
Di tengah keharuan triplets berlari menuju kedua orang tua mereka. Sedangkan para tamu undangan mulai menikmati jamuan beraneka macam.
"Papa, Mama,' seru mereka kembali.
" Sayang," sambut Asilla.
Sejak tadi malam mereka tidak bersama-sama.
"Papa sama Mama seperti pangeran dan ratu," cicit Gabriella.
"Tampan, cantik," timpal Moses.
"Anak-anak Mama sama Papa juga tidak kalah tampan dan cantik," balas Asilla.
Filio maupun Asilla tersenyum. Tidak lama keduanya meliri Isabella yang hanya terdiam dengan wajah kesal. Mereka cukup heran karena biasanya Isabella yang paling kepo tak mau diam tetapi kali ini bocah cantik itu seperti anak harimau sedang sakit.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Asilla sembari membelai rambut indah Isabella.
"Hiks.... hiks.... itu Mama boneka Abel tadi dicuri orang yang tidak dikenal," adu Isabella.
Filio maupun Asilla saling memandang dengan dahi mengernyit.
"Siapa sayang?" tanya Asilla sembari menenangkan Isabella.
"Kakak itu sangat tampan Mama tetapi dia jahat karena ingin mencuri boneka kesayangan Abel," adu Isabella kembali.
"Mencuri? kalau dia lelaki tidak mungkin mencuri boneka sayang, mungkin Abel salah paham," jelas Asilla dengan lembut.
"Sudah-sudah sebaiknya kita duduk," ujar Filio menuntun keluarga kecilnya untuk duduk.
Mereka bercakap-cakap sembari menunggu para tamu undangan memberi ucapan selamat.
Tiba-tiba Asilla terdiam dengan wajah serta sorot mata sendu. Sejak awal acara tadi ia berharap kedua orang tuanya hadir seperti yang ia kira tetapi semua itu hanya angan-angan bagi Asilla karena hal itu tidak mungkin. Sedangkan kapal pesiar sudah berlayar dipermukaan air.
"Begitu hina dan tidak pentingnya peran Sila di mata kalian," batin Asilla.
"Sayang ada apa?" tiba-tiba suara lembut itu menyadarkan lamunan Asilla.
Asilla berusaha tenang, lalu menyunggingkan senyuman. Padahal Filio dapat melihat goresan kekecewaan di mata Asilla.
"Kamu memikirkan mereka?"
Asilla mengangguk dengan lemah.
"Sayang aku paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini. Bagaimanapun kejamnya orang tua tetapi peran mereka sangat penting, apa lagi di hari bersejarah seperti ini. Terus bersabar sayang," Filio menyemangati.
Tiba-tiba Farres bersama Lyodra menyambangi dengan senyuman sumbringah. Tetapi tidak lama bibir itu merapat karena melihat wajah sendu Asilla menantu mereka.
__ADS_1
"Sayang," gumam Lyodra lalu duduk di samping Asilla.
Asilla mengangguk.
"Sebesar apa kesalahan yang pernah aku lakukan sehingga mereka tidak bisa memaafkan? bagaimana aku tau jika mereka saja tidak mengatakan alasan dibalik semua itu," lirih Asilla dihadapan kedua mertuanya.
Filio, Farres, Lyodra saling memandang dengan pikiran masing-masing.
"Dad, Mom apa ada orang tua yang tega berbuat keji terhadap anak kandungnya sendiri? demi kebahagiaan anak lainnya?" imbuhnya kembali dengan dada sesak serta lidah keluh.
Mereka terdiam mencerna ucapan Asilla.
"Sayang tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anak-anaknya, mungkin saja kedua orang tua kamu belum menyadarinya. Yakinlah mereka menyayangimu seperti anak-anak lainnya, dan apapun kesalahan yang pernah mereka lakukan jangan ada kata benci, apa lagi menyimpannya didalam hati." Kata Lyodra memberi nasehat.
"Apa yang dikatakan Mommy benar Nak. Sejahatnya orang tua tetapi mereka sudah banyak berjaksa untuk anak-anaknya," timpal Farres.
Asilla terenyuh mendengar nasehat luar biasa dari sang Ibu mertua dan Ayah mertuanya yang sangat bijak. Andai saja ia terlahir dari rahim wanita paruh baya ini, maka masa lalu pahit ini tidak pernah ia cicipi.
