
Jamuan sudah tertata rapi di atas meja makan. Itu semua Asilla yang memasak. Mereka hanya menunggu kedatangan kedua keluarga.
Di ruang keluarga. Filio, Asilla beserta Zeze sedang berbincang-bincang tanpa mengobrol ke arah yang mengingatkan sesosok yang mereka kagumi.
"Sayang pergilah honeymoon, kapan lagi kalian memberi Adik buat triplets? Oma minta maaf karena tidak sengaja menggagalkan rencana honeymoon kalian," lirih Zeze.
Filio maupun Asilla saling melirik.
"Tapi Oma kami tidak ingin meninggalkan Oma dalam kondisi seperti ini. Tidak honeymoon tak masalah," kata Asilla.
"Tidak sayang honeymoon tetap lanjut," potong Filio karena ia tidak ingin selalu gagal dan ada saja pengacau yang menggagalkan.
"Sayang tidak boleh egois," bantah Asilla dengan mata menyipit.
"Apa kamu tidak dengar apa yang barusan Oma bilang?" kekeh Filio sehingga membuat Asilla menghela nafas panjang.
"Oma sangat mengerti," timpal Zeze sehingga kedua orang tua triplets menyudahi debatnya.
"Oma memang is the best," puji Filio.
Zeze tersenyum sehingga menambah guratan garis di wajah keriputnya.
Tap tap
Derap langkah sepatu menghentikan obrolan mereka sejenak. Ternyata Farres, Lyodra, Fiona, Fredella serta Dirly yang tiba terlebih dahulu dari keluarga Candrawinata.
Mereka bergabung di ruang keluarga.
"Mami bagaimana keadaan Mami?" tanya Lyodra dengan hati-hati. Ia mengusap punggung tangan Zeze dengan penuh kasih sayang. Wanita tua renta inilah yang merawat dan membesarkannya dulu selepas kehilangan keluarga besarnya. Sungguh ia berhutang budi dengan mendiang Sky dan Zeze .
"Tidak perlu mengkhawatirkan Mami sayang. Hmmm kalian lihat bukan wanita tua renta ini baik-baik saja," jawab Zeze disertai senyuman tanpa dipaksakan. Bahkan mereka yang memandang dengan mata berkaca-kaca.
Lyodra berusaha tersenyum, ia usap wajah tua itu berkali-kali tanpa mengalihkan tatapannya. Dulu wanita tua renta ini sangat cantik, bahkan setiap orang di luaran sana mengatakan Zefanya Clarissa Januar adalah menantu Januar yang paling cantik. Bukan hanya wajah saja berparas cantik tetapi hatinya menggambarkan wajah yang ia miliki.
Farres menggelengkan kepala agar Lyodra menyudahi karena ia tidak ingin sang Mami bergelayut dengan kesedihan.
Hmmm
Farres berdehem untuk mengembalikan suasana yang sempat terbawa perasaan.
"Nak keluargamu belum tiba?" tanya Farres kepada Asilla.
"Belum Dad, mungkin dalam perjalanan," jawab Asilla karena ia baru saja di kirim pesan oleh Asinta bahwa mereka sedang dalam perjalanan dan tidak jauh lagi. Maklum saja kediaman kedua orang tuanya cukup jauh dari Mansion.
Hmmm
"Siapa yang mengundangmu brother?"
Dirly yang ditanyain melengkungkan bibir.
"Calon mertua Kakak ipar," jawab Dirly santai sehingga membuat Filio melirik dengan ekor matanya.
"Kakak ipar Kakak ipar," protes Filio bercanda.
"Sebentar lagi kita akan resmi sebagai ipar," goda Dirly.
__ADS_1
"Kapan kalian akan mengikat hubungan kalian sayang?" tanya Zeze kepada Fiona ingin tau.
Dalam bulan-bulan ini Oma," jawab Fiona.
"Tidak bisa!"
Mendengar perkataan Filio semua orang menatap dengan wajah penuh tanya.
"Kenapa? apa maksud Kakak mengatakan itu?" tanya Fiona sedikit tidak suka.
"Aku tidak ingin rencana honeymoon kembali batal. Apa kalian tidak punya hati? selama ini aku tersiksa," Filio mengeluarkan unek-uneknya.
Semua mendelik jengah seakan paham.
"Hmmm berarti belum belah duren ini ceritanya? aku tidak percaya brother," goda Dirly.
Seketika wajah Asilla bersemu merah sehingga ia menunduk.
"Diam!"
"Apa hari honeymoon untuk melakukan itu?" Dirly kembali menggoda.
Filio menatap tajam.
"Honey," Fiona menggelengkan kepala agar tidak berlanjut.
Sedangkan yang lainnya menggeleng kepala.
"Kami akan bertunangan 2 minggu lagi brother," kata Dirly.
