Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 46. Mengungkapkan


__ADS_3

Di kediaman


Rumah yang biasanya hening kini sangat ramai. Bagaimana tidak Moses, Gabriella dan Isabella menciptakan keributan itu dengan berbagai macam permainan. Sungguh mereka kembali merasakan yang pernah hilang. Sedangkan Filio dan Asilla memandangi dengan perasaan haru.


"Ikut aku," ajak Filio kepada Asilla sehingga membuat Asilla tersadar dari lamunannya. "Ikut aku jika kamu ingin mendengar semua penjelasannku," ujarnya kali karena Asilla hanya terdiam. "Aku akan tunggu di luar rumah," sambungnya sembari berjalan meninggalkan Asilla yang berdiri mematung.


"Aku harus bagaimana? tetapi aku sangat penasaran ingin tau apa yang terjadi," gumam Asilla.


Lama berpikir akhirnya Asilla menyakinkan dirinya.


"Sayang Mama akan di depan rumah sebentar," kata Asilla kepada triplets.


"Iya Mama," jawab ketiganya serempak.


Asilla melangkahkan kakinya keluar rumah. Dari jarak jauh ia bisa melihat sesosok Filio yang tengah terduduk di kursi panjang yang terdapat di halaman rumah.


Dengan langkah berat Asilla mendekati lalu menduduki dirinya di samping Filio. Tentu saja membuat Filio tersenyum secara diam tanpa diketahui oleh Asilla.


Keduanya memandang lurus ke depan. Belum ada yang terlebih dahulu membuka suara.


Hmmm


Filio menoleh ke samping menatap Asilla yang masih betah menatap lurus ke depan.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Filio di awal buka suara.


Asilla mengalihkan pandangannya lalu menoleh menatap Filio. Sehingga tatapan keduanya bertemu.


"Tuan juga tau apa yang ingin saya tanyakan," kata Asilla.


Filio tersenyum miris mendengar panggilan Asilla kepada dirinya.


"Jangan terlalu formal begitu," ujar Filio. "Kamu adalah Ibu dari triplet, itu berarti kamu adalah istriku." Sambungnya dengan sorot mata sendu.


Deg


Mendengar perkataan Filio membuat Asilla membeku.


"Bukankah dari awal panggilan itu? jadi buat apa Tuan lalu mempermasalahkannya," kata Asilla. "Saya bukanlah istri Tuan lagi setelah surat cerai itu tertanda tangani," sambungnya.

__ADS_1


"Di mata hukum dan agama kamu masih sah menjadi istriku," ujar Filio dengan serius. "Aku tidak pernah mendata tangani surat itu, jadi kita masih sah menjadi suami-istri!" Imbuhnya dengan tegas.


Deg


Apa maksud Tu-Tuan?" tanya Asilla dengan bibir bergetar.


"Apa penjelasanku masih kurang? hmmm mendekatlah biar aku jelaskan sekali lagi," ujar Filio sembari menggoda Asilla.


Asilla terdiam tidak mengikuti apa yang dikatakan Filio. Sehingga membuat Filio semakin mendekat dengan cara menyeret dirinya pada kursi panjang itu.


"Kamu masih sah menjadi istriku sekaligus Ibu dari triplet," bisik Filio lembut di telinga Asilla.


Cup


Entah sudah kehilangan akal atau bagaimana, bisa-bisanya Filio mencuri mendaratkan kecupan di pipi Asilla.


Deg


Plak


Sebuah tamparan melayang di pipi kiri Filio. Siapa yang berani melayangkan tamparan jika bukan seorang Asilla.


"Jangan kurang aja* Tuan," bentak Asilla dengan suara meninggi, sungguh ia sangat murka di perlakuan begitu.


Asilla tidak menjawab. Ia membuang muka, lalu bangkit melangkah ingin meninggalkan Filio.


"Tunggu Sila," panggil Filio tetapi tidak di dengar oleh Asilla, wanita cantik itu terlanjur murka.


Tidak ingin membuang waktu Filio bangkit dan bergegas mengejar Asilla. Dengan keberanian Filio mendekap tubuh kecil Asilla dari arah belakang. Pelukan itu sengaja ia eratkan karena ia tau jika Asilla akan berusaha melepaskan diri.


"Lepas Tuan, jangan kurang aja*." Teriak Asilla sembari meronta-ronta minta dilepaskan.


Filio seakan tuli sehingga membiarkan rontaan serta cecaran Asilla.


"Akan aku pukul," ancam Asilla masih berusaha melepaskan diri.


