
Satu Minggu kemudian...
Katanya sih hari ini Yuda akan sampai, tapi Tiara tidak yakin juga, soalnya kalau diperjalanan pasti ada aja macetnya. Apalagi sekarang libur panjang, pasti sangat macet sekali. Kemarin saja setelah dari rumah adik ibu, jalanan sangat macet, padahal Tiara menggunakan motor.
Karena penasaran tentang sampai atau belumnya, akhirnya Tiara menelponnya.
Pada saat ditelepon, anehnya Yuda tidak mengangkat panggilannya. Mungkin karena dia ketiduran, atau karena ada hal lain sehingga. teleponnya tidak diangkat.
Sebenarnya Tiara sedikit cemas, karena takut terjadi sesuatu dengannya. Tapi ia berusaha untuk positif thinking dan berharap Yuda dan keluarganya selamat sampai rumah.
Tok! Tok! Tok!
Tiara berjalan kearah pintu dan ia membuka pintu kamarnya.
"Ra, ayo makan!" suruh ibu.
"Iya, bu"
Tiara dan ibu berjalan menuju ruang makan. Saat di ruang makan, mereka langsung duduk dan menikmati makanan.
"Ra, kamu mau jalan-jalan lagi gak?"
"Enggak, bu. Soalnya Tiara males macet-macetan"
"Oh iya! Kamu tahu orang yang tinggal di rumah deket pohon besar gak?"
"Tahu, bu"
"Dia katanya kenal ya sama kamu"
"Hmm...iya"
"Kenal dari mana?"
"Waktu itu kan Tiara jogging di taman, terus ketemu dia"
"Baik banget ya orangnya"
Tiara hanya mengiyakan saja. Padahal ia tahu sifat orang itu. Jujur saja kalau bertemu dengannya, Tiara ingin sekali memarahinya karena dia telah jahat kepada Yuda. Tapi karena Tiara takut terjadi apa-apa, maka ia akan berusaha bersikap baik kepadanya. Siapa tahu jika Tiara bersikap baik kepadanya, dia akan bersikap baik juga ke Tiara.
Karena ada orang itu disekitar Tiara, Tiara jadi lebih memilih untuk berdiam diri di rumah. Memang sih sebelumnya juga ia sering didalam rumah, tetapi waktu itu tidak sesering itu. Biasanya dulu ia selalu jajan ke warung, namun kali ini tidak. Karena warung tersebut dekat dengan rumah orang itu.
...****...
Yuda POV
Yuda terbangun dari tidurnya. Dan ia sama sekali tidak melihat Ayu dan mamahnya Ayu.
"Ayu sama tante Wiwid mana?"
"Mereka udah pulang" ujar papah yang sedang menyetir.
"Pah, papah capek gak?"
"Ya capek lah! apalagi papah nyetir mulu"
"Kalau gitu nanti ajarin Yuda mobil ya, jadi nanti bisa giliran nyetir"
"Kamu kan belum 17 tahun, belum punya KTP dan juga SIM"
"Tapi kan tahun depan Yuda 17 tahun"
"Ya udah berarti tahun depan aja belajar mobilnya"
"Lama dong kalau gitu"
"Ya iyalah"
"Tapi Yuda pingin belajar sekarang, pah"
"Pokoknya gak boleh, kan kamu masih umur 16 tahun"
"Tapi kok Yuda boleh bawa motor? kan Yuda belum punya SIM"
"Kalau motor kan dipakai ke sekolah, jadi gak apa-apa"
"Tapi tetap aja kan gak pakai SIM"
Papah langsung terdiam.
Tak lama, Yuda dan orang tuanya sampai di rumah. Ia dan papahnya segera mengambil barang-barang dibagasi, sedangkan mamahnya langsung masuk karena katanya dia sangat kecapean.
Yuda mengambil barang-barang dan ia pergi menuju kamarnya, karena ia juga ingin istirahat.
Ketika di kamar, ia langsung rebahan sambil memainkan ponselnya. Memang benar, ia sangat kecapean. Tapi bukan berarti dia harus tidur. Lagian Yuda tertidur cukup lama saat di mobil.
