
Sebelum berangkat honeymoon Filio berbicara kepada kedua orang tuanya, agar membantu mencari tau asal usul Asilla.
Maka hari ini Farres dan Lyodra mengunjungi kediaman kedua orang tua Asilla, yang saat ini tinggal di rumah pemberian Filio.
"Apa Mommy sudah bersiap?" tanya Farres bari saja turun menjumpai Lyodra yang sejak tadi menunggunya di ruang keluarga.
"Sudah sayang. Sini Mommy rapikan kancing Daddy," kata Lyodra, kebetulan kancing kemeja Farres terlepas.
Dengan senang hati Farres merapatkan tubuhnya. Jari-jemari Lyodra dengan lihainya.
Cup
Farres mencivm bwbir menggoda itu cukup lama sehingga membuat Lyodra mencubit perut sixpack itu, dan civman itu terlepas.
"Sakit sayang," lirih manja Farres sembari mengusap bekas cubitan Lyodra.
"Makanya jangan asal tempat, tidak baik dilihat anak-anak," cicit Lyodra.
"Bagaimana jika kita sekarang ke kamar saja? hmmm kepengen sayang," bisik Farres.
"Dasar! Tadi malam saja dapat jatah," celoteh Lyodra langsung berlalu dengan wajah bersemu merah. Usia pernikahan mereka sudah berumur tetapi jika mendapat godaan dari sang suami masih tetap saja Lyodra bersemu merah.
Farres terkekeh dengan menggelengkan kepala memandangi tubuh kecil Lyodra yang mulai menghilang. Tidak ingin ketinggalan ia segera berlari mengejar.
Di ruang utama Lyodra mendapati triplets. Ya ketiga bocah mengemaskan itu ikut serta ke rumah Kakek Nenek mereka yang cukup asing bagi mereka.
"Cucu-cucu Oma apa kalian sudah siap?" tanya Lyodra dengan penuh kasih sayang.
"Sudah Oma," jawab mereka serentak.
"Ingat pesan Oma ya?" Lyodra kembali mengingatkan.
Ya Lyodra menasehati triplets agar nanti mereka tidak ada berulah atau memotong pembicaraan nanti.
"Oke Oma," seru ketiganya.
Mobil mewah itu kini membelah jalanan yang begitu padat.
"Oma kapan Papa sama Mama pulang?" tanya Isabella.
"Masih lama sayang," jawab Lyodra.
"Abel rindu,"
"Mau Adik bayi bukan?" ya ini jurus ampuh untuk mengembalikan keceriaan mereka.
"Mau Oma," jawab mereka serentak.
"Jadi biarkan Papa sama Mama," imbuhnya.
30 menit mereka tiba.
Farhan dan Mira menyambut dengan tangan terbuka.
"Selamat siang Kakek, Nenek." Sapa triplets serentak.
"Siang sayang," balas Mira dan Farhan mengangguk.
__ADS_1
"Silahkan masuk Tuan, Nyonya," Mira mempersilahkan mereka masuk.
"Ubah panggilan itu Mira," kata Lyodra. Mira tersenyum dan mengangguk.
"Wah ternyata kalian juga di sini Nak?" kata Lyodra kepada Grey dan Asinta.
"Iya Tante kami juga baru tiba," jawab Asinta.
"Sayang ayo ikut Bibi sama Paman main di atas," ajak Asinta kepada triplets.
Selepas kepergian mereka kini kedua besan itu saling mengobrol.
"Seperti maksud kedatangan kami ke sini ingin lebih mengetahui asal usul menantu kami," terang Lyodra.
"Jujur kami juga tidak banyak tau jeng karena pada saat kami menemukan Sila dalam keadaan cukup mengenaskan. Dapat diyakini ia korban tengelam," terang Mira.
"Pada saat itu pandangan saya tidak sengaja melihat sesosok terbaring tak berdaya di tepi pantai, merasa penasaran saya menghampiri. Ternyata anak kecil yang diperkirakan usia 4 tahunan itu mendapat luka-luka di sekujur tubuhnya, kemungkinan ia terbawa ombak." Farhan mengakhiri ceritanya.
"Sayang bukankan usia Tasya pada saat itu juga sekitaran 4 tahunan?" kata Lyodra kepada Farres.
"Iya sayang tetapi tidak mungkin itu dia, namanya juga beda,"
"Nama Asilla kami yang beri nama karena ia sendiri tidak tau namanya. Ketika sadar Sila cukup seperti orang linglung tidak ingat," timpal Farhan.
