
Pengakuan Mira tentu saja membuat mereka terkejut.
"Mama bohong bukan? katakan jika Mama berbohong?" ya Asilla ingin sekali mendengar jika itu semua bohong.
"Inilah kenyataannya Nak," lirih Mira sembari menunduk.
Hiks.... Hiks...
Asilla terisak dengan dada sesak mendapat kenyataan yang ada.
"Sayang," Filio mendekap tubuh lemas itu sembari mengusap punggungnya memberi kekuatan.
"Mereka bohong, katakan padaku mereka bohong sayang," isak Asilla dalam pelukan Filio.
"Apakah ini unsur balas dendam?" ujar Filio sedikit ragu.
Kedua paruh baya menggeleng.
"Kami benar-benar menemukan Sila di bibir pantai sewaktu kami berlibur," Mira menjawab.
Filio maupun Asilla terdiam.
"Papa minta maaf Nak karena selama ini tidak adil kepadamu," lirih Farhan dengan mata memerah.
"Mama minta maaf Sila, Mama yang lebih kejam memperlakukanmu," tangis Mira langsung bersujud di kaki Asilla.
Asilla membelalakkan mata dengan apa yang dilakukan Mira kepada. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Mama tidak perlu melakukan itu, itu tindakan tidak benar," Asilla berusaha melepaskan tangan Mira karena menurutnya tidak sopan.
"Kami sudah jahat kepadamu Sila," lirih Mira kembali.
Asilla menegangkan tubuhnya, lalu menyeka sisa-sisa air mata yang bergulir. Lalu ia menyunggingkan senyuman.
"Terima kasih Papa, Mama dan Kak Sinta. Sila banyak berhutang budi dengan kalian semua. Kalian masih mau merawat bahkan menolong Sila, kalian tidak salah karena semua masalah di munculkan oleh Sila," ungkap Asilla dengan tangan terkepal menahan dada yang begitu sesak. "Sampai kapanpun Papa sama Mama adalah orang tua Sila, Sila tidak akan meninggalkan kalian. Sila sayang kepada Papa, Mama dan Kak Sinta," sambungnya dengan tersenyum dipaksakan padahal matanya saat ini berkaca-kaca.
Deg
Ketiga orang yang disebutkan membeku, mereka tidak menyangka jika Asilla akan memaafkan kesalahan mereka selama ini. Sungguh putri yang ditemukan ini berhati tulus, mulia.
Asilla beranjak bangkit lalu mendekati Mira dan Farhan yang duduk di atas brankar.
"Sila minta maaf atas kesalahan Sila. Pa, Ma apa kalian masih mau menganggap Sila putri kalian?" tanya Asilla dengan mata terpejam, tidak lama ia kembali menatap dua sosok yang berjasa dalam hidupnya.
Farhan maupun Mira saling memandang dengan perasa terenyuh mendengar pertanyaan Asilla yang tidak pernah mereka duga setelah semua rahasia terbongkar.
"Kami sudah jahat selama ini sama kamu Nak. Apa kamu masih bersedia menerima kami?" lirih Farhan dengan bibir bergetar.
"Sampai kapanpun Papa sama Mama adalah orang tua Sila," kata Asilla lantang tanpa takut mendekap tubuh kedua orang tuanya.
Deg
Demi apapun kedua paruh baya itu tercengang sehingga membuat keduanya ingin terlepas dari delapan Asilla tetapi di urungkan.
"Biarkan Sila memeluk Papa sama Mama sampai puas! Hmmm bukankah momen seperti ini tidak pernah terjadi? mulai saat ini dan seterusnya Sila ingin momen seperti ini dilakukan setiap saat. Dari dulu sampai saat ini Sila sayang kalian," kata Asilla masih mendekap kedua orang tuanya.
"Terima kasih Nak," lirih keduanya terenyuh.
__ADS_1
Filio dan lainnya terharu melihat hal itu. Sedangkan Asinta terdiam mematung, jujur ia juga kaget mendengar kenyataan ini.
"Dek," lirih Asinta seperti gumaman, lidahnya keluh untuk berkata, apa lagi kembali menyebutkan panggilan itu. Ya dia juga baru mengetahui rahasia besar dalam keluarganya, ia tidak pernah curiga dengan status Asilla dalam keluarganya.
Mereka terlepas dari dekapan Asilla setelah mendengar panggilan itu. Asilla menoleh dan langsung beranjak bangkit.
Buk
"Kakak minta maaf," lirih Asinta dengan bibir bergetar disertai tangisan dalam pelukan Asilla.
"Tidak Kak Sinta, tidak ada yang perlu dimaafkan," balas Asilla ikut terisak.
Momen yang sudah bertahun-tahun hilang kini kembali lahir.
"Sila sayang Kak Sinta," ungkap Asilla.
"Kakak minta maaf sayang, Kakak terlalu kejam kepadamu. Kakak egois,"
Sungguh mendengar Asinta memanggilnya dengan panggilan itu membuat Asilla semakin mengeratkan pelukan sembari tersenyum.
Asilla mengangguk masih dengan wajah berseri-seri.
Semua yang menyaksikan itu bernafas lega. Khususnya Filio, ia ikut terharu.
Kini keduanya melepaskan pelukan mereka. Asinta memegang kedua bahu Asilla untuk tetap berdiri. Lalu kedua tangannya menangkup wajah Asilla serta menyeka sisa air mata yang masih tertinggal.
