
"Tidak perlu sayang, bagiku mereka sudah cukup," jawab Asilla dengan tatapan sendu.
Sungguh ia selama ini tidak pernah menyangka jika kenyataan seperti ini. Dari lubuk hati paling dalam ia ingin tau siapa orang tua kandungnya, dan kenapa ia bisa ditemukan di bibir pantai. Seketika pikiran negatif berterbangan menghampirinya.
"Kamu perlu tau, aku akan berusaha sebisa mungkin. Hmmm sayang bagaimana rencana honeymoon kita? aku sudah tidak dapat menahannya lagi," jujur Filio.
Asilla menoleh dengan bibir mengembang.
"Sayang kenapa menepi?"
Filio melepas seatbelt lalu merapat meraih tengkuk Asilla.
Bwbir sejak tadi menggoda itu ia lahap dengan rakus. Lvmmtn, kvlvmn, shesapn silih berganti. Asilla terbuai sehingga tidak membuang kesempatan, ia membalas perlakuan itu sehingga menciptakan sensasi bahkan ia mengalungkan kedua tangannya. Tidak sampai disitu, kedua daging basah tak bertulang saling bertautan di rongga mulut.
Drett
Getaran ponsel di atas dashboard menghentikan ccivman panas itu.
Huh....
Keduanya menghirup udara karena kehabisan oksigen.
"Sangat manis," Filio mengusap ujung bibir Asilla. Wajah Asilla bersemu merah.
Drett
Sekali lagi ponsel itu bergetar.
"Menganggu saja," umpat Filio sembari meraih ponsel.
"Mommy," gumamnya ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Apa!!!"
Dengan raut wajah sulit diartikan Filio melajukan kendaraan roda empat menuju Mansion. Sedangkan Asilla tercengang merasa aneh dan tidak mendapat jawaban apapun.
...******...
Di Mansion
Kembali dari pesta Sky merasa seluruh tubuhnya tiba-tiba sakit sehingga membuatnya terkulai lemas di tempat tidur.
"Sayang sebaiknya kita ke rumah sakit," ajak Zeze sejak suaminya merasakan sakit.
"Tidak sayang Papi tidak mau ke rumah sakit, Papi hanya ingin di kamar ini hanya berdua denganmu saja," tolak Sky berusaha tersenyum sehingga guratan keriput semakin terlihat.
Zeze kembali duduk di atas ranjang sembari memijit kaki Sky.
"Sayang sini,"
Zeze beringsut mendekat dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
"Sayang apa yang sakit?" tanya Zeze cemas.
"Semuanya sayang, maklum anggota tubuh sudah menua," jawab Sky.
Zeze terdiam tanpa melepaskan tatapannya di wajah tua dengan rambut memutih dengan tatapan penuh cinta. Sungguh hatinya terasa ditusuk ribuan jarum ketika mendengar sang suami kesakitan.
"Jangan katakan itu. Papi menakuti Mami saja," balas Zeze.
"Tidak perlu takut sayang, semua akan kembali kepada-Nya."
Deg
Tiba-tiba dada Zeze terasa dihantam balok besar mendengar kata yang tak biasa itu.
"Papi minum obat agar sedikit enakan," Zeze ingin beranjak untuk ambilkan obat tetapi ia urungkan karena dicegah.
"Obat-obatan itu tak ada artinya. Hanya satu obat yang berhasil menyembuhkan Papi, yaitu kamu sayang istriku yang paling cantik dan sangat aku cintai," ungkap Sky disela rasa sakit amat mendalam menggerogoti tubuhnya saat ini tanpa diketahui Zeze.
Hati Zeze berbunga-bunga mendapat gombalan Sky, walau umur mereka sudah tua tetapi keromantisan tidak pernah pudar.
"Gombal!" Lirih Zeze dengan wajah bersemu merah. Jika di gombal tetap saja wajah menua itu memerah.
Huk huk
Sky tiba-tiba batuk sehingga dadanya sesak.
"Sayang minum dulu," Zeze menuntun gelas berisi air putih ke bibir Sky. "Pelan-pelan saja," imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.
Huk huk
"Sayang Mami panggilkan dokter," kata Zeze dan langsung menghubungi dokter pribadi keluarga Januar.
Menunggu kedatangan dokter Zeze kembali duduk di samping Sky dengan wajah sendu.
"Katakan apa yang sakit sayang?" tangis Zeze tak terbendung lagi.
