
Filio tetap menginjakan kaki di kantor perusahaan. Seperti pagi ini, tetapi raut wajah serta penampilannya berbeda. Bisa dikatakan kacau, ya semalaman ia tidak bisa memejamkan mata. Bukan karena mengingat perkataan sang Daddy tetapi bayangan Asilla beserta si kembar terngiang-ngiang dibenaknya.
Senyuman miris yang ditunjukan Filio ketika melihat sekilas berkas yang tergeletak di atas meja kebesaran CEO. Apa yang dikatakan Farres memang tak main-main. Seluruh aset kepemilikan JANUAR GRUP dibalik nama, dan Asilla Januar sebagai pemiliknya.
"Sejak kapan aku tanda tangani itu, sepertinya tidak pernah," gumam Filio tidak percaya melihat tanda tangannya di sana, begitu juga tanda tangan milik Asilla.
Cukup lama Filio berpikir, mengingat sesuatu. Seketika ia mendesis setelah mengingat.
"Sebegitu percayanya Daddy kepada dirimu, semua keluargaku menyayangimu dibandingkan dengan diriku yang adalah putra mereka sendiri," sungut Filio.
Filio menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kebesaran. Meratapi nasibnya yang sudah dibuang dari keluarga Januar. Lama ia berpikir, seketika rencana serta ide cemerlang muncul di benaknya.
Tok tok tok
Ceklek
"Papa," panggil Moses sembari menangis.
"Son," balas Filio tidak menyangka jika Moses menyusulnya ke kantor, bukankah dia harus bersekolah.
"Moses ingin Mama Sila, Papa. Moses rindu Mama Sila," rengek Moses sembari menangis meraung.
"Maaf Tuan, tadi saya sudah mengantarkan Tuan muda ke sekolah tetapi Tuan muda menangis terus dan ingin menyusul Tuan ke kantor," jelas Riri.
Tok tok tok
"Masuk," ujar Filio.
"Selamat pagi Tuan," sapa Gio.
Hmmm
"Gio urus semuanya, aku akan menemani Moses seharian ini. Lagi pula aku bukan siapa-siapa lagi disini," ujar Filio.
Gio maupun Riri terdiam, tentu saja mereka sudah mengetahui apa yang terjadi. Gio mengetahui dari Farres sedangkan Riri tau semuanya, tanpa sepengetahuan siapapun ia mendengar pertengkaran keluarga Januar, bahkan ia merekam momen mengharukan serta panas itu. Riri merekam bermaksud suatu saat membuktikan atau menunjukan kepada Asilla bagaimana terpukulnya keluarga Januar atas kepergiaan mereka, ditambah lagi dengan masalah aset kepemilikan perusahaan.
"Moses ingin Mama Sila hiks hiks," tangis Moses kembali pecah, bahkan saat ini matanya sudah membengkak akibat menangis.
Filio, Gio maupun Riri tidak bisa berbuat apa-apa.
"Riri jujur kepadaku. Kau pasti mengetahui dimana mereka berada," ujar Filio dengan tatapan memohon.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak tau dimana keberadaan Ibu. Ibu tidak pernah memberitahu tentang itu kepada saya," jawab Riri dengan wajah tertunduk. Sebisa mungkin ia menyembunyikan rahasia itu.
"Mama Sila, Mama Sila hiks hiks....Moses rindu Mama Sila sama si kembar," tangis Moses sampai meraung-raung.
"Son tenang son," ujar Filio berusaha menenangkan Moses tetapi Moses tetap menangis seperti orang kerasukan.
__ADS_1
"Tuan muda tenanglah," timpal Riri ikut menangis tidak tega melihat kerapuhan Moses.
Huwa....Huwa....
Bukannya berhenti, Moses semakin menjadi. Bahkan dia merosot ke lantai sembari menghentakkan kedua kakinya.
Filio sudah kehabisan akal untuk membujuk Moses, bahkan sedikitpun tidak membuahkan hasil. Begitu juga dengan Gio serta Riri.
"Gio hubungi Mommy," teriak Filio.
Dengan perlahan Filio mendekati Moses yang telah terduduk di lantai.
"Son tenanglah," bujuk Filio lembut sembari mengusap kepala Moses. Mendapat perlakuan sang Papa membuat Moses menatap Filio. Filio dapat melihat kedua mata sang putra membengkak serta hidung memerah.
"Papa, Moses ingin Mama Sila. Moses rindu Papa, suruh Mama Sila sama si kembar pulang," rengek Moses dengan suara parahnya, pita suaranya terganggu akibat lama menangis.
