
Aku merasakan sesuatu yang keluar dari dalam hidung ku. Dan pada saat aku menyentuh hidung ku dengan jari, aku sedikit syok karena hidung ku mengeluarkan darah. Spontan aku menutup hidung ku dengan menggunakan tangan, karena aku tidak mau kalau Yuda atau Adelia melihatnya.
"Yud, aku ikut ke toilet" aku buru-buru masuk kedalam toilet yang ada di kamar Yuda. Pada saat didalam toilet, aku melihat diriku di cermin. Aku jadi teringat masa lalu, dulu aku juga sering sekali mimisan. Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku kelelahan.
Ku basuh hidung ku sampai bersih, agar Yuda tidak khawatir kepadaku. Aku takut jika ia melihatnya, nanti yang ada dia panik setelah melihat noda darah.
Setelah itu, aku keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri Yuda. "Adelia mana?"
"Dia udah pulang"
"Rumahnya dekat ya?"
"Iya dekat"
"Oh iya, Yud. Aku ijin pulang ya, soalnya aku ada urusan"
Terlihat kesedihan dari wajah Yuda. "Ya udah, hati-hati ya"
"Gak apa-apa kan kalau aku pulang?"
"Iya gak apa-apa, kan tadi katanya ada urusan"
"Ya udah aku pulang dulu ya. Nanti kamu istirahat yang cukup dan jangan lupa minum obat"
"Iya"
...****...
Sehabis diperiksa, aku hanya bisa pasrah tentang apa yang dikatakan oleh dokter. Katanya dokter, ada kemungkinan aku terkena kanker darah, karena memang akhir-akhir ini tubuhku merasa lemah dan juga sering pusing. Selain itu gusiku sering berdarah saat menggosok gigi, ditambah lagi saat ini hidungku berdarah. Tapi itupun baru dugaan dokter, belum tentu juga diagnosisnya benar.
Tetapi jika benar, sepertinya doa yang dulu aku inginkan, sekarang akan menjadi kenyataan. Tapi saat ini, aku tidak ingin jika doa ku yang waktu itu sampai terjadi. Aku tidak ingin orang-orang terdekat ku sedih, apalagi sekarang aku sudah berbaikan dengan ibu. Andai saja dulu aku tidak berdoa seperti itu, mungkin sekarang aku akan baik-baik saja.
Entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Jika aku memberitahu ibu, pasti ibu akan sedih dan dia pasti akan menyuruhku untuk berobat. Aku tidak mau kalau ibu menghabiskan banyak uang hanya untuk biaya berobat ku. Aku sudah banyak sekali merepotkannya, mulai sekarang aku tidak ingin lebih merepotkannya lagi.
"Tiara!!" panggil seseorang. Spontan Tiara menoleh kearah belakang. Dan ternyata orang yang memanggilnya adalah Daffa.
Daffa berlari ke arahku. "Ra, ngapain disini?"
Tiara terdiam sejenak. "Aku habis jenguk teman"
"Oh gitu, kirain kamu yang sakit"
"Kalau kamu ngapain kesini?"
"Aku mau periksa mata, soalnya mata aku kayaknya minus deh"
Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya aku berpamitan kepada Daffa.
...****...
Dua harinya kemudian, aku berangkat ke sekolah. Tadinya aku ingin pergi ke rumah sakit lagi untuk mengecek kondisiku, namun karena aku sudah frustasi, akhirnya aku memilih untuk pasrah saja. Nanti juga aku tahu pasti bahwa aku sudah tidak ada harapan hidup lagi.
Skip
__ADS_1
Saat di kelas, aku duduk dikursi ku. "Yud, kemarin ada tugas gak?."
"Gak ada. Cuma ngerangkum doang."
Yuda menatapku. "Maaf ya, aku gak bisa jenguk kamu."
"Iya gak apa-apa."
"Tapi kamu beneran udah sembuh kan?."
Aku terdiam sejenak. "Udah." ucapku sambil tersenyum, karena aku tidak mau Yuda khawatir kepadaku.
"Sekarang kamu mau olahraga gak?."
"Enggak deh kayaknya, soalnya badan aku masih lemes."
...****************...
