
Uwek.... uwek....
Asilla mengeluarkan isi perutnya. Merasa sangat mual tadi ia bergegas berlari kecil masuk ke kamar mandi.
Akibat itu wajahnya pucat pasi serta ujung jari tangannya sangat dingin. Dengan setia Filio mengelus punggungnya dengan minyak kayu putih.
"Sayang sepertinya kamu sakit, ayo kita segera ke rumah sakit," ujar Filio sangat khawatir karena selama ini belum pernah melihat wajah pucat serta tubuh lemas Asilla.
"Tidak perlu sayang, sepertinya aku hanya kekenyangan saja," jawab Asilla dengan lirih sembari memijit ujung keningnya, kepalanya terlalu berat.
"Apa yang kamu rasakan sayang? kamu tidak baik-baik saja, aku akan panggilkan dokter Ira," ya Filio sangat khawatir sehingga ia langsung menghubungi dokter pribadi keluarga Januar.
"Kepalaku sangat pusing serta rasa mual ini sangat menyiksa," lirih Asilla dengan mata berat untuk terbuka. "Sayang biarkan aku terbaring sebentar," imbuhnya sembari ingin berbaring di ranjang, ya ruang kerja Filio tersedia kamar pribadi. Asilla wanita pertama yang ia izinkan masuk kedalam kamar ini, dulu ketika menjalin kasih dengan Asinta ia tidak pernah membawanya masuk bahkan Asinta belum pernah memasuki ruang CEO.
Filio mengangguk sembari membantu memijit kepala Asilla.
"Sayang apa sudah enakan?" sungguh Filio khawatir, sangat terlihat jelas dari raut wajahnya.
Asilla berusaha membuka mata, ia tidak ingin suaminya itu khawatir. Ia mengusap lembut wajah Filio sembari tersenyum.
"Sayang tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja," Filio membalas senyuman itu tetapi perasaannya tidak tenang, sungguh ketakutan menyerang dirinya, ia tidak ingin orang yang paling ia cintai memiliki masalah kesehatan. Ya jika bisa ditukar biar saja ia yang merasakannya, inilah bukti cinta mati Filio untuk Asilla.
"Hmmm kemana dokter Ira? kenapa lama sekali?" cicit Filio sedikit kesal. Ia tidak tenang dan tidak lepas mengusap tangan dingin Asilla.
"Sayang," lirih Filio dengan mata memerah berusaha membuat Asilla membukakan mata karena ia kira pingsan dan lain sebagainya.
Dengan mata berat Asilla berusaha membuka mata padahal kelihatan berputar-putar.
Filio membaringkan dirinya dengan miring sehingga ia bisa merentangkan tangannya.
"Ada apa?" suara halus Asilla.
Cup
Filio mengecup dahi Asilla cukup lama dan tanpa sadar ia meneteskan air mata, sungguh saat ini ia begitu merasakan ketakutan bahkan sangat takut sesuatu terjadi kepada istri tercintanya.
Asilla tertekun melihat kedua mata Filio mengenang. Lalu ia seka sisa air mata itu, Asilla terenyuh dan merasa sangat dicintai dan dipedulikan.
"Sayang tenangkan dirimu, aku baik-baik saja," Asilla berusaha tersenyum. Ia merasakan rasa mual serta pusing itu amat menyiksa.
"Bagaimana aku bisa tenang, lihat wajahmu seperti tidak ada darah. Entah kemana dokter Ira sangat lama, apa dia sudah bosan menjadi dokter?" umpat Filio berbagai macam.
__ADS_1
Asilla langsung terduduk ia ingin mengeluarkan isi perutnya entah sudah ke berapa kali. Seakan mengerti, Filio langsung bergegas masuk kamar mandi mengambil centong untuk menampung.
Uwek.... uwek....
Yang keluar bukan sisa makanan tetapi air berwarna kekuningan, bahkan Asilla merasakan amat pahit.
"Tidak bisa dibiarkan," Filio mengelap sisa munthn dan merapikan rambut Asilla yang berantakan. "Kita akan segera ke rumah sakit, jika menunggu dokter Ira bisa-bisa kamu mat------- hmmm maaf sayang," Filio menyadari ucapannya sehingga engan melanjutkan.
Merasa cukup ia segera menggendong Asilla ala bridal keluar kamar.
"Sayang kita mau kemana? kepalaku sangat pusing," ringis Asilla.
"Ke rumah sakit, kamu sabar ya?" jawabnya lembut dengan wajah panik. Asilla terdiam ia menuruti apa yang dilakukan Filio. Asilla mengelamkan wajahnya di dada bidang itu dengan kedua tangan melingkar di leher.
"Tuan apa yang terjadi?" tiba-tiba Gio terperanjat dari kursi kerjanya melihat keluarnya Filio dan Asilla.