"Iya son Papa janji akan membawa Mama Sila bersama si kembar pulang, jadi Moses jangan menangis lagi oke?" bujuk Filio sebisa mungkin.
"Benarkah?" seketika kedua matanya berbinar mendengar apa yang dikatakan sang Papa.
Diraihnya tubuh lemah Moses, membawanya ke gendongan.
"Iya sayang Papa janji, untuk itu Moses tidak boleh nangis lagi." Ujar Filio sembari mengigit bibir bawah. "Untuk sementara Moses tinggal bersama Opa sama Oma ya? karena untuk beberapa hari Papa akan menjemput Mama Sila bersama si kembar," ungkap Filio berbohong.
"Iya Pa," jawab polos Moses percaya begitu saja.
"Baik Tuan," jawab Riri.
"Gio antar mereka," titahnya kembali kepada sang asisten.
Selepas kepergian mereka Filio mengusap wajahnya. Sungguh ia tidak pernah menyangka jika kedepannya seperti ini. Bahkan akibat ulahnya sang putra yang lebih terluka.
"Aku harus bagaimana? bahkan sedikitpun tidak ada titik terang dimana keberadaan mereka," gumam Filio.
Ia kembali menyandarkan tubuhnya dengan pandangan jauh ke depan menghadap kaca yang terbentang. Tiba-tiba kekhawatiran yang Filio rasakan ketika mengingat istri serta anak tirinya, tetapi ia masih bingung kekhawatiran yang bagaimana yang dirasakannya.
...******...
Malam ini Asinta minta makan malam di sebuah restoran bersama kedua orang tuanya karena ingin membicarakan satu hal. Dengan senang hati Filio menyetujui.
Kini keluarga Asinta sudah berada didalam restoran khususnya ruang VIP karena mereka akan membicarakan hal penting. Sedangkan Filio belum juga menampakan batang hidungnya.
Cukup lama mereka menunggu dan akhirnya Filio datang.
"Maaf jika aku terlambat," ujar Filio langsung menduduki dirinya di samping Asinta.
"Mana Moses?" tanya Asinta.
__ADS_1
"Moses lagi bersama Oma nya," jawab singkat Filio.
"Kenapa kamu tidak membawa dia honey? aku rindu kepadanya, sudah beberapa hari tidak bertemu," lirih Asinta sembari terisak. "Aku Mama kandungnya tetapi tidak pernah dianggap oleh Moses hiks hiks...." Seketika tangis Asinta pecah karena sikap Moses seperti orang asing kepadanya.
Filio langsung merengkuh tubuh Asinta kedalam dekapannya.
"Jangan diambil dalam hati, dia masih anak-anak jadi harap dimaklumi," ujar Filio sembari menenangkan Asinta.
Hmmm
Sejak tadi Mira hanya terdiam. Pandangannya sendiri seperti lagi kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya.
"Papa apa Papa sudah menemukan dimana keberadaan Sila bersama si kembar?" tanya Mira disertai isak tangis.
"Sabar Ma. Maaf Papa belum menemukan titik terang dimana mereka pergi," jawab Farhan sembari mengusap punggung Mira yang sedang bergetar karena akibat menangis.
"Cari sampai ketemu Pa, Mama tidak akan bisa hidup tenang jika kita tidak tau keberadaan mereka," imbuhnya kembali.
Seketika semuanya hening dengan pikiran masing-masing.
"Hmmm jadi bagaimana kelanjutan hubungan kalian?" ujar Farhan sudah tidak bersikap formal lagi.
Filio maupun Asinta saling memandang.
"Iya kami butuh kepastian," timpal Mira ingin tau apa yang akan dilakukan Filio.
Hmmm
Filio menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan terlipat.
"Atas kepergian Sila membuat kedua orang tua serta Opa, Oma murka kepadaku. Mereka sangat marah besar atas kejadian itu," cerita Filio.
Sehingga membuat ketiganya saling memandang.
"Sekarang aku bukan siapa-siapa lagi di mata mereka. Daddy telah menendang diriku dari perusahaan JANUAR GRUP." Imbuhnya kembali.
Deg
Tentu saja membuat mata ketiganya membulat tak percaya.
"Apa?" lirih Asinta sontak kaget.
"Jadi apa tindakanmu?" ujar Farhan sangat penasaran.
"Aku akan menikahi Sinta karena kami sudah resmi bercerai!"
Deg
__ADS_1
...******...