
Tiara tidak bisa tidur, ia terus memikirkan kejadian tadi. Apa jadinya jika ia tidak membenturkan kepalanya, mungkin tadi ia akan kehilangan keper*w*n*nnya.
Sebenarnya tadi juga ia menyesal telah menceritakan kejadian itu kepada Yuda. Tiara takut kalau Yuda akan menjauhinya gara-gara tahu kalau Tiara dilecehkan oleh lelaki.
Tiara berpikir, kayaknya sebentar lagi hubungannya dengan Yuda akan segera berakhir.
Dengan perasaan sedikit khawatir, akhirnya Tiara memutuskan untuk menelpon Yuda.
Tidak menunggu lama, Yuda menjawab panggilan telepon dari Tiara.
"Hallo, Yud"
"Ra, kamu kenapa belum tidur?"
"Aku masih kepikiran, makanya aku gak bisa tidur"
"Jangan dipikirin, lupain aja kejadian yang tadi"
Tiara menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Yud, kalau kamu misalnya mau putus, sekarang aja putusin aku nya. Aku gak apa-apa kok kalau misalnya kamu mau putusin aku"
"Hah?! maksudnya?"
Tiara terdiam.
"Ra, kamu ngomong apa sih?"
"Kamu kan tahu kalau aku habis dilecehkan"
"Iya aku tahu. Tapi aku gak akan putusin kamu walaupun aku tahu lelaki itu udah lecehin kamu"
"Kamu gak akan putusin aku?"
"Gak akan"
Tiara bingung harus ngomong apalagi, sebab tadinya ia berpikir bahwa Yuda akan meminta putus.
"Ra, kamu denger aku kan?"
"Iya, aku denger kok"
"Aku gak akan putusin kamu, karena itu bukan salah kamu"
Lagi-lagi Tiara diam saja.
"Udah sekarang lebih baik kamu tidur"
"Aku kan udah bilang kalau aku susah tidur, soalnya aku masih kepikiran"
"Pikirkan aku aja, jangan terus pikirkan kejadian itu" perintah Yuda.
Senyuman terukir diwajah Tiara. "Ya udah kalau gitu aku matiin ya teleponnya"
"Iya"
"Hmm...I love you"
Belum juga Yuda menjawabnya, Tiara langsung mematikan panggilan teleponnya karena ia malu.
Ia menyesalinya, harusnya ia tidak mengatakan itu.
Ting!
Tiara melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari Yuda. Lalu ia membuka pesan tersebut.
Yuda :
I love you too 🤍
Tiara menggigit jarinya karena ia saat ini sedang salah tingkah.
...****...
Keesokan harinya, Tiara sibuk mencari sesuatu untuk menutupi keningnya. Karena memar di kening nya terlihat sangat jelas.
Tok...tok...tok
"Buka aja, bu"
Cklek
"Ara" panggil Ayu sambil mengintip dari pintu.
Tiara buru-buru mengambil dasi dan ia mengikatkan dasi tersebut pada keningnya.
"Sini masuk, Yu" suruh Tiara.
Ayu masuk kedalam kamar Tiara. "Gimana? kamu udah sehat belum, Ra?"
"Udah lumayan sehat kok, cuma sedikit pusing aja" ucap Tiara sambil melihat kearah pintu.
Ayu ikut melihat kearah pintu. "Nyari Yuda ya?"
"Hmm...enggak kok" bohong Tiara, padahal sebenarnya ia mengira bahwa Yuda sudah sampai.
"Tadi Yuda telepon aku, katanya dia mau beli makanan dulu buat kamu sama ibu kamu"
"Oh gitu ya...padahal gak usah repot-repot kayak gitu"
"Oh iya, Ra! ini kado dari aku, tadinya aku mau kasih kado ini waktu hari Jumat. Tapi sayangnya kamunya gak sekolah" ucap Ayu sambil memberikan kado kepada Tiara.
Tiara mengambil kado pemberian Ayu. "Makasih ya"
"Iya sama-sama"
"Ngomong-ngomong kening kamu kenapa diiket pake dasi?"
"Oh ini...aku kan lagi sakit kepala, makanya aku iket pakai dasi" bohong Tiara, padahal ia hanya ingin menutupi memar pada keningnya.
"Bukannya malah tambah pusing ya kalau diiket gitu?"
"Enggak kok, lagian ikatnya gak terlalu kenceng"
"Ra, kemarin Putri sama Amanda juga ikut cari kamu loh. Kita semua khawatir sama kamu"
"Makasih ya udah peduli sama aku"
"Kamu kan udah dianggap sahabat sama kita, jadi udah sewajarnya kita peduli sama kamu"
"Aku nganggap Tiara sebagai pacar, bukan sahabat" ucap Yuda yang berdiri di pintu kamar Tiara.
