Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 67. Mengejar


__ADS_3

Sesuai janjinya yadi pagi Asilla memboyong ketiga buah hatinya ke Mansion tanpa sepengetahuan kedua mertuanya. Asilla sedikit bermaksud memberi kejutan.


Kini mereka dalam perjalanan menuju Mansion. Jarak kediaman mereka. hanya memakan waktu tempuh 30 menit jika tak terjebak kemacetan.


"Sepertinya Nona sangat senang," batin Riri mencuri melihat perubahan raut wajah Asilla yang berada di sampingnya.


Bagaimana tidak aneh karena sepanjang jalan Asilla senyam-senyum sendiri tanpa menyadari jika Riri yang tengah menyetir diam-diam memperhatikannya.


"Ada apa Ri?" seketika Asilla menangkap basah saat Riri tengah meliriknya.


Hmmm


"Sepertinya Nona sangat senang," tebak Riri memberanikan diri untuk bertanya karena jujur saja ia merasa penasaran.


Asilla menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembusnya secara perlahan.


"Kamu benar Ri hmmm aku memang merasa sangat senang," jawab Asilla tanpa memberitahukan apa yang membuatnya merasa sesenang ini karena belum waktunya ia berbagi cerita dengan Riri. Ia hanya ingin terlebih dahulu berbagi cerita dengan Ibu mertuanya.


Mendengar pengakuan Asilla tentu saja membuat Riri ikut senang karena ia tau beberapa minggu ini Asilla terpuruk akibat dikhianati oleh mantan kekasihnya.


"Saya ikut senang Nona," balas Riri dengan menyunggingkan senyuman masih konsentrasi dalam menyetir.


Tidak terasa kini roda 4 itu memasuki halaman Mansion yang sangat megah. Hal itu membuat triplets tidak sabaran untuk turun. Sungguh mereka sudah kangen kepada Opa sama Oma.


"Sayang hati-hati," peringatan dari Asilla karena ketiga buah hatinya turun dari dalam mobil tergesa-gesa.


Tidak ingin terjadi sesuatu Riri dengan cekatan membantu salah satu dari mereka. Asilla melihat kekocakan triplets menggelengkan kepala dengan mendesah.


Mereka masuk kedalam Mansion tetapi Mansion itu kelihatan sepi. Tiba di ruang keluarga dari kejauhan triplets berlari karena melihat keberadaan Opa, Oma, Eyang dan kedua Aunty mereka sedang mengobrol.


"Opa, Oma, Eyang, Aunty!" Seru mereka serempak sembari menghambur mendekati.


Melihat kedatangan triplets tentu saja membuat mereka kaget.


"Cucu-cucu Oma," teriak Lyodra langsung terisak sehingga membuat Gabriella, Isabella, Moses serta Asilla terheran-heran.


Lyodra bangkit langsung mendekap ketiga tubuh sang cucu membawanya kedalam pelukannya.


"Sayang hiks.... hiks...." Kini tangisan Lyodra pecah.


Cukup lama Lyodra terisak dalam pelukan ketiga cucu-cucunya.


"Oma kenapa menangis?" tanya Isabella dengan kepolosannya sembari mengusap wajah mulai menua sang Oma.


"Seharusnya Oma menyambut kedatangan kami itu dengan rasa senang," timpal Gabriella.


"Apa Oma sedang sakit? mana yang sakit Oma?" sambung Moses sembari menempelkan jari-jemarinya di dahi sang Oma.


Lyodra terpaku terdiam tanpa bisa berkata-kata. Melihat kepolosan triplets membuatnya tersentuh dan terenyuh.


Hiks.... hiks....


Bukannya tertawa atau tersenyum tetapi wanita paruh baya ini kembali terisak. Atas tingkah sang Oma tentu saja membuat Gabriella, Isabella maupun Moses saling memandang dengan tatapan aneh.


"Sayang sini duduk dekat Aunty," ajak Fiona.


"Sini sayang," timpal Fredella.


Gabriella dan Isabella langsung menduduki dirinya di pangkuan Aunty mereka, sedangkan Moses masih tetap berdiri di depan sang Oma.


Keadaan berubah hening hanya ada terdengar isak tangis dari Lyodra dan Zeze. Hal itu membuat Asilla cukup penasaran, ia berpikir jika mereka datang tidak tepat waktu. Seketika bayangan negatif menghampiri benaknya sehingga rasa kekhawatirannya semakin menghantui.


Karena tidak tahan dan cemas Asilla memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Daddy, Mommy, Opa, Oma dan Adik ipar kami minta maaf jika kedatangan kami tidak tepat waktu. Ada apa sebenarnya? apa Mommy sama Oma sedang sakit?" tanya Asilla dengan kecemasan ia menguatkan dengan cara meremas jari-jemarinya.


Orang yang ditanyai terpaku menatap sendu Asilla. Sungguh lidah mereka keluh untuk mengabarkan apa yang telah terjadi.


