
"Maaf Kak telah lama menunggu," ujar Filio merasa tidak enak hati.
"Tidak masalah brother," jawab Kendrick. "Hmmm kamu mau pesan apa?" tanya Kendrick.
"Samakan saja," ujar Filio.
"Pelayan," panggil Kendrick.
"Iya Tuan," jawab sang pelayan.
"Pesankan jus yang sama," ujar Kendrick.
"Baik Tuan, harap menunggu," balas sang pelayan. Dan mendapat anggukan dari mereka.
Sesaat Kendrick menatap Filio sama Asilla bergantian. Sedangkan yang ditatap hanya menunduk sibuk dengan pikiran masing-masing. Tentu saja hal itu membuat Kendrick merasa lucu. Filio yang biasa ia lihat bersikap angkuh kini seperti orang yang tak ia kenali.
Hmmm
Kendrick sengaja berdehem ingin mengembalikan suasana. Atas deheman Kendrick berhasil membuat lamunan Filio dan Asilla buyar.
Kendrick dan Asilla banyak mengobrol sedangkan Filio hanya jadi pendengar. Ia hanya menjawab seperlunya saja. Tentu saja hal itu dapat Kendrick pahami.
Filio menegakan tubuhnya sembari melirik arloji di pergelangan tangan.
"Baiklah aku akan kembali ke kantor. Sebentar lagi akan ada pertemuan dengan klien," ujar Filio karena akan ada pertemuan dengan klien di kantor.
"Selalu begitu! Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan brother," ingatan Kendrick.
"Demi si buah hati!" Ujar Filio.
Hmmm
"Aku pergi dulu," ujar Filio sekali lagi mengusap pucuk kepala Asilla dengan perasaan sayang. "Kakak jangan lewatkan untuk ke Mansion Opa, Oma. Kedua renta itu sangat tak sabaran mendengar kedatangan Kakak."
Filio beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Asilla bersama Kendrick.
"Baru kali ini aku melihat raut wajah luka serta kekecewaan darimu," batin Kendrick.
"Dia seperti orang tak pernah aku kenal. Bagaimana tidak ia yang biasa angkuh dan mau menang sendiri tetapi kali ini seperti anak kucing. Dia benar-benar menghormati keputusanmu. Dari raut wajah tersirat cinta begitu besar untuk Adik ipar," ungkap Kendrick.
Asilla bungkam ia tidak bisa mengatakan apapun. Merasa cukup akhirnya keduanya menyudahi pertemuan mereka karena masih ada kesibukan masing-masing.
...******...
Malam menjelang
Seperti biasa Filio akan mengamati ketiga buah hatinya. Kini ia berada di kamar kedua putrinya.
"Sayang tinggal beberapa hari lagi Papa bersama kalian. Papa akan pergi jauh sejauh mungkin," gumam Filio dengan mata berkaca-kaca.
Cup cup
Kecupan selalu mendarat di kening Gabriella maupun Isabella.
Setelah itu ia memasuki kamar putranya Moses. Sesaat ia berdiri memperhatikan posisi tidur Moses yang begitu tenang.
"Son hanya kamu anak lelaki Papa. Papa harap kamu bisa menjaga kedua Kakak perempuanmu karena Papa bukan orang yang tepat," Filio kembali bergumam. Setelah itu ia kecupan kening Moses sehingga membuat tidur Moses sedikit terganggu.
Merasa cukup Filio keluar.
Deg
Sungguh ia kaget melihat sosok Asilla di hadapannya. Kebetulan Asilla juga baru keluar dari kamar putri mereka.
__ADS_1
Hmmm
Filio berusaha menyembunyikan keterkejutan nya, begitu juga dengan Asilla.
"Apa kamu punya waktu besok?" tanya Filio ingin mengutarakan niat yang sudah ia rencanakan.
Asilla berpikir.
"Baiklah jika tidak punya waktu tidak masalah," ujar Filio tidak ingin memaksa.
"Memangnya ada apa?" akhirnya Asilla memberanikan diri.
"Kebetulan besok adalah weekend. Aku ingin mengajak kalian jalan-jalan menghabiskan waktu 1 hari dengan kalian. Anggap saja aku mentraktir," ungkap Filio.
"Baiklah! Sepertinya anak-anak juga tidak menolak bahkan mereka kegirangan jika mendengarnya," kata Asilla menerima ajakan Filio.
Mendengar jawaban Asilla tentu saja membuat Filio senang, akhirnya ia tidak bersusah payah memaksa Asilla.
"Terima kasih. Baiklah segera tidur agar besok bangun lebih segar," ujar Filio dan di angguk oleh Asilla.
Keduanya pergi menuju kamar masing-masing.
Keesokan hari
Sesuai rencana. Pagi ini Filio akan memboyong keluarga kecilnya untuk berlibur di suatu tempat. Kebetulan hari ini ada pameran lukisan di sebuah museum terkenal di kota itu. Karena Filio tau kedua putri cantiknya mengagumi lukisan sehingga ia berniat mengakhiri jalan-jalan ke museum. Sebelum ke museum Filio mengajak mereka ke kebun binatang.