Pada saat membuka ponselnya, ia melihat ada panggilan tak terjawab dari Tiara. Ia tersenyum, karena jarang-jarang Tiara menelponnya lebih dulu dan biasanya yang selalu menelepon duluan itu Yuda. Yuda yang selalu menelpon duluan mungkin karena ia benar-benar bucin dengan pacarnya itu. Entah daya tarik apa yang membuat Yuda tergila-gila pada Tiara.
Oh iya! Yuda baru ingat kalau Tiara menelponnya. Ia sebenarnya ingin menelpon Tiara balik, tapi karena katanya Tiara tidak rindu kepada Yuda, akhirnya ia tidak menelepon Tiara balik, supaya Tiara mencarinya. Ia ingin tahu apakah jika ia tidak ada kabar Tiara akan kangen kepadanya atau malah sebaliknya. Yuda ingin mengetes Tiara. Kali ini ia akan menjadi seseorang yang cuek.
Tapi semoga saja ia bisa menjadi cuek, agar rencananya berhasil.
"Oh iya! oleh-olehnya" gumam Yuda, lalu ia segera membuka isi tasnya.
Tadinya ia berniat untuk tidak bertemu Tiara dulu supaya Tiara kangen kepadanya. Tapi karena ia membawa oleh-oleh, dengan terpaksa ia harus bertemu Tiara.
Ia mengambil paper bag yang tidak terpakai, lalu ia memasukan kue bakpia dan baju batik untuk Tiara dan ibunya. Tadinya ia mau sekalian memberikan oleh-oleh ke Randy dan Amanda, tapi karena rumah mereka jauh, akhirnya ia memutuskan untuk memberikan oleh-olehnya ke Tiara dulu.
Kemudian Yuda segera pergi menuju rumah Tiara dengan mengendarai motornya.
Ketika sampai di rumah Tiara, ia segera turun dari motor.
Belum juga Yuda menekan bel, tiba-tiba ibu Tiara keluar.
"Yuda"
"Pagi, bu" Yuda salam kepada ibu Tiara.
"Katanya kamu di Yogyakarta"
"Iya kemarin emang habis dari Yogyakarta, tapi tadi baru aja pulang"
"Habis pulang langsung kesini?"
"Iya, soalnya mau ngasih oleh-oleh buat ibu sama Tiara"
"Ya ampun, makasih banyak"
"Oh iya! ini oleh-olehnya, bu"
"Kamu masuk aja kedalam, terus kasih ke Tiara. Soalnya ibu mau pergi"
"Gak apa-apa Bu kalau masuk kedalam?"
"Ya gak apa-apa"
"Ya udah Yuda masuk ya, bu"
"Iya"
Yuda segera masuk kedalam rumah.
Ia sengaja tidak memanggil Tiara supaya Tiara kaget karena Yuda tiba-tiba datang.
Dengan langkah yang sangat lambat, ia menghampiri Tiara.
Kini ia berada dibelakang Tiara yang sedang duduk di sofa. Lalu Yuda ia memeluk leher Tiara.
Karena terkejut, Tiara berteriak. Mungkin karena ia mengira Yuda penjahat.
"Ih Yuda!!!" ujar Tiara sambil melepaskan tangan Yuda dari lehernya.
"Kaget gak?"
"Ya kaget lah, kirain orang jahat"
Yuda duduk disebelah Tiara dan memberikan paper bag yang berisi oleh-oleh kepada Tiara. "Ini oleh-olehnya"
"Buat aku?" ujar Tiara sambil tersenyum.
"Iya, dan juga buat ibu"
Tiara mengambil paper bag tersebut. "Makasih"
"Iya sama-sama, sayang"
Tiara tersipu malu dan pipinya memerah. "Hmm...ini apa?"
__ADS_1
"Lihat aja sendiri"
Tiara mengambil oleh-oleh yang ada didalam paper bag. "Wah! makasih"
"Iya"
"Boleh dimakan?"
"Ya boleh lah, tapi kalau baju batiknya jangan dimakan ya"
"Ya iyalah, masa makan baju batik"
Tiara memakan kue bakpia pemberian Yuda.
