Love, Nayla Cassandra [LONACA]

Love, Nayla Cassandra [LONACA]
Part 105


__ADS_3

Suasana hening sejenak.


Nayla memalingkan wajah sendunya sambil bergumam dalam hati;


"Kehamilan ini harus aku sembunyikan dari Rio dan keluarganya, ini adalah milikku yang harus ku perjuangkan, di balik cerita pedihku, Tuhan selalu saja mengiringinya dengan kabar gembira. Entahlah! Sebenarnya aku harus sedih atau bahagia?"


....


"Kamu sudah makan?" Tanya Robin memecah lamunan Nayla.


"Aku mau pulang," jawabnya berusaha membuka infusnya sendiri.


"Eits! Kamu harus istirahat" bantah Robin.


"Aku bisa merawat diriku sendiri di rumah!" Jawab ketus Nayla.


Robin terdiam tak bisa membantah.


"Baiklah! Kau memang gadis yang keras kepala belum juga berubah!"


....


Setelah mendapat izin dari Dokter, akhirnya Nayla pulang dan dianjurkan istirahat di rumah...


Semua biaya Administrasi di bayar langsung oleh Nayla.


kemudian


Wanita itu berjalan cepat menuju area parkiran tanpa menghiraukan Robin dan sudah mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya.


"Nay!" Robin langsung mengejar Nayla.


"Kamu ikut mobil ku saja! Soal mobil mu, aku bisa mengurusnya, tolong dengarkan aku!" Pinta Robin merebut kunci mobil dari tangan Nayla.


Wanita itu terlihat diam, ia juga sadar jika dirinya masih dalam kondisi lemah....


Akhirnya Nayla menerima tawaran Robin, ia menahan rasa egonya untuk tidak pulang sendiri....


Fenomenal Nayla masuk ke dalam mobil Robin, terlihat jelas dari mobil oleh Dewi yang kebetulan sampai di area parkiran rumah sakit.


"Hem! cepat juga ia dapat pengganti Rio, tidak hanya pembawa sial, ternyata kau terlalu murahan" gumam Dewi di kejauhan sambil mengambil ponselnya.


Ibunda Rio itu menelpon seseorang utusan....


"Ikuti mobil dengan plat xx ambil foto mereka!"


"Baik bos!"


....


Dewi bergerak menuju kamar Rio sedangkan Nayla dan Robin melaju meninggalkan Rumah Sakit.


Suasana di dalam mobil terasa hening.


Nayla masih dalam diamnya sampai Robin menghidupkan musik romantis.


"Ini alamat rumahku!" Ucap Nayla menghidupkan aplikasi Map ponselnya dan memberikannya kepada Robin.


"Baiklah sang putri" sambut Robin dengan senyumnya


...


...


Di tegah perjalanan, Robin menyinggahi sebuah tempat tongkrongan enak.


"Kita makan dulu, aku lapar!" Katanya sambil memarkirkan mobil mewah itu.


Tanpa membantah Nayla terpaksa mengikuti kemauan Robin.


Akhirnya keduanya nongkrong bersama.


....


Setelah pesanan makanan Robin datang

__ADS_1


....


"Makanlah!" Pinta lelaki itu.


"Aku sudah makan!"


"Makan yang banyak kamu kan sedang mengandung!"


"Ka..kamu tau aku lagi mengandung!" Tanya Nayla merasa tidak percaya.


"Hemm..." jawab santai Robin sambil menikmati makan.


("Dokter pasti sudah memberitahunya, kan dia orang yang pertama kali menolongku" gumam Nayla)


"Terus! Kamu tau siapa suamiku?"


"Mana ku tau! Malah Dokter mengatakan aku ini suami kamu, padahal aku kan tidak tau apa-apa! Kamu yang enak-enak, mengapa aku yang menjadi tersangkanya" jawab Robin dengan gaya cuek.


"Jadi sekarang kamu merasa tidak bersalah, telah membawa istri orang!"


"Memangnya kamu punya suami?"


"Jangan gila kamu! aku ini wanita baik-baik!"


" Suami macam apa dia, bisa-bisanya menelantarkan istri yang sedang hamil!" Jawab lantang Robin.


"Prak!" Suara pukulan Nayla pada lengan Robin.


"Aduh!"


"Kalau tidak tau apa-apa, jangan menuduh sembarangan!" Jawab Nayla dengan wajah marahnya.


"Sakit tau!"


"Memangnya aku perduli"


"Kalau begitu dimana suami kamu?" Tanya Robin penasaran


"Tidak penting!"


"Kenapa? dia tidak mau bertanggung jawab?"


