Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 74. Masa Lalu Asilla 3


__ADS_3

Hari ini adalah perpisahan kelas tiga. Sekolah mengadakan acara seperti biasanya.


Kini aula sudah dipenuhi oleh para murid termasuk Asilla dan Asinta. Disela sebelum acara dimulai Asinta selalu mengawasi Grey karena ia ingin berbicara 4 mata. Melihat Grey hanya seorang diri Asinta bergegas menghampiri.


"Grey," sapa Asinta.


"Sinta," balas Grey.


Asinta tersenyum manis.


"Grey aku ingin mengatakan sesuatu, apa kamu ada waktu sebentar saja?" ungkap Asinta.


Grey langsung menatap Asinta dengan kening mengerut.


"Hmmm ada apa? katakan?" tentu saja rasa penasaran itu Grey rasakan.


"Grey aku su------,"


"Grey kamu dipanggil oleh kepala sekolah," tiba-tiba teman sekelas mereka datang dan hal itu membuat perkataan Asinta terhenti.


"Oke!" Grey kembali menatap Asinta. "Kamu tadi ingin mengatakan apa Sin?"


"Hah....lupakan karena aku jadi lupa apa yang ingin aku katakan tadi," kata Asinta berusaha bersikap seperti tidak ada yang terjadi.


"Baiklah, aku akan menemui kepala sekolah," kata Grey dan langsung berlalu tanpa memperdulikan perasaan Asinta.


"Huh.... gagal lagi gagal lagi," umpet Asinta sembari menatap kepergian Grey. Tidak lama ia kembali bergabung dengan yang lainnya.


Acara demi acara berlangsung dan kini saatnya Grey ingin mengungkapkan perasaannya kepada seseorang yang ia pendam dari SMP. Grey punya keberanian untuk melakukan itu, lagi pula dia bukan anak kecil lagi karena sebentar sudah memasuki jenjang perkuliahan.


Grey maju ke depan dengan wajah tampannya sehingga membuat kaum hawa menyerukan namanya mengagumi ketampanan Grey. Kecuali Asilla hanya diam saja dengan beban pikiran.


"Aku ingin memanggil seseorang," kata Grey sehingga membuat semua orang saling memandang satu sama lain. "Asilla Candrawinata," sebut Grey tanpa merasa ragu.


Deg


Orang yang bersangkutan terpaku mendengar namanya disebutkan. Tidak lama beberapa teman menarik tangan Asilla menuntunnya ke depan mendekati Grey. Asilla kaget dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Sungguh ia tidak paham.


Grey tersenyum menawan kepada Asilla yang hanya bisa dibalas dengan wajah penuh tanda tanya.


"Di depan para sahabat bahkan para guru terhormat aku ingin mengatakan. Sila aku menyukaimu dalam arti aku mencintaimu. Sila maukah kamu menjadi kekasihku?" ungkap Grey dengan wajah serius.


Deg


Jantung Asilla berdebar tak karuan mendengar pernyataan cinta Grey. Tubuhnya membeku seketika dengan mata melebar.


"Asilla Candrawinata maukah kamu menjadi kekasihku?" sekali lagi Grey mengulangi, bahkan ia langsung berlutut dengan tangan mengenggam setangkai bunga mawar merah.


Deg


Mata Asilla membulat dengan mulut menganga melihat apa yang Grey lakukan di depan banyak orang.


"Kak Grey bangun, jangan seperti ini," lirih Asilla seperti bisikan.


Grey menggeleng disertai senyuman.


"Terima.....terima......" Sorak para murid serta guru.


Asilla berusaha tetap tenang padahal saat ini kedua kakinya lemas untuk menyangga tubuhnya. Keringat panas dingin menghampirinya, sungguh apa yang di depannya saat ini berhasil membuat ia menjadi gugup.


"Terima.....terima....."


Grey tersenyum seperti mengharapkan sesuatu.


Asilla tidak munafik dengan apa yang ia rasakan. Sungguh keberanian Grey dengan menyatakan cinta kepadanya di depan banyak orang membuat hati Asilla terenyuh, bahkan saat ini ia tidak munafik jika hatinya berbunga-bunga. Tiba-tiba ingatan terlintas di hatinya. Seketika pandangan Asilla ke sana sini mencari keberadaan Asinta tetapi kedua matanya tidak mendapati sesosok itu.