Sontak Tiara dan Ayu melihat kearah Yuda.
"Aku boleh masuk gak?" tanya Yuda.
"Gak boleh" canda Tiara.
__ADS_1
"Tapi tadi kata ibu kamu boleh kok" ucap Yuda sambil menghampiri Tiara dan Ayu.
"Oh iya! aku bawa ini buat kalian" kata Yuda.
"Bawa apa?"
"Makanan sama minuman"
Ayu segera membuka kantong plastik yang dibawa Yuda yang ia tahu bahwa itu isinya pizza, burger dan cola"
"Ya udah ayo makan bareng-bareng" kata Yuda.
Akhirnya mereka memakan makanan yang diberikan Yuda.
"Makasih, Yud"
"Iya sama-sama" kata Yuda.
"Ra, kening kamu kenapa diiket kayak gitu?" tanya Yuda.
"Katanya Tiara pusing, makanya dia iket keningnya" sahut Ayu.
"Pasti masih sakit ya keningnya?"
"Iya"
"Udah dikompres belum?"
"Udah semalem"
"Ya udah kompres lagi, biar memarnya cepet sembuh"
"Memar?" bingung Ayu, karena kemarin ia tidak memperhatikan kening Tiara. Makanya ia tidak tahu bahwa ada memar pada kening Tiara.
"Iya, soalnya semalam keningnya Tiara kepentok" bohong Yuda.
"Coba buka dong, aku pingin lihat" kata Ayu.
"Gak mau, aku malu"
"Kenapa malu?" bingung Ayu.
"Soalnya memarnya kelihatan banget"
"Ya gak apa-apa. Sekalian kompres keningnya, biar cepet sembuh" ucap Ayu.
Dengan terpaksa, Tiara membuka ikatan dasinya.
"Ya ampun, kok sampai memar gitu" kaget Yuda karena kemarin memarnya tidak terlalu parah.
"Pasti sakit ya, Ra?" Ayu merasa ngilu melihatnya.
"Iya"
"Ra, dikulkas kamu ada es batu gak?" tanya Yuda.
"Ada"
"Oh iya, kamu punya kain kecil gak?"
"Punya" Tiara segera mengambil kain kecil dilemarinya.
"Tunggu sebentar ya" Yuda pergi meninggalkan Tiara dan Ayu. Mungkin ia akan meminta es batu kepada ibu Tiara.
"Kepentok apa sih? kok sampai memar gitu" ujar Ayu.
"Masa sih gara-gara buku jadi memar kayak gitu" heran Ayu.
"Soalnya bukunya tebal, makanya memar nya separah ini"
Yuda kembali menghampiri Tiara dan Ayu. Lalu ia duduk disebelah Tiara.
Yuda menempelkan kain yang diisi es batu ke kening Tiara.
"Dingin banget"
"Namanya juga es, pastinya dingin"
Tiara dan Yuda menatap satu sama lain dan kedua tersenyum bersamaan.
"Ekhem!" Ayu sedikit cemburu, karena ia juga ingin merasakan yang namanya pacaran.
Sontak Tiara langsung mengalihkan pandangannya. Sedangkan Yuda, ia masih tetap menatap Tiara sambil mengompres kening Tiara.
"Gak enak ya kalau makan sambil lihat orang yang pacaran" sindir Ayu.
"Makanya pacaran dong sama bang Tegar" ujar Yuda.
"Bang Tegar mulu deh" heran Ayu.
"Jadi kamu mau sama yang lain gitu?"
"Iya"
"Mau dikenalin sama anak basket gak?"
"Mau dong"
"Ya udah nanti dikenalin deh"
Trining...trining
"Eh bentar ya, aku mau angkat telepon dulu" ucap Ayu sambil berniat keluar.
"Disini aja angkatnya" ujar Yuda.
"Gak mau, soalnya ini penting. Nanti kalian nguping lagi" canda Ayu.
Lalu Ayu segera pergi keluar.
"Pede banget ya dia, siapa juga yang mau nguping" ujar Yuda kepada Tiara.
Yuda penasaran. "Kira-kira itu telepon dari siapa ya? kok sampai keluar segala"
"Mungkin itu yang telepon gebetannya kali, makanya dia teleponnya diluar"
"Emang gebetannya siapa, Ra?"
"Gak tahu"
"Oh iya, Yud! gara-gara kamu chat tentang aku yang diculik, temen-temen kelas jadi pada nge-chat aku tahu"
"Siapa aja yang nge-chat"
"Pokoknya anak-anak kelas. Mereka nanya tentang aku yang beneran diculik atau enggak"
__ADS_1
"Revan nge-chat gak?"
"Dia nge-chat"
"Sudah kuduga" ucap Yuda dengan ekspresi seperti tidak suka.
Tiara menahan tawanya. "Cemburu ya?"
