
"Sayang Oma kenapa? kenapa tidak mau bangun?" lirih Asilla dengan raut wajah panik.
Filio menggelengkan kepala tidak menyangka, tangan yang tadi mengecek titik di tubuh Zeze kini bergetar. Kedua bola matanya memerah dengan bibir bergetar.
"Ada apa sayang?" Asilla menyadarkan Filio dari keterkejutannya.
Filio langsung mendekap tubuh Asilla yang kini mengguncang tubuh Zeze.
"Sayang Oma telah tiada, Oma sudah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya,"
Deg
Dengan refleks Asilla mendorong dada Filio agar ia bisa menatap wajah pria itu yang mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Jangan bercanda sayang," Asilla tertawa kecil ya menertawakan jika lelucon itu tidaklah lucu.
"Begitulah kenyataannya,"
"Oma, Oma bangun. Oma pasti bercanda bukan? Oma ini tidak lucu, lihat calon cicit Oma marah ini. Oma ayo bangun.... Sila sudah buat sarapan kesukaan Oma, bukanlah tadi malam Oma meminta di buatin? ini sudah Sila bawa tetapi kenapa Oma enggan untuk bangun?" kata Asilla disertai tangisan karena ucapan Filio memenuhi isi kepalanya.
Asilla akhirnya menyerah dan mempercayai apa yang dikatakan Filio. Ia peluk tubuh kaku itu dan meraung sekuat-kuatnya. Filio membiarkan Asilla menumpahkan tangisannya dan ia juga ikut menangis.
"Oma hiks hiks....Kenapa secepat ini kalian meninggalkan kami? hanya berselang dua bulan Oma sudah menyusul Opa hiks hiks....bahkan Oma tidak ingin menunggu baby keluar, bukankah itu yang Oma harapkan? menginginkan kami memberikan cicit lagi? tetapi Oma malah terlebih dahulu pergi," Isak Asilla tidak sanggup lagi untuk bernafas, dada itu terlalu sesak sehingga ia mengusap dadanya berkali-kali.
"Sayang tenanglah. Oma sudah bahagia sekarang, bertemu dengan Opa dan anggota keluarga lainnya," Filio langsung membawa Asilla kedalam pelukannya sembari mengelus punggung yang sedang turun naik akibat Asilla menangis terlalu dalam.
"Oma sayang," lirih Asilla dengan suara seraknya.
...******...
Mendengar kabar duka tak terduga ini membuat Farres beserta Lyodra langsung bergegas ke Mansion orang tua mereka.
Jangan di tanya lagi Lyodra menjerit bahkan tidak sadarkan diri mendengar kabar duka itu. Dengan telaten Farres menyadarkan Lyodra.
Kini keluarga besar sudah berkumpul di ruang utama, dimana peti dan jenazah Zeze berada. Semua berlinang air mata terutama Lyodra dan Asilla. Kedua wanita cantik itu sangat terpukul atas kepergian Zeze.
"Mami, Yora tidak tau mau mengatakan apa. Jujur Yora belum ikhlas dengan kepergian Mami, hanya Mami yang masih tertinggal tetapi Mami juga telah meninggalkan kami hiks hiks....." Mami adalah mertua sekaligus orang tua Yora," tangisan Lyodra menggema dalam suasana itu.
Farres tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah katapun. Baru saja air mata mengering ternyata Mami nya pun menyusul dengan selang waktu dua bulan. Ia hanya anak tunggal, maka dari itu ia sangat terpukul dan sangat berat hati melepaskan kepergian orang-orang yang ia sayangi. Kenangan demi kenangan berputar dalam ingatannya.
"Oma kenapa tidak ingin melihat Fio mengenakan gaun berwarna putih? hanya tinggal sebulan Oma. Tetapi Oma sepertinya tidak sabaran untuk bertemu Opa hiks hiks...." Tangis Fiona sembari mengusap wajah tenang Zeze. Dirly mengusap punggung Fiona memberi ketenangan tetapi ia juga merasa kehilangan.
"Eyang cantik," tangis triplets juga memecah suasana duka itu. Mereka memeluk peti dengan berurai air mata.
__ADS_1
Suasana itu sangat mencekam. Tangisan itu tak henti-henti, walaupun tertahankan. Ribuan tamu berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa, bahkan dari mancanegara juga. Besok pagi jenazah Zeze akan diterbangkan ke pulau JASLINE menggunakan Helikopter dan sebagian menggunakan jalur darat. Ya dia akan di makamkan didekat makan suaminya Sky. Begitulah wasiat yang mereka inginkan.
...******...
Makam keluarga Januar sudah dipenuhi oleh keluarga besar, sahabat dan warga. Karena bukan di kota sehingga yang mengantarkan ke peristirahatan terakhir tidak sebanyak di rumah duka kemarin.
Lyodra maupun Asilla tidak henti-hentinya mencurahkan air mata menyaksikan acara pemakaman. Semua mengiringi dengan linangan air mata.
"Selamat jalan Mami. Jasa-jasa dan kebaikan Mami sepanjang masa tidak akan Yora lupakan. Terima kasih sudah merawat dan memberi kasih sayang yang tak terhingga kepada Yora," batin Lyodra sembari menaburkan bunga di pusara Zeze dengan berlinang air mata. Bukan hanya sekali ini saja ia menyampaikan itu bahkan setiap ia berulang tahun Lyodra selalu mengucapkan kata-kata itu kepada Sky dan Zeze semasih bersama-sama.
