Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 36. Menyelidiki


__ADS_3

Di ruang kerja Filio duduk termenung. Perkataan Farhan beserta istri dan putrinya tadi memenuhi isi otaknya. Ia tidak percaya jika kata-kata itu keluar dari mulut Ibu dari putranya.


Ya Filio mendengar semua obrolan atau perbincangan keluarga Farhan. Sebenarnya ia tadi ke rumah kediaman calon istrinya. Tanpa sepengetahuan siapapun ia memergoki perbincangan mereka. Merasa cukup diam-diam Filio pergi meninggalkan rumah itu.


"Aku akan lebih berhati-hati," gumam Filio sembari mengusap wajahnya. Ia tertawa kecil mengingat apa yang dikatakan keluarga itu.


Tiba-tiba ingatannya kepada Asilla beserta si kembar. Mengingat hal itu membuat ia menghela nafas panjang, belum lagi kepada Moses. Selama ini bocah tampan itu selalu mencari Asilla beserta si kembar.


"Kemana kalian pergi?" desis Filio sembari bangkit dari kursi kerjanya. "Kenapa sangat sulit untuk mencari keberadaan kalian?" gumamnya kembali, entah kenapa hati kecilnya sangat mengkhawatirkan keberadaan Asilla beserta Gabriella dan Isabella tetapi ia tidak menyadari hal itu.


Puas dengan pikirannya Filio masuk ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah. Sedangkan Moses masih berada di Mansion orang tuanya bersama Riri.


Tiba-tiba benda pipih miliknya di atas kasur bergetar menandakan notifikasi sebuah pesan masuk. Dengan tidak semangat ia meraih benda pipih itu, lalu membukanya.


"Sinta!" Gumam Filio melihat pesan dari Asinta.


"Honey untuk beberapa hari aku akan berada di negara x untuk sebuah pekerjaan mendadak. Untuk itu sampaikan kepada putra kita Moses, maaf aku tidak sempat menjumpainya."


Begitulah pesan dari Asinta.


"Ssst!" Filio mendesis setelah membaca pesan itu. Lalu melemparkan benda pipih itu menjauhi dirinya tanpa ingin sama sekali membalas pesan itu karena baginya tidak ada gunanya.


Dalam pembaringannya ia menatap langit-langit kamar sembari berpikir. Ia tidak yakin dengan apa yang Asinta katakan, untuk itu ia akan merencanakan sesuatu. Setelah mengetahui perbincangan keluarga Asinta ia sudah mencurigai.


"Aku akan mengikuti permainanmu," gumam Filio sembari memejamkan mata. Tidak lama ia terlelap masuk ke alam mimpi.


...******...


Pagi menjelang.


Pagi ini Filio akan ke Mansion. Walaupun kedua orang tuanya bersikap dingin kepadanya tetapi tidak mengurungkan niatnya untuk menemui Moses sekalian kedua orang tuanya.


Di Mansion. Moses sedang asik bermain dengan Opa Farres, kebetulan hari libur sekolah. Seperti biasanya setelah sarapan pagi mereka sedang bersantai di taman belakang menghadap kolam renang.


"Opa kapan Mama Sila beserta si kembar pulang? kenapa mereka lama sekali?" cicit Moses sesekian kalinya.


Mendengar pertanyaan sang cucu membuat Farres kelabakan. Semua alasan sudah disebutkan.


"Sayang ayo di makan puding buahnya," tiba-tiba suara lembut Lyodra membuat keduanya saling menoleh ke arah belakang. Mereka bisa melihat apa yang dibawakan wanita lembut berparas cantik itu di atas napan.


Mendengar kehadiran sang istri membuat Farres bernafas lega, ia tidak perlu lagi mencari cara untuk menjawab pertanyaan sang cucu. Lyodra memang selalu bisa diandalkan setiap ia mendapat kesusahan.

__ADS_1


"Puding," seru Moses dengan senangnya.


"Iya sayang Oma tau bahwa cucu tampan Oma ini menyukai puding buah. Ayo sayang silahkan di cicipi," kata Lyodra sembari menyodorkan sebuah piring kecil kepada Moses. Dengan senang hati bocah tampan itu meraihnya lalu langsung melahapnya.


"Hmmm makyos! Perfek," puji Moses dengan memberi kode dengan jari tangannya.


"Terima kasih sayang," balas Lyodra sembari mengusap pucuk kepala sang cucu. "Sayang ini untuk Daddy," Lyodra menyodorkan 1 piring lagi kepada Farres. Puding milik Farres tanpa menggunakan gula. Lyodra sangat menjaga kesehatan sang suami tercinta.


"Terima kasih istri Daddy yang cantik," goda Farres sembari menarik lengan Lyodra agar duduk di sampingnya.


