
Sepulang sekolah, Yuda mengajak Tiara, Ayu, dan Randy ke sebuah tempat karaoke. Tadinya Yuda ingin mengajak Daffa juga, tapi karena Tiara sepertinya takut dengan Daffa, akhirnya Yuda tidak mengajaknya.
Ketika sampai di tempat karaoke mereka langsung menyewa tempat. Setelah itu, mereka masuk kedalam ruangan karaoke.
Mereka bernyanyi secara bergiliran. Sebenarnya yang bernyanyi hanya Yuda, Ayu dan Randy. Sedangkan Tiara, ia hanya bertepuk tangan saat pacar dan teman-temannya bernyayi.
"Ra, ayo dong nyanyi! kalau suaranya jelek juga gak apa-apa kok" ujar Yuda.
"Gak mau! aku malu, Yud"
"Masa masih malu sama kita bertiga. Kita kan udah kenal dekat sama kamu"
"Tetap aja aku malu"
Saat musik telah berhenti, tiba-tiba Yuda nyeletuk. "Guys, katanya Tiara mau nyanyi"
"Bohong...bohong!"
"Ayo nyanyi, Ra!" ujar Ayu.
"Ayo nyanyi jangan malu-malu" heboh Randy.
Ketika Randy berbicara seperti itu, Tiara semakin malu untuk bernyanyi.
"Aku gak bisa nyanyi"
"Gak apa-apa. Aku juga suaranya fals kok, Ra" ujar Ayu.
"Kalau kamu nyanyi, aku akan kasih hadiah deh" kata Yuda.
"Hadiah apa?"
"Hmm...boneka. Gimana? kamu mau gak?"
"Kalau boneka sih aku udah punya"
"Sepuluh coklat. Mau gak?"
Tiara masih berpikir.
"Kalau kamu nyanyi, nanti hari Senin gue kasih 5 coklat" ujar Ayu.
"Gue tambahin 5 coklat lagi. Jadi totalnya dua puluh coklat" ujar Randy.
"Mau gak, Ra?" kata Yuda.
Meski tawarannya sangat menarik, tapi disatu sisi Tiara sangat malu. Sebenarnya suara Tiara bagus, namun ia terlalu malu untuk bernyanyi dihadapan pacar dan teman-temannya.
"Ya udah deh" ujar Tiara sambil melihat ke buku lagu.
"Nah gitu dong!"
Ketika Tiara bernyanyi, Yuda, Ayu dan Randy sedikit terkejut karena mereka kira suara Tiara fals, tapi kenyataannya suaranya sangat bagus.
Ketiganya fokus melihat Tiara bernyanyi, seolah-olah mereka bertiga terhipnotis.
Selesai bernyanyi, Tiara bingung, kenapa mereka bertiga menatapnya sambil tersenyum.
"Kalian gak kenapa-napa kan?"
"Suara kamu bagus banget, Ra" ujar Yuda.
"Enggak kok. Lebih bagus suara kamu"
"Apa sih yang kamu gak bisa?"
"Maksudnya?"
"Kekurangan kamu apa?"
"Ya banyak lah"
"Gak salah pilih deh aku"
"Ra, ayo duet sama aku" kata Randy.
"Ih ngapain ngajak duet pacar gue" kata Yuda.
"Duet doang ya ampun! cemburuan banget jadi cowok" heran Randy.
"Duetnya sama Yuda atau Ayu aja"
"Yud, ayo duet!" ajak Randy.
"Kalau duet sama gue, takutnya lo kebanting" ujar Yuda sambil tertawa.
"Sialan lo!" kesal Randy.
...****...
Malam ini, Tiara berniat untuk maraton drama Korea. Saking niatnya, ia bahkan sampai mengaktifkan mode jangan ganggu diponselnya agar tidak ada notifikasi chat atau panggilan telepon dari seseorang.
Tiara tahu bahwa Yuda pasti menelponnya, karena ia selalu menelpon Tiara di malam hari. Maka dengan itu, lebih baik Tiara mengaktifkan mode tersebut.
Tingtong! Tingtong!
Tiara membiarkan orang yang menekan bel rumah, karena ia tahu pasti nanti ibu akan menghampiri orang tersebut.
Pada saat menonton, Tiara terkejut. Bagaimana bisa adegan kissing berada diawal. Biasanya adegannya ada ditengah atau diakhir, tapi ini malah diawal.
Cklek
Pintu kamar dibuka oleh ibu.
Spontan Tiara langsung melepaskan earphone dan juga ia menyimpan ponselnya di kasur. Jujur ia sangat kaget begitu ibunya masuk. Memang sih cuma adegan ciuman biasa, tapi ia takut jika ibunya melihat kalau Tiara menonton drama Korea untuk usia tujuh belas keatas. Padahal kan Tiara baru berumur enam belas tahun.
