
Selepas kepulangan dari kepulauan JASLINE, Filio beserta anak istri diboyong ke Mansion milik Sky dan Zeze. Ya sesuai keinginan Mendiang Sky dan Zeze mereka yang akan menempati Mansion megah yang di dirikan Sky dengan hasil kerja kerasnya dulu, yang pastinya di desain oleh Zeze.
Zeze langsung bergegas menuju kamar yang menjadi saksi bisu cinta mereka. Ia masuk dan tidak lupa mengunci pintu agar merasa lebih tenang. Sesaat ia terdiam sembari menghirup aroma kamar, aroma maskulin yang selalu membuatnya nyaman dan tenang masih kental di penciumannya.
Zeze duduk di atas ranjang, matanya menatap pakaian yang dikenakan Sky sebelum ajal menjemput. Ya ia memang sengaja tidak ingin mencucinya karena itu akan menjadi kenangan ketika rasa rindu menghampiri. Ia raih dan dekap pakaian itu dengan mata berkaca-kaca.
Dengan mata terpejam Zeze meremas pakaian itu. Ia kembali menghela nafas panjang.
"Sayang sudah boleh bukan Mami menangis sepuasnya?" lirih Zeze tidak dapat lagi membendung rasa ini sejak kemarin. Malam ini saatnya ia melepaskan sesak yang amat menyakitkan. Orang yang kita sayang cintai telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya bukanlah hal yang mudah untuk benar-benar melepaskannya.
Dengan tangan bergetar yang sudah keriput Zeze meraih bingkai foto di atas nakas. Itu adalah foto resepsi pernikahan mereka puluhan tahun lalu. Bayangan ketika mereka berdua mengucapkan janji suci pernikahan.
Tes tes
Bulir bening bergulir begitu saja membasahi pipi keriput itu sehingga jatuh di kaca bingkai.
"Sayang apa sekarang Papi sudah bertemu dengan Daddy, Mommy, Opa, Oma, Kakek, Nenek dan saudara lainnya? tentu sudah bukan? hmmm Mami jadi iri dan tidak sabar ingin menyusul," kata Zeze kepada foto itu, akal sehatnya diselubungi hal aneh.
Ia kembali menghela nafas panjang yang begitu menyesakan.
"Terima kasih atas cinta sehidup semati!" Lirihnya sembari menyeka air mata itu.
Zeze menyandarkan tubuhnya di dipan ranjang. Kenangan bersama Sky melintas dalam ingatannya. Dari pertemuan pertama sewaktu kecil, pertemuan kedua setelah dewasa. Dimana hubungan mereka bukanlah hal yang mudah, banyak duri dan kerikil yang harus mereka lewati sampai ke puncak kebahagiaan. Dari rasa benci dan menjadi cinta. Sungguh kenangan-kenangan pahit manis itu tidak sanggup untuk Zeze saat ini.
"Mami banyak berhutang budi bahkan nyawa kepadamu sayang, sungguh Mami merasa wanita yang paling berbahagia di dunia ini." Zeze mengakhiri kisahnya dengan mengecup foto itu.
...******...
2 hari berlalu. Keluarga besar Januar masih diselimuti duka. Sungguh kepergian Sky yang mereka sayangi berpengaruh besar.
Asilla sejak tadi bergulat dengan bumbu dapur. Ya hari ini kedua mertua dan orang tuanya akan datang sesuai undangan mereka.
Seusai fitnes rutin pagi, Filio turun kebawah menyusul Asilla karena ia tau jika istri tercintanya memasak.
Tiba di dapur kedua tangan kekar itu melingkar di perut rata Asilla. Tentu saja wanitanya itu kaget karena hal itu tiba-tiba saja, sedangkan ia sedang sibuk dengan pisau dan bermacam sayuran serta daging.
"Sayang mengagetkan saja," cicit Asilla protes karena membuat jantungnya berdebar.
"Sangat wangi," bisik Filio membenamkan wajahnya di tengkuk putih mulus itu, itu sangat memudahkan karena saat ini Asilla mengikat rambutnya di kucir ekor kuda sehingga menambah keseksian, hal itu benar-benar meruntuhkan pertahanannya.
"Sayang geli," lirih Asilla karena lidah nakal itu.
"Sampai kapan adik kecil ini dikasi makan sayang? huh di sini pun kita bisa melakukannya," lirih Filio frustasi.
__ADS_1
"Jangan macam-macam, ini dapur." Potong Asilla.
