
Beberapa hari kemudian...
Karena ini libur semester, jadi Tiara menghabiskan waktunya untuk berlibur di rumah saudara ibu sambungnya.
Aneh memang, tapi kenyataannya Tiara lebih dekat dengan saudara ibu sambungnya.
Trining! Trining!
"Ara! handphone kamu bunyi tuh" ujar ibu.
Tiara segera ke kamar tamu, untuk mengambil handphonenya.
Pada saat melihat ke layar ponselnya, ternyata orang yang menelponnya itu adalah Ayu. Bukan menelpon, tapi lebih tepatnya video call.
Ia menjawab panggilan video call dari Ayu.
"Ada apa, Yu?"
"Kamu liburan kemana, Ra?" ujar Ayu.
"Aku liburan ke rumah saudara ibu"
"Saudara ibu sambung kamu?" tanya Ayu memastikan.
"Iya"
Ayu mengarahkan kamera ponselnya kearah Yuda yang sedang tertidur dimobil. "Ini ada pacar kamu juga"
"Kalian piknik sama keluarga besar ya?"
Ayu kembali mengarahkan kamera ponselnya kearahnya. "Enggak juga sih. Yang liburan cuma aku, Yuda, mamah Yuda, papah Yuda dan mamah aku"
"Ngomong-ngomong kalian liburan kemana?"
"Kita lagi liburan ke Yogyakarta, tapi ini masih dalam perjalanan sih"
"Jangan lupa berdoa, biar selamat sampai tujuan"
"Udah kok"
"Video call Tiara ya, Yu?" walaupun suaranya kecil, tapi terdengar jelas bahwa itu suara Yuda.
Tiba-tiba ponsel diambil alih oleh Yuda. "Sayang, aku kangen" ucapnya dengan muka bantal.
Terdengar suara sorakan, mungkin itu suara mamah Ayu, mamah Yuda dan papah Yuda.
Tiara merasa sangat malu, apalagi Yuda berbicara seperti itu didepan orang tuanya.
Lagipula tumben sekali Yuda bilang bahwa ia merindukan Tiara. Padahal sebenarnya ia tidak pernah bilang seperti itu sebelumnya.
"Kok gak dijawab sih, padahal aku kangen loh. Udah dua hari gak ketemu"
"Sama aku juga kangen" Tiara sengaja mengecilkan suaranya, sebab ia sangat malu. Apalagi ada keluarganya Yuda.
"Oh iya, orang itu gak ikutin kamu ke rumah saudara kamu kan?"
Tiara mengerti maksud dari kata orang itu. Siapa lagi kalau bukan orang yang sudah memasukan obat-obatan terlarang ke dalam tas pacarnya.
"Dia gak ikutin aku kok. Lagipula kayaknya dia udah tobat deh, Yud"
"Tobat?"
"Iya, soalnya dia baik banget. Ibu bilang katanya dia bantuin ibu buat benerin motor"
"Jangan tertipu, Ra. Justru orang kayak gitu yang harusnya kita curigai"
"Iya juga sih"
"Tapi kamu gak pernah main sama dia kan?"
"Ya enggak lah! ngapain juga main sama cowok, nanti yang ada kamu cemburu lagi"
Yuda hanya cengengesan.
"Kamu liburan berapa hari disana?"
"Seminggu kayaknya"
__ADS_1
"Yud, sini! aku mau ngobrol sama Tiara" kata Ayu.
Kemudian kamera kembali dialihkan ke Ayu.
"Ra, kamu mau oleh-oleh gak?"
"Gak usah. Nanti ngerepotin"
"Gak ngerepotin kok. Jadi nanti aku bawa oleh-oleh buat kamu sama ibu ya" sahut Yuda.
"Gak usah, Yud. Nanti ngerepotin" ulang Tiara.
"Gak ngerepotin kok, Ra"
"Ra, nanti kalau aku udah pulang, kita jalan-jalan yuk!" ajak Ayu.
"Mau jalan-jalan kemana, Yu?"
"Mungkin ke pantai. Nanti aku ajak Amanda sama Putri juga" kata Ayu.
"Putri pasti gak mau, soalnya dia ia pikir pasti Randy juga ikut" sahut Yuda.
"Emang kalau Randy ikut kenapa?"
"Mereka putus, Ra" kata Yuda yang mukanya tak nampak di kamera.
"Kenapa Randy sama Putri bisa putus?"
"Katanya sih Putri kesel gara-gara Randy bales chatnya lama dan singkat banget. Makanya ia putusin Randy, karena ngira Randy udah gak peduli lagi sama dia" ujar Yuda.
"Randy sok ngartis banget emang orangnya. Pakai acara lama banget bales chatnya" julid Ayu.
"Jangan nyalahin Randy juga lah, lagian masa gara-gara hal sepele kayak gitu jadi minta putus" ujar Yuda.
"Dimana-mana dalam hubungan itu harus saling komunikasi. Dan komunikasi yang baik itu harus selalu merespon dengan cepat" kata Ayu.
"Dipikir Randy gak sibuk kali ya, sampai-sampai harus gercep bales chatnya" kata Yuda.
Tiara hanya bisa diam saja saat menyaksikan perdebatan Ayu dan Yuda. Jujur ia bingung harus membela yang mana, sebab Randy dan Putri sama-sama temannya.
"Oh iya, tante" Tiara mematikan teleponnya.
Ia segera pergi ke ruang tengah untuk menjaga anaknya adik ibu.
"Jagain ya, Ra"
"Iya"
Tiara bermain bersama anaknya adik ibu yang berusia sekitar 3 tahun.
Trining! Trining!
Handphone Tiara berbunyi lagi. Tapi kali ini Yuda yang menelponnya.
Lalu, Tiara segera menjawab panggilan telepon dari Yuda.
"Ada apa lagi, Yud?"
"Aku kangen kamu" ucap Yuda dengan manja.
Ini seperti bukan Yuda. Tiara baru pertama kali mendengar Yuda berbicara dengan nada manja seperti itu.
"Yud, kamu sehat kan?"
"Aku sehat kok" kata Yuda.
"Syukur deh kalau sehat"
"Ra, tahu gak?"
"Tahu apa?"
"Orang tua aku malah ngetawain. Padahal wajar kan ya kalau kangen"
Tiara hanya mengiyakan ucapan Yuda.
"Yud, teleponnya nanti lagi aja ya. Soalnya aku mau ngurusin anaknya adik ibu"
__ADS_1
"Emang ibunya kemana?"
"Ke warung"
"Emang gak bisa ya teleponan sambil jagain anak?"
"Bisa sih"
"Kamu kayaknya gak kangen sama aku ya?"
"Iya, aku gak kangen sama kamu. Soalnya kan baru dua hari gak ketemunya"
"Bohong dikit kek. Bilang kangen gitu" keluh Yuda.
"Aku gak akan kangen kalau cuma gak ketemu seminggu. Aku kangennya kalau udah gak ketemu bertahun-tahun"
"Kalau gitu aku pindah sekolah keluar kota aja deh biar dikangenin"
"Sampai segitunya biar dikangenin"
Tiba-tiba ibu menghampiri Tiara.
"Dari mana, bu?"
"Ibu habis lihat-lihat pemandangan diluar" ujar ibu.
"Tiara boleh keluar gak, bu?"
"Ya boleh lah"
"Eh! tapi Rifky gimana?"
"Biar ibu aja yang jagain Rifky"
"Ya udah kalau gitu Ara pergi keluar ya, bu"
"Iya"
Tiara pergi keluar dan ia melihat pemandangan sawah dan gunung.
Saking terpesona dengan alam, hingga ia lupa kalau ia sedang teleponan dengan Yuda.
Pada saat melihat ke layar ponselnya ternyata Yuda sudah mematikan teleponnya. Tiara yakin saat ini Yuda sedang kesal kepadanya. Udah bilang gak kangen, terus malah nyuekin. Pasti itu yang diucapkan Yuda saat ini.
Tiara memotret pemandangan alam dan sesekali ia memotret dirinya sendiri.
Ingin sekali Tiara mengirimkan foto selfie nya kepada Yuda. Tapi karena malu, akhirnya ia hanya mengirimkan foto pemandangan alam saja.
Tak lama, Tiara membaca pesan masuk dari Yuda. Dan Yuda bilang kalau ia tidak mau foto pemandangan, yang dia inginkan hanya foto Tiara.
Setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya juga mengirim fotonya kepada Yuda, toh dia pacarannya.
Ada rasa deg-degan saat Tiara mengirimkan fotonya. Ia takut jika Yuda tidak menyukai fotonya.
Lagi-lagi Yuda mengirim pesan dan ternyata dia bilang kalau foto Tiara yang cantik dibandingkan foto pemandangan yang sebelumnya ia kirimkan kepada Yuda.
Tiara tersenyum saat membaca pesan tersebut. Dipikir-pikir Yuda sering sekali memujinya. Tetapi, Tiara, ia sama sekali tidak pernah memuji Yuda.
Tak disangka, Yuda mengirim sebuah foto selfie dirinya yang sedang berada didalam mobil. Tiara yakin sekali kalau Yuda ingin Tiara untuk memuji kembali Yuda, karena tadi ia sudah memuji Tiara.
Karena sepertinya Yuda sangat haus akan pujian, akhirnya Tiara kembali memujinya ditambah lagi ia menambahkan emoticon yang bermata love.
Jujur saja ia sedikit aneh mengirim emot tersebut. Tetapi karena sekarang sedang tren emoticon seperti itu, jadi ia sengaja mengirimkan emoticon itu sebagai tanda bahwa ia terpesona melihat foto tersebut.
Tiara berjalan perlahan sambil melihat langit. Setiap kali Tiara melihat langit, ia terbayang sosok ayahnya. Tiara ingat saat ayahnya memberitahu tentang nama-nama planet kepadanya saat ia masih kecil.
Pada awalnya ia sedikit canggung dengan ayah, sebab waktu itu ia lebih dekat dengan ibu. Tapi lama-kelamaan, kecanggungan itu mulai hilang saat ayah terus mengajak Tiara jalan-jalan.
Biasanya dulu ayah sering mengajak Tiara ke timezone, taman atau kadang-kadang mengajak Tiara pergi ke pantai.
Kalau diingat-ingat, itu cukup sedih. Karena ayah pasti berpikir, bagaimana cara merawat anak tanpa istri. Tapi karena ayah orang yang baik, maka Tuhan datangkan jodoh yang baik juga untuk ayah, yaitu ibu sambungnya.
Saat ayah menikah dengan ibu sambungnya, Tiara sangat cemburu. Karena Tiara takut jika ayahnya akan lebih menyayangi ibu sambungnya.
Waktu itu Tiara sering marah, mungkin karena Tiara cemburu dengan ibu. Waktu dulu emosi Tiara sangat tidak terkontrol hingga ia sering membanting barang.
Tapi itu wajar, karena ia masih berusia 10 tahun. Dan juga karena ia sering memendam emosi, sehingga saat emosinya keluar, ia akan merusak barang. Dan juga karena belum mengenal jauh ibu sambungnya, makanya ia bersikap seperti itu. Tetapi setelah masuk SMP, emosi Tiara mulai bisa terkontrol.
__ADS_1