"Asilla mengerti Dad, Mom."
Filio sejak tadi mengusap punggung Asilla memberi ketenangan. Sedangan triplets berceloteh diantara mereka bertiga.
Saatnya kedua mempelai menerima ucapan selamat para tamu undangan. Satu-persatu tamu undangan maju menuju kedua mempelai. Sungguh hari ini sangat melelahkan, bagaimana tidak berdiri lama menyambut ribuan tamu.
"Sayang jika lelah duduk saja," Filio tau jika Asilla pasti kelelahan karena ia juga merasakan kedua kaki kram akibat lama berdiri.
"Tidak perlu khawatir sayang aku masih kuat, ini hanya masalah kecil dibandingkan pahitnya di masa lalu," jawab Asilla mengarah ke masalah masa lalunya.
"Selamat berbahagia Tuan Januar, Nyonya Januar," ucapan dari rekan bisnis Filio yang tinggal di negara x.
"Terima kasih Tuan Bintang sudah berkenan hadir," balas Filio dan Asilla mengangguk disertai senyuman.
"Selama ini sangat penasaran siapa Ibu dari triplets yang berhasil mematahkan hati CEO hebat terkenal ini. Hmmm tidak diragukan lagi ternyata wanita cantik bahkan sangat cantik," goda Bintang.
Puk
Filio langsung melayangkan tinjauan pelan tepat di bahu Bintang.
"Sayang Tuan Bintang terkenal CEO raja gombal pada masanya, jadi jangan termakan rayuannya," ujar Filio membalas candaan Bintang.
Hahaha
Bintang terkekeh. Sedangkan Asilla tersenyum dengan menggelengkan kepala.
"Santai Tuan Januar aku hanya bercanda. Sampai kapanpun nama wanitaku tak tergantikan di hati ini," ujar Bintang.
"Hmmm boleh tau Nyonya kenapa tidak ikut hadir?" tanya Asilla memotong pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Sayang satu tahun lalu Nyonya Bintang telah tutup usia," jawab Filio dengan tidak enak hati.
"Maaf Tuan bukan maksud saya-----,"
"Tidak masalah Nyonya," potong Bintang disertai senyuman.
"Maaf waktu itu kami tidak dapat menghadiri undangan pemakaman," ujar Filio.
"Saya maklumi. Kehadiran Asisten Tuan sudah mewakili," jawab Bintang. Ya Filio memerintahkan Gio untuk menghadiri acara pemakaman itu.
"Hmmm jika tidak salah Tuan memiliki dua orang putra?" tanya Filio.
"Iya Tuan benar. Mereka juga saya bawa kemari,"
"Daddy...." Panggil kedua bocah tampan beda usia itu menghampiri.
"Son. Ayo beri selamat kepada Uncle dan Aunty," titah pria tampan paruh baya itu.
Dengan cepat keduanya mengikuti apa yang dikatakan sang Daddy.
"Anak tampan," kagum Asilla.
"Mama.... Mama....Ini orangnya yang mencuri boneka Abel," tiba-tiba Isabella berteriak padahal banyak tamu tetapi bocah cantik itu tidak peduli karena rasa kesal.
Anak tampan itu menatap Isabella dengan wajah kesal karena dituduh, padahal ia tidak melakukan itu, malahan menemukan boneka itu di lantai yang sudah di injak ribuan orang.
"Mampus kamu," ejek Isabella menantang dengan berkaca pinggang.
"Sayang tidak boleh begitu," kata Asilla.
"Anak manis apa itu benar?" tanya Bintang.
"Iya Uncle," jawab Isabella singkat.
"Son,"
"Dia bohong Dad. Maaf Uncle Aunty saya tidak melakukan itu," jawab jujur bocah usia 10 tahun itu dan langsung berlalu begitu saja tanpa menghiraukan celoteh Isabella.
"Tunggu....Dasar! Isabella berlari menerobos mengejar anak lelaki tampan itu.
"Saya minta maaf atas sikap putra saya. Hmmm setelah kepergian Mommy mereka dia banyak diam dan cuek,"
"Hmmm tidak masalah,"
Akhirnya mereka mengakhiri obrolan dan kembali menyambut tamu lainnya.
Tiba-tiba....
__ADS_1
Deg
...******...