Mendengar ancaman Asilla membuat Filio mengendurkan pelukan itu, lalu membalikan tubuh Asilla untuk menghadap kepadanya.


"Pukul aku sepuasmu, bila perlu ambil nyawaku jika itu membuat kamu puas," ujar Filio mengenggam tangan Asilla untuk memukul dirinya.

__ADS_1


Buk buk buk


Entah sudah berapa puluh pukulan yang dilayangkan oleh Asilla di dada bidang serta wajah tampan Filio. Tetapi pukulan itu sama sekali tidak ia rasakan sakit, malahan tangan Asilla sendiri yang kesakitan.


"Hentikan!" Titah Filio sembari menangkap kedua tangan Asilla karena ia tidak ingin tangan Asilla kesakitan. Dengan segera Filio kembali memeluk Asilla.


"Lepas, lepas!" Lirih Asilla kehabisan tenaga.


"Kamu harus dengar penjelasanku dan kamu perlu tau itu, agar kamu tidak menganggap aku mengada-ngada." Ujar Filio masih dalam pelukan itu.


"Lepaskan! Aku tidak bisa bernafas," kata Asilla karena benar-benar sesak akibat pelukan erat itu.


"Tidak biarkan tetap begini, nanti kamu akan mau kabur lagi. Biarkan aku menjelaskannya dengan posisi seperti ini," kekeh Filio tidak mau melepaskan pelukan itu tetapi ia mengendurkan sedikit pelukan yang pada awalnya erat kini bisa membuat Asilla bernafas leluasa.


"Lepaskan!" Bentak Asilla karena sudah jengkel. Mendengar bentakan Asilla untuk pertama kalinya membuat Filio mengembangkan senyuman. Selama tinggal satu atap baru kali ini ia mendapatkan hentakan dari wanita yang ia peluk sekarang. Bukan hanya berani membentak tetapi Asilla juga sudah berani menampar dirinya. Sungguh ini menjadi kebangaan bagi Filio tersendiri. Tetapi lain halnya dengan Asilla, wanita ini masih jengkel melihat apa yang dilakukan Filio.


"Diam atau mau aku cium lagi?" goda serta ancam Filio berbisik di telinga Asilla sehingga membuat tubuh Asilla meremang seperti di sentrum.


Asilla membeku tidak berani untuk berontak lagi. Ia tidak ingin pria itu mencuri ciumannya lagi. Dengan terpaksa ia mengalah demi keamanannya sendiri.


Filio tidak tega melihat kelelahan Asilla terpaksa ia melepaskan pelukan itu. Ia tidak boleh egois, apa lagi ini adalah awal dari segalanya. Ia tuntun Asilla untuk kembali duduk. Tidak ingin membuang waktu ia ceritakan semuanya dari awal sampai akhir.


"Begitulah cerita semuanya," ujar Filio mengakhiri ceritanya.


Sungguh dada Asilla sesak mendengar apa yang di ungkapkan Filio tentang kelicikan kedua orang tua yang sangat ia sayangi.


"Apa salah Sila sampai Papa sama Mama tega melakukan itu? Sila tidak pernah berpikir sampai kesitu," lirih Asilla sembari memegang dada yang terasa sangat sesak. Tanpa sadar ia meneteskan air mata karena kecewa dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.


"Mereka pantas mendapatkan ganjarannya. Apapun hukuman yang kamu minta akan aku lakukan," ujar Filio.


Asilla terdiam. Tidak lama ia menggeleng kepala.


"Aku tidak akan melakukan apapun kepada kedua orang tuaku, bagaimanapun mereka adalah orang tua yang sudah menghadirkan aku di dunia ini. Sebesar apapun salah mereka tolong di maafkan. Aku mohon jangan bawa keluargaku ke jalur hukum, aku mohon jangan lakukan itu," mohon Asilla begitu polosnya.


"Mereka sudah keterlaluan. Karena ulah mereka anak-anak yang menjadi korban, sedangkan mereka bersenang-senang di atas kebodohan kita selama ini," ungkap Filio.


"Demi apapun aku mohon jangan hukum mereka. Aku tau kesalahan mereka sangat sit untuk di maafkan tetapi ampuni mereka," mohon Asilla kembali.


Filio menghela nafas melihat kesucian hati seorang Asilla yang selama ini ia sia-siakan.

__ADS_1


"Kamu memang wanita yang sangat baik dan juga pemaaf. Sudah tau sebesar kesalahan keluargamu tetapi masih kamu maafkan. Aku menyesal telah melihat sebelah mata dirimu selama ini," batin Filio mendesah.


...******...


__ADS_2