"Kamu jelek sekali kalau nangis," ledek Asinta sembari terkekeh.
"Biar saja untuk hari ini. Hmmm bukankah selama ini Silla berusaha menahan air mata ini? Sila berhasil tetap kuat di depan kalian," kenang Asilla. "Tetapi andai kalian tau jika dalam hati Sila hancur, terpuruk," imbuhnya.
"Maaf sayang kami terlalu banyak menggoreskan luka didalam hidupmu," balas Asinta dengan mengusap wajah Asilla dengan rasa terharu.
Asilla menoleh kepada Filio. Pria itu menyunggingkan senyuman.
"Sayang pada akhirnya aku diberi kebahagiaan bertubi,"
"Itu buah dari kesabaranmu sayang. Aku turut bahagia," jawab Filio sembari mengusap bahu Asilla dengan penuh cinta.
...******...
"Sila aku, aku minta maaf!"
Asilla menoleh kepada suara yang tidak asing baginya dengan tatapan datar. Begitu juga dengan Filio, jujur saja ia tidak menyukai kehadiran Grey di tengah-tengah mereka.
"Dia tidak bersalah dalam hal ini sayang, semua akar permasalahan dari Kakak," dengan cepat Asinta menyela. "Dia pergi dan membatalkan pertunangan kalian itu karena aku sempat mengancamnya, akan melenyapkanmu jika pertunangan itu terjadi. Hmmm masalah kejadian di hotel itu Grey benar-benar tidak tau dengan rencana ini, dan dia juga tidak ikut merencanakan putra kalian. Dia tidak bersalah dalam hal ini, dia diam karena tidak ingin kamu celaka," ungkap Asinta kembali.
"Tetap saja ia bersalah!" Ujar Filio dengan mendesis.
"Saya minta maaf Tuan," ujar Grey.
"Jangan pernah dekati istriku lagi," jiwa cemburu sang CEO mulai berkembang.
Asilla mengerutkan dahi mendengar hal itu.
"Jika saya tidak mau?"
"Kau pikir dia--------,"
__ADS_1
"Aku mencintaimu sayang," potong Asilla.
"Kau dengar itu!" Filio merasa menang lalu mengecup punggung tangan Asilla tanpa malu.
Asilla menekan ludah dengan wajah menunduk sungguh ia merasa malu, apa lagi Filio melakukannya di depan kedua orang tuanya.
Hmmm
Grey dan Asinta membuang muka, mereka yang berbuat tetapi mereka yang merasa malu.
"Saya memang mencintai istri Tuan bahkan bisa dikatakan cinta mati," ujar Grey sehingga mendapat tatapan tajam dari Filio, sedangkan Asilla maupun Asinta tertunduk. Sungguh dada Asinta sesak mendengar pengakuan Grey yang sampai saat ini tidak berubah.
"Kau!"
Hmmm
"Tapi itu dulu," sambung Grey.
Tatapan kembali lagi menerima Grey. Grey tersenyum.
"Sekarang cinta mati ini untuk wanita yang berada di sebelahku, yaitu Asinta!"
Deg
Sapu tangan yang digenggam Asinta begitu saja jatuh di lantai. Sungguh apa yang dikatakan Grey seperti petir menyambar di siang nolong.
Grey tersenyum sembari menyentuh kedua bahu Asinta.
"Aku minta maaf selama ini. Apakah hubungan ini bisa diperbaiki?" ungkap Grey sungguh-sungguh.
Ya mereka masih status suami-istri tetapi selama ini tidak berjalan mulus. Itu semua karena Grey muak dengan perbuatan Asinta beserta kedua mertuanya.
"Apa aku tidak salah dengar?" lirih Asinta dengan bibir bergetar, bahkan matanya sudah berkaca.
"Tentu saja tidak. Aku mencintaimu Sinta,"
Asinta membeku dengan mulut terbungkam telapak tangan. Dengan segera Grey merengkuh tubuh menegang itu membawa kedalam pelukannya.
"Terima kasih. Aku juga sangat mencintaimu," lirih Asinta diiringi isak, air matanya tak dapat dibendung lagi. Akhirnya hari ini ia mendengarkan kata keramat itu yang selama ini ia harapkan. Sungguh Asinta merasakan kebahagiaan tiada tara.
Hmmm
"Kehadiran kita seperti nyamuk saja," ejek Asilla sehingga membuat jedua pasangan yang baru merasakan cinta itu tersadar, ternyata mereka melupakan.
Farhan maupun Mira ikut bahagia. Berkat ketulusan hati Asilla keluarganya kembali utuh.
"*Kamu seorang malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menyadarkan kami," batin Farhan.
"Hatimu sungguh mulia Sila," batin Mira.
"Akhirnya hari ini, kata-kata yang berharga itu terucap juga. Ini berkat kamu Dek," batin Asinta.
"Terima kasih Tuhan aku berhasil menciptakan keadaan seperti semula. Aku menyayangi mereka seperti orang tua kandungku sendiri," Asilla membatin.
"Istriku sungguh wanita berhati mulia, tulus dan pemaaf!" Filio membatin sembari mendekap tubuh Asilla*.
Didalam mobil
__ADS_1
"Sayang aku akan membantu mencari siapa orang tua kandungmu,"
...******...