Love, Nayla Cassandra [LONACA]

Love, Nayla Cassandra [LONACA]
Part 100


__ADS_3

Gadis itu hanya diam saja. Masih menunjukkan wajah sendunya.


("Entahlah! apakah aku bisa melalui semua ini atau tidak, tapi rasanya kakiku berat untuk melangkah" gumam Nayla)


"Sayang! Kita bobo yuk!" Ajak Rio menjatuhkan tubuhnya bersamaan dengan Nayla....


Keduanya pun melakukan kegiatan hubungan intim suami istri di malam yang bersemi nan indah di kota Swiss.


......


......


Setelah berhari-hari puas memadu kasih dalam dua negara Prancis dan Swiss.


Mereka akhirnya terbang kembali ke menuju Jakarta, melintasi awan putih dalam dekapan hangat sang kekasih.


" kita mau pulang kemana mas?" Tanya Nayla merasa tidak siap untuk satu rumah dengan mertuanya.


"Pulang kerumah papa donk!" Jawab capet Rio.


Seketika wajah Nayla murung sambil berkata dalam hatinya;


("Artinya ajalku semakin dekat")


....


Dewi ibarat malaikat maut bagi Nayla.


....


Melihat wajah murung itu, Rio pun tersenyum manis, seolah-olah ia bisa membaca isi pikiran wanitanya.


"Hehe, Enggaaak! kita pulang kerumah kita yang baru!" Jawab Rio memeluk istrinya.


"Bener mas?"


Hati Nayla pun terasa lega.


("Huuuffft, paling tidak! aku tidak satu rumah dengan mak lampir" gumam Nayla).


....


....


Perjalanan yang panjang, akhirnya mereka tiba di Jakarta dan langsung menuju rumah Rio dan Nayla yang sudah siap untuk di tempati.


"Waaaah! bagus sekali" ucap Nayla kegirangan jika melihat hal-hal kemewahan.


"kami suka sayang!"


"iyah!" Angguk cepat Nayla.


....


Keesokan-keesokan harinya, pengantin baru itu mendatangi kediaman rumah Jefri.


....


....


Jangankan acara penyambutan pernikahan, melihat wujud Rio dan Nayla saja, Dewi enggan, ia lebih memilih mengurung diri di kamar dan marah-marah dengan sikap serba salah kepada para pelayannya.


....


....


Di Pagi yang cerah...

__ADS_1


"Selamat yah Neng! atas pernikahannya dengan Tuan Rio. Pasangan serasi banget sebenaranya," ucap Izah dengan senyumannya memeluk Nayla.


"Terima kasih yah bi "


"Si eneng juga semakin cantik!"


"Bibi bisa aja ngejek nya!" Ucap Nayla dengan senyumnya....


"Neng Nayla yang sabar yah! Gak lama si Nyonya pasti merestui kok! tunjukan saja sikap yang terbaik!" pesan Izah.


"Iyah bi, terima kasih yah!"


Tiba-tiba terdengar pecahan gelas...


"Duaaaaaar"


"Izaaaaaaah" teriak Dewi dalam kamarnya.


"Sebentar yah Neng!


Iyah! Nyonyaaaaaa"...teriak Izah mendapati kamar majikannya.


Nayla memperhatikan sang pelayan itu berlari tergesa-gesa.


Terdengar omelan-omelan Dewi yang menyebalkan.


...


("Begini ternyata sakitnya berada di posisi kelas bawah, di anggap seperti sampah yang mengotori rumah, aku pernah berada menjadi seorang majikan kaya yang sombong, aku memperlakukan pelayanku, layaknya seorang budak yang siap melayani kapanpun aku mau.


Bertingkah sesukanya, entah ini hukuman atau do'a-do'a para pelayanku dulu yang teraniaya, aku pun tak tau, andai saat ini aku bertemu dengan mereka, satu per satu akan aku cium dan bersihkan kakinya demi sebuah kata maaf," gumam Nayla menudukkan kepalanya dengan hati yang sedih)


...


"Sayang, ke ruang kerja papa sebentar yuk!" Ajak Rio yang tiba-tiba turun dari tangga membuyarkan lamunan Nayla.


"Oh! baik mas" jawab Nayla dengan senang hati.


...


...


Mereka pun memasuki ruang kerja Jefri.


Sudah ada Jefri menunggu disana.


"Om!" Sapa hangat Nayla menjabat hormat tangan Jefri.


"Oh iyah, Selamat atas pernikahan kalian," jawab Jefri tak banyak bicara kepada Nayla.


Jefri lebih banyak berkomunikasi dengan Rio tentang masalah pekerjaan.


Rio juga menceritakan pengalamannya dalam menghadapi si Cerucuk. Ia juga mengatakan Dukun sakti itu telah tewas. Jefri merasa kisah asmara anaknya itu layaknya sebuah cerita dongeng.