"Selamat jalan wanita terhebat. Ar minta maaf atas kesalahan yang pernah Ar lakukan. Ar akan menjaga seluruh keluarga besar Januar," Farres membatin dengan dada menyesakan serta mata memerah menahan tangis.
...******...
1 minggu telah berlalu
Mereka masih merasakan kehilangan Zeze, bahkan Sky juga masih meliputi kesedihan mereka.
Di ruang keluarga Lyodra melamun dengan mata berkaca menatap bingkai foto besar yang bertengger di dinding.
Ssst hatinya pedih mengingatkan dua sosok berjasa semasa hidupnya. Siapa lagi jika bukan Sky dan Zeze sedang tersenyum lepas.
"Lihat sayang mereka sangat serasi bukan? tampan dan cantik? bahkan mendapat predikat pasangan serasi dan harmonis. Pria dan wanita terhebat, perjuangan mereka cukup besar untuk mencapai titik terakhir. Dari kisah Papi sama Mami membuatku banyak belajar," ungkap Lyodra dengan berusaha tidak menangis tetapi percuma saja bulir bening itu tetap tidak bisa ditahan.
Farres menggenggam tangan Lyodra dengan perasaan sesak. Ya dia juga mengingat semua kenangan mereka. Suka duka mereka lewati dengan dukungan kedua orang tuanya.
"Mommy merindukan senyum, tawa, dan kelembutan nada suara Mami sayang hiks hiks.... " Lirih Lyodra kembali menangis tanpa melepaskan pandangannya kepada foto itu.
Farres hanya bisa mengusap punggung serta menggenggam tangan Lyodra.
"Sayang Papi sama Mami sekarang sudah tenang dan kembali bersama-sama. Kita tidak boleh larut terus-menerus dalam duka ini karena semua akan kembali ke asalnya," kata Farres dengan mata memerah.
Lyodra langsung memeluk Farres mencari kenyamanan dan ketenangan. Hanya itu yang bisa menguatkan hatinya.
Hmmm
"Maaf Dad, Mom kami tidak tau," tiba-tiba suara Fiona menyadarkan mereka sehingga perlahan terlepas dari pelukan masing-masing.
Hmmm
"Tidak apa sayang, ayo kemari," kata Lyodra berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1
Fiona bersama Dirly melangkah mendudukkan sofa yang berhadapan dengan Farres dan Lyodra.
"Bagaimana kabar Daddy maupun Mommy?" sapa Dirly merasa tidak enak karena sepertinya mereka datang tidak tepat waktu.
"Seperti yang kalian lihat sayang, kami baik-baik saja hmmm," jawab Lyodra.
"Kami baik Kak, hmmm seperti ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan?" timpal Farres cukup mengetahui gerak-gerik dari Dirly dan Fiona.
"Begini Dad, Mom sebaiknya pernikahan kami diundurkan menjadi dua bulan lagi karena suasana tidak memungkinkan," Dirly mengutarakan niat yang sudah ia dan Fiona pikirkan.
Farres dan Lyodra saling memandang de gan kening mengerut.
"Tidak Nak, pernikahan kalian tetap di gelar sesuai yang sudah disepakati," jawab Farres tidak bisa ditentang.
"Iya sayang, apa yang dikatakan Daddy itu benar. Ini tidak terpengaruh dengan pernikahan kalian, hmmm kapan lagi kami menanti cucu dari putri cantik Mommy ini," kata Lyodra bercanda disertai tawa kecil, hal itu membuat Farres merasa lega karena wajah itu kembali berwarna.
"Mommy bisa saja," cicit Fiona dengan wajah bersemu merah.
"Tenang Mom, kami akan mengejar Iyo dan Sila, bahkan kalau bisa kembar 4 agar fifty-fifty timpal Dirly percaya diri.
"Honey mereka adalah Kakak ipar kamu, jadi panggil mereka Kakak," sela Fiona.
Hehehe
Dirly terkekeh kecil
"Berusaha dan berjuang terus pantang menyerah agar tercapai. Hmmm ingat belum saatnya," sambung Farres.
"Stop Dad," wajah Fiona semakin memerah. Ia bahkan bangkit berdiri hanya untuk membungkam mulut Farres lalu duduk merapat disebelahnya.
Hmmm
"Sebentar lagi kamu akan melepas masa lajangmu Nak, itu artinya kamu bukan tanggung jawab Daddy lagi. Mulai sekarang kamu mandiri sepenuhnya dan belajar hal yang belum kamu tau. Mommy adalah wanita super bisa, bisa menaklukan pekerjaan rumah," Farres memberi nasehat. "Bahkan hmmm memuaskan di ranjang," bisik Farres tetapi masih dapat didengar oleh Fiona maupun Dirly.
Awww
Farres mengaduh karena mendapat cubitan di pahanya.
"Dasar!" Wajah Lyodra memerah, hal itu membuat Farres semakin gemas. Sedangkan Fiona maupun Dirly menghembuskan nafas panjang.
...******...
__ADS_1