Asilla tersenyum tenang. Ia memegang bahu Grey.


"Berdirilah!" Titah Asilla.


Grey langsung menuruti perintah Asilla sehingga membuatnya bangkit berdiri tanpa mengalihkan tatapannya. Asilla menghela nafas panjang lalu tersenyum.


"Kak Grey terima kasih. Aku tidak bisa," kata Asilla singkat, sungguh ia tidak paham jika dengan masalah hati kecuali mata pelajaran ia akan cercap dan langsung bisa menjabarkan satu-persatu tetapi ini masalah cinta, sungguh ia bebal dalam hal satu ini.


Deg


Mendengar penolakan dari orang yang dicintainya selama ini membuat hati Grey dihantam baru sehingga membuat dadanya sesak. Apa yang ia harapkan tidaklah berjalan dengan kemauan.


"Maaf!" Lirih Asilla dengan wajah tidak enak hari karena telah mengecewakan Grey.


"kamu tidak salah. Terima kasih karena kejujuran hatimu, tetapi aku akan tetap berusaha merebut hatimu dan menyakinkan hatimu Sila." Ungkap Grey tidak ragu dengan mata sendunya. Asilla dapat melihat ada pancaran kekecewaan di sana.


"So sweet banget sih si Grey,"


"Cowok idola banget,"


"Sila bodo* menolak,"


"Coba saja dia menembakku,"


Begitulah riuh beberapa teman mereka.


"Maafkan aku Kak Grey. Aku menolak karena satu hal, dan aku tidak mungkin merebut kamu dari dia," batin Asilla.


Di pojokan sana seseorang mengepalkan tangan dengan mata memerah. Apa yang dia lihat dan didengar barusan membuat hatinya tercabik hancur. Ia tidak pernah menyangka dengan pertunjukan tadi.


"Aku menyukaimu dan bahkan sangat mencintaimu Grey," gumam Asinta dengan geram didalam toilet. "Aku tidak ingin melepaskan kamu, apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan dirimu," sambungnya.


Asinta masih berdiri di depan kaca besar dalam toilet tersebut.


"Kenapa harus dia?" lirihnya kembali.


...******...


Penolakan Asilla tempo hari lalu tidak mematahkan semangat Grey untuk menyakinkan Asilla. Dalam kepadatan jadwal kuliah tidak pengaruh baginya membagi waktu untuk bisa berdekatan dengan Asilla dan selalu ada untuk Asilla mengadu dalam segala hal. Sungguh Grey menjadi sesosok pengganti Asinta buat Asilla, dengan sabarnya Grey menguatkan Asilla dalam hal masalah apapun.


Setelah kejadian itu membuat komunikasi Asilla dengan Asinta berpengaruh besar. Asinta banyak diam bahkan sedikit cuek kepada Asilla. Asilla menyadari hal itu sehingga membuatnya sedih dipendam. Ia selalu gagal untuk berbicara empat mata karena Asinta selalu menghindar.


"Sila....Sila," teriak Mira.


"Iya Ma," jawab Asilla sembari berlari sehingga membuatnya terengah-engah.


"Kamu kemana saja? harus diteriaki dulu baru menjawab?" cecar Mira dengan mata tajam.


"Maaf Ma tadi Sila di kamar mandi jadi tidak mendengar panggilan Mama," terang Asilla dengan jujur.


"Alah alasanmu saja," bentuknya dengan mata melotot. "Cepat beresin keperluan Kakak kamu. Apa kamu sengaja membuat Kakakmu terlambat?" imbuhnya kembali dengan wajah masam.


"Baik Ma," dengan segera Asilla melakukan pekerjaan rutinnya.


Sedangkan Asinta hanya diam tanpa membela Asilla seperti biasanya. Hal itu membuat hati Asilla sedih.


Didalam mobil perjalanan menuju lokasi pemotretan keduanya bungkam, tidak ada yang ingin membuka suara terlebih dahulu. Ya Asinta mengambil jurus modeling di Universitas di negara itu.


"Kakak Sila ingin bicara," akhirnya Asilla tidak tahan.


