Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 64. Selesai


__ADS_3

Pagi menjelang Asilla terbangun cukup pagi. Ia ingin pagi ini menyiapkan sarapan untuk membayarkan makan malam semalam. Bangun tidur ia segera membasuh wajahnya dan setelah itu segera turun menuju dapur.


Dalam hati ada kekecewaan yang dirasakannya karena tidak mendapati sosok Filio seperti biasanya.


Hmmm


Asilla menghela nafas lalu memulai membuatkan sarapan. Sejak tadi ia tidak konsen, pandangannya selalu mengarah di mana meja makan. Berharap Filio menampakan batang hidung. Tetapi ia kembali menelan pil pahit karena sosok yang membuatnya beberapa hari ini menganggu pikirannya tak kunjung datang.


Hanya butuh waktu singkat bagi Asilla menyiapkan sarapan. Ia kembali menghela nafas karena sampai selesai masak Filio belum juga tak kunjung datang.


"Hmmm apa mereka belum bangun?" gumam Asilla berbicara kepada dirinya sendiri.


Karena merasa penasaran dan juga sudah kesiangan Asilla berniat akan ke kamar Filio.


Tok tok tok


Ketukan tiga kali tetapi tidak ada sahutan dari dalam.


"Sayang ayo bangun ini sudah siang loh nanti terlambat," kata Asilla dibalik pintu.


Tetapi masih belum mendapatkan sahutan.


"Huh...."


Dengan terpaksa Asilla membuka pintu ternyata pintu kamar itu tak terkunci sehingga memudahkannya untuk masuk.


Ceklek


Pintu terbuka. Asilla masuk dan pemandangan indah ia dapatkan pagi ini, dimana ketiga buah hatinya masih terlelap dengan nyenyak dengan posisi gaya masing-masing. Tetapi ekor matanya tidak menangkap sesosok Filio. Dalam pikiran Asilla mungkin saja dia sedang membersihkan diri di kamar mandi.


Senyuman terukir di bibir Asilla sembari menggelengkan kepala melihat ketiga buah hatinya. Ia melangkah mendekati gorden dan lalu menyibaknya sehingga membuat cahaya masuk ke dalam kamar itu. Tetapi tidak berhasil membangunkan ketiga bocah mengemaskan itu. Sehingga membuat Asilla menghela nafas dengan mulut mengerucut gemas.


"Sayang ayo bangun,"


Asilla mengguncang tubuh mereka masing-masing.


"Sayang ini sudah siang loh nanti bisa terlambat,"


Bukannya beranjak bangun malah ketiganya semakin meringkuk merubah posisi tidur masing-masing.


"Huh...." Asilla mendesis sembari mencari cara untuk membangunkan triplets. Seketika ia memiliki cara yang menurutnya berhasil.


Sebelum melakukan hal itu Asilla tertawa kecil membayangkan bagaimana reaksi ketiga buah hatinya nanti. Mungkin lucu itulah yang dibayangkan oleh Ibu cantik tiga anak ini.


"Kebakaran....kebakaran.... kebakaran....." Teriak Asilla dengan sangat nyaring.


"Kebakaran!" Seru triplets serempak sembari beranjak bangun dari tempat tidur dengan mata masih terpejam.


"Kebakaran....." Teriak Asilla kembali dengan berusaha menahan tawa.


"Kebakaran, " seru mereka kembali dengan loncat-loncat.


"Hahahaha....." Decak tawa Asilla memenuhi kamar luas serta bersih dan rapi itu.


Triplets sadar dan kaget melihat kedatangan sang Mama di kamar itu.


"Mama kepo deh," protes Isabella sadar jika mereka dikerjai oleh sang Mama.


"Mama ngerjain kita-kita," tandas Gabriella dengan mata berat.


"Moses kaget Mama," timpal Moses dengan wajah bantal sehingga membuat Asilla gemas.


"Mama minta maaf sayang, habis kalian sejak tadi Mama bangunkan tidak bangun-bangun hmmm terpaksa deh Mama melakukan cara ini," terang Asilla.


"Ihhh...."


"Papa mana?" tanya Isabella bari menyadari jika Filio tidak berada di dalam kamar.


"Mungkin di kamar mandi sayang karena Mama juga tidak menjumpai Papa sedari tadi,"


"Oh," Isabella ber oh ria.


"Jika begitu saatnya kalian mandi hmmm sudah bau acem," ledek Asilla.


"Tidak Mama," Seru mereka serempak sehingga membuat dahi Asilla mengernyit.


"Kenapa?"


"Hari ini Abel tidak sekolah,"


"Gaby juga,"


"Moses juga,"

__ADS_1


Kedua alis Asilla bertemu karena mendengar apa yang di katakan ketiga buah hatinya.


