Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 95. Bertemu Orang Tua Kandung


__ADS_3

Filio dan Asilla tiba di siang hari. Mereka di sambut oleh ketiga buah hati mereka yang sengaja sejak tadi menunggu di luar. Dari kejauhan mereka melihat mobil yang membawa kedua orang tua mereka memasuki Mansion.


Mobil berhenti. Dengan bergegas ketiga bocah mengemaskan itu berlarian menghampiri mobil. Tentu saja tingkah lucu mereka dilihat oleh Filio dan Asilla dari kaca mobil. Semburat senyuman dan kerinduan dipancarkan kedua pasangan itu.


"Papa.....Mama....." Rengek mereka bergelayut manja di kaki masing-masing.


Dengan segera Filio maupun Asilla berjongkok mensejajarkan tubuh mereka dengan anak-anak.


"Sayang apa kabar kalian? Mama sangat merindukan kalian," kata Asilla sembari memeluk mereka silih berganti.


"Baik Mama," balas mereka serentak.


"Papa gendong," pinta Isabella seperti biasanya. Ia adalah yang paling dekat dengan sang Papa.


"Dasar anak manja," cicit Gabriella.


"Biar!" Balas Isabella dan segera menaiki punggung kekar Filio.


"Apa Gaby ingin di gendong juga?" tawar Filio padahal ia sudah tau apa jawabannya itu.


"Gaby sudah besar Papa,"


Hmmm


"Moses mau digendong Mama?" tawar Asilla kepada putra satu-satunya.


"Moses anak lelaki Mama," jawab Moses angkuh.


"Papa suka gayamu son," ujar Filio.


"Sayang kelihatannya di dalam banyak orang?" tanya Asilla karena melihat banyak mobil.


"Iya Mama semuanya berkumpul untuk menyambut kedatangan Mama sama Papa," jawab Gabriella.


"Oh!" Filio dan Asilla hanya ber hoh ria.


Mereka beriringan memasuki pintu utama. Tak disangka keluarga besar menyambut mereka di ruang utama.


"Selamat datang pengantin baru," Fredella menyambut pertama.


Filio maupun Asilla saling memandang dengan wajah penuh tanya.


"Sayang apa kalian tidak lelah hanya berdiri saja?" kata Lyodra karena sejak tadi pasangan itu berdiam diri dengan wajah penuh tanya.


Mereka bisa melihat siapa saja yang berada didalam ruang utama. Seperti ada orang asing juga yang sudah bukan termasuk keluarga Januar. Itu adalah Veronica dan Hardynata.


"Kemarilah Nak," ujar Farres.


Filio mengandeng tangan Asilla menuntunnya ke sofa beserta ketiga anak-anak mereka.


"Bagaimana kabar kalian sayang? bagaimana dengan honeymoon kalian? apakah menyenangkan? sepertinya begitu?" tanya Lyodra bertubi.

__ADS_1


"Nanyanya satu-satu Mommy," protes Filio.


Hmmm


"Terlalu semangat sayang," balas Lyodra terkekeh.


"Kami baik-baik saja Mom.Hmmm kalian semua juga kelihatan begitu?" kata Asilla memandang satu-persatu. Dan pandangannya berpusat kepada wanita kurus dengan mata sembap.


Semua mengangguk pertanda apa yang dibenarkan Asilla.


"Papa bagaimana keadaan Papa?" tanya Asilla kepada Farhan yang sejak tadi hanya bisa menunduk, begitu juga dengan Mira.


Mendengar pertanyaan Asilla yang menunjuk kepadanya membuat Farhan mengangkat wajahnya. Asilla dapat melihat wajah sendu pria yang selama ini jaga jarak dengannya.


Farhan menghela nafas panjang.


"Papa baik-baik saja Nak," hanya itu yang dapat Farhan katakan.


"Sepertinya Papa tidak baik-baik saja," sambung Asilla dapat membaca raut wajah Farhan."Mama juga begitu," tandasnya.


"Itu hanya perasaanmu saja Nak," Mira ikut menjawab.


"Apa yang terjadi di sini," batin Asilla.


Suasana menjadi hening sesaat. Tiba-tiba Veronica beranjak bangkit, lalu memeluk Asilla begitu erat sembari menangis.


"Sayang akhirnya kita dipertemukan," lirih Veronica dengan terisak.


Tentu saja hal itu membuat Asilla ataupun Filio tercengang.


Veronica menciumi seluruh wajah Asilla seperti seseorang yang sudah lama tak bertemu.


"Sayang lepaskan pelukan eratmu, itu membuat putri kita sulit bernafas," suara bariton Hardynata membuat Asilla dan Filio membeku.


"Tasya ini Mama sayang. Ini adalah Mama dan Papa orang tua kandungmu," lirih Veronica dengan derai air mata sembari mengusap wajah Asilla dengan penuh kasih sayang.


Deg


Jantung Asilla berdegup kencang. Apa yang barusan ia dengar berhasil membuatnya membisu dan tidak bisa berkata-kata.


"Nak apa yang dikatakan Nyonya Veronica adalah benar. Kamu putri kandung mereka Nak," kata Mira dengan mata berkaca-kaca.


Asilla membeku. Jantungnya semakin berdebar ketika Veronica dan Hardynata mengusap punggung Asilla. Ya Hardynata beringsut duduk di samping Asilla.