Kini mereka sudah berada di area kebun binatang. Sungguh triplets sangat antusias. Mereka ke sana-sini melihat binatang yang menjadi kesukaan mereka. Sedangkan Filio maupun Asilla hanya mengikuti.
"Ayo ikut aku," ujar Filio sembari menarik tangan Asilla yang ingin mengikuti triplets.
"Kemana?" tanya Asilla.
"Kita berkuda," ujar Filio memberitahukan.
"Tenang saja mereka akan diawasi oleh penjaga," sambungnya. Sehingga membuat Asilla ber oh ria.
Sepanjang jalan menuju area berkuda tangan Asilla tetap berada dalam genggaman Filio. Ia tidak menolak bahkan ia merasa nyaman diperlakukan seperti itu.
Tiba di kandang kuda.
"Apa kamu ingin berkuda?" tawar Filio kepada Asilla.
"Aku tidak bisa melakukan itu," kata Asilla dengan jujur.
"Maaf Nona saya bisa membimbing," ujar sang pelatih.
"Tidak perlu," ujar Filio seperti bentakan. Bahkan sorot mata tajamnya membuat sang pelatih ketakutan.
"Maafkan saya Tuan sudah lancang," kata sang pelatih dengan gugup.
"Ayo," ajak Asilla apa boleh buat. Ia tidak ingin memperpanjang masalah. Ia kasian melihat ketakutan dari sang pelatih.
Melihat apa yang Asilla lakukan tentu saja membuat Filio menatapnya tanpa berkedip.
Hmmm
Sehingga kesadaran Filio kembali.
"Apa kamu yakin?"
Asilla mengangguk.
Filio mengambil kuda lalu membantu Asilla untuk menaiki kuda. Tidak lama ia juga ikut naik. Seketika keduanya tegang dengan posisi seperti itu.
__ADS_1
Filio memberitahu cara-caranya.
"Baiklah aku mulai," kata Filio memulai memacu kuda yang membawa mereka. Sepanjang jalan keduanya bungkam tidak ada yang membuka suara hanya detak jantung yang tidak karuan yang terdengar, tetapi sayangnya tidak disadari oleh keduanya.
Tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi meraung seperti ketakutan melihat sesuatu sehingga membuat kuda itu menunggang begitu cepat, bahkan Asilla berteriak merasa ketakutan.
Filio tidak berhasil mengamankan kuda itu sehingga membuat mereka berpegangan kuat. Filio tanpa sadar memeluk Asilla sangat erat agar tak terjatuh.
"Aku takut," lirih Asilla dengan mata terpejam.
"Berhenti, berhenti." Seru Filio berusaha menghentikan kuda itu tetapi tidak berhasil.
Asilla membalikan kepala lalu memeluk Filio dengan sangat erat.
"Peluk aku erat-erat, kita terpaksa menjatuhkan diri karena ini sangat bahaya jika kita tetap di atas kuda ini," kata Filio dengan nafas terengah-engah.
Bruk
Tubuh Filio maupun Asilla berguling di rerumputan.
Cup
Bibir keduanya menempel dengan posisi Filio di bawah masih dengan keadaan berpelukan. Asilla memejamkan mata sedangkan Filio bungkam melihat posisi intim mereka.
Lama-kelamaan Asilla tersadar karena merasakan bibirnya menyentuh benda kenyal. Seketika ia membuka mata.
Deg
Matanya membulat melihat apa yang terjadi. Dengan sesegera mungkin ia berusaha bangun. Bukannya bangun malah ia semakin menindih tubuh kekar Filio.
"Tolong tenang biar aku bantu," ujar Filio sehingga membuat Asilla diam.
Filio terpaksa menggulingkan tubuhnya tanpa memeluk. Sehingga kini ia berada di atas tubuh Asilla. Tatapan keduanya bertemu dengan jantung berdebar-debar.
"Tuan, Nona. Apa-------, "
Seruan sang pelatih membuat keduanya sadar dengan apa yang terjadi. Dengan segera keduanya saling bangun. Seketika keduanya salah tingkah.
"Maaf atas kelalaian kami Tuan," kata sang pelatih dengan gugup.
"Aku tidak ingin kejadian seperti ini kembali terjadi lagi. Jika saja sesuatu terjadi pada dirinya kalian orang pertama yang aku------,"
"Ayo," ajak Asilla menarik tangan Filio memotong perkataan Filio.
Seakan tersihir Filio nurut saja atas ajakan Asilla. Sepanjang jalan menuju anak-anak mereka hanya terdiam. Rasa canggung memenuhi diri masing-masing.
"Apa kamu haus?" tanya Filio.
Asilla mengangguk.
"Tunggu disini aku akan beli minuman di sana," ujar Filio sembari menunjuk penjual minuman mineral yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sesuai yang diperintah Filio. Asilla menunggu dengan mendudukkan dirinya di kursi panjang. Asilla menatap Filio yang berinteraksi dengan sang penjual.
Hmmm
"Ini silahkan diminum, biar aku bantu buka." Ujar Filio membuka tutup botol lalu menyodorkannya kepada Asilla.
"Terima kasih," balas Asilla meraih botol minuman mineral.
Filio menyunggingkan senyuman. Akhirnya keduanya menemui ketiga buah hati mereka.
...******...
__ADS_1