
"Tidak Papa, Papa harus di tangani dulu. Sayang panggilkan dokter," kata Asilla tanpa menghiraukan penolakan Farhan. "Cepat sayang, bisa cepat tidak sih? Papa aku lagi sakit," bentak Asilla tanpa sadar karena tidak ada pergerakan dari Filio, bukan tanpa sebab karena di satu sisi Filio di larang dan satu sisi lagi di paksa oleh Asilla.
Deg
Demi apapun keluarga Candrawinata terkejut mendengar bentakan dan sikap Asilla yang tidak pernah di tunjukan selama ini. Sungguh bagi mereka Asilla sangat berani, apa lagi orang itu adalah orang terpengaruh dan terkenal dimana-mana.
"Dia berani sekali membentaknya," batin Asinta. Bahkan ia saja tidak berani melakukan itu ketika masih menjadi pasangan kekasih.
"Iya sayang," jawab Filio patuh, bahkan ia sempat mengusap pucuk kepala Asilla di hadapan mereka, sedangkan Asilla dengan sibuknya mengelap darah itu.
Sekali lagi mata mereka membulat melihat perlakuan Filio. Bukannya marah, malah menunjukan sikap penuh cinta.
"Papa tidak apa-apa Nak," lirih Farhan masih disela batuknya.
Dalam sekejap dokter dan beberapa perawat menangani Farhan.
"Seharusnya kalian mengawasinya 24 jam. Apa kalian sudah bosan bekerja di sini? hah....? masih banyak orang di luaran sana yang mengantri untuk bisa bekerja di RS ini," bentak Filio kepada dokter dan beberapa perawat.
"Kami minta maaf Tuan," sang dokter mewakili dengan kepala menunduk.
"Sayang," Asilla bertindak dengan mengusap punggung Filio dengan menggelengkan kepala.
"Mereka lalai sayang,"
"Namanya juga manusia biasa sayang, jadi tidak bisa kita salahkan," sela Asilla ketika suaminya sedang murka.
Hmmm
Filio tidak berani mengeluarkan kata lagi, sungguh seorang Asilla berhasil membuatnya tunduk.
"Bagaimana keadaan Papa saya dokter?" tanya Asilla dengan wajah cemas.
"Tuan mengalami anemia. Akibat kekurangan nutrisi sehingga produksi sel darah merah sangat sedikit dan berakibat pendarahan, sehingga menyebabkan muntah darah," terang dokter.
"Papa batuk-batuk dok," kata Asilla lagi.
"Apa terpapar COVID-19?" ujar Filio sedikit khawatir karena saat ini mereka satu ruangan bahkan sang istri menyentuh pria tergolek lemas itu.
"Maaf Tuan kami sebagai petugas tidak sembarangan menempatkan stau menangani pasien positif COVID-19. Ada ruangan khusus," jelas dokter. "Pasien ataupun tamu juga wajib swab sebelum masuk kedalam RS, hmmm Tuan dan Nyonya lebih tau itu," imbuhnya.
"Buktinya aku sama istriku tidak melakukan swab memasuki RS," ujar Filio.
"Itu, itu karena Tuan dan Nyonya pemilik RS ini,"
__ADS_1
"Jadi karena kami pemilik tidak perlu melakukan test sesuai aturan? misalkan diantara kami positif apa akibatnya? dasar bo-------,"
"Sayang," Asilla menyentuh bahu Filio dengan menggelengkan kepala sehingga membuatnya tidak melanjutkan ucapannya.
"1 bulan yang akan datang istriku yang menangani RS ini karena dia Direktur Utama, dan bahkan RS ini menjadi milik dirinya!" Ujar Filio memberitahukan.
Asilla membulatkan mata, begitu juga dengan yang lainnya mendengar apa yang dikatakan Filio.
"Kalian bisa keluar dan melaksanakan tugas," sambungnya.
"Si-sila," lirih Farhan dengan jari-jemari bergerak.
"Iya Papa," Asilla menoleh.
"Ma sebaiknya Mama yang memberitahu Sila, Papa tidak mampu berbicara panjang lebar huk huk....," lirih Farhan.
"Sayang sebaiknya kamu kenakan masker," saran Filio karena cukup khawatir dengan batu Farhan.
"Tidak masalah sayang, bukankah sudah dokter katakan kalau Papa tidak terinfeksi COVID-19," balas Asilla.
Hmmm
Asilla berusaha tersenyum sembari menggenggam telapak tangan Filio. Ia cukup penasaran dengan apa yang ingin di katakan kedua orang tuanya.
Mira menghela nafas panjang. Lalu ia menatap Asilla dengan tanpa ekspresi sehingga pandangan mereka bertemu.
"Kami akan menjawab pertanyaan kamu waktu itu," Mira berusaha tenang.