"Jangan bercanda,"


"Siapa yang bercanda Mama? izinkan hari ini saja kami bolos," rengek Isabella mewakili.


"Atas dasar apa kalian tidak ingin bersekolah?" tanya Asilla sedikit aneh.


"Ingin bersama Papa, Mama. Kita-kita hari ini ingin mengajak Papa untuk jalan-jalan lagi," cicit Isabella.


"Sayang ini bukan waktunya untuk jalan-jalan tetapi untuk belajar di sekolah, hmmm Papa juga pasti banyak pekerjaan," jelas Asilla dengan kelembutan.


"Tolong Mama izinkan kali ini saja," rengek Isabella.


"Iya Mama," seru Gabriella dan di ikuti Moses.


"Huh...."


Asilla pasrah tak bisa membujuk dengan kata-kata apa lagi. Rengekan ketiga anaknya membuatnya tidak tega.


"Papa kok lama sekali," cicit Isabella.


Mendengar keluh Isabella membuat Asilla terdiam sembari berpikir. Ia baru menyadari jika keberadaan Filio di kamar mandi cukup lama. Seketika kekhawatiran menerpa benaknya.


"Papa.... Papa," panggil Isabella tetapi tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi.


Tok tok


"Papa," timpal Gabriella sembari mengeruk pintu kamar. Tetapi tetap masih tidak ada sahutan.


Moses ikut beranjak untuk bergabung dengan kedua Kakak kembarnya.


Tok tok tok


"Papa.... apa Papa ada didalam?" teriak Moses.


"Mama, Papa kenapa tidak mau membuka pintu dan menyahuti kita?" sambung Isabella.


Kejadian itu semakin membuat kekhawatiran yang amat bagi Asilla. Hal-hal negatif melintas dalam pikirannya.


Tok tok tok


"Papa triplets,"


Ceklek


...******...


"Paman apakah Daddy sama Mommy belum bangun?" ujar Filio sehingga mengagetkan kepala pelayan.


"Tuan,"


Hmmm


"Belum Tuan. Tuan dan Nyonya masih berada dalam kamar," kata kepala pelayanan dengan kening mengernyit karena kedatangan Filio yang tiba-tiba, apa lagi sepagi ini. Menurut pria paru baya itu seperti ada yang tidak beres ya g terjadi.


Hmmm


"Aku akan ke kamar. Hmmm jika nanti sarapan pagi sudah siap tolong Paman beritahu, tetapi rahasiakan dulu kedatangsnku."


"Baik Tuan," dengan kepala menunduk.


Filio langsung bergegas menuju kamar pribadinya. Sedangkan kepala pelayan melanjutkan kembali aktifitasnya.


Pagi menjelang tetapi Filio tidak bisa memejamkan matanya sesaat. Bayangan wajah triplets ketika ia tinggalkan tadi masih lekat di ingatannya. Sungguh saat ini ia merindukan mereka.


Tok tok tok


"Masuk,"


"Tuan sarapan sudah siap. Tuan sama Nyonya masih belum turun, sedangkan Nona Fiona bersama Nona Dela sudah berada di meja makan" kata kepala pelayan.


Filio mengangguk.


Setelah rapi ia segera turun menuju meja makan.


Hmmm


Deheman itu membuat Fiona maupun Fredella menghentikan obrolan mereka lalu menoleh ke arah suara.


"Kakak," seru keduanya cukup kaget dengan sosok Filio.


Filio melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti lalu mendudukkan dirinya di samping kedua Adiknya.

__ADS_1


"Kakak kapan tiba?" tanya Fiona dengan kening mengernyit.


"Iya sepagi ini," timpal Fredella.


"Tadi subuh," jawab Filio dengan singkat.


Kedua wanita cantik yang masih jomblo itu saling memandang dengan bahu terangkat menandakan mereka bingung. Fiona dan Fredella baru saja tadi malam tiba dari luar negeri.


"Kak Sila dan keponakan tampan, cantik kami mana?" pungkas Fiona.


Filio tidak menjawab ia hanya terdiam dengan pandangan sendu. Melihat perubahan Filio membuat Fredella memberi kode kepada Fiona agar tidak banyak bertanya lagi.


Tiba-tiba


"Pagi sa...." ucapan itu terhenti karena cukup kaget dengan sosok putra sulung di keluarga itu.


"Sayang apakah Mommy sedang bermimpi?" Lyodra malah menanyakan hal yang menurutnya saat ini ia sedang bermimpi akibat kedatangan Filio yang tiba-tiba serta sepagi ini tak seperti biasanya.