"Mommy sangat yakin sayang," Asilla tetap kekeh.
Mereka kembali hening, diam dengan pikiran masing-masing.
"Apa kalian memiliki foto Sila semasa kecil?" seketika Farres menemukan cara.
"Ada Tuan," jawab Mira.
...******...
Di Paris
Hari ini Filio memberi waktu ⌚untuk jalan-jalan mengelilingi tempat yang terkenal romantis di negara itu. Besok mereka akan kembali ke tanah air. Untuk itu Filio maupun Asilla sangat penasaran dengan kejutan yang akan menyambut kedatangan mereka.
Dengan wajah berbinar Asilla memeluk Filio karena pada akhirnya hari ini ia terlepas.
"Kamu senang sekali sayang,"
"Tentu, aku bosan 1 bulan terkurung,"
Hmmm
"Ayo," Filio langsung melingkarkan tangan di pinggang ramping itu membawanya turun.
Pertama Filio membawa Asilla ke menara Eiffel. Di sana Asilla melakukan pemotretan dirinya dengan sang suami.
"Sayang seandainya putra-putri kita ada maka foto ini lengkap," kata Asilla sembari menghela nafas.
"Tenang sayang, kapan saja kita ingin berlibur uang suamimu ini tidak akan habis," ujar Filio.
"Bukankah semua itu jadi milik istrimu? yaitu aku,"
"Oh shitt.....Aku lupa sayang! Hmmm berarti sekarang suamimu ini tak punya apa-apa lagi?"
__ADS_1
"Tentu saja masih, yaitu aku dan ketiga buah hati kita. Kamu bagaimana sih? harta itu hanya titipan sementara," celoteh Asilla panjang lebar.
"Kadang otak suamimu ini gagal paham sayang, maka dari itu selalu berikan vitamin,"
Hmmm
"Sayang sekarang kita ke sana yuk?" ajak Asilla sembari menunjuk ke arah gembok cinta dengan bergelayut manja.
"Ayo,"
Di sana mereka melihat banyaknya gembok yang bertuliskan nama pasangan.
"Sayang bagaimana kita ikutin mereka?" ajak Asilla ingin ikut menuliskan nama mereka berdua di gembok.
Filio menggeleng tidak setuju.
"Kenapa?" tanya Asilla heran.
"Cukup kamu gembok cintamu dalam hatiku," ujar Filio.
Asilla tersenyum bahagia.
Atas permintaan Asilla mereka belum menyudahi jalan-jalan. Filio mengunjungi tempat-tempat yang terkenal.
"Sayang ternyata lelah juga ya?" lirih Asilla.
"Lumayan,"
Mereka saat ini duduk di kursi panjang terbuat dari kayu sembari menikmati es krim.
"Jadi teringat triplets," gumam Asilla ketika mereka sedang menikmati es krim.
Hmmm
Filio mengusap es krim yang meleleh di bibir Asilla menggunakan jari jempolnya. Setelah itu ia jilat.
"Sayang jorok,"
"Jangankan es krim, aset milikmu saja ku jilat," bisik Filio sehingga membuat Asilla membuang muka.
"Jiwa mesumnya kumat," gumam Asilla yang masih dapat didengar oleh Filio.
Sore petang mereka tiba di Penthouse. Sungguh rasa lelah menghampiri keduanya karena seharian menghabiskan waktu di luar sana.
Filio langsung membaringkan tubuhnya di sofa. Rasa lelah dan kantuk ia rasakan. Sedangkan Asilla langsung masuk ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri agar lebih fresh.
Ia keluar langsung di sambut terlelapnya Filio. Asilla menggeleng kepala.
"Sayang ayo bangun, bersihkan dulu dirimu," kata Asilla dengan lembut sembari mengusap punggung itu.
"Aku sangat mengantuk sayang, tunggu sebentar saja," gumam Filio dengan mata terpejam, ternyata ia masih tidur ayam.
"Kamu kotor sayang, seharian kita berada di luar dan bergabung dengan orang banyak dengan negara berbeda-beda," kata Asilla tidak ingin mereka membawa virus.
"Bentar saja," Filio tetap kekeh ingin tidur.
"Baiklah jika itu maumu! Jangan harap dapat jatah malam ini," ancam Asilla langsung bergegas menjauh.
__ADS_1
...******...