"Ada apa, Bu?"
"Ini ada makanan dari tetangga yang seusia kamu, yang waktu itu bantuin ibu benerin motor" ibu menaruh makanan tersebut di kasur.
"Buat ibu aja"
"Ibu udah kenyang" ujar ibu, lalu ibu keluar sambil kembali menutup pintu.
Tiara menatap makanan tersebut. Sebenarnya ia ingin memakan mie goreng tersebut karena mie nya sepertinya enak sebab ada bakso dan juga sosisnya. Tapi karena ini pemberian dari orang yang bernama Alvin, jadi ia sedikit khawatir, takutnya orang itu memasukan racun pada makanannya.
Bukannya suudzon, tapi Tiara hanya berjaga-jaga saja.
Setelah dipikir-pikir, lebih baik ia menelpon Yuda terlebih dahulu, untuk memberitahunya bahwa orang yang bernama Alvin itu memberi Tiara makanan.
Pada saat ditelepon, tidak biasanya ia menunggu lama. Biasanya Yuda paling gercep kalau soal mengangkat telepon dari Tiara, tapi kali ini ia belum mengangkatnya.
Karena panggilan tadi berakhir, Tiara mencoba lagi menelpon Yuda. Dan kali ini panggilannya dijawab.
"Hallo"
Tiara bingung, sebab yang menjawab panggilan telepon itu adalah seorang perempuan.
"Ini siapa ya?" tanya Tiara.
"Ini pacarnya Yuda. Kalau kamu siapa ya?"
"Pacarnya Yuda?"
"Iya, aku pacarnya Yuda"
Saat ini Tiara jadi ingin menangis. Ia baru tahu bahwa Yuda memiliki wanita lain.
Karena ia kecewa, akhirnya Tiara mematikan teleponnya.
Tiara melamun, ini seperti mimpi buruk baginya. Ia kira Yuda memang benar-benar mencintainya, tapi ternyata dia malah pacaran dengan wanita lain.
...****...
Yuda POV
Setelah selesai dari kamar mandi, Yuda kembali menghampiri saudaranya yang sedang menonton televisi di kamarnya.
"Yud, tadi ada yang telepon"
"Siapa?"
"Pacar lo"
Yuda mengambil ponselnya. Lalu, ia menelpon Tiara.
Pada saat ditelepon, Tiara malah menolaknya.
"Tadi gue angkat teleponannya dan bilang gue pacar lo"
"Lo apa-apaan sih! pantes aja dia nolak telepon dari gue" kesal Yuda.
"Ada apa ini? kok teriak-teriak, Yud" ujar mamah.
"Mah, dia ngeselin banget sih" tunjuk Yuda kepada saudaranya.
"Maaf, Yud. Gue cuma bercanda"
Yuda mengambil jaket, helm dan kunci motornya.
"Mau kemana, Yud?" ujar mamah.
"Mau ke rumah Tiara" ujar Yuda sambil pergi.
__ADS_1
Skip
Sesampainya di rumah Tiara, Yuda turun dari motornya dan ia segera menekan bel rumah Tiara. Tak lama, ibu Tiara keluar dan menghampiri Yuda.
"Yud, mau apa kesini?"
"Yuda mau ngomong sesuatu sama Tiara, bu"
"Ada hal yang penting ya sampai-sampai kamu kesini?"
"Iya, bu"
"Ya udah ayo masuk!" ajak ibu Tiara.
Yuda segera masuk kedalam rumah.
"Ke kamar aja, Yud"
"Ke kamar?"
"Iya"
Ibu Tiara lagi sibuk memeriksa tugas murid-muridnya, makanya ia menyuruh Yuda untuk langsung ke kamar Tiara.
Ketika sampai didepan pintu. Yuda langsung mengetuk pintu. Tak lama, Tiara membuka pintunya.
Saat pintu dibuka, Yuda melihat Tiara yang sedang mengusap air matanya.
Ketika Tiara akan menutup pintu, Yuda dengan cepat menahannya.
"Ngapain kesini?!"
"Aku mau jelasin ke kamu"
"Aku gak butuh penjelasan"
"Itu saudara aku, Ra"
Tiara meneteskan air matanya. "Kamu bohong!"
"Aku serius"
"Aku gak percaya"
"Ya udah kalau gitu kita ke rumah aku, soalnya saudara aku lagi di rumah. Dia tadi yang angkat telepon saat kamu telepon aku"
"Kamu pulang aja sana!" usir Tiara.
Yuda bingung harus sedih atau senang. Sebenarnya ia senang karena Tiara cemburu, tapi disisi lain ia tidak tega melihat pacarnya menangis.