"Ya udah kalau gitu aku pulang ya"
"Mau pulang lagi?"
"Iya. Kan katanya kamu gak kangen"
"Hmm...kalau kangen gimana?"
Yuda tersenyum. "Emang kangen?"
"Dikit"
"Kalau kangennya dikit sih lebih baik aku pulang aja"
"Kalau kangennya banyak?"
"Berarti aku bakal disini dulu"
"Ya udah kalau gitu disini dulu"
"Jadi kamu kanget banget ya?"
"Enggak juga sih, tapi aku pingin kamu disini dulu. Soalnya aku takut sendirian"
"Alasan! bilang aja kangen banget"
"Percaya diri banget"
"Ya udah pulang aja deh"
"Iya deh aku kangen" ujar Tiara agar Yuda tidak pergi.
"Kalau kangen peluk dong"
"Mau banget ya dipeluk?"
Tanpa aba-aba, Yuda langsung memeluk Tiara dengan erat.
"Yud, lepasin!"
"Gak mau!" tolak Yuda sambil tersenyum jahil.
Tingtong! Tingtong!
Sontak Yuda langsung melepaskan pelukannya.
"Siapa?"
"Mana aku tahu" ujar Tiara.
"Ya udah biar aku aja yang samperin ya"
"Aku ikut"
Mereka berdua segera pergi keluar untuk menghampiri orang yang menekan bel.
Pada saat keluar, ternyata orang yang menekan bel adalah kurir.
Tiara menghampiri kurir tersebut dan langsung mengambil barang pesanannya.
Tadinya Yuda kira yang menekan bel adalah orang yang waktu itu berantem dengannya, tapi ternyata itu hanya kurir.
Jujur saja sampai sekarang Yuda tidak mengenal nama orang yang memasukkan obat itu.
Jika kalian bertanya kenapa waktu itu dia bisa tahu tas Yuda dan meletakkan obat itu, mungkin karena ia memata-matai Yuda. Makanya ia bisa tahu tas Yuda
"Yud, ayo masuk lagi"
"Beli apa, Ra?"
"Aku beli makeup"
"Kenapa beli makeup?"
"Ya biar kelihatan cantik"
"Kalau kamu pakai makeup, berarti nanti banyak cowok yang ngelirik"
"Aku pakai makeup itu buat diri aku sendiri, bukan buat dilirik cowok"
"Iya aku tahu, tapi nanti pasti banyak cowok yang suka"
"Ya terus kenapa? lagian aku gak akan suka cowok lain"
Yuda tersenyum ketika Tiara berbicara seperti itu. "Coba buka dong!"
"Nanti aja"
"Aku pingin lihat"
Karena Yuda memaksa, akhirnya Tiara membuka paketnya.
"Kok ada bolpoin nya"
"Itu eyeliner, bukan bolpoin" jelas Tiara.
"Buat mata?"
"Iya"
Yuda menyuruh Tiara agar memakai eyeliner itu, tetapi Tiara menolak untuk memakainya. Katanya sih dia gak mau karena Tiara belum bisa memakainya.
Yuda merasa heran, untuk apa membeli itu jika tidak dipakai. Apakah untuk pajangan saja? ah, mungkin Tiara akan belajar dengan melihat tutorial dulu sebelum mencobanya.
"Yud, aku ke kamar dulu ya, soalnya mau nyimpen makeup sama oleh-oleh dari kamu"
"Iya, tapi jangan lama-lama"
"Gak akan lama kok" ujar Tiara, lalu ia segera pergi ke kamarnya.
Tak lama, Tiara kembali menghampiri Yuda.
Yuda dan Tiara hanya diam karena tidak tahu harus berbicara apa.
Tiara menyalakan televisi, mungkin biar tidak terlalu canggung dengan Yuda.
Mereka berdua terkadang canggung satu sama lain gara-gara tidak ada topik pembicaraan. Tapi itu wajar, semua orang yang berpacaran juga pasti pernah mengalami kecanggungan satu sama lain. Apalagi Tiara dan Yuda, mereka belum mengenal terlalu lama, jadi pantas saja jika mereka sering canggung. Tapi canggungnya kita berdua bukan canggung yang tidak nyaman, tapi lebih ke canggung yang membuat mereka deg-degan karena bingung mau membahas apa.