Hiks... hiks....


Tangisan Lyodra kembali pecah. Ia tidak bisa mengatakan hal ini. Karena tak tahan makan Asilla beranjak langsung berlutut di kaki Lyodra.


"Mommy katakan sesuatu ada apa sebenarnya? jangan hanya diam saja." Desak Asilla sembari menggenggam tangan Lyodra.

__ADS_1


Melihat apa yang Asilla lakukan membuat anggota keluarga tak percaya karena wanita cantik itu sedang berlutut.


Lyodra menelan ludah.


"Sayang jangan begitu, duduklah di sini," lirih Lyodra tidak ingin Asilla melakukan apa yang sedang dilakukan.


Asilla menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Sungguh saat ini ia merasakan sesuatu yang tengah terjadi kepada keluarganya.


"Katakan Mommy apa yang telah terjadi? apa ini ada kaitannya dengan Papa triplets?" tebak Asilla sehingga membuat semua anggota keluarga bungkam saling pandang satu sama lainnya.


Lyodra berusaha tersenyum tetapi ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Sayang i....,"


"Maaf Tuan, Nyonya. Tuan Gilbert sudah tiba," tiba-tiba kepala pelayan menghentikan ucapan Lyodra sehingga membuatnya tidak meneruskan perkataannya.


"Di persilahkan masuk," ujar Farres.


Kepala pelayan mengangguk dengan mendudukkan kepala lalu berlalu.


"Duduk sayang," bujuk Lyodra kepada Asilla. Mau tidak mau Asilla menurut sehingga kini duduk di samping Lyodra dengan perasaan cemas.


"Selamat siang Tuan, Nyonya." Sapa Gilbert sang pengacara.


Semua mengangguk.


"Silahkan duduk," titah Farres.


Kini Gilbert duduk di sofa tunggal.


"Nak bawa keponakan kalian ke atas," titah Farres kepada Fiona dan Fredella.


"Sayang ayo ikut Aunty ke atas, kita akan bermain di sana." Ajak Fiona seakan mengerti dengan perintah sang Daddy.


Karena merasa bosan ketiga bocah polos itu ikuti saja ajakan sang Aunty. Selepas kepergian triplets bersama kedua Aunty mereka kini Farres membuka suara. Sedangkan Asilla sejak tadi hanya diam dengan penuh kebingungan.


"Silahkan sampaikan apa yang ingin Tuan Gilbert sampaikan," ujar Farres dengan tegas.


Gilbert mengangguk dengan sopan. Ia lalu meraih tas dan meraih sebuah map.


Asilla terpaku dengan dahi mengerut karena tidak paham.


"Sesuai surat wasiat yang dibuat Tuan muda Filio semua aset perusahaan kepemilikan pribadi Tuan muda, kini beralih kepemilikan dengan atas nama Asilla Januar. Dengan yang sudah dijelaskan maka mulai hari ini berarti semua aset sudah sah menjadi milik Nona Asilla," terang Gilbert.


Deg


Apa yang di ungkapkan Gilbert tentu saja membuat Asilla syok tak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini. Tetapi tidak dengan keluarga Januar, mereka dari jauh hari sudah mengetahui hal itu.


"Silahkan tanda tangani Nona," Gilbert menyerahkan berkas itu untuk di tanda tangani Asilla.


Mata Asilla melebar dengan tangan bergetar meraih berkas itu. Seketika jantungnya berdetak membacakan apa yang tertulis dalam berkas itu. Apa yang dikatakan Gilbert sesuatu yang telah tertulis.


"Silahkan Nona," sekali lagi Gilbert mengingatkan karena Asilla hanya diam terpaku.


Asilla menggeleng tanpa berniat meraih pulpen yang diletakkan di atas meja sofa.


"Satu lagi Nona. Ini berkas hak asuh anak," Gilbert kembali menyodorkan berkas berisi hak asuh anak.


Asilla membulatkan mata dengan tubuh menegang mendengar pernyataan Gilbert. Seketika sorot matanya berpusat pada berkas itu. Dengan tangan bergetar serta jantung berdegup kencang Asilla meraih berkas itu dan segera membacanya.


Deg


Seketika berkas yang di pegang Asilla jatuh ke lantai.


"Tidak mungkin," gumam Asilla sembari menggelengkan kepala.


Lyodra meraih berkas yang di letakan di bawah meja sofa lalu memberikannya juga kepada Asilla. Asilla cukup kaget melihat berkas itu. Setelah mengetahui berkas itu ia mematung.


Duarr


Bagai petir menyambar di siang bolong yang dirasakan Asilla sehingga membuatnya merosot ke lantai dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang terjadi Daddy, Mommy, Opa, Oma?" lirih Asilla kini bulir bening itu tumpah membasahi seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Seperti yang sudah kamu ketahui sayang," jawab Lyodra singkat karena jujur saja ia sangat sedih.