"Kalau dia tidak mau, aku tidak kebertan menggantikannya!" Ucap Robin senyam-senyum.


"Kamu terbiasa dengan barang second yah?"


"Hahaha, Kamu pikir aku tukang pemulung!" Kata Robin dengan senangnya.


"Buktinya! Mengapa kamu bisa tertarik dengan istri orang yang sedang hamil, apa di dunia ini, stok wanita perawan sudah habis!".


"Ya...ya...ya....mungkin juga sih! lagian banyak juga kan, di luar sana bayi di besarkan bukan dari ayah kandungnya, santai aja kali"


"Tapi, tetap saja aku bilang dirimu itu pria gila, hal itu masih aneh bagiku"


"Gila karena kamu kan!" ucap Robin sambil menaik-naikkan alisnya.


"Stress!" Ucap Nayla tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Nayla! Semua orang itu punya masa lalu, saat kamu menjalin hubungan yang baru, kamu tidak perlu menoleh ke belakang, karena waktu itu bukan milikmu" jawab Robin dengan santai.


Mendengar ucapan Robin, Nayla langsung tertegun.


("Pernyataan Rio hampir sama dengan Robin" gumamnya)


"Sejak kapan kamu di Jakarta?" tanya Nayla mengalihkan.


"Aku masih stay di Bandung, aku datang ke Jakarta ingin menemui adik sepupu yang kebetulan juga sakit di Rumah sakit itu, sekaligus ada urusan pekerjaan disini, mungkin beberapa hari lagi aku akan kembali?"


"Ooouh!"


"Kamu kerja dimana?" Tanya Nayla.


"Biasalah, kerja kesana kemari, hehehe!"


....

__ADS_1


...


Terlihat keduanya ngobrol asyik. Sesekali Nayla tersenyum dengan tingkah Robin.


Hingga seseorang mengambil gambar keduanya secara diam-diam tanpa mencurigakan.


Nayla menceritakan jika kedua orang tuanya telah tiada karena sakit, ia merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Wanita itu masih bungkam dengan lika-liku kisah hidup yang sebenarnya. Ia juga masih merahasiakan pemilik sang Janin itu adalah Rio Abraham yang tentu Robin juga pernah mengenalnya.


Setelah makan dan ngobrol asyik, Lelaki itu mengantarkan Nayla pulang kerumah.


.....


.....


Di waktu yang sama di lain tempat yang berbeda.


Tampak Rio yang sedang terbaring lemah di atas bed pasien.


Perlahan, kedua bolah matanya mulai terbuka.


Ada Dewi dan Gea yang menunggu disana.


Gea Sabrina terpaksa kembali ke Indonesia untuk menggantikan posisi jabatan Rio sementara.


....


....


"NAYLA!" Panggil Rio dengan suara yang lemah..


"Rio!" Teriak serentak dari kedua wanita itu.


"Bagaimana kondisi kamu sayang!" Tanya Dewi penuh rasa khawatir.


"Nayla mana mah? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Rio dengan nada berat.


"Dia baik-baik saja, pikirkan dulu kondisi kamu?"


Rio mencoba untuk bangkit...


"Rioh! tangan kamu ini masih sakit! (Bentak Dewi) biar mama yang urus Nayla, kamu tidak perlu khawatirkan dia"


"Jadi kamu benar-benar serius menikahi Nayla?" Tanya Gea.


"Bukan urusanmu" jawab ketus Rio...


"Mama tidak mengerti dengan adikmu ini, benar-benar telah buta karena wanita sial itu, mama harap, kau bisa mengarahkan adikmu itu" Bisik Dewi.


....


...


Selama perawatan kesembuhan tulang lengan Rio berlangsung, Dewi selalu menemani putranya itu, sedikitpun tidak melibatkan Nayla di dalamnya. Ponsel Rio dalam genggaman Dewi, hingga Nayla tak bisa mengetahui kondisi suaminya.


Robin berkali-kali mengajak Nayla untuk jalan selama ia berada di Jakarta. Namun wanita itu terus menolak.


......


Pertemuan bahkan komunikasi Rio dan Nayla terputus bagai senja tertelan gelapnya malam.


Tentu rasa Rindu dan kesepeian


Serta rasa galau menyelimuti Rio dan Nayla


Rio tak bisa berontak karena tak ingin mempersulit suasana sekaligus bertengkar dengan ibunya.


....


Dewi selalu. mengatakan kecelekaan maut akan terus mengintai Rio jika masih bersama Nayla.


("Bukankah! kesialan itu sudah hilang? Dan Cerucuk juga sudah tewas?")


Hal itu masih menjadi pertanyaan di kepala Rio.


.....

__ADS_1


.....


.


__ADS_2