
"Sayang ada apa? Mommy menghubungi ada masalah apa?" tanya Asilla sepanjang jalan, apa lagi arah itu bukanlah arah ke rumah mereka.
Filio berusaha senyum seperti tidak ada yang terjadi tetapi sorot matanya tidak bisa dibohongi jika sesuatu sedang terjadi.
"Sepertinya ini arah ke Mansion Opa, Oma," cicit Asilla.
"Iya sayang kita harus ke Mansion, semua sudah berkumpul di sana," jawab Filio tidak ingin memberitahu dulu.
Hmmm
Asilla tidak bertanya lagi tetapi hati kecilnya mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi.
...******...
Hiks.... Hiks.....
Hiruk pikuk tangisan memenuhi isi kamar super luas itu. Kecuali satu orang tanpa menangis.
"Papi hiks hiks....," tangis Lyodra sembari mendekap tubuh kaku itu. Ya sebagi menantu sekaligus putri angkatnya Lyodra sangat terpukul dengan kepergian mendadak sang mertua, padahal mereka baru saja berpisah dari acara resepsi putra mereka. "Sayang Papi hiks hiks..... " Tangisan Lyodra pecah dalam pelukan Farres.
Farres meneteskan air mata dengan tangan terkepal erat. Bayangan masa lalu terbesit dalam ingatannya, suka duka telah mereka hadapi bersama. Sebagai anak tunggal ia selalu mendapat perhatian khusus dari kedua orang tuanya.
"Sayang semua akan kembali ke asalnya, kita hanya menunggu antrian saja. Papi mendahului kita karena Beliau mendapat antrian angka kecil dibandingkan dengan kita semua yang ada di sini," gumam Farres berusaha tegar.
"Eyang tampan hiks hiks..... " Tangis triplets, mereka sudah mengerti.
"Sayang tenangkan cucu-cucu kita," lirih Farres.
Lyodra mengangguk, lalu mendekati ketiga cucu mereka yang sedang menangisi sang Opa.
Farres beringsut dengan langkah gontai mendekati Zeze yang nampak tegar duduk di sofa.
"Mami," lirih Farres ikut duduk di samping Zeze.
Zeze mengangkat wajah karena sejak tadi hanya nunduk tanpa berkata-kata. Zeze tersenyum seperti tidak ada yang terjadi. Farres termangu melihat ekspresi wajah wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini berseri-seri.
"Tidak perlu kamu tangisi sayang, Papi sudah tidak merasakan sakit lagi! Ikhlaskan," kata Zeze masih dengan tersenyum.
Farres langsung mendekap tubuh rentan itu, memeluknya begitu erat. Ya tangisan Farres pecah dalam pelukan sang Mami tanpa terdengar, tetapi Zeze dapat mendengar suara berat itu. Dengan segera Farres menyeka air matanya, ia tidak ingin istri dan cucu-cucunya semakin larut dalam kesedihan.
"Bagaimana bisa Mami setegar ini?" tanya Farres karena ia tau kedua orang tuanya adalah pasangan romantis, bahkan dapat penghargaan sebagai pasangan favorit dikalangan pebisnis pada masanya.
"Tidak perlu Mami jawab, kalian tau sendiri menilai," jawab Zeze singkat. "Hmmm suatu saat Mami akan menjawabnya," imbuhnya kembali.
Farres melepaskan pelukannya dan kembali memandangi wajah tua itu dengan dada sesak, sangat banyak guratan yang tertangkap di wajah tenang itu.
"Apa kalian belum mengabari Iyo dan Sila?" tanya Zeze dengan suara lemah.
"Sudah Mi, mereka kemungkinan dalam perjalanan," jawab Farres karena setelah mendapat kabar duka ia langsung menghubungi putranya.
Zeze mengangguk.
__ADS_1
"Opa hiks....hiks.....," tangis Fiona dan Fredella di ambang pintu, lalu berlari menghampiri jasad sang Opa.
Di pintu utama
"Sayang pelankan langkahmu, aku tidak bisa berjalan secepat ini," suara lirihan Asilla seketika menghentikan langkah Filio. Ia lalu tersenyum.
"Sebenarnya ada apa sih? sejak tadi aku memperhatikanmu tergopoh-gopoh dan wajahmu tanpa ekspresi," kata Asilla.
Filio tanpa ingin menjawab. Ia berjongkok memberi punggungnya.
"Naiklah sayang biar aku gendong," titah Filio.
Asilla semakin menatap dengan aneh tetapi karena lelah akhirnya ia naik. Dalam perjalanan menuju lift Asilla semakin heran kenapa semua pelayan pada sibuk ke sana-sini. Sehingga membuatnya merasa malu. Asilla membenamkan wajahnya di punggung kekar itu.
"Aneh," gumam Asilla masih dapat didengar oleh Filio.
Filio langsung bergegas menuju kamar utama yaitu milik Sky dan Zeze.
"Hmmm kita ke kamar Opa sama Oma sayang?" tanya Asilla tanpa tau apa yang terjadi didalam sana.
Filio mengangguk.
Hahah....
Tawa Asilla langsung pecah tanpa sebab sehingga membuat Filio menghentikan langkahnya.
"Apa ada yang lucu?" tanya Filio tanpa ekspresi masih tetap menggendong Asilla.
"Iya sayang, aku masih kepikiran dengan cerita lucu Opa sama Oma. Hmmm akan aku tanyakan nanti," kata Asilla masih di iringi tawa.
Klek
Pintu di buka
"Oma, Op-------"
Ucapan Asilla tertahan seketika mendengar hiruk piruk tangis memenuhi isi kamar.