Mendengar itu membuat Asinta menoleh menatap Asilla dengan sorot mata dingin yang tidak pernah ia tunjukan selama ini.


"Ada apa? bicaralah jangan membuang waktu yang tidak penting,"


Asilla membeku dengan apa yang barusan ia dengar dan itu keluar dari mulut Asinta. Berhasil membuatnya menatap inten wajah Asinta yang sedang membuang muka.


"Kak apa Kakak marah karena hal itu?"

__ADS_1


"Marah?" Asinta pura-pura tidak mengerti dengan arah pembicaraan Asilla.


"Iya Kak. Kak Grey,"


Asinta menghela nafas panjang.


"Itu bukan urusan Kakak. Kakak sudah mendapatkan lelaki yang lebih dari itu,"


Asilla terpaku, tidak percaya dengan apa yang Asinta katakan. Bagaimana mungkin ia secepat ini move on dari Grey lelaki yang selama ini ia puja.


"Kakak tidak sudi menjadi pelariannya," decak Asinta dengan tangan terkepal erat tanpa diketahui Asilla.


Keadaan kembali hening larut dengan pikiran masing-masing.


...******...


Hari ini adalah wisuda kelulusan Asilla dari bangku menengah atas. Dari sekian banyak murid hanya dia seorang yang tidak didampingi salah satu dari kedua orang tuanya. Tentu saja hal itu membuat Asilla sedih terpendam.


"Sila,"


Panggilan seseorang mengalihkan lamunan Asilla. Seketika bibirnya melengkung mengetahui siapa sosok yang sedang memanggilnya.


"Kak Grey,"


"Maaf aku sedikit terlambat,"


"Tidak Kak, ini saja acara belum dimulai,"


"Hmmm kamu cantik sekali," puji Grey mencermati wajah cantik Asilla yang sedikit di dandani.


Seketika wajah Asilla memerah mendapat pujian dari Grey.


"Kak Grey bisa saja," balas Asilla dengan wajah bersemu merah.


"Sangat mengemaskan!" Seperti biasanya ia mengusap pucuk kepala Asilla dengan sayang.


"Kakak jadi berantakan bukan?" protes Asilla dengan bibir cemberut.


Hahaha


"Hmmm orang tua kamu tidak kelihatan?" akhirnya Grey sadar akan keberadaan kedua orang tua Asilla.


"Mereka tidak bisa datang Kak," jawab Asilla dengan wajah menunduk menandakan hatinya sedang sedih. Kemarin keluarganya sedang pergi selama satu minggu.


"Tidak masalah sayang....bukankah ada aku?" hibur Grey sembari mengusap wajah Asilla.


Asilla tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Sungguh orang tua tidak adil," batin Grey.


Acara wisuda telah berakhir. Para murid berbondong-bondong meninggalkan gedung sekolah.


"Hmmm Sila aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat, itupun jika kamu tidak keberatan," ungkap Grey sebelum mereka pulang.


"Baiklah!" Jawab Asilla yang tidak pernah Grey sangka.


"Ayo," dengan bergegas Grey membuka pintu mobil. Ia tidak ingin membuang waktu yang tidak berharga.


Didalam mobil keduanya saling bertukar cerita. Grey lebih banyak bertanya, bertanya Asilla akan mengambil jurusan apa. Setelah mengetahui akan jurusan apa yang diambil Asilla ia sangat mendukungnya.


Tidak terasa tempat yang ingin mereka tuju tiba juga.


"Danau," gumam Asilla.


"Apa kamu suka?"


Asilla mengangguk karena wanita cerdas ini menyukai alam terbuka.


Grey membawa Asilla dengan menggenggam tangannya duduk di tepi danau yang terdapat kursi panjang terbuat dari kayu.


Hmmm


Grey menoleh ke arah Asilla lalu meraih kedua tangan Asilla. Mata Asilla menyipit melihat apa yang dilakukan Grey.


"Sila mungkin kamu sudah bosan mendengar ini tetapi bagiku untuk mengatakan ini tidaklah pernah bosan. Hari ini aku kembali menyatakan cinta kepadamu. Sila aku mencintaimu," ungkap Grey dengan wajah serius, bahkan kedua matanya memerah seperti menahan sesuatu.