"Hmmm terlalu berlebihan," balas Lyodra dengan raut wajah bersemu merah.


Mendengar hal itu membuat Farres tersenyum lebar.


Cup


Dengan segera ia mendaratkan kecupan di wajah Lyodra sehingga membuat wajah Lyodra semakin memerah.


"Opa," protes Moses.


Farres m beaupun Lyodra saling menatap.


Hmmm


"Dad, Mom!" Sapa Filio. "Son," sapanya kembali kepada Moses.


"Papa," seru Moses sembari memeluk sang Papa yang hanya bisa ia jangkau perutnya.


Dengan segera Filio meraih tubuh kecil Moses membawanya kedalam gendongan. Sedangkan Farres beserta Lyodra tidak bersuara, keduanya hanya terdiam.


"Anak Papa, apakah sudah sarapan?" tanya Filio sembari mendudukkan dirinya di samping sang Mommy.


"Tentu sudah dong Papa," balas Moses.


"Anak pintar," balas Filio sembari mengecup pucuk kepala Moses.


Seketika semuanya terdiam sesaat. Filio menoleh kepada kedua orang tuanya yang masih bersikap dingin kepada dirinya.


"Dad, Mom. Hari ini Iyo akan ke negara x," ungkap Filio sembari memandang kedua orang tuanya silih berganti.


Mendengar perkataan Filio membuat Farres maupun Lyodra saling mengerutkan kening karena setau mereka jadwal ke negara tersebut atau pekerjaan tidak pernah di negara itu. Seakan mengerti Filio tersenyum.

__ADS_1


"Iyo ada keperluan sedikit, jadi Iyo minta tolong jagain Moses." Pintanya. "Son untuk sementara waktu Papa menitipkanmu kepada Opa dan Oma," ungkapnya kembali kepada Moses yang berada di pangkuannya.


"Apakah Papa akan mengajak Mama Sila dan si kembar kembali pulang?" tanya Moses.


Pertanyaan Moses membuat ketiga orang dewasa saling memandang.


"Tentu son," jawab Filio dengan asalan.


"Hore....Hore...." Sorak Moses dengan girangnya. Bocah tampan itu begitu polosnya.


"Sayang sekarang waktunya Moses latihan piano," kata Lyodra.


"Baiklah Oma. Papa hati-hati, ingat jangan lupa bawa Mama Sila beserta si kembar." Cicit Moses dengan polosnya.


Hmmm


Setelah menghilangnya tubuh kecil Moses. Farres maupun Lyodra memandang Filio dengan tajamnya.


"Apa maksud kamu mengatakan hal itu? lihatlah atas tindakan jodohmu membuat cucu kami berharap hal yang tidak pernah terjadi," cecar Lyodra dengan tidak sukanya.


"Apa yang dikatakan Mommy itu benar. Jangan asal berbicara hal yang mustahil," timpal Farres dengan sikap tidak sukanya.


Mendengar cecaran dari kedua orang tuanya membuat Filio tersenyum miris. Ia bisa lihat jika orang yang sangat berarti dalam hidupnya kini menjaga jarak dengan dirinya karena ulahnya sendiri.


"Daddy harap kamu tidak lagi memberi harapan palsu kepada Moses karena itu bisa mempengaruhi perkembangan dirinya," ujar Farres sembari bangkit. "Sayang Daddy akan kedalam dulu," imbuhnya kepada sang istri.


Lyodra hanya mengangguk sembari mengembangkan senyuman. Ia paham dengan diri sang suami. Kini tinggallah mereka berdua.


"Mom," seru Filio dengan suara lembut.


"Apa yang dikatakan Daddy itu benar. Kami tidak ingin cucu semata wayang kami terganggu mentalnya," kata Lyodra.


Mendengar hal itu kembali membuat Filio tersenyum miris. Ia tau jika wanita yang telah melahirkannya sangat kecewa dan marah kepada dirinya.


"Apa yang ingin kamu lakukan, lakukan saja. Hmmm bukankah itu yang kamu inginkan? kami tidaklah berhak lagi atas dirimu!" Ujar Lyodra sehingga membuat dada Filio terasa di tusuk sembilah pisau.


Setelah mengatakan hal itu Lyodra bangkit dan meninggalkan Filio seorang diri.


"Dad, Mom akan Iyo buktikan ucapan Iyo tetapi bersabarlah menunggu hari itu," gumam Filio dengan mata memerah.


Merry Christmas and happy new year author ucapkan kepada para reader semua. Maaf baru sekarang author ucapkan. Semoga di tahun ini kita masih diberi kesehatan serta umur yang panjang🙏

__ADS_1


...******...


__ADS_2