Melihat kedatangan pengantin baru mengalihkan pandangan mereka.
"Turunkan aku sayang," bisik Asilla dengan perasaan tak karuan, ia belum dapat melihat siapa yang mereka tangisi.
"Papa.....Mama.....," panggil triplets.
"Ada apa ini?" tanya Asilla dengan lidah keluh.
"Eyang Mama, Eyang meninggal" Tangis Moses dengan polosnya.
Deg
Asilla terpaku dengan mata membulat. Seketika seluruh tubuhnya serasa ambruk mendengarkan kepolosan putranya.
__ADS_1
"Opa meninggal? benarkah sayang?" lirih Asilla.
Filio mengangguk lemas.
Tangisan Asilla pecah seketika, ia langsung mendekap tubuh kaku itu.
"Opa kenapa secepat ini pergi meninggalkan kami? bahkan kami baru saya merasakan kebahagiaan, tetapi dalam sekejap rasa bahagia berubah duka," lirih Asilla di iringi isak tangis.
Kamar itu kembali riuh oleh raungan tangisan. Hanya Zeze yang tetap tegar tanpa meneteskan air mata.
"Mom bukankah kemarin Opa baik-baik saja tetapi kenapa tiba-tiba, hiks hiks....." Asilla tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Iya sayang," hanya itu yang bisa dijawab Lyodra.
Lyodra sama Asilla beringsut menghampiri Zeze yang masih setia duduk di sofa. Sedangkan yang lainnya mengurus jasad Sky untuk di mandikan karena dini hari nanti mereka terbang ke kepulauan JASLINE. Seperti wasiatnya Sky akan di makamkan di dekat kedua orang tuanya yaitu Glenn dan Jasline.
"Oma," lirih Asilla langsung mendekap Zeze disertai isak tangis. "Opa, Oma. Bukankah beberapa hari ini Opa baik-baik saja tetapi kabar ini sangat mengejutkan,"
"Sayang Opa semenjak 1 bulan belakangan ini memang kesehatannya terganggu, namanya sudah tua, bahkan tidak bisa di obati lagi. Usia seseorang tidak bisa kita prediksikan," ungkap Zeze dengan setenang mungkin sehingga membuat kedua menantu keluarga Januar salin pandang dengan penuh tanya. Ya mereka cukup aneh melihat mertuanya itu sangat tegar seperti tidak terjadi apapun.
"Kenapa Mami tidak memberitahu kami? kenapa menyembunyikan hal itu Mi?" isak Lyodra.
"Sayang ikhlaskan! Papi, Opa sudah tenang sekarang. Beliau pergi dengan tenang dan dapat bertahan untuk menyaksikan resepsi pernikahan kalian yang sempat tertunda, selama ini dengan diam Beliau menunggu hari itu tiba. Tetapi ketika mengetahui rahasia besar Beliau tidak bisa berkata-kata," terang Zeze yang tidak diketahui oleh Lyodra maupun Asilla.
Seketika mereka saling memeluk memberi kekuatan. Tanpa mereka ketahui yang paling menderita di sini adalah Zeze.
Sedangkan di lantai dasar para tamu sudah berdatangan mengucapkan belasungkawa.
...******...
Kini pemakaman khusus keluarga Januar sudah dipenuhi oleh para kerabat, sahabat, rekan bisnis dan warga di kepulauan JASLINE.
Tangisan mengiringi upacara pemakaman orang nomor satu generasi ke 3 Januar. Jasa kebaikan Sky selama hidup masih banyak dikenang sehingga mereka merasa kehilangan sosok itu.
"Tunggu sejenak!"
Zeze duduk di kursi tepat di hadapan peti Sky. Sesaat ia menghela nafas panjang.
"Tetesan air mata dari hati tidak akan pernah mampu mengembalikan seseorang yang telah pergi selama-lamanya. Tetaplah tegar, anggaplah kepergiannya sebagai pengingat bahwa kita hanya manusia biasa yang juga akan menghadapi kematian. Jadi jalani hidup dengan keberanian dan ingatlah bahwa kita pun akan mengalami kematian. Setiap kelahiran pasti ada kematian dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan."
Zeze kembali menghela nafas.
"Suamiku sayang, Mami lulus dengan ujian yang Papi berikan. Apa Papi tau? sebagian orang berbisik tentang diri Mami? mereka heran melihat Mami sedikitpun tidak meneteskan air mata setelah Papi menutup mata untuk selama-lamanya. Mungkin sebagian dari mereka merutuki dan mencecar Mami karena sikap Mami yang tidak menunjukan kehilangan. Andai mereka tau jika itu soal ujian yang Papi berikan sebelum menutup mata," kata Zeze dengan tenang bahwa wanita rentan itu menebarkan senyuman.
Huk huk
"Janji yang pernah kita buat dikabulkan Tuhan. Papi terlebih dulu pergi meninggalkan Mami, dan doa itu di kabulkan kemarin. Selamat jalan suamiku tercinta, kenangan manis kita tersimpan dalam hati ini. Suatu saat Mami akan menyusul," Zeze mengakhiri.
Mendengar suara hati Zeze tanpa bergetar tangisan semakin mengiringi upacara pemakaman itu. Ternyata Zeze tidak terlihat sedih atau bahkan meneteskan air mata adalah permintaan dari Sky. Sungguh hati para tamu yang menghantar Sky ke liang lahat tempat peristirahatan terakhir terenyuh, terharu.
__ADS_1
•Aktor Thailand idola/favorit author nih😍
Di part ini asli author mewek menulisnya seketika sekelebat ingatan kepada kedua orang tua yang juga telah tiada😭