Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 40. Penyesalan Tak Terkatakan


__ADS_3

Brak


Meja sofa mahal milik keluarga Candrawinata kini tidak berbentuk lagi. Dengan sekuat tenaga Filio menghancurkan meja itu setelah mendengar semua cerita dari keluarga Candrawinata.


"Gaby, Abel." Lirih Filio dengan bibir bergetar. Tanpa sadar meneteskan air mata.


"Iya mereka adalah darah daging Tuan," lirih Mira dengan bibir bergetar. "Mereka adalah Kakak dari Moses," imbuhnya kembali dengan perasaan takut.


"Sila," gumam Filio seketika mengingat sesosok Asilla.


Buk buk....


Tinjuan dua kali melayang di wajah dan perut Farhan. Tiba-tiba seseorang menyerangnya setelah sekian lama menguping perbincangan mereka. Sehingga membuat sudut bibir Farhan mengeluarkan darah.


"Tega kamu Farhan!" Suara bariton itu begitu nyaring.


"Daddy," gumam Filio sangat kaget melihat kedatangan kedua orang tuanya yang tiba-tiba.


"Tega kamu Mira," tangis Lyodra ikut memperlihatkan dirinya.


Tentu saja membuat ketiga orang itu terdiam seperti anak kucing.


"Orang tua macam apa kalian begitu licik terhadap putri kalian sendiri? orang tua macam apa kalian bisa-bisanya membedakan putri kalian sendiri hiks hiks...." Cecar Lyodra dengan amarah menggebu.


Sedangkan Filio tidak bergeming. Kini pikirannya di penuhi tiga sosok orang yang selama ini ia sia-siakan atau bisa dikatakan tidak pernah dianggap bagian dari hidupnya.


"Urusan kita belum selesai!" Ujar Farres sembari menunjuk wajah Farhan yang sudah pucat pasi. Mendengar ancaman itu membuat Farhan beserta anak istri semakin takut. "Ayo sayang kita harus pergi," ajak Farres kepada Lyodra.


"Iyo ikut kami," titah Lyodra sekilas melihat raut wajah putra tunggalnya yang sulit di artikan.


Tanpa menolak Filio mengikuti langkah kedua orang tuanya. Tetapi sebelum itu ia kembali murka kepada keluarga Candrawinata yang telah menipunya selama ini.


"Kalian sudah berani mempermainkan seorang Filio Januar. Berani menipu dan sebagainya, untuk itu bersiaplah menerima hukumannya." Bentak Filio sembari melayangkan ancaman yang berhasil membuat keluarga Candrawinata tak berkutik. "Dalam sekejap kalian akan menjadi gembel," imbuhnya kembali.


"Maafkan kami Tuan," mohon Farhan langsung bersujud di kaki Filio karena ia tidak ingin kekayaannya lenyap seketika.


"Tidak semudah itu. Katakan kepadaku dimana kalian menyembunyikan Sila beserta kedua putriku?" tanya Filio dengan bentakan.


"Untuk masalah itu kami tidak mengetahuinya Tuan. Sila tidak pernah memberitahu kami bahkan dia pergi tanpa pamit," jawab Farhan benar-benar tidak tau dimana keberadaan Asilla beberapa bulan belakangan ini.


"Kalian masih punya nyali untuk membohongiku?" bentak Filio kembali karena ia kira apa yang dikatakan Farhan itu adalah sebuah kebohongan.

__ADS_1


"Kami tidak bohong Tuan, kami benar-benar tidak tau dimana keberadaan Sila," imbuh Mira.


"Diam kamu!" Bentak Filio menatap tajam wanita licik itu.


"Sayang tidak ada gunanya kita memohon kepada keluarga licik seperti mereka," kata Lyodra sembari menarik tangan Filio.


Akhirnya mereka meninggalkan rumah kediaman keluarga Candrawinata dengan pikiran masing-masing.


Ketika Filio menghubungi Gio. Dari situ Farres dan Lyodra mendengar perbincangan mereka karena kebetulan Gio sedang berada di ruangan CEO. Dari itu mereka langsung menuju kediaman Candrawinata karena ingin tau apa yang terjadi. Mereka masuk dengan diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun kecuali ART di rumah itu.


...******...


Di Mansion


"Mommy," lirih Filio didalam pelukan Lyodra. Sedangkan Lyodra tanpa berhenti menangis.


"Ya Tuhan maafkan aku sebagai seorang Ibu serta Oma yang sudah gagal untuk keluarga kami," tangis Lyodra menyalahkan dirinya sendiri dalam hal ini.


"Tidak Mom, ini semua salah Iyo." Ujar Filio tidak ingin sang Mommy menyalahkan dirinya tanpa perbuatan yang ia lakukan.