Mungkin karena Tiara juga orang yang cuek, makanya harus membutuhkan beberapa waktu dulu agar bisa membuat topik pembicaraan. Sedangkan Yuda, ia sebenarnya orangnya sulit membuat topik, tapi karena pacarnya tipe yang cuek, jadi dia akan berusaha untuk selalu berkomunikasi dengan Tiara.
Karena tidak mengobrol sama sekali, Yuda jadi merasa mengantuk. Mungkin juga penyebabnya karena ia kecapean. Walaupun tadi ia cukup lama tertidur, tapi entah mengapa saat di rumah Tiara, Yuda jadi mengantuk.
...****...
Tiara POV
Dari tadi Tiara melirik kearah Yuda yang terus menguap, bahkan ia melihat mata Yuda yang tertutup lagi terbuka lagi. Ia yakin bahwa pacarnya itu sedang mengantuk.
Tak lama, Yuda sungguh-sungguh menutup matanya dan kini Yuda tertidur.
Rasanya Tiara tak tega jika membangunkannya.
Karena takut Yuda sakit kepala, akhirnya Tiara segera mengambil bantal di kamarnya.
Sesudah mengambil bantal, Tiara kembali menghampiri Yuda. Ia segera menidurkan Yuda diatas bantal agar kepalanya tidak sakit.
Tiara menatap wajah Yuda yang sangat tenang. Ia menganggap Yuda sangat lucu ketika sedang tidur. Ketika tidur, Yuda sedikit mengerucutkan bibirnya dan itu yang membuatnya lucu.
Rasanya Tiara ingin sekali mencium bibir Yuda.
"Ya ampun! aku kenapa sih" gumam Tiara.
Tiara berpikiran seperti itu mungkin karena kebanyakan menonton film romance.
__ADS_1
Karena tidak ingin terbawa nafsu, akhirnya Tiara lebih memilih untuk menonton televisi.
"Jangan!" gumam Yuda yang masih tertidur.
Spontan Tiara menoleh kearah Yuda. Tiara melihat kening Yuda yang berkeringat begitu banyak.
Tiara yakin bahwa Yuda sedang bermimpi buruk.
Tiba-tiba ibu datang menghampiri Tiara dan Yuda. "Loh! kenapa Yuda tidur di sofa?"
"Kayaknya Yuda kecapean, bu. Makanya ketiduran di sofa"
"Suruh tidur di kamar kamu aja"
"Di kamar Tiara?"
"Iya. Tapi Yuda doang yang tidur, kamunya jangan"
"Tapi kalau dibangunin kasihan, bu"
"Iya juga sih" ucap ibu.
"Ya udah kalau gitu kamu jagain dia, takutnya jatuh dari sofa" ucap ibu lagi.
"Iya siap, bu"
Lalu ibu pergi menuju kamarnya.
Tiara menjadi duduk dilantai karena takut kalau Yuda terjatuh. Ia mengelap keringat Yuda yang bercucuran, padahal sebenarnya cuaca tidak terlalu panas. Ah, benar juga! Yuda kan sedang bermimpi buruk.
Entah apa yang ia mimpikan, sampai-sampai ketakutan seperti itu. Tiara berharap mimpi Yuda tidak akan terjadi di kehidupan nyata.
Betapa terkejutnya Tiara, karena tiba-tiba Yuda membuka matanya. Dan itu posisinya saat Tiara mengelap keringat Yuda dengan tangannya.
Grep!
Yuda memegang pergelangan tangan Tiara. Lalu Yuda mengatur nafasnya.
"Yud, kamu baik-baik aja kan?"
Yuda hanya tersenyum mengiyakan ucapan Tiara.
Yuda bangun dengan posisi duduk. "Kamu tadi ngapain?"
"Gak ngapa-ngapain"
"Tadi kenapa pegang kening aku?"
"Soalnya kening kamu keringetan banget"
"Oh iya, Yud! kamu tunggu dulu ya" ujar Tiara sambil pergi ke dapur.