Sebab tidak tega melihatnya, akhirnya Yuda memutuskan untuk mem-video call mamahnya.
Tidak menunggu lama, mamah menjawab video call nya.
"Mamah"
"Apa, Yud?"
"Tiara nangis nih" Yuda mengarahkan kamera ponselnya kearah Tiara.
"Ya ampun, sampai nangis gitu"
"Mah, yang tadi jawab telepon dari Tiara itu saudara Yuda kan?" ujar Yuda agar Tiara percaya.
"Iya. Tadi yang jawab saudaranya Yuda" jelas mamah.
Yuda menahan tawanya saat melihat Tiara menunduk. Sepertinya saat ini dia sedang malu.
"Ya udah kalau gitu Yuda matiin lagi ya, mah"
"Iya"
Yuda mematikan panggilan video call nya.
"Percaya kan?"
"Iya, percaya"
Yuda tertawa karena ia tidak kuat melihat Tiara se-gemas ini.
"Kenapa ketawa?"
"Habisnya kamu lucu kalau cemburu, pake nangis segala lagi"
"Udah sana pulang!" usir Tiara.
Yuda menatap datar kearah Tiara. "Udah dituduh, eh sekarang diusir"
"Terus mau ngapain lagi disini?"
"Nyebelin!"
"Jalan-jalan keluar yuk!"
"Enggak mau! udah malam"
"Baru juga jam 8 malam"
"Oh iya! aku tadi dikasih makanan"
"Sama siapa?"
"Sama orang yang pernah berantem sama kamu"
"Terus kamu makan gak makanannya?"
"Belum aku makan"
Yuda menyuruh Tiara agar tidak memakan makanan tersebut. Karena Yuda takut Tiara kenapa-napa. Apalagi kan waktu itu Tiara sempat keracunan susu kadaluarsa. Jadi ia tidak akan membiarkan Tiara memakan makanan tersebut, apalagi itu pemberian dari musuhnya.
"Buang aja makanannya"
"Tapi kalau makanannya gak ada apa-apanya gimana?"
"Mau ada atau enggak juga buang aja, kan lebih baik mencegah dari pada nanti kamu makan terus kamu kenapa-napa"
"Tapi mie gorengnya kayak enak banget"
"Ya udah aku beliin mie goreng sekarang, biar kamu gak makan mie goreng itu"
"Aku pingin ikut"
"Katanya tadi gak mau jalan-jalan" heran Yuda.
"Ya udah gak jadi"
"Ya udah ayo! kita cari yang jualan mie goreng" ujar Yuda sambil menarik tangan Tiara.
"Yud, aku mau ganti baju dulu. Masa iya aku pakai baju tidur"
"Ya gak apa-apa"
"Ya udah kalau gitu aku ambil uang dulu"
"Gak usah! biar aku aja.yang bayar"
"Gak mau! perasaan kamu mulu yang bayar"
"Ya gak apa-apa, lagian udah tugas cowok buat bayarin ceweknya"
"Ya udah ayo pergi!" ajak Tiara.
"Helmnya bawa dulu dong"
"Oh iya, lupa" ujar Tiara sambil mengambil helmnya.
Kemudian Yuda dan Tiara menghampiri ibu yang berada di ruang tamu.
"Bu, Yuda ijin ajak Tiara keluar ya"
"Mau kemana?" kata ibu.
"Mau pergi beli makanan"
"Ya udah boleh, tapi pulangnya jangan terlalu malam"
"Iya, kita gak akan terlalu lama kok, bu"
"Ya udah kalau gitu Yuda pamit dulu ya, bu"
"Iya. Hati-hati bawa motornya"
"Iya, Bu"
Kemudian Yuda da Tiara segera pergi.
Saat diperjalanan, Yuda baru ingat bahwa dirinya tidak membawa uang. Dengan terpaksa ia harus pergi ke cafe untuk mengambil uang.
Ketika sampai di cafe, Yuda dan Tiara turun dari motor.
"Yud, kok ke cafe" heran Tiara.
"Kamu tunggu disini dulu"
__ADS_1
Yuda masuk kedalam cafe dan ia menghampiri meja kasir.
"Ngapain, Yud?"
"Yuda lupa gak bawa uang, bang" ucap Yuda sambil mengambil uang di mesin kasir.
"Gue bilangin loh ke nyokap lo" ujar bang Tegar.
"Bilangin aja" ujar Yuda sambil berlari keluar.
"Yud!!"
Yuda menaiki motornya. "Ra, ayo cepetan naik!"
"Itu bang Tegar kenapa?"
"Udah cepet naik!"
Tiara segera menaiki motornya Yuda.
Setelah itu, Yuda melajukan motornya.
Jujur saat ini jantung Yuda berdegup kencang, ia merasa menjadi seