
Mira melihat cermin sambil memakai make up yang tipis untuk bersiap siap ke sekolah.
sedangkan hera dia sudah menunggu mira di teras rumahnya, ingin rasanya hera mencakar mira karna terlalu lama di cermin.
"lama banget sih."gumam hera kesal.
"yuk."ucap mira yang melihat hera menunggunya.
"lama banget sih."ucap hera dan berdiri.
"tunggu dulu liat tu rambut kamu berantakan kalau ikat rambut itu di rapiin, jangan asal asalan aja."ucap mira yang melihat rambut hera berantakan.
"udah ah, bodo amat."ucap hera dan berjalan tapi di cegah mira karna mira menarik tangannya.
"hera syg gk bagus hera mau di ketawain di sekolah."ucap mira, hera menggeleng.
hampir setiap hari hera selalu di tertawai oleh teman temannya karna penampilan hera yang tidak bagus untuk di pandang rambutnya saja masih berantakan kalau hera mengikatnya.
"yaudah yuk."ucap mira dan menarik tangan hera untuk kembali ke kamarnya.
hera duduk di depan cermin dan mira di belakangnya melepaskan ikat rambutnya lalu menyisirnya, hera hanya bisa pasrah.
"udah, tinggal di ikat."ucap mira dan mengambil ikat rambut hera, sebelum mira mengikatnya mira melihat hera di cermin.
"lo tau gk ra, lo itu cantik kok kalau lo mau berubah penampilan, atau lo gk usah ikat rambut."ucap mira dan memandang hera di cermin.
"gk mir, gw mau jadi diri sendiri, yang apa adanya, lagian gw nyaman kayak gini, gw juga sadar walaupun gw mau gimanain muka gw tetap gini kok, ini udah takdir."ucap hera yang memandang mira.
mira membuang napasnya.
"tapi ra."ucap mira tapi hera memotong pembicaraannya.
"udah ah, cepat di ikat."ucap hera
mira mengangguk dan mengikat rambut hera.
"bunda kita berangkat dulu ya."teriak hera yang berada di teras.
__ADS_1
"iya hati hati ya."teriak bunda hera di dapur
kini mereka melajukan perjalanannya untuk ke sekolah, butuh 20 menit mereka sampai.
tak terasa mereka sudah sampai dan berjalan untuk ke kelasnya, mira dan hera satu kelas mereka kelas XI ipa 3 saat mereka jalan, murid murid melihat mira, apalagi laki laki, mereka sangat menyukai mira bagaimana tidak bisa di bilang mira lah yang paling cantik di sekolah ini.
mira yang melihat murid murid memandanginya hanya senyum manis karna hampir setiap hari mira mendapatkan pujian, sedangkan hera dia hanya diam, karna hera tau mira lah yang di pandang bukan mira yang di pandang.
"sampai kapan gw jadi seperti ini."ucap hera dalam hati, dan membuang napasnya.
"pagi semuanya."ucap mira yang masuk ke dalam kelas.
"PAGI INCES."ucap mereka serentak.
INCES itulah nama yang diberikan oleh teman teman mira, karna mira cukup terkenal di sekolah.
mira duduk di samping bela, karna mira dan bela berpasangan duduk dan hera duduk di samping andini, sekaligus sahabat hera hera dan andini bersahabat sejak smp. dan hera memanggil andini dengan sebutan dini.
"hai dini."ucap hera dan duduk di samping andini.
"hai."ucap andini dan tersenyum.
sedangkan bela melihat hera dengan tatajam tajam.
"lo berangkat sama hera lagi ya."tanya bela yang masih melihat tajam hera.
"iya, masa gw sendiri, lo kan tau gw gk punya siapa siapa lagi selain dia, kalau dia gk ada gk mungkin gw bisa sekolah, lagian yang punya motor kan dia."ucap mira dan melihat bela.
karna keluarga hera lah yang selalu mengurus mira dengan baik, bahkan biaya sekolahnya orang tua hera yang bayar, orang tua hera lah membiyai kehidupan mira karna mira tidak punya siapa siapa lagi.
sedangkan rumah orang tua mira sudah di sitah oleh bank.
bela melihat mira yang sedang menatapnya.
"lo kerja aja lah, di sini kan kota, gimana sih, emang lo mau terus hidup sama hera bisa bisa ketularan virus lo."ucap bela dan menaikkan kedua alisnya.
"lo ada ada aja bel."ucap mira dan mengambil buku di tasnya karna jam pelajaran akan di mulai.
__ADS_1
bela tidak membalasnya.
"oh iya hera, kue lo mana lo gk bawa."tanya dini yang mengingat kue hera.
"gk, soalnya tadi pagi bunda bilang kalau kuenya di borong sama tetangga, gk tau kenapa mungkin dia mau kasih makan kambingnya."ucap hera, dini yang mendengarnya terkekeh.
hera sempat mengingat kue yang akan dia bawa tagi pagi, tapi bunda hera menghampirinya dan mengatakan kalau kuenya di borong sama tetangga, hera yang mendengarnya bersyukur karna bunda hera tidak rugi bikin kue itu, karna biasanya kalau di bawa ke sekolah kuenya tidak habis, sedangkan mira yang mendengarnya, merasa bahagia, karna tidak ada lagi alasan untuk menolak jika hera mengajaknya ke kantin untuk menyimpan kuenya.
mira memang sangat gengsi dia malu jalan kalau hera membawa kuenya untuk di jual, mira selalu saja menolak, jika hera meminta untuk menemaninya ke kantin, mira terus mencari alasan.
"hahah, bisa aja lo."ucap dini.
Ting ting...
bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan ke kantin.
"yuk her, ke kantin."ucap dini
hera mengangguk dini menggandeng tangan hera dan berjalan untuk ke kantin sedangkan mira dan teman temannya kini mereka sudah berada di kantin.
"lo mau pesan apa, biar gw yang pesan tapi yang bayar masing masing."ucap hera yang kini mereka sudah di kantin sekolah. dini terkekeh.
"gw mau pesan kayak biasa."ucap dini.
"nasi goreng pedas."ucap dini dan hera serentak. dan hera meninggalkan dini untuk memesan makanan.
hera dan dini menyukai makanan favorit yang sama yaitu nasi goreng pedas.
saat hera selesai mangambil pesanannya, dan berjalan untuk kembali, tiba tiba dia di tabrak oleh lelaki nasi goreng yang dia pegang berhamburan ke mana mana, dan sebagian menempel di baju lelaki itu. hera melihat baju lelaki itu, dan membersihkan bajunya.
tapi langsung di tepis lelaki itu.
semua pasang mata melihat ke mereka tak terkecuali dini dan menghampiri sahabatnya itu.
"lo gimani sih kalau jalan tu pake mata, main tabrak aja, mana di tabrak lo lagi, jijik gw."ucap lelaki itu. hera menunduk takut melihat lelaki itu. mira yang melihat itu datang di depan lelaki itu.
"eh, seharusnya lo yang liat liat kalau jalan, jangan main nyosor aja, gw tadi liat lo jalan sambil ketawa tawa, hera gk salah ya, lo harus minta maaf sama dia."ucap mira tegas.
__ADS_1
lelaki itu menaikan alis sebelahnya.