
Pagi-pagi Gabriella dan Isabella sudah terbangun. Sesuai janji sang Mama membuat mereka cepat bangun.
"Selamat pagi Mama," sambutan pagi keduanya membuat Asilla menghentikan aktivitasnya sejenak dengan wajan.
"Pagi sayang. Hmmm tumben pagi-pagi sudah bangun?" tanya Asilla sedikit kaget.
"Tentu Ma karena hari ini kita akan piknik," jawab Isabella.
"Jangan bilang Mama melupakannya," timpal Gabriella.
"Uhhh anak Mama memang tak sabaran. Ini masih sangat pagi sayang, lihat salju saja masih belum mencair," kata Asilla dengan mulut mengerucut.
Hahaha....
Gelak tawa Gabriella dan Isabella memenuhi ruangan dapur.
"Kita akan berangkat siang. Untuk itu Mama mempersiapkan segalanya," kata Asilla kembali melanjutkan acara memasaknya.
"Seandainya Kak Moses bersama kita saat ini betapa lengkapnya acara piknik kita untuk pertama kalinya Mama," ungkap Isabella dengan wajah tertekuk.
Mendengar nama Moses disebutkan membuat dada Asilla sesak. Tanpa disadari membuat jantung berdebar.
"Abel benar Ma," timpal Gabriella.
"Jangan bilang kalau Uncle Gley juga ikut, l" cicit Isabella kembali. Karena ia sulit menyebutkan r jadi nama Grey menjadi Gley.
"Tidak sayang kita hanya pergi bertiga. Ini momen indah Mama persembahkan untuk kalian," kata Asilla tidak ingin momen piknik mereka ada orang lain, walaupun Grey adalah sesosok yang berpengaruh besar dalam hidupnya.
Gabriella maupun Isabella mengangguk senang.
Tidak ingin membuang waktu keduanya merapikan tempat tidur sembari menunggu pekerjaan sang Mama selesai.
...******...
Siang menjelang
Waktu yang di tunggu-tunggu keluarga kecil ini akhirnya tiba. Kini mereka sudah berada didalam mobil. Asilla sendiri yang menyetir. Mobil itu adalah pinjaman dari tetangga mereka.
Asilla memilih piknik di sebuah taman yang terkenal di negara itu tepatnya bukan di Ibu kotanya.
"Mama pemandangannya indah sekali," cicit Isabella sepanjang jalan menuju taman.
"Iya sayang," jawab Asilla sembari tersenyum tetap fokus menyetir. Perjalanan ini memerlukan waktu tempuh 1 jam menggunakan kendaraan roda 4. Karena Asilla yang menyetir sehingga mereka memerlukan waktu tempuh menjadi 1 jam setengah.
Perjalanan yang santai akhirnya tiba juga ditempat tujuan. Asilla memarkirkan terlebih dahulu mobil yang dikendarainya.
__ADS_1
"Wah sangat indah," kagum Isabella mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Di sana banyak pohon bebungaan.
"Benar Dek ini sangat mengagumkan. Mama kenapa baru sekarang bawa kami ketempat ini?" kata Gabriella juga mengagumi keindahan taman itu.
"Maaf sayang karena Mama tidak sempat. Ayo kita segera masuk, di dalam sana lebih indah lagi," ajak Asilla sembari menggandeng tangan kedua putri cantiknya. Mereka sangat persis seperti Adik Kakak, mungkin begitulah orang-orang mengira mereka.
Asilla beserta si kembar menikmati keindahan tanaman bebungaan yang beraneka ragam. Sungguh taman itu begitu indah dan nyaman.
"Sayang Mama tunggu di sana. Hmmm kalian nikmati sepuasnya," kata Asilla sembari menunjuk ke arah kursi panjang yang terbuat dari pohon tidak jauh dari keberadaan Gabriella dan Isabella.
"Oke Mama," jawab keduanya.
Kini Asilla sedang duduk sembari memperhatikan kedua buah hatinya. Taman itu cukup ramai pengunjung karena bertepatan di musim semi di kota itu.
Asilla termenung. Seketika bayangan Moses terlintas di benaknya. Dad Asilla kembali sesak bila mengingat wajah tampan Moses.
"Sayang Aunty merindukan kamu," lirih Asilla sembari menghela nafas.
"Mama," panggil Isabella dari jarak jauh sembari menunjukan bunga yang ia petik, lalu menyelipkannya ke telinga.
"Cantik sayang," balas Asilla sembari memberi kode dengan jari tangannya.