Bodoh sekali, harusnya saat Yuda datang, Tiara memberikan air minum kepadanya. Tapi karena ia pelupa, akhirnya ia baru ingat sekarang.
Sesudah mengambil air minum, Tiara kembali menghampiri Yuda dan ia duduk disamping Yuda.
"Ini minum dulu" Tiara memberikan air kepada Yuda.
Yuda mengambil air itu dan meminumnya.
"Makasih"
"Iya sama-sama"
"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu"
"Jangan dulu! kamu kan baru bangun, nanti takutnya kamu ngantuk dijalan"
"Bilang aja kalau masih pingin aku disini"
"Ih percaya diri banget"
"Kan itu faktanya"
"Ya udah deh terserah kamu aja, tapi pokoknya kamu tunggu sekitar beberapa menit dulu, baru habis itu boleh pergi"
"Ya udah iya"
"Ngomong-ngomong tadi kamu mimpi apa?"
Yuda mengingat-ingat mimpi yang barusan. "Hmm...gak tahu, aku lupa"
"Gak inget sedikitpun?"
"Iya gak inget" ucap Yuda.
"Emangnya kenapa sih pingin tahu mimpi aku?" ucap Yuda lagi.
"Soalnya tadi kamu mimpi buruk"
"Emang kamu tahu dari mana kalau aku lagi mimpi buruk?"
"Soalnya tadi kamu keringetan banget, bahkan sambil mengigau segala"
"Mengigau apa?"
Tiara mencontohkan ketika Yuda mengigau.
"Katanya ngigau karena mimpi buruk tapi kok kalau kamu yang peragain lucu banget" ujar Yuda sambil mencubit pipi Tiara.
"Ekhem!"
Spontan Yuda melepaskan cubitannya. Ia sungguh malu karena ternyata ibunya Tiara melihat saat Yuda mencubit pipi Tiara.
"Hmm tante...eh maksudnya ibu. Yuda pamit pulang dulu ya" gugup Yuda.
"Iya"
Yuda salam kepada ibu Tiara dan ia pulang tanpa pamitan dulu dengan Tiara.
Tiara hanya menahan tawanya saat melihat Yuda yang gugup karena tertangkap basah sedang mencubit pipi Tiara.
"Yuda kayaknya sayang banget sama kamu"
"Iya, Yuda emang sayang banget sama Tiara"
"Kalau kamu?"
"Tiara juga sayang banget sama Yuda"
"Ra, lihat kan? semua manusia gak selamanya akan merasa sedih. Pasti Tuhan bakal ngasih kamu kebahagiaan, contohnya ya Yuda. Tuhan menghadirkan Yuda buat kamu supaya kamu gak terlalu sedih" ucap ibu.
"Jadi ibu harap kamu jangan terlalu berlarut dalam kesedihan" ucap ibu lagi.
"Iya, bu"
"Semoga Yuda jadi jodoh kamu ya, soalnya ibu percaya banget sama dia"
"Kok ibu bahas jodoh sih"
"Ya emangnya gak boleh?"
"Bukannya gak boleh, tapi kan Tiara masih kelas sepuluh"
"Kelas sebelas kali"
"Oh iya, Tiara lupa kalau udah naik kelas"
"Ra, kalau umur ibu gak panjang. Kamu tetap harus bahagia ya"
"Ibu kok ngomong gitu sih"
"Kan umur gak ada yang tahu"
"Tapi siapa tahu Tiara dulu yang meninggal"
"Kalau ibu meninggal, kamu jangan nangis ya"
"Udah jangan bahas tentang kematian, Tiara gak suka dengernya"
"Ya udah maafin ibu"
"Oh iya, bu! tadi Yuda ngasih oleh-oleh" ujar Tiara sambil pergi mengambil oleh-oleh di kamarnya.
Setelah mengambil oleh-oleh dari Yuda, ia kembali menghampiri ibu.
"Ini buat ibu" Tiara memberikan baju batik dan kue bakpia kepada ibu.
__ADS_1
"Ya ampun baik banget Yuda, sampai inget buat ngasih oleh-oleh ke ibu"
"Yuda emang baik banget, makanya Tiara waktu itu terima dia buat jadi pacar Tiara"