"Katakan jika semua ini tidak benar Mommy," desak Asilla berurai air mata.


"Sayang bukankah ini yang kamu inginkan? dia telah menepati janjinya, demi kebahagiaanmu dia rela melepaskanmu." Lirih Lyodra sembari memejamkan mata karena tidak kuat untuk mengatakan hal yang membuatnya sesak.


Asilla kembali menggeleng beberapa kali.


"Mommy Sila ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tolong pertemukan kami. Sila mohon Mom," mohon Asilla.


Semua terdiam dengan kepala masing-masing menunduk.


"Sila mohon Dad, Mom, Opa, Oma." Asilla kembali memohon.


Lyodra meraih kedua bahu Asilla agar bangkit. Dan kini keduanya saling berpelukan.


"Kamu ingin mengatakan sesuatu apa kepadanya sayang? apakah kamu ingin mengatakan ucapan terima kasih karena putra Mommy telah menepati janjinya?" pancing Lyodra sedikit penasaran.


Asilla menggeleng karena bukan itu yang ingin dikatakannya.


"Tidak perlu kamu katakan itu kepadanya sayang. Terima kasih sudah menjadi menantu kami yang baik selama ini. Atas semua kesalahan putra Mommy, Mommy minta maaf."


Asilla terpaku mendengar penuturan Lyodra. Ia kembali menggeleng. Dengan dada sesak ia semakin erat memeluk mertuanya.


Asilla membisikkan sesuatu dengan suara lirih sembari terisak.


Deg


Demi apapun Lyodra tak percaya dengan apa yang di bisikan Asilla barusan. Sehingga dengan refleks ia melepaskan pelukan erat itu lalu menatap Asilla dengan intens tanpa mengalihkan pandangannya.


Lyodra menakup wajah Asilla lalu mengusap air mata yang membanjiri wajahnya. Seketika senyuman mengembang di bibir wanita paruh baya itu. Hal itu membuat Farres, Sky dan Zeze menyipitkan wanita menyadari perubahan wajah Lyodra. Dan mereka penasaran apa yang telah di bisikan menantu mereka.


"Sayang kejarlah dia!"


Lyodra menceritakan dengan singkat. Sungguh Asilla bagai diterpa angin kencang sehingga kedua kakinya tidak mampu untuk berpijak mendengar cerita Lyodra.


Tanpa membuang waktu Asilla bangkit dan berlari sekencang-kencangnya tanpa berkata-kata lagi. Melihat kegigihan Asilla membuat anggota keluarga mengusap dada merasa lega.


"Hati-hati sayang," seru Lyodra dan Zeze.


"Semoga kamu tidak terlambat!" Batin mereka masing-masing.


******


Asilla menyetir mobilnya sendiri menuju bandara. Sepanjang jalan ia tidak berkonsentrasi. Dibenaknya hanya ada nama Filio dan Filio.


"Tolong tunggu aku," gumam Asilla sepanjang jalan dengan mata berkaca-kaca. Sungguh rasa takut menghantui dirinya.


Beberapa kali klakson mobil saling bersahutan. Ternyata didepan sana telah terjadi kecelakaan sehingga menyebabkan kemacetan berkepanjangan.


"Bagaimana ini?" umpat Asilla sembari memukul stir mobil.


5 menit 10 menit lamanya ia sudah terjebak macet. Asilla mendesis tanpa beralih ke arah arloji di pergelangan tangan.


"Tinggal 15 menit," lirih Asilla dengan kecemasan.


Tanpa pikir panjang Asilla turun lalu menghampiri petugas kepolisian yang kebetulan berdiri di samping mobil yang ia kendarai.


"Tunggu aku, aku datang." Tangis Asilla.


"Pak minta bantuannya ini kunci mobil saya. Saya harus pergi karena ini sangat menyangkut orang yang sangat berharga," terang Asilla sembari meletakan kunci mobil di telapak tangan sang petugas kepolisian. Tanpa mendengar jawaban sang polisi Asilla langsung berlari sekencang mungkin.


Asilla berlari kencang melewati kepadatan kendaraan. Ia tidak memperdulikan orang-orang menatapnya, yang ada dalam pikirannya adalah Filio. Dan ia tak peduli dengan rasa perih memenuhi telapak kakinya. Dengan penuh perjuangan kini ia sudah memasuki bandara. Kebetulan jarak kemacetan tidak jauh lagi dari bandara.


Asilla langsung kebagian petugas.


"Pak izinkan saya masuk," mohon Asilla sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru arah berharap sosok yang ia cari menampakan diri tetapi ia menelan pil pahit karena harapannya itu tidak membuahkan hasil.


"Maaf tidak bisa Nona!"


Deg


...******...

__ADS_1


•Apakah perjuangan Asilla membuahkan hasil?


Tetap setia menantikan kelanjutan bab-bab yang menegangkan🤭


__ADS_2