Entah sudah berapa lama mereka berada di sana. Asilla sudah sedikit bosan, sedangkan kedua bocah cantik itu seakan tidak ada bosannya. Mereka masih asik bermain dengan gelembung balon air.
Tiba-tiba. Entah Asilla lagi berhalusinasi atau bermimpi mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali sedang memanggilnya di arah belakang tempatnya terduduk.
Mendengar panggilan itu membuat tubuh Asilla menegang.
"Mama Sila," panggilnya untuk kesekian kalinya.
Sekali lagi membuat Asilla terdiam. Kedua matanya melebar mendengar panggilan itu tetapi tidak pantas membuatnya untuk berbalik. Sungguh Asilla menyangka jika ia sedang berhalusinasi saja.
"Mama," panggil seseorang itu sembari menepuk bahu Asilla yang menegang.
Deg
Mata Asilla membulat dengan mulut menganga melihat siapa orang yang menepuk bahunya saat ini.
"Mo-Moses," gumam Asilla dengan gugup dan disertai bibir bergetar.
"Mama hiks hiks...." Moses tidak tahan lagi tidak ingin memeluk Asilla. Bocah tampan itu langsung memeluk Asilla dengan eratnya dan menangis dalam pelukan hangat itu.
Asilla tak berkutik. Ia seperti kehilangan senyawa dengan apa yang terjadi. Sungguh ia tidak paham dengan apa yang terjadi. Hanya ada dalam benaknya adalah kejadian ini hanyalah sebuah mimpi dan halusinasi belaka.
Mendapat perlakuan Asilla membuat Moses terpaksa melepaskan pelukan itu. Lalu menatap wajah wanita yang sangat ia rindukan beberapa bulan ini. Sehingga tatapan mereka bertemu.
__ADS_1
"Mama tidak merindukan Moses?" tanya Moses dengan berurai air mata.
"Sayang benarkah ini kamu? benarkah ini keponakan tampan Aunty?" lirih Asilla juga ikut menangis. "Katakan jika ini hanyalah sebuah mimpi sayang," imbuhnya sembari mengelus wajah Moses tanpa mengalihkan tatapannya.
"Mama tidak bermimpi bahkan berhalusinasi tetapi ini adalah sosok Moses yang nyata Mama," ungkap Moses.
"Cubit Aunty sayang," titah Asilla karena masih belum percaya.
Awww
Ringis Asilla merasakan perih di tangannya akibat cubitan Moses yang kuat kuat.
"Apa Mama sudah percaya jika ini adalah Moses, putra Mama sendiri?" cicit Moses yang berhasil membuat kening Asilla mengerut.
"Sayang," lirih Asilla membawa Moses kedalam pelukannya. "Aunty sangat merindukan kamu sayang. Bagaimana bisa kamu berada di sini sayang?" cecar Asilla dengan pertanyaan bertubi.
"Moses juga sangat merindukan Mama. Sangat Mama hiks hiks...." Seketika tangisan Moses pecah dalam pelukan ternyaman bagi dirinya. "Moses menyusul Mama dengan Papa," ungkap Moses.
Deg
Mendengar nama Filio membuat Asilla bungkam. Moses melepaskan pelukan itu karena ingin menunjuk dimana keberadaan sang Papa.
"Itu Papa," kata Moses sembari menunjuk ke arah belakang Asilla.
Deg
...******...
Tidak jauh dari tempat Asilla dengan Moses. Sesosok pria tampan sedang berdiri dibelakang Gabriella dan Isabella berada.
"Gaby, Abel." Panggil sesosok itu sehingga membuat kedua bocah itu menghentikan permainan mereka. Seketika keduanya menoleh kebelakang, dimana arah suara terdengar.
"Uncle," lirih keduanya melihat sesosok orang yang mereka kenal.
Filio melangkah semakin mendekat. Tepat di hadapan Gabriella dan Isabella berdiri Filio langsung berjongkok.
"Sayang," panggil Filio dengan bibir bergetar. Tidak tahan ia peluk tubuh Gabriella dan Isabella bersamaan.
"Uncle," gumam Gabriella dan Isabella bersamaan sangat terkejut atas apa yang dilakukan Filio kepada mereka.
"Sayang ini adalah Papa. Ini Papa kalian sayang," ungkap Filio masih memeluk erat si kembar. "Yang memeluk kalian sekarang adalah Papa kalian. Ini Papa sayang," ungkap Filio dengan terisak.
Deg
...******...
__ADS_1
Besok menyusul 3 bab lagi yah.... author tidak sanggup update terlalu banyak. Masih banyak urusan di dunia nyatağŸ¤