"Ya jelas lah"
"Kenapa sih cemburunya ke Revan mulu?"
"Karena dia kelihatannya suka sama kamu"
"Kelihatan dari apanya?"
"Dari perilakunya lah. Dengan lihat tatapan dia ke kamu juga aku udah tahu kalau dia suka kamu"
"Ra, emang kamu gak nyadar ya kalau Revan suka kamu?"
"Nyadar kok, soalnya dia bilang ke aku"
"Dia bilang ke kamu kalau dia suka?"
"Iya"
"Dia bilangnya sesudah kita pacaran atau sebelum?"
"Kalau gak salah sih sebelum"
"Jadi sebelum aku nembak kamu, dia udah nembak kamu duluan?"
"Enggak, dia gak nembak"
"Katanya dia ngasih tahu kalau dia suka kamu"
"Waktu itu dia bukan nembak dan waktu itu juga aku kira dia cuma bercanda ngomong kayak gitu"
"Kalau waktu itu dia nembak, kamu bakal terima gak?"
"Enggak tahu"
Yuda kecewa dengan jawaban Tiara, karena harusnya ia menjawab tidak.
"Kalau misalnya Revan selalu ada buat aku, mungkin aku bakal terima. Tapi karena yang selalu ada buat aku itu adalah kamu, jadi aku lebih milih kamu"
"Emang aku selalu ada buat kamu?"
Tiara mengangguk mengiyakan ucapan Yuda.
"Bilang apa dulu dong?"
"Makasih, Yud. Makasih selalu ada buat aku"
Yuda tersenyum saat mendengar ucapan Tiara. "Iya sama-sama"
Tiara sedikit gugup setiap kali Yuda menatapnya. "Yud, udah aja kompres nya"
Yuda segera menyimpan kain tersebut dilantai.
Kemudian Ayu kembali dengan muka yang bete.
"Kenapa, Yu?"
"Gak kenapa-napa kok"
"Tapi kok kayak bete gitu"
"Gue bete gara-gara orang yang tadi telepon gue"
"Emang siapa sih orangnya?" Yuda penasaran dengan orang yang menelpon Ayu.
"Ih kepo" kata Ayu.
"Bukan kepo, tapi pingin tahu aja" ujar Yuda.
"Sama aja, Yud"
"Beda. Kepo itu satu kata, pingin tahu aja itu tiga kata"
"Terserah kamu aja deh"
"Eh! habisin tuh makanannya, sayang soalnya kalau gak dimakan"
Tiara dan Ayu segera menghabiskan makanannya.
Tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar.
"Kenapa tuh?!" kaget Ayu.
Perasaan Tiara menjadi tidak enak, ia takut ibu kandungnya datang ke rumah.
Yuda dan Ayu segera pergi keluar. Sedangkan Tiara, ia hanya diam di kamar.
Entah kenapa ia merasa ibu kandungnya ada diluar.
Tiara buru-buru mengunci kamarnya, ia takut jika ibu kandungnya menyuruh Tiara untuk tinggal di rumah suaminya.
Hampir 15 menit, namun Yuda dan Ayu belum datang ke kamar.
Sudah Tiara pastikan jika benar kalau ibu kandungnya ada diluar. Ia juga tahu pasti ibu kandungnya akan bertengkar dengan ibu sambungnya.
Tiara meneteskan air matanya. Ia sangat ketakutan saat mendengar suara-suara dari arah luar.
Jujur saja ia merasa bersalah kepada ibu sambungnya, gara-gara Tiara tinggal disini, ibu sambungnya lah yang akhirnya disalahkan oleh ibu kandungnya.
Ibu kandung Tiara sering mengira jika ibu sambungnya lah yang menghasut Tiara supaya membenci ibu kandungnya.
Padahal ibu sambungnya sama sekali tidak pernah menghasut Tiara. Bahkan ibu sambungnya selalu menyuruh Tiara untuk datang ke rumah ibu kandungnya.
Tok...tok...tok
"Ra, ini aku" ujar Ayu, namun Tiara tidak membukakan pintunya karena ia takut jika bertemu ibu kandungnya.
"Ibu kamu udah pulang kok, Ra" ujar Ayu lagi.
Tiara membuka pintu kamarnya.
"Kamu tenang aja, ibu kamu udah pulang kok".ujar Ayu.
Tak lama, Yuda kembali menghampiri Tiara.
"Ibu kamu udah pergi kok, Ra. Jadi kamu gak usah takut" ujar Yuda.
Yuda mendekat kearah Tiara dan ia memeluknya. "Udah jangan nangis"
__ADS_1
Ayu ikut-ikutan memeluk.
Yuda menatap datar kearah saudaranya, harusnya ini momen sedih. Tapi Ayu malah memeluk Tiara dan Yuda.