"Sayang Mommy tidak bermimpi. Itu adalah putra kita," ujar Farres sembari mengelus punggung Lyodra berkali-kali, lalu membawanya menduduki meja makan.


"Pagi Dad, Mom." Sapa Filio berusaha tersenyum.


"Pagi Dad, Mom." Sambung Fiona dan Fredella.


"Pagi sayang," balas Lyodra dengan wajah penuh tanya dan di angguk oleh Farres.


Seketika keadaan hening semua larut dalam pikiran masing-masing terlebih mereka berpusat ke Filio.


"Sayang.....," seketika Lyodra tidak melanjutkan perkataannya karena mendapat peringatan dari Farres.


"Sebaiknya kita sarapan terlebih dahulu, setelah itu kita akan mengobrol di ruang keluarga." Ujar Farres dengan tegas sehingga tidak ada yang berani mencela.


"Sayang habiskan sarapan kalian," kata Lyodra dengan menebarkan senyuman.


Keluarga harmonis pasangan Farres dan Lyodra itu menikmati hidangan dengan hening hanya terdengar dentingan sendok beradu dengan piring saja yang memenuhi meja makan. Lyodra ingin sekali bertanya banyak hal kepada Filio tetapi ia harus sabar menunggu sarapan usai.


"Daddy sama Mommy akan tunggu di ruang keluarga. Ayo sayang," ujar Farres sembari beranjak tidak lupa menggenggam tangan Lyodra.


Filio serta kedua Adiknya melihat kedua orang tua mereka dengan perasaan bahagia. Dimana kedua orang tua mereka hidup penuh cinta kasih satu sama lainnya. Mereka bermimpi ingin mengikuti jejak kedua orang tua mereka. Tetapi tidak halnya dengan Filio, ia tidak bisa mewujudkan impian itu karena biduk rumah tangga yang mereka jalani sudah di ujung tanduk kehancuran. Semua sudah tidak bisa di pertahankan lagi.


Kini semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. Filio sudah tau jika ia akan di sidang de gan pertanyaan-pertanyaan sehingga ia sudah menyiapkan hati.


Hmmm


"Nak sepertinya kamu lagi ada masalah?" Farres memulai obrolan.


Filio terdiam dengan tatapan nanar.


"Iya sayang katakan apa masalahmu, ceritakan kepada kami." Sambung Lyodra sudah tidak bisa menahan lagi. Naluri seorang Ibu begitu kental.


"Besok Iyo akan pergi sejauh mungkin Dad, Mom." Lirih Filio tanpa menatap kedua orang tuanya yang tengah menatap kepada dirinya.


Perkataan Filio tentu saja membuat kedua paruh baya itu saling memandang dengan wajah terkejut, begitu juga halnya dengan Fiona maupun Fredella.


"Maksud kamu apa sayang?" cecar Lyodra tidak dapat mencerna perkataan Filio.


Filio menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan di lipat.


"Semua sudah selesai. Iyo memegang janji yang pernah Iyo ucapkan. Semua telah berakhir. Dia tidak pernah menerima Iyo," tatapan sendu Filio membuat mereka terdiam membisu.


Filio lalu menceritakan semuanya dengan dada penuh sesak.


"Apa tindakanmu ini sudah benar? sebelum terlambat berpikirlah berulang-ulang," ujar Farres.


"Sayang jangan lakukan itu," lirih Lyodra disertai tangisan.


Sungguh jalan yang diambil oleh Filio adalah bertentangan baginya. Ibu mana yang ingin rumah tangga anak-anaknya tandas atau berakhir.


"Iyo menyerah Dad, Mom. Kebahagiaannya yang terpenting, lihat dia bahagia itu sudah cukup bagi Iyo. Masalah anak-anak Iyo tidak sanggup," ungkap Filio dengan mata memerah.


"Kakak," gumam Fiona serta Fredella tidak tega melihat kerapuhan sang Kakak. Mereka juga ikut merasakan apa yang Filio rasakan.


Farres tidak bisa berkata-kata lagi. Sedangkan Lyodra hanya bisa terisak.


"Iyo minta maaf tidak bisa membahagiakan atau membanggakan Daddy sama Mommy."


Setelah mengatakan itu Filio meletakan map coklat di atas meja sofa. Lalu beranjak bangkit dan meninggalkan kedua orang tua serta kedua Adiknya yang terdiam terpaku.


Ujung mata Farres maupun Lyodra menangkap map coklat itu yang mereka ketahui apa isi lembaran didalam sana.


"Sayang lakukan sesuatu, jangan sampai hal ini terjadi. Semua masih bisa di perbaiki hiks hiks....kali ini kita harus bertindak demi cucu-cucu kita," lirih Lyodra masih terisak.


...******...

__ADS_1


__ADS_2