"Sayang tidak perlu menangis, Papi baik-baik saja," lirih Sky disela batuknya, berusaha menenangkan Zeze.
"Mami tidak ingin kehilangan Papi, apapun yang terjadi tetap di samping Mami," lirih nya kembali di iringi tangisan.
"Menangis dan tumpahkan sepuasnya saat ini, selagi Papi membuka mata. Papi tidak akan melarang," Sky langsung mendekap tubuh kurus itu. "Tetapi jangan lakukan lagi ketika semuanya kembali gelap," imbuhnya kembali menahan rasa sesak di dada.
Keduanya hening yang hanya suara batuk yang mulai mereda. Zeze masih dalam pelukan hangat yang diberikan Sky.
"Kenapa Ira lama sekali?" gumam Zeze sejak tadi dokter pribadi keluarga mereka tak kunjung tiba.
Sky tak menjawab ia sibuk mengecup pucuk kepala Zeze berkali-kali di tengah rasa sakit yang ia rasakan. Walaupun rambut memutih tetapi aroma wangi shampoo itu menenangkan bagi jiwa Sky.
"Sayang selalu tersenyum dan tegar apapun keadaannya nanti, tetapi setelah pandanganmu hilang di satu titik baru Papi megizinkanmu," sungguh teka-teki itu membuat Zeze tidak mengerti.
"Lebih baik Papi jangan banyak bicara," Zeze tidak ingin mendengar ucapan aneh lagi karena saat ini ia sangat ketakutan hari itu tiba.
__ADS_1
Sky tersenyum dengan sekuat tenaga menahan sesak di dada. Ia yakin sesaat lagi ajal menjemputnya. Ia ingin menghentikan nafas terakhir dalam pelukan Zeze istri tercintanya.
Sedangkan Zeze tidak hentinya menyeka air mata, ya Sky tidak melarangnya. Sky mengangkat wajah Zeze agar menatapnya.
Cup cup
Kedua mata Zeze yang tergenang air mata ia kecup sehingga berhasil menghapus jejak basah itu.
"Tersenyumlah sekali saja,"
Zeze langsung tersenyum seperti yang dikatakan Sky. Tetapi hatinya miris melihat wajah semakin memucat. Merasa puas Sky kembali memeluk Zeze.
"I love you!" Sky
"I love you too!" Zeze
Tok tok
"Masuk,"
"Maaf Oma, Ira terlambat. Tadi terjebak macet," seorang wanita berkaca mata menghampiri dengan tidak enak hati.
"Ira segera periksa Opa, tadi batuknya luar biasa tetapi 5 menit ini tak terdengar lagi," kata Zeze.
Ira langsung beringsut membatu Zeze membaringkan Sky agar memudahkannya untuk memeriksa.
"Oma, kenapa tubuh Opa kaku dan terasa dingin?" kata Ira dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Sayang, sayang," panggil Zeze berkali-kali, sedangkan Sky masih berada dalam pelukannya.
Dengan segera Ira memeriksa, seketika jantungnya berdegup kencang setelah mengetahui kenyataan bahwa ia terlambat.
"Oma yang sabar ya?"
"Sabar apa maksudmu Ira?" Zeze langsung memotong.
"Opa telah tiada Oma," lirih Ira dengan lantang sembari menunduk. Tentu saja ia tidak akan mampu melihat reaksi Zeze setelah tau. "Ira minta maaf telah terlambat," imbuhnya kembali.
Duarr
Kata tiada itu bagai disambar petir dalam kamar itu.
"Bantu Oma untuk membaringkan Opa," kata Zeze dengan tenangnya tanpa menunjukan wajah semestinya. Sehingga itu membuat Ira sempat tercengang.
Setelah Sky terbaring, Zeze merapatkan kedua mata yang selalu memancarkan cinta untuk dirinya. Lalu ia mengusap setiap wajah itu dengan pandangan tak lepas. Menciumi wajah itu cukup lama dengan jantung berdegup kencang.
"Papi sudah tidak merasakan sakit lagi," kata Zeze dengan tegar bahkan menyunggingkan senyuman.
Ira keluar dari kamar mencari kepala pelayan untuk memberitahukan kabar duka tak terduga ini, untuk menghubungi keluarga besar Januar.
...******...
__ADS_1
•Honeymoon pengantin baru kembali gagal
Opa Sky😭😤