"Kenapa?" balas beberapa orang serentak dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Karena kami akan menghabiskan honeymoon 1 bulan," ujar Filio dengan santai.
Hah....
Semua tercengang tetapi tidak dengan Farres karena ia sungguh memahaminya.
Huh....
Fiona mendengus kesal.
"Dasar! Tidak memikirkan anak-anak," kesal Fiona.
"Apa gunanya mereka memiliki Eyang, Opa, Oma, Aunty jika tidak bisa di titipkan. Apa kalian tau ketiga kurcaci kesayangan kalian itu selalu mengacau," ujar Filio.
"Dasar!"
...******...
Kedua keluarga sudah berkumpul di meja makan. Sesuai perintah Farres mereka akan menikmati jamuan terlebih dahulu, kebetulan keluarga Candrawinata tiba tepat jam makan siang.
Tidak ada yang berbicara ketika menyantap hidangan, hanya terdengar dentingan piring dengan sendok. Sedangkan triplets sengaja tidak ikut serta makan bersama karena acara makan akan terasa panjang jika mereka ikut serta.
Sangat tampak keluarga Candrawinata merasa canggung dan tidak nyaman karena mereka sadar dengan perbuatan yang mereka perbuat. Seakan paham Farres maupun Lyodra bersikap bijaksana dan sama sekali tidak menyinggung ke arah sana sehingga membuat mereka cukup tenang.
__ADS_1
Seusai menjamu makanan kini semuanya berkumpul di ruang keluarga. Di sinilah mereka mengobrol banyak hal. Awalnya keluarga Januar sempat heran karena Filio dan Asilla mengatakan mengundang keluarga Candrawinata yang mereka ketahui hubungan tidak baik tetapi tiba-tiba mengundang.
Hmmm
Farres menegakkan tubuhnya. Sebagai kepala keluarga ia akan memulai membuka obrolan. Ya tentu ia dan yang lainnya penasaran dengan kehadiran kedua besannya. Bahkan mereka belum tau status Asilla dalam keluarga Candrawinata.
"Bergabungnya keluarga ini tentu saja memberi kabar gembira. Dimana hubungan kita tempo hari renggang karena suatu masalah," Farres mengawali.
"Atas nama keluarga saya minta maaf Tuan," kata Farhan yang hanya bisa duduk di kursi roda. "Maaf kami tidak bisa menghadiri pemakaman Tuan besar, kami turut berduka cita."Sambungnya.
Farres menghela nafas panjang dan mengangguk.
"Yang lalu biarlah berlalu besan," balas Farres dengan bijak. Tetapi ia sempat menyayangkan perbuatan keji keluarga Candrawinata.
"Maaf Sila mencela obrolan Daddy sama Papa. Ada yang ingin Sila sampaikan karena belum sempat memberitahukan,"
"Katakan Nak," ujar Farres.
"Sebenarnya Sila bukanlah putri kandung Papa sama Mama," lirih Asilla dengan mata berkaca-kaca. Sungguh lidahnya keluh untuk mengatakan kenyataan ini.
Deg
"Apa?" semua bergumam.
"Apa yang kamu katakan sayang?" tanya Lyodra tidak yakin dengan pendengarannya , ataukah ia salah dengar.
"Iya Mom, Sila bukan putri kandung Papa sama Mama," Asilla mengulangi dengan wajah menunduk.
Tentu saja pengakuan Asilla membuat keluarga besar Januar kaget karena mereka tidak pernah menyangka.
"Pantas saja," cicit Fredella dengan wajah datar. Jujur ia sakit hati dengan keluarga itu karena memperlakukan Asilla dengan tidak adil. Di saat Asilla mengandung mereka sama sekali tak peduli, bahkan Kakak iparnya itu masih berjuang untuk bekerja. Di tambah dengan teganya menyeret ketiga keponakan lucunya.
"Nak," peringatan dari Farres tidak suka dengan sikap Fredella.
"Maaf Dad, Fredella langsung menunduk.
" Bagaimana ceritanya?" tanya Lyodra ingin tau asal usul menantunya.
Kali ini Mira yang menceritakannya dari awal sampai akhir tidak terlewatkan. Bukan hanya menceritakan jati diri Asilla tetapi ia juga menceritakan alasan mereka bersikap tidak adil kepada Asilla yang sekarang menyandang Nyonya Januar.
"Begitulah ceritanya?" Mira mengakhiri.
"Apa?" lirih Zeze dengan mulut menganga.
"Di bibir pantai?" timpal Lyodra dengan mulut terbungkam tangan.
"Negara x?" sambung Farres dengan mata membulat.
Deg
...******...
•Part selanjutnya honeymoon dan malam panjang🤠lupakan sejenak asal usul Asilla.
•Mohon tinggalkan like, favorit, vote ya say agar author semakin semangat💪
__ADS_1