Asilla tidak kaget lagi karena bukan sekali ini saja Grey menyatakan perasaannya.


Asilla bangkit sembari menarik tangannya, hal itu membuat Grey lemas. Ia sudah tau jawaban yang sering ia dapatkan. Sungguh Grey tidak tau lagi bagaimana menyakinkan Asilla. Bukan dia tidak laku di luaran sana tetapi hatinya sudah terpicut dengan Asilla.


Melihat kerapuhan Grey membuat Asilla tersenyum. Lalu ia meraih kedua tangan Grey.


"Aku juga mencintaimu Kak,"


Deg


Suara lembut penuh makna yang selama ini ia nantikan terjawab juga hari ini. Keluar juga kalimat itu dari mulut manis Asilla. Grey tak bergeming ia seperti sedang bermimpi ataupun berhalusinasi.


"Aku sedang bermimpi," gumam Grey dengan kepala berkali-kali menggeleng.


Asilla tersenyum.


"Kamu tidak sedang bermimpi,"


Grey sadar dan langsung bangkit sembari mendekap Asilla membawa kedalam pelukannya. Sungguh ia sangat bahagia karena pada akhirnya ia berhasil mengambil hati Asilla dengan penuh pengorbanan.


"Maafkan Sila Kak Sinta, tetapi Sila tidak dapat membohongi perasaan Sila. Sila mencintai Kak Grey," batin Asilla langsung mengingat sang Kakak.


Menurut Asilla ini tidak masalah bagi Asinta karena Asinta sendiri yang bilang sudah tidak ada rasa lagi terhadap Grey dan bahkan dia juga sudah punya kekasih.


"Terima kasih," gumam Grey masih memeluk Asilla.


Hmmm


"Maaf," Grey baru sadar telah memeluk Asilla karena tadi hatinya sangat bahagia sehingga tidak menyadari apa yang ia lakukan. "Maaf Sila aku tidak sengaja," imbuhnya kembali.


Asilla mengangguk disertai senyuman.


Seketika keduanya canggung. Selama ini Grey sangat menjaga, sekalipun ia tidak pernah berlaku kurang aja*. Ini adalah pelukan pertama bagi mereka berdua. Sungguh Grey adalah sosok idaman bagi Asilla.


...******...


Seiring berjalannya waktu mereka sama-sama meraih gelar sarjana dari jurusan masing-masing.


Sesuai janjinya Grey ingin bertunangan dengan Asilla. Dan hal itu sudah dibicarakan Grey kepada Paman dan Bibinya. Ya Grey adalah seorang yatim piatu. Dari umur 6 tahun ia sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya karena kecelakaan. Tetapi ia tidak kekurangan kasih sayang karena Paman dan Bibinya sangat menyayanginya, bahkan sudah menganggap dirinya anak bagi mereka. Kebetulan sampai saat ini mereka belum dikaruniai seorang buah hati.


"Kami mendukung apapun itu Nak," kata Sera sebut saja nama Bibi Grey.


"Nak Sila kami sangat mendukung kalian, kamu adalah wanita baik bahkan sempurna buat anak kami," timpal Irfan Paman Grey.


Asilla tersenyum bahkan hatinya terenyuh mendengar sanjungan dari calon mertuanya.


"Besok kami akan mendatangi kedua orang tuamu sayang," kata Sera sembari mengusap wajah Asilla dengan sayang.


Sungguh mendapat perhatian calon mertuanya Asilla terenyuh dengan dada sesak. Bahkan ia belum pernah mendapat perlakuan seperti ini dari sang Mama.


"Iya Tante," jawab Asilla dengan mata berkaca-kaca.


"Panggil Mama sayang seperti calon tunangan kamu," kata Sera dengan tersenyum.


Asilla mengangguk.


Sesuai yang di janjikan. Grey mendatangi kediaman Asilla bersama Paman dan Bibinya. Kedua orang tua Asilla menyambut dengan senang karena mereka salah sangka. Bahkan malam ini Mira masak bermacam-macam menu karena sudah di kabari terlebih dahulu oleh Irfan, kebetulan mereka adalah rekan bisnis.