Aku dan Yuda duduk dipinggir lapangan sambil melihat teman-teman yang sedang bermain basket.
"Aku pingin cepet sembuh deh. Soalnya aku pingin cepet-cepet ikutan lomba basket."
"Kamu pasti bakal cepat sembuh kok." ucapku dengan mata yang berkaca-kaca. Entah kenapa semenjak dokter memberitahu penyakitku, aku jadi terus-terusan ingin menangis.
"Loh! mata kamu kok berkaca-kaca gitu."
"Enggak kok. Mata aku cuma kelilipan aja, makanya agak perih."
"Kamu gak udah khawatir lagi, lagipula sekarang aku udah bisa jalan dan paling sebentar lagi aku bisa lari-laria lagi."
"Jangan nangis, Ra. Aku gak apa-apa kok."
Sebenarnya aku menangis bukan karena Yuda, tapi aku menangisi kondisiku.
"Ra, hidung kamu berdarah"
Aku mengambil tisu dan langsung mengelap darah yang keluar terus-menerus.
"Kita ke rumah sakit yuk! soalnya kamu kayaknya masih sakit deh."
Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak. Aku udah sembuh kok."
"Yud, aku ke toilet dulu ya" ucapku sambil buru-buru pergi.
...****************...
Yuda POV
Aku khawatir kepada Tiara, karena sepertinya dia masih sakit. Karena aku takut Tiara kenapa-napa, akhirnya aku menyusulnya ke toilet.
Saat berada diluar toilet, aku menunggunya sampai keluar. Aku gelisah karena sudah 15 menit, tetapi Tiara masih belum keluar.
Tak lama, Tiara keluar dengan mata yang sembab. Aku tahu kalau dia tadi menghabiskan waktu di toilet hanya untuk menangis.
__ADS_1
"Yud, kamu ngapain sih kesini!" kesal Tiara.
Baru kali ini, aku melihat Tiara sekesal itu. Jujur saja melihatnya seperti itu membuatku makin khawatir. Aku tahu dia pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Aku khawatir, Ra."
"Yud, harusnya kamu jangan banyak jalan-jalan, nanti takutnya kaki kamu sakit lagi."
"Enggak kok."
Tiara memalingkan wajahnya. Kulihat dia sepertinya sedang menahan air matanya agar tidak keluar.
Ku mendekatinya dan langsung memeluknya. "Udah jangan nangis." ucapku sambil mengelus rambut Tiara.
Saat ku elus rambutnya, aku terkejut melihat rambut rontok Tiara ditangan ku. Entah kenapa aku merasakan firasat buruk.
"Yud, lepasin. Takutnya ada yang lihat."
Ku lepaskan pelukanku. "Kita ke kelas aja yuk! soalnya percuma di lapangan juga, lagian kita gak olahraga ini."
"Tapi kalau di kelas, nanti dimarahin."
"Enggak kok. Lagian pak Mario tahu kalau kita berdua lagi sakit."
"Ya udah ayo ke kelas."
Akhirnya kita berdua pergi menuju kelas. Selama di kelas, kulihat Tiara hanya diam saja. "Ra, kamu kemarin ke rumah sakit gak?."
"Aku ke rumah sakit kok."
"Sakit apa kata dokter?."
Tiara diam saja. Aku tahu pasti dia tidak akan memberitahu penyakitnya kepadaku.
"Hmm...aku cuma demam aja kok."
"Yakin cuma demam?."
Tiara hanya mengangguk pelan.
"Kamu gak bohong kan sama aku?."
"Enggak kok. Aku emang demam kemarin"
Semakin menatap matanya, aku semakin tahu bahwa dia sedang berbohong.
"Yud, kamu kenapa sih natap aku mulu?."
Kulihat dia semakin gelisah saat aku tatap. Biasanya dulu kalau ditatap, dia selalu salah tingkah. Tapi kali ini aku rasa dia bukan salah tingkah, tetapi dia terlihat gelisah.
"Pulang sekolah kita ke rumah sakit ya. Soalnya kamu kelihatannya masih sakit."
"Aku gak mau, Yud."
__ADS_1
"Pokoknya nanti kita kesana."
"Kalau aku gak mau, jangan dipaksa!" ujar Tiara, lalu ia pergi keluar.