Agar Silla percaya sepenuhnya, Veronica menceritakan kronologi awal kejadian itu. Dibantu oleh Mira dan Farhan.


"Begitulah ceritanya sayang, jika kamu masih belum percaya lihat foto ini dan baju terakhir kali kamu pakai ketika musibah itu terjadi. Mama Mira masih menyimpan baju itu," kata Veronica memperlihatkan bukti.


Asilla meraih foto serta baju yang terakhir di pakai Asilla. Matanya membulat melihat anak kecil yang berada di foto itu, wajah itu sangat mirip dengan beberapa foto sejak ia masih kecil.


"Mami yakin kamu adalah Tasya Mami yang hilang. Jika kamu tidak yakin kita bisa tes DNA sayang," lirih Veronica dengan sendu. Ya ia yakin jika Asilla tidak sepenuhnya percaya jika bukti belum sepenuhnya.

__ADS_1


"Berarti Tasya teman semasa kecilku adalah kamu sayang," ujar Filio. "Dunia begitu sempit,"


Asilla belum menjawab apapun. Ia mencocokan foto masa kecilnya dengan keluarga Candrawinata dan foto keluarga Hardynata. Di foto itu begitu sama.


Asilla menutup album itu.


Tes tes


Bulir bening bergulir membasahi kedua pipinya.


"Mami, Papi," gumam Asilla menoleh ke masing-masing. "Sila percaya karena bukti foto ini dan baju ini," imbuhnya.


"Tasya hiks hiks," tangis Veronica pecah dalam dekapan Asilla, begitu juga dengan Hardynata.


Semua yang melihat merasa terharu.


"Mami minta maaf sayang, Mami sudah gagal menjagamu," lirih Veronica tergugu.


Cukup lama mereka melepas rindu. Sungguh Veronica dapat bernafas lega. Dimasa tuanya ia masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan putrinya yang selama ini ia rindukan. Buah dari kesabaran dan dukungan doa, hari ini Tuhan telah mengabulkan. Padahal ia sudah berjanji untuk mengikhlaskan, tetapi tanpa di duga mukjizat itu datang hari ini.


"Sayang Mami minta maaf," lirih Veronica.


Asilla menyeka air mata itu. Lalu ia tersenyum.


"Tidak ada yang harus disalahkan Mami, semua sudah takdir," jawab Asilla tidak ingin Veronica merasa bersalah.


"Demi apapun Mami sangat bahagia masih diberi kesempatan untuk bertemu denganmu sayang. Selama ini Mami sangat menderita, maaf membuatmu menderita hiks hiks..." Veronica tidak sanggup lagi meneruskan kata-katanya karena itu menyesakan. Perjalanan hidup putrinya begitu malang.


"Sebagai seorang Ayah, Papi sangat merasa bersalah karena pada waktu kejadian kami telah lalai menjagamu. Maaf jika selama ini kamu menjalani hidup penuh liku-liku yang orang lain tidak akan sanggup untuk bertahan," ungkap Hardynata dengan mata memerah. Raut wajah itu menggambarkan kesedihan mendalam ketika mengingat masa lalu Asilla bersama kedua orang tua angkatnya. "Tapi hari ini kebahagiaan Papi tidak bisa di ukur oleh apapun ketika masih diberi kesempatan menatap wajahmu, memeluk dirimu." Sambungnya tanpa sadar air mata itu bergulir membasahi wajah yang mulai menua.


Tentu dada Asilla sesak. Ia terenyuh dengan apa yang dikatakan Hardynata.


"Papi terima kasih kalian masih setia menunggu bahkan mengharapkan kehadiran Sila ditengah-tengah Papi sama Mami. Maaf jika Sila tidak dapat mengingat kebersamaan kita dimasa lalu, tetapi melalui foto-foto itu Sila yakin jika Papi sama Mami sangat menyayangi Sila," ungkap Asilla sembari menyeka air mata itu.


"Sayang jangan pernah meninggalkan kami lagi," isak Veronica sembari menggenggam tangan Asilla.


Asilla menggeleng.


"Atas dasar apa Sila meninggalkan Mami sama Papi," jawab Asilla.


"Kami minta maaf karena membuat putri Tuan dan Nyonya banyak menderita. Kami buta sehingga selalu menyalahkan Sila dalam hal apapun," kata Farhan.


"Awalnya kami memang murka setelah mendengar perlakuan kalian terhadap putri kami. Tetapi kami tidak boleh egois, bagaimanapun kalian banyak berjasa. Kami berhutang Budi! Terima kasih sudah menyelamatkan putri kami dan merawatnya sampai dewasa," ungkap Hardynata. Jujur saja tadi ia murka kepada keluarga Candrawinata.


"Cukup! Tidak perlu dibahas lagi. Yang lalu biarkan berlalu, jangan lihat ke belakang lagi. Pembelajaran bagi kita untuk lebih baik lagi," Asilla menyela, ia tidak ingin kedua belah pihak merasa bersalah.


Asilla menghela nafas.


"Papa, Mama. Terima kasih sudah menyelamatkan dan merawat Sila sampai saat ini. Dengan apapun Sila tidak akan bisa membalas Budi Papa sama Mama," kata Asilla sungguh. "Papa, Mama kalian tetap akan menjadi orang tua Sila," imbuhnya tersenyum.


Farhan maupun Mira membalas senyuman Asilla.

__ADS_1


...******...


•Akhirnya author mempertemukan mereka


__ADS_2