"Istriku sakit tetapi dokter Ira sampai saat ini belum menampakkan batang hidungnya, sepertinya dia sudah bosan bekerja jadi dokter," ujar Filio langsung berlalu.
Gio mengusap wajah, seketika ia berlari menyusul Filio dan Asilla. Ia harus menyiapkan mobil. Para karyawan menatap dengan heran karena melihat raut wajah sang CEO, mereka dapat melihat semburat kekhawatiran di wajah tampan itu.
Tiba di lobby.
"Sayang seperti suara anak-anak," lirih Asilla berusaha membuka mata setelah mendengar kehebohan dari triplets.
"Sayang," Filio langsung mendekat tanpa melepas gendongan itu.
"Mama kenapa di gendong?" cicit Isabella.
"Mama kepengen digendong, ayo ikut Papa," ujar Filio tidak ingin membuang waktu, keselamatan Asilla yang lebih dinomor satukan dari pada penghargaan perusahaan jika mau dibandingkan.
"Ayo," seru merek serentak dan mengikuti kedua orang tua mereka.
Didalam mobil
"Mama kenapa diam saja?" tanya Moses.
"Mama mengantuk sayang, jadi biarkan Mama istirahat sebentar," jawab Filio sembari fokus menyetir demi keselamatan keluarga kecilnya, walaupun hatinya gundah gulana melihat kondisi Asilla saat ini. Sedangkan Asilla terdiam tidak mampu untuk bicara.
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yaitu rumah sakit milik keluarga mereka.
"Rumah sakit," celoteh Isabella.
__ADS_1
"Iya ayo kita masuk, ikuti Papa dari belakang," titah Filio yang saat ini menggendong Asilla seperti tadi.
Banyak pertanyaan dibenak ketiga bocah itu tetapi tidak ingin diutarakan, biarlah disimpan dalam hati walaupun cukup penasaran.
"Cepat periksa istriku?" ujar Filio dengan tegas setelah tiba di kamar khusus keluarga Januar.
Dokter segera memeriksa Asilla.
"Apa yang terjadi kepada istriku? kenapa kau senyam-senyum? apa hal lucu?" ujar Filio dengan tajam.
"Tuan seperti hasil pemeriksaan saya Nyonya tidak sakit, mungkin sa-------,"
"Kau bilang istriku tidak sakit hah....?" bentak Filio menggebu-gebu. Bagaimana sesantai ini dokter itu mengatakan Asilla tidak sakit.
"Maaf Tuan bukan begitu maksud saya," terang sang dokter dengan ketakutan. "Nyonya kapan terakhir mentruasi?" sang dokter beralih kepada Asilla. Asilla berpikir, seketika ia baru sadar bulan kemarin ia tidak mendapat jadwal haid.
"Telat 1 bukan dok," jawab Asilla dengan jatung berdebar. Seakan banyak pikiran yang menghingap membuat Asilla diam.
"Baiklah Nyonya berbaring, kita lihat apa yang terjadi," saran sang dokter mempersilahkan Asilla untuk berbaring kembali.
Filio tidak melepaskan genggamannya kepada Asilla. Sang dokter menyibak baju yang dikenakan Asilla. Karena ia menggenakan dress sehingga dengan mudahnya. Lalu perut rata itu diolesi gel.
Alat pendeteksi itu mulai bermain di perut Asilla.
"Tuan, Nyonya perhatikan ini," sesuai anjuran sang dokter Filio maupun Asilla memfokuskan diri ke layar monitor. "Titik hitam sebesar biji kacang ini adalah calon anak Tuan dan Nyonya," ungkap sang dokter dengan wajah tersenyum.
"Apa?" pekik mereka bersamaan sehingga me. buat triplets ikut beranjak bangun dari sofa langsung mendekati kedua orang tua mereka.
"Selamat Tuan, Nyonya, dan anak manis. Kalian memiliki Adik bayi," kata sang dokter ikut bahagia. "Nyonya hamil usia 4 minggu," sambungnya.
"Hamil? aku hamil?" gumam Asilla sembari mengelus perut yang masih rata. Sang dokter mengangguk membenarkan pertanyaan Asilla.
"Hamil? apa itu benar dokter?"
Sang dokter mengangguk.
"Sayang kamu hamil?" Filio langsung memeluk Asilla dan menciumi seluruh wajahnya sampai sulit untuk bernafas. "Terima kasih sayang," Filio menciumi perut Asilla dengan penuh cinta dan Terima kasih. Keduanya meneteskan air mata ya air mata kebahagiaan menyambut kedatangan keluarga baru.
"Adik bayi hore," teriak triplets dengan polosnya dan segera memeluk Asilla.
...******...
__ADS_1