Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 38. Rahasia Besar Terkuak 1


__ADS_3

"Dio datang ke kediaman Tuan Farhan sekarang juga. Hmmm sekalian bawa pihak kepolisian juga."


Filio menghubungi sang asisten. Mendengar ancaman Filio tentu saja membuat ketiganya melotot tak percaya.


"Jangan!" Ujar Farhan dengan ketakutan.


Tentu saja mendengar ketakutan dari seorang Farhan membuat bibir Filio terangkat.


"Apakah Tuan takut? apakah harus aku ancam baru akan membuka suara?" decak Filio sembari mengejek.


Farhan menelan ludahnya.


"Silahkan duduk, kita bicarakan baik-baik," ujar Farhan mempersilahkan Filio untuk kembali duduk.


Hmmm


Filio tersenyum mengejek.


"Beritahu semuanya dari awal, jangan ada yang terlewatkan karena aku benci dengan hal itu," bentak Filio tidak ingin dipermainkan.


"Moses bukanlah darah daging dari Sinta," tentu saja mendengar itu membuat mata tajam Filio membulat. "Dia adalah darah daging kamu dengan Sila," ungkap Farhan.


Duarr!


# FLASHBACK #


Pada malam kepulangan Asilla dari luar negeri. Terpaksa ia langsung ke tempat dimana Asinta atau sang Kakak berada. Itu semua disuruh oleh kedua orang tuanya.


Di sebuah hotel berbintang milik keluarga Januar. Salah satu rekan sesama model Asinta mengadakan pesta di sana. Sehingga Filio juga mendampingi Asinta.


Asinta dengan kedua orang tuanya merencanakan sesuatu tanpa diketahui oleh siapapun termasuk kekasih gelap Asinta. Mengetahui Asilla telah tiba membuat Asinta menjalankan rencananya sesegera mungkin.


"Honey aku akan ke toilet sebentar," kata Asinta.


"Baiklah aku akan tetap berada di sini. Oya pesankan aku minuman tanpa alkohol," ujar Filio.


"Tunggu sebentar honey," jawab Asinta dengan bibir tersenyum.


Seiring jalan menuju pelayan Asinta tanpa menghentikan senyumannya. Ia tidak harus bersusah payah mencari cara bagaimana Filio terjebak.

__ADS_1


"Pelayan," panggil Asinta dengan angkuh. "Beri minuman ini kepada Tuan muda," kata Asinta sembari menyodorkan segelas jus lemon yang sudah ia campur sesuatu dengan diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun.


"Baik Nona," jawab pelayan tanpa curiga karena ia tau bagaimana hubungan Filio dengan Asinta seperti yang dikabarkan.


Setelah pekerjaan yang satu tuntas Asinta menemui Asilla di loby hotel.


"Sila," panggil Asinta setelah melihat kehadiran Asilla.


"Kak Sinta," jawab Asilla sembari bangkit dari duduknya.


"Ayo ikut aku," ajak Asinta sembari menarik tangan Asilla sesuka hati.


"Pelan-pelan Kak Sinta," protes Asilla karena merasa sedikit sakit di pergelangan tangannya.


"Kalau tidak dengan cara seperti ini kamu lelet," sindir Asinta tanpa mau mendengar rengekan sang Adik.


Asinta membawa Asilla kedalam sebuah ruangan didalam hotel itu.


"Kamu ingin minum apa?" tanya Asinta dengan tidak sabarnya karena ia sudah sedikit lama meninggalkan Filio.


"Tidak ada Kak Sinta," jawab Asilla karena ia memang tidak haus.


Tentu saja Asinta memandang Asilla dengan wajah tidak suka karena ia harus mencari cara lagu agar bisa memaksa Asilla untuk memakan sesuatu.


"Tidak Kak Sinta. Sila tak biasa meminum minuman seperti itu," balas Asilla menolak karena ia bukanlah wanita peminum bahan beralkohol. Beda jauh dengan Asinta, bahkan Asinta sebaliknya.


Asinta tetap menuangkan minuman beralkohol tinggi itu ke dalam gelas.


"Kamu harus mencoba ini Sila. Apa kamu tidak menghargai Kakakmu? aku sudah menyambut kedatanganmu, mana rasa persaudaraan kamu?" ujar Asinta dengan kekeh. Ia tetap memaksa sang Adik.


Melihat wajah sendu Asinta membuat Asilla termakan jebakan batman.


"Baiklah Kak Sinta tetapi setelah ini habis kita akan segera pulang," syarat yang diberikan Asilla tanpa tau apa yang akan terjadi nantinya.