("Ternyata Keputusan Rio sangat tepat" gumam Jefri)


"Artinya Nayla sudah terbebas dari kutukan itu," tanya Jefri cukup takjub.


"Iyah pah!" Jawab cepat Rio merasa senang.


"Maafkan Nayla yah om!"


"Yah sudahlah! Tapi kalian bersabar, papa belum bisa merayakan pesta pernikahan kalian dalam dekat ini. Karena mamah kamu sangat menentang pernikahan ini, Papa pergi dulu," Jefri bergerak meninggalkan Rio dan Nayla menuju kantornya.


Rio dan Nayla pun mengangguk dan keluar dari ruang kerja Jefri.


"Sebentar yah sayang! aku akan menemui mamah, kamu istirahatlah dulu di kamar atau duduk di sofa, setelah ini kita akan kembali," pinta Rio.

__ADS_1


"Iyah mas"


Rio pun melangkah memasuki kamar.


Saat pria itu masuk kedalam kamarnya.


Nayla yang sudah sempat menaiki tangga menuju kamar Rio, namun ia turun kembali, dengan cepat Nayla berjalan mengarah ke kamar Dewi, ia mencoba untuk menguping pembicaraan anak dan ibu itu dari depan pintu kamar.


Suara samar-samar olehnya namun ucapan itu masih terdengar jelas.


"Praaaaaak!"


Tamparan keras Dewi kepada Putranya sehingga membuat Nayla syhok🙊 dan merasa kasihan kepada Rio.


"Hebat kamu yah Rio, mama sangat kecewa denganmu, dari awal mama sudah peringatkan kepadamu jangan pernah mendekati wanita pembawa sial ituh dan sekarang kamu malah menikahinya. (Bentak Dewi) apa kamu pikir, banyaknya korban tewas karena menikahi gadis itu adalah kisah dongeng ataupun lelucon" kata Dewi dengan mata melotot.


"Nayla bukan wanita pembawa sial mah! dia wanita baik-baik, hanya jodohnya saja yang belum tepat, buktinya Rio bisa menikahinya, Rio sehat-sehat saja,"


"Tutup mulut kamu Rio! Sekarang juga ceraikan wanita sial dan kampungan itu, mama malu," pinta Dewi memaksa.


"Maaf mah! Rio tidak bisa, Rio sudah menikahi Nayla dan terlanjur mencintainya, Rio sudah menjadi anak yang baik buat mama dan papa, juga sudah menjadi kebanggaan keluarga, apa itu belum cukup mah?


kenapa mama harus malu, apa karena Nayla sekarang sudah jatuh miskin dan tidak punya orang tua lagi. Dulu mama dan papa mendekati keluarganya meminta tolong, apa kalian tidak malu?


Tolong mah! Untuk pilihan hidupku, biarkan aku saja yang memilihnya mah, kali ini saja."


Jawab Rio dengan tegas sambil memohon, kemudian ia balik badan dan meninggalkan Nayla.


"Rioooooooooh" teriak Dewi.


"Baiklah kalau begitu, jika kamu memilih wanita itu, artinya kau memilih dia dan jangan panggil aku ibumu lagi" ucap Dewi semakin emosi.


Seketika Rio pun berhenti.


"Apa yang mama katakan!" jawab Rio.


"Jangan katakan mama lagiiih, aku tidak sudi mendengarnya, kecuali ceraikan dia" jawab Dewi dengan amarah kesetaanan.


Rio dengan tetap konsisten memilih apa yang menjadi keputusannya.


Pria itu bergegas keluar dari kamar.


...


Nayla begitu jelas mendengar pertengkaran keras Rio dan ibunya...


Dengan cepat Nayla menjauh dari pintu setelah pertengkaran itu selesai dan duduk di sofa.,..


Saat pintu kamar Dewi terbuka oleh Rio.


"Mas!" Panggil Nayla dengan cemas bangkit dari duduknya, mendekati Rio


Dengan wajah masam Rio. Ia menarik tangan Nayla.


"Ayo kita pulang" ajak Rio keluar sambil membawa berkas penting dan langsung menuju mobil mereka....


Keduanya pergi begitu saja meninggalkan kediaman Jefri.


....


....


"Awas kamu Nayla, tertawa lah sepuasnya, saat ini kau memang menang, karena suami dan purtraku berpihak kepadamu...tapi aku tidak tinggal diam, aku akan segera mengirimmu menyusul ayah dan ibumu ke Neraka, dasar keluarga sekutu Iblis, tidak heran jika tingkahnya seperti Iblis, merusak kedamaian orang lain," Gumam Dewi penuh emosi.


....


.....

__ADS_1


Guys kasih Vote dan Likenya donk!! jangan pelit yah...


__ADS_2