"Kesalahan kamu selama ini? kenapa kami tidak pernah menganggap kamu di tengah-tengah keluarga? kenapa kehadiranmu ke dunia ini tidak kami kehendaki? kenapa kami memperlakukan kalian berbeda? kenapa kami sangat membenci kamu? kenapa di mata kami kamu selalu salah dan menjadi benalu? kenapa kami hanya membelikan Sinta pakaian baru dan kamu memakai bekas dari dia?," Mira menjedah sejenak sembari menyeka air matanya. "Itu karena kamu bukan putri kandung kami!" kata Mira dengan suara hampir tak terdengar tetapi masih dapat didengar semua orang. "Kamu bukan anak kandung Mama sama Papa Sila!" Sambungnya mengakhiri.
Duarr
Semua orang membeku dengan mata membulat, khususnya Asilla sama Asinta.
"Apa???" gumam Asilla maupun Asinta tak percaya. Sedangkan Mira serta Farhan menunduk tak mampu melihat tatapan terkejut kedua putrinya.
"Tidak! Mama bohong iya kan?" lirih Asilla sembari terisak, sungguh dadanya sesak mengetahui rahasia jati dirinya.
"Mama jangan bercanda," timpal Asinta dengan kepala menggeleng tak percaya. Ia bahkan tidak mengetahui rahasia ini.
"Mama minta maaf Sila," tangis Mira.
Asilla meremas erat tangan Filio dengan tubuh bergetar.
__ADS_1
"Hiks hiks.....Pantas saja kehadiran Sila selama ini tidak kalian akui," tangis Asilla.
"Papa minta maaf Nak," gumam Farhan dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa Mama rahasiakan semua ini kepada Sinta?" sambung Asinta.
"Sekejamnya Mama sama Papa tetapi tidak sanggup mengatakan kebenarannya, bagaimanapun kami memikirkan perasaan Sila," ungkap Mira dengan jujur.
Mendengar hal itu membuat Asilla mengangkat wajahnya lalu menatap Mira yang tergugu terisak.
"Jadi Sila anak siapa Pa, Ma?" lirih Asilla disela tangisannya.
Filio mengusap punggung Asilla berkali-kali serta menyeka air mata itu. Jujur hatinya ikut sakit mendengar kenyataan bahwa istrinya bukanlah anak kandung mertuanya.
Farhan maupun Mira masing-masing menggeleng.
"Apa Papa sama Mama merahasiakannya juga siapa orang tua kandung Sila?" akhirnya Asilla terbawa perasaan sehingga sedikit jengkel.
"Kamu harus tau kenapa kami sangat membenci dan selalu menyalahkan kamu," kata Mira ingin memberitahu penyebabnya kepada para reader karena selama ini para reader cukup penasaran.
Asilla mengangguk seakan mengerti dengan kekepoan para readerš¤£
Mira terdiam sejenak, bayangan di masa lalu terlintas.
"Di usiamu kira- kira 5 tahun memerlukan donor darah karena ulah kenakalan kamu, kamu terhimpit mobil dan mengalami luka hebat sehingga kekurangan darah. Kebetulan di beberapa RS stok golongan darah yang cocok tidak tersedia, padahal kamu harus segera mendapat pendonor. Tentu saja darah Papa sama Mama tidak cocok, tetapi tiba-tiba dokter ingin mengetahui golongan darah Sinta karena mereka tau jika kalian saudara. Ternyata golongan darah Sinta dapat didonorkan ke golongan darah kamu, mau tidak mau kami menyetujuinya. Ya pada saat itu kamu terselamatkan berkat Sinta. 1 tahun kemudian, pulang dari sekolah Sinta di tabrak sepeda motor karena menyelamatkanmu, akibatnya Sinta mengalami jari kaki patah," cerita Mira panjang lebar.
Mira menghela nafas panjang.
"Selang 1 tahun rumah peninggalan Kakek kalian kebakaran karena ulah kamu, semua ludes di lalap api. Kita berhasil selamat dengan pakaian yang melekat di tubuh. Perhiasan dengan jumlah miliaran tak tersisa di tambah lagi uang tunai 500 miliar, itu uang perusahaan yang belum sempat sebagiannya di masukan ke rekening. Dari kerugian besar itu perusahaan mengalami kebangkrutan, banyak para petinggi menarik saham mereka. Papa kalian pelan-pelan berusaha memperbaiki perusahaan yang sudah terpuruk, atas kerja kerasnya Papa dikit demi sedikit membangun perusahaan kecil dan itu bisa menghidupi kita. Dari kejadian-kejadian bertubi itu Mama sama Papa membencimu, dan menganggap kamu hadir hanya pembawa si*l. Kebencian kami semakin besar ketika kamu ingin bertunangan dengan Grey karena Sinta sangat menyukai Grey. Untuk mendapatkan Grey kami melakukan berbagai cara dan akhirnya kalian pisah," Mira mengakhiri ceritanya.
Asilla bungkam. Sungguh dadanya sesak mengetahui masa lalu itu yang tidak di ingatnya.
"Kak Sinta, Sila minta maaf," lirih Asilla dengan wajah sendu.
Asinta tak bergeming, ia juga tidak mengingat kejadian itu.
"Jadi siapa orang tua kandung Sila Ma?" ya Asilla ingin tau. Bukan berarti ia tidak menganggap Farhan dan Mira sebagai orang tuanya lagi.
"Kami tidak tau Nak! Kami menemukanmu di bibir pantai,"
Deg
...******...
__ADS_1