Sedangkan Farres tidak ikut berkomentar. Pria masih lekat dengan ketampanannya itu memikirkan kedua cucu sesungguhnya. Sungguh selama ini ia tidak pernah menduga jika kedua bocah mengemaskan itu adalah darah daging dari putranya. Sebagai seorang Ayah ia ikut merasa bersalah atas apa yang terjadi menimpa keluarganya.


"Apa tindakan kamu Nak?" ujar Farres dengan nada rendah. Mendengar panggilan sang Daddy membuat Filio tersadar dalam lamunannya.


Sungguh sudah dua bulan ini kedua orang tuanya mendiamkan bahkan tidak menganggapnya sebagai anak lagi.


"Daddy," panggil Filio langsung bersujud di kaki Farres. "Iyo minta maaf Dad," sambungnya dengan mata berkaca-kaca.


Melihat apa yang dilakukan sang putra membuat Farres menghela nafas.


"Bangun Nak," titah Farres tidak ingin Filio bersikap begitu tetapi Filio tidak mengidahkannya.


"Ini semua salah Iyo," ujarnya kembali.


"Ini bukan sepenuhnya salah kamu. Kamu juga menjadi korban disini," ujar Farres sembari mengusap wajah. "Tetapi peranmu disini juga ikut andil untuk membuat Sila menderita. Dia sudah banyak menderita Nak, mengandung ke tiga bayi darah daging kamu seorang diri sampai membesarkannya sendiri," sambung Farres dengan pandangan sendu.


Mendengar itu semua membuat Lyodra semakin terisak. Dia teringat dengan masa lalunya dulu melewati bagaimana sulitnya dalam keadaan dulu.


"Kasian sekali kamu Sila. Dimana kalian berada sayang," isak Lyodra sembari memegang dada yang sudah sesak akibat menangis. "Cari istri serta putrimu sayang, bawa mereka segera hiks hiks...." Titah Lyodra dengan berurai air mata.


"Tentu Mommy tetapi dimana harus Iyo cari. Selama ini diam-diam Iyo mencari keberadaan mereka tetapi sayangnya nihil," jawab Filio.

__ADS_1


Tap tap


Langkah kaki seorang anak kecil membuat ketiganya menoleh.


"Papa. Papa sudah pulang?" tanya Moses langsung menghambur memeluk Filio tanpa tau apa yang terjadi kepada orang dewasa itu.


"Son," kata Filio.


"Mana Mama Sila dan si kembar Papa? bukankah waktu itu Papa pergi untuk membawa Mama Sila dan si kembar pulang?" tagih Moses tidak melupakan akan janji sang Papa.


"Son Papa minta maaf saat ini belum bisa membawa Mama serta kedua Kakakmu pulang," jelas Filio hati-hati.


"Si kembar Adiknya Moses, Papa." Protes Moses karena merasa janggal.


"Sayang sini sama Oma, akan Oma jelaskan," kata Lyodra dengan lembut. Moses langsung mendengarkan tanpa banyak pertanyaan.


"Oma kenapa menangis?" akhirnya Moses baru menyadari jika ternyata Lyodra sedang menangis. Ia usap air mata yang masih tergenang di pelupuk kelopak mata sang Oma.


"Oma menangis karena bahagia sayang. Oma sangat bahagia karena Gaby dan Abel adalah Kakak kandung dari Moses. Mereka bukanlah Adikmu sayang," jelas Lyodra. "Mama Sinta bukanlah Mama kandung Moses. Mama kandung Moses adalah Mama Sila," imbuhnya kembali.


Deg


Mendengar hal itu membuat kedua mata Riri membulat serta mulut menganga karena ia juga berada di tempat itu.


"Kenapa bisa begitu Oma?" tanya polos Moses.


"Begitulah kenyataannya sayang. Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui hal itu. Intinya si kembar adalah Kakak Moses yang sebenarnya, begitu juga dengan Mama Sila adalah Mama Moses yang sesungguhnya atau Mama kandung Moses.


"Hore.... Hore.... " Sorak girang Moses. Bocah itu sangat senang.


Melihat tingkah lucu Moses membuat mereka menyunggingkan senyuman ikut bahagia. Tetapi mereka masih belum bisa bernafas lega karena belum menemukan Asilla dengan si kembar.


"Papa ayo bawa Moses menemui Mama dan kedua Kakak Moses. Moses sangat merindukan mereka Papa," rengek Moses dengan mata berkaca-kaca. Seketika rasa bahagia tadi kini kembali seperti semula.


"Iya sayang Papa janji," kata Filio menenangkan Moses.


"Sayang sekarang kamu masuk ke ruang latihan," kata Lyodra karena guru piano Moses telah menunggu.


Setelah kepergian Moses keadaan kembali hening.


...******...

__ADS_1


__ADS_2