"Tenang saja sayang tidak ada yang berani masuk ke dapur selagi kita di sini,"
"Pokoknya jangan macam-macam.
Hmmm
"Apa kamu tidak kepengen?" bisik Filio.
Seketika raut wajah Asilla bersemu merah. Nafasnya tidak beraturan, ditambah ada sesuatu yang menusuk dari balik kain. Belum lagi kedua telapak tangan kekar itu sudah berada di aset berharga keduanya.
Asilla menelan ludahnya dengan mengigit bibir bawahnya.
Filio membalikan tubuh Asilla lalu dengan segera mengangkatnya, mendudukkan di atas meja. Sorot mata keduanya dipenuhi naffzv.
Dalam sekejap bwbirr itu ia kuasai dengan perlakuan lembut. Keduanya memejamkan mata tanpa melepaskan pangutan, bahkan semakin dalam.
Ummm.....
Kehabisan oksigen terpaksa mereka menyudahi.
"Sayang boleh ya?" bisik Filio dengan mata penuh naffzu.
Asilla mengangguk malu-malu.
Filio tanpa menunggu lama langsung menggendong ingin membawa ke kamar. Dua hari ini Asilla lebih banyak waktu untu Zeze, bahkan tidur pun ia di kamar Zeze. Bukan Zeze yang minta tetapi Filio dan Asilla tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, maka mereka sepakat mengawasi Zeze 24 jam.
"Mama.... hiks hiks....." Tiba-tiba Moses menghentikan langkah mereka.
Ssstt
Filio mendesis
"Sayang lepas," bisik Asilla.
Terpaksa Filio melepaskan.
"Selalu gagal!" Umpat nya dengan frustasi.
"Ada apa sayang?" Zeze menenangkan Moses yang sedang menangis.
"Kak Gaby memarahi Moses Mama," adu Moses.
Asilla melirik Filio sehingga pandangan keduanya bertemu.
__ADS_1
"Pasti ada alasan Kak Gaby memarahi kamu son," ujar Filio.
"Ade mencoreti lukisan Gaby yang hampir selesai Pa," Gabriella menjawab dari arah tangga.
Filio maupun Asilla menghela nafas.
"Sayang Moses sudah salah. Kita tidak boleh merusak apapun milik orang lain," kata Asilla dengan lembut, memberi pengertian.
"Karena Kak Gaby melukis wajah Moses tanpa sepengetahuan Moses Mama," adu Moses lagi ingin mendapat pembelaan.
Filio maupun Asilla mengernyitkan dahi.
"Apa salahnya Kakak melukis Ade? itu karena Kakak sayang Ade," jelas Gabriella.
"Tapi Moses tidak suka," Moses tetap berdalih.
"Kenapa sayang?"
"Masa Kak Gaby melukis Moses dengan dada berotot," jawab Moses dengan polosnya.
Hahah
Seketika Filio terbahak-bahak sehingga membuat mereka menatap dengan penuh tanda tanya.
"Son seharusnya son berterima kasih kepada Kakakmu karena Kakakmu berhasil menyempurnakan tubuh yang son miliki," ujar Filio.
"Iya Papa tapi dasar anak manja itu merusaknya tanpa tau betapa sulitnya. Atau jangan-jangan putra kesayangan Papa sama Mama tidak ingin menjadi laki-laki keren dan maco seperti Papa," cicit Gabriella.
"Sayang Gaby tau bahasa itu dari mana?" tanya Filio heran karena usia mereka adalah masih muda. Sedangkan Asilla memejamkan mata dengan perasaan tidak enak.
"Dari Mama, Papa. Mama bilang laki-laki keren dan maco itu memiliki badan kekar dan berotot seperti Papa," jawab Gabriella dengan polos.
Mata Asilla membulat sehingga wajahnya saat ini bersemu merah. Filio melirik Asilla dengan ekor matanya.
"Sayang hem hem," goda Filio dengan gemes.
Asilla menelan ludahnya.
"Aku semakin tidak tahan ingin memakan dan melahap dengan rakus," Ayo kita lanjutkan yang tadi," ya Filio tidak sadar dengan keadaan mereka saat ini karena pikirannya diliputi hawwa nafzzv.
"Papa!" Teriak Gabriella dan Moses serentak karena Filio memepet tubuh Asilla ke dinding.
Seketika Filio menepuk jidatnya.
...******...
__ADS_1
•Sabar para reader mereka akan secepatnya belah duren. Hanya saja author masih berduka atas kepergiaan Sky, sehingga tidak konsen untuk ke arah sana 🤫🤭