******...
Pagi menjelang
Setelah sarapan mereka mengobrol di ruang keluarga, kebetulan hari libur jadi semuanya di Mansion.
"Sayang ada apa?" tanya Filio sangat cepat menangkap keanehan Asilla.
"Sayang perutku sedikit mules," jawab Asilla dengan suara tertahan karena nafas tersengal.
"Apa? sini biar aku oleskan minyak kayu putih," usul Filio. Sungguh ia tidak paham dengan masalah itu, baginya ini pertama kali.
Ssst
Desis Asilla sembari mengigit bibir bawahnya dengan tubuh semakin merosot.
"Sakit sayang, sepertinya aku ingin melahirkan,"
__ADS_1
"Apa?" dengan cepat Filio langsung mengangkat tubuh itu dan membawanya keluar menuju mobil, bahkan ia tidak menghiraukan anak-anak yang sibuk bermain tidak jauh dari mereka.
Dengan wajah panik Filio berjalan bergegas, belum lagi melihat kesakitan yang Asilla rasakan. Para pelayan ikut panik dan menanyakan itu sembari mengejar Filio.
"Nona kenapa Tuan?" tanya Riri dengan wajah panik.
"Istriku sepertinya melahirkan Ri, jaga anak-anak," jawab Filio.
Asilla masuk kedalam mobil dan Filio duduk di sebelahnya dengan wajah khawatir.
"Cepat Pak," titah Filio tidak sabar ingin sampai ke rumah sakit.
"Sayang sabar ya?" ucapan Filio sepanjang jalan sembari mengusap wajah serta perut membuncit Asilla.
Uuhhh
Asilla berusaha menahan tetapi ia tidak ingin membuat Filio cemas. Ia kembali merasakan kontraksi 6 tahun lalu, yang sakitnya luar biasa. Tetapi kali ini bolehlah ia sedikit merengek manja.
"Cepat Pak istriku sudah kesakitan," teriak Filio dengan wajah khawatir.
"Sayang tenanglah," Asilla berusaha menenangkan Filio. Dia yang kesakitan tetapi Filio yang sangat panik.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka tiba juga di rumah sakit. Filio keluar dari dalam mobil tanpa menunggu dibukakan pintu. Supir pribadi bergegas mendahului Filio dan Asilla untuk memberi tau perawat. Filio kali menggendong Asilla dengan wajah pucat pasi karena ternyata ketuban Asilla sudah pecah dan itu berupa darah.
"Bantu aku," perintah Filio kepada para perawat yang datang membawa brankar pasien.
Di ruang bersalin Asilla menjerit kesakitan. Filio semakin panik dan ikut menangis.
"Sakit," teriak Asilla. Kenapa proses melahirkan yang ini sangat sakit, sangat berbeda dengan proses melahirkan triplets.
Rambut serta lengan Filio menjadi sasaran cakaran Asilla. Tanpa merasa sakit Filio membiarkan.
"Dokter lakukan operasi cesar saja," akhirnya Filio tidak tahan lagi melihat penderitaan Asilla.
"Tidak sayang, aku masih kuat," lirih Asilla sadar dengan apa yang dikatakan Filio.
"Tenang Tuan ini pembukaan terakhir, bayi ini pun sudah mengajak mengejan," terang dokter.
"Apa dulu juga seperti ini sayang? maaf pada saat itu aku tidak berada di sampingmu, pasti itu sangat berat bagimu melahirkan tanpa di dampingi oleh siapa pun," batin Filio tanpa sadar meneteskan air mata. Ia tidak tau jika dulu Asilla di dampingi oleh Mira yang ingin berniat buruk.
"Nyonya tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan," instruksi dari dokter. Asilla mengikuti dengan apa yang di instruksi.
Aaah....
Teriak Asilla seperti ditahan sehingga membuat urat-urat di lehernya timbul dengan raut wajah tertahan. Dan kedua tangan tidak lepas dari lengan Filio sampai kuku-kuku tertancap, tetapi untungnya kuku Asilla tidaklah terlalu panjang.
Oek... oek...
Bersamaan dengan itu bayi mungil di lumuri darah lahir ke dunia. Filio bernafas lega sembari menangis.
__ADS_1
"Sayang anak kita sudah lahir. Terima kasih sayang," lirih Filio sembari mengecup kening Asilla. Asilla ikut menangis.
"Selamat Tuan, Nyonya bayi anda berjenis laki-laki," kata dokter.
Filio maupun Asilla saling menatap dengan senyuman bahagia. Mereka selama ini sengaja menyembunyikan jenis kelamin buah cinta mereka. Memang setiap bulan melakukan USG tetapi mereka tidak ingin mengetahui jenis kelamin, biarlah hanya dokter saja yang tau.
"Baby boy sayang," ujar Filio tersenyum bahagia. Bahkan ia menggendong bayi tampan itu masih dengan darah melekat. Untuk pertama kali selain dokter Filio lah yang menggendong dan langsung mengecup kening itu tanpa merasa jijik. "Selamat datang ke dunia boy, kamu sangat tampan sekali hmmm sepertinya Kakakmu Moses merasa tersaingi," imbuhnya.
"Sayang biarkan dibersihkan dulu," lirih Asilla.
Filio kembali menyerahkan bayi itu. Dan segera dibersihkan oleh para suster.
Kini semuanya sudah beres. Ibu dan bayi sudah bersih. Bayi tampan itu diletakan di dada Asilla, dengan perlahan bayi itu mencari mainannya dan tanpa sulit langsung di lahap.
"Wah baby boy kelaparan sayang," ujar Filio. "Uuuh ada saingan ini, sangat terancam," imbuhnya dengan melenceng ke hal lain.
Mendengar itu membuat para suster tersenyum malu-malu sedangkan Asilla memejamkan mata dengan raut wajah memerah.
Tidak lama bayi mungil itu tertidur lalu di letakan di box bayi.
Ssst
Desis Asilla menjerit merasakan bagian intimnya nyeri.
"Apa yang sakit sayang?" tanya Filio kembali cemas.
Dengan malu-malu Asilla menjawab apa lagi para suster dan dokter masih berkutat di ruangan itu membereskan peralatan.
"Ini sayang," bisik Asilla sembari menunjuk.
"Biar aku periksa," dengan refleks Filio menyibak sarung itu.
"Sayang," pekik Asilla sehingga menghentikan Filio.
"Dok, istriku bilang hmmm itunya kesakitan," ujar Filio dengan wajah memerah. Seakan paham dokter menjelaskan.
"Itu tidak berbahaya Tuan, rasa sakit perlahan akan menghilang tetapi butuh 1 bulan. Karena jalan lahir mendapat 3 jahitan," jelas dokter.
Filio mendengus sesak mendengar hal itu.
"1 bulan baru sembuh?" tanya Filio seperti orang bodoh.
"Paling lambat begitulah Tuan sesuai perawatan," jelas sang dokter kembali.
"Dalam arti aku puasa?" gumam Filio masih dapat didengar semua orang dalam kamar itu.
Asilla menggelengkan kepala dengan wajah memerah, begitu juga para suster. Lain hal dengan Filio pria itu tampan lemas.
...******...
__ADS_1