__ADS_1


Kini mereka sudah berada di meja makan. Asilla tidak banyak bicara, sejak kemarin ia tidak tenang. Sedangkan Asinta curi-curi pandang kepada Grey dan bermuka dia dihadapan Paman dan Bibi Grey.


"Kamu semakin tampan Grey," batin Asinta.


"Sebaiknya kita makan malam terlebih dahulu," ujar Farhan.


Irfan maupun Sera mengangguk.


"Silahkan jeng, ini masakan aku yang masak," kata Mira mempersilahkan tamu mereka untuk mencicipi masakannya.


"Jeng pintar masak, ini sangat enak," puji Sera setelah mencicipi makanan yang ia pilih.


"Terima kasih jeng," sungguh Mira tersanjung mendapat pujian itu.


Seusai makan malam mereka kembali ke ruang tamu.


"Kami berkunjung kemari bermaksud ingin melamar Nak Sila," Irfan mulai buka suara.


Deg


"Maksud Tuan?" gumam Mira dengan mata membulat.


"Maaf Nyonya jika kedatangan kami mengejutkan kalian. Ya seperti yang kita ketahui anak-anak kita sudah lama menjalin hubungan sebagai kekasih. Atas nama putra Kami ingin melamar putri kalian Asilla," ungkap Irfan sekali lagi.


Perkataan Irfan tentu saja membuat kedua orang tua Asilla kaget seketika, tidak pernah menyangka. Sedangkan Asinta mengepalkan tangan dengan rahang mengeras mendengar apa yang baru dikatakan Irfan. Lain halnya dengan Asilla, gadis itu sejak tadi hanya menunduk saja dengan meremas jari-jemarinya.


Setelah disepakati 1 bulan ke depan adalah hari pertunangan Asilla bersama Grey di gelar.


...******...


"Mama Sinta tidak rela dia menjadi milik Sila," teriak Asinta didalam kamarnya.


"Sayang tenanglah, masih banyak lelaki lain di luaran sana," Mira berusaha menenangkan Asinta.


"Tidak Mama dia orang yang sangat Sinta cintai. Lakukan sesuatu Mama....hiks hiks Sinta hanya ingin dia Mama," tangis Asinta sembari menghentakkan kaki.


Mira terdiam, ia tidak tega melihat putri tertuanya terpuruk. Bayangkan setelah lamaran itu Asinta hanya terkurung di dalam kamar tanpa ingin makan sesuatu. Karena tidak ingin sesuatu terjadi kepada putrinya Mira harus bertindak cepat sebelum terlambat.


"Sayang dengar," Mira langsung membisikan sesuatu yang ia rencanakan.


Seketika Asinta tersenyum puas setelah mendengar apa yang ingin mereka rencanakan.


Hari ini adalah kesempatan bagi Asinta bersama-sama dengan Grey karena kebetulan Grey adalah fotografer yang bekerja sama dengan agen tempatnya bekerja.


"Grey,"


"Sinta,"


Mereka berdua sama-sama kaget. Tetapi itu hanya kepura-puraan bagi Asinta karena pada dasarnya ia sudah tau.


"Jadi kamu yang menjadi model iklan?" tanya Grey dan mendapat anggukan dari Asinta.


Pemotretan pun usai. Grey buru-buru pergi karena hari ini ia sudah janjian sama kekasihnya Asilla tetapi dengan segera dicegah Asinta.


Awww


Tiba-tiba Asinta menjerit sehingga membuat Grey menghentikan langkahnya.


"Sakit," lirih Asinta pura-pura sibuk dengan pergelangan kakinya.


Grey berbalik lalu mendekati Asinta.


"Ada apa?" tanya Grey sedikit penasaran.


'Grey kamu? kamu belum pulang?" sungguh ini drama bagi Asinta.


Asinta menunjukan sakit di pergelangan tangannya. Ia memberi pijatan kecil di pergelangan kaki super mulus bersih itu, bagaimanapun Asinta adalah calon Kakak iparnya. Diam-diam Asinta tersenyum menang.


"Grey sepertinya kamu haus," Asinta menyodorkan segelas jus. Tanpa curiga Grey langsung meneguk sampai tandas karena kebetulan kerongkongannya kering.