Tentu saja mendengar hal itu membuat hati Asinta girang tetapi ia sembunyikan didalam hati.


"Adik yang pengertian," sanjung Asinta sembari mengusap rambut indah milik Asilla.


Asilla meraih segelas minuman beralkohol. Lalu mendekatkannya ke mulut untuk di minum.

__ADS_1


"Hmmm bau," kata Asilla tidak jadi meneguk nya. Mencium aroma dari minuman itu membuatnya tidak tahan apa lagi sampai meminumnya.


"Itu sangat enak Sila. Coba saja kamu pasti lama-lama akan ketagihan," desak Asinta. "Jika tidak tahan dengan aromanya, tahan nafas saja ketika meneguknya," imbuhnya kembali.


Dengan anjuran Asinta. Asilla mengikutinya. Satu kali tegukan membuat wajah Asilla menahan rasa minuman itu.


Lama-kelamaan Asilla terbuai seakan menjadi candu baginya. Sungguh minuman yang awalnya tadi ditolaknya kini menjadi ketagihan baginya. Tentu saja membuat Asinta tertawa lepas melihat hal itu.


"Aduh Kak Sinta kepala Sila sangat sakit bahkan kelihatan semuanya berputar," lirih Asilla sembari memegang kepalanya yang sangat pusing.


"Hmmm baiklah karena keadaanmu seperti ini tidak mungkin aku akan membawamu pulang," kata Asinta. "Sebaiknya kamu menginap di hotel ini, aku sudah mempersiapkan sebuah kamar. Tenang saja aku juga akan menginap di sini," ungkap Asinta.


"Baiklah Kak Sinta," jawab Asilla sudah sedikit hilang kesadaran.


Dengan segera Asinta membawa Asilla ke kamar yang biasa di tempati Filio. Tidak menyulitkan baginya karena kamar itu tidak jauh dari tempatnya sekarang. Kini Asilla sudah terbaring tak berdaya di kasur empuk itu. Setelah isi perutnya di muntahkan. Tidak ingin membuang waktu Asinta begitu saja meninggalkan Asilla yang sudah tak berdaya. Tidak lupa ia terlebih dahulu mematikan semua lampu dalam kamar itu.


"Pusing," lirih Asilla dengan mata terpejam tanpa didengar lagi oleh Asinta.


Di tempat awal Filio sudah tidak tenang. Sesuatu sudah mulai beraksi. Dari kejauhan Asinta tersenyum licik. Lalu melangkah menghampiri.


"Honey ada apa?" tanya Asinta berpura-pura.


"Kamu lama sekali," bukannya menjawab Filio malah bertanya.


"Maaf tadi kebetulan bertemu teman lama," ungkap bohong Asinta. "Ada apa? ada apa dengan kamu honey?" tanya Asinta melihat Filio semakin tidak tenang.


"Sepertinya aku dicampur sesuatu. Kenapa ini sangat panas," ujar Filio berusaha tidak menatap Asinta. Apa lagi malam ini Asinta berpenampilan sedikit terbuka.


"Apa? maksudmu obat perangsang begitu?" tanya Asinta dengan terkejut yang dibuat-buat.


"Sepertinya begitu. Kamu menjauh dariku honey," ujar Filio berusaha menjauh.


Filio ingin meraih ponsel yang berada di kantong celananya. Ia harus segera menghubungi Gio agar bisa membawanya pergi. Dengan secepat mungkin Asinta merampas ponsel itu.


"Ayo honey aku antar ke kamar pribadimu," ajak Asinta langsung merapat Filio.


"Menjauh darimu honey." Tolak Filio menghempaskan tangan Asinta. Walaupun mereka sepasang kekasih tetapi sekalipun Filio belum pernah menyentuh Asinta. Jangankan berhubungan intim, menciumnya saja ia belum pernah.


Tidak ingin rencananya kacau. Asinta memaksa menarik tangan Filio agar masuk kedalam kamar. Filio tidak menolak karena ia benar-benar sudah tersiksa. Dengan tibanya di kamar ia akan bisa merendam tubuh panasnya di bak mandi. Itulah yang dipikirkan Filio tanpa tau apa yang akan terjadi.

__ADS_1


Asinta membuka pintu kamar. Tentu saja ruangan itu sangat gelap. Asinta langsung mendorong tubuh tersiksa Filio sehingga membuatnya masuk, bertepatan ketika Asilla bangkit dari berbaring nya. Sehingga membuat malam panas dalam kegelapan itu terjadi begitu saja tanpa keduanya ketahui.


...******...


__ADS_2