Tidak lama Grey menunjukan hal aneh. Dalam sekejap semuanya berubah. Grey masuk kedalam jebakan Asinta. Ya sore itu menjadi malam panas bagi keduanya.


"Kamu harus bertanggung jawab Grey hiks hiks.... " tangis Asinta sembari menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. "Kamu harus bertanggung jawab, kamu telah merampas mahkota yang selama ini aku jaga," sambungnya terisak.


"Aakkkk," teriak Grey sembari meninju dinding kamar mandi. Sungguh saat ini ia terhina oleh perbuatan yang tidak bisa ia hindari. "Kurang aja* kamu Sinta," umpatnya tau jika ini perbuatan Asinta.


Seketika wajah manis Asilla terlintas di benaknya sehingga membuat Grey merosot ke bawah. Ia sudah mengkhianati Asilla. Sungguh ia bukanlah lelaki baik buat Asilla. Padahal 2 hari lagi adalah hari dimana pertunangan mereka, semuanya sudah dipersiapkan.


Malam harinya Grey memaksa untuk mengajak Asilla kesebuah taman yang biasa mereka kunjungi. Sebenarnya Asilla sedikit heran karena mereka seharusnya beristirahat.


Grey terdiam tidak berani menatap Asilla seperti biasanya. Sungguh hatinya sangat perih melihat wajah polis Asilla.


"Honey ada apa? apakah ada masalah?" tanya Asilla.


Grey menoleh memberanikan diri menatap Asilla. Lalu ia menggenggam tangan yang terasa dingin itu.


"Honey besok ada pemotretan di x dan itu tidak bisa aku tolak," kata Grey.


Kening Asilla mengerut, bukankah jadwal Grey untuk 3 hari ke depan sengaja dikosongkan.


"Memang jadwalku dikosongkan tetapi rekanku tiba-tiba mendapat musibah sehingga ia tidak bisa melakukan hal itu. Baiklah jika kamu tidak setuju tidak masalah," ujar Grey berusaha tersenyum.


"Tidak honey itu sudah menjadi tanggung jawab kamu, lagian acara kita lusa. Pergilah kasian temanmu," kata Asilla dengan bijak. "Tetapi bukankah perjalanan ke sana cukup berbahaya?" ya tempat pemotretan itu dikenal berbahaya.


"Kita serahkan semuanya kepada yang maha Kuasa honey,"


Asilla mengangguk.


Melihat ketulusan dan kepolosan Asilla tentu saja membuat hati Grey tercabik-cabik.


"Terima kasih honey kamu memang wanita berhati mulia,"


"Gombal!"


"Boleh aku memelukmu?"


Asilla mengangguk tanpa curiga.


"Honey jika suatu saat aku telah pergi jauh dan tidak kembali lagi apa yang akan kamu lakukan?"


Deg


Asilla terpaku dengan pertanyaan aneh Grey. Sehingga ia ingin melepaskan pelukan itu tetapi dicegah oleh Grey.


"Aku bercanda honey. Tetaplah menjadi Asilla berhati mulia,"


"Jangan ulangi lagi perkataan itu karena tanpa kamu hidupku tidaklah berarti. Sudah terlalu banyak hal yang kita berandai-andaikan," lirih Asilla.


"Maafkan aku Sila, ini semua demi kebaikanmu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada dirimu, wanita yang sangat kamu sayangi ingin melakukan sesuatu kepadamu jika aku tidak menuruti kemauannya," batin Grey.


"Aku mencintaimu,"


"Aku juga mencintaimu,"


Kabar duka tidak dapat dihindari lagi. Hari itu menjadi lautan bagi Asilla. Menumpahkan air mata tanpa berhenti. Kepergian Grey untuk selama-lamanya, seperti yang ia katakan malam itu sebelum kepergian. Sungguh Asilla depresi setelah kejadian itu. Untuk menata hidupnya kembali ia keluar dari zona itu dan menetap di negara lain. Sedangkan keluarganya kembali ke tanah kelahiran yaitu Indonesia.


...******...


"Stop..... stop!"


"Sayang......Papa trip-----,


...******...

__ADS_1


Pasti mulut Mama triplets di bungkam😘Papa triplets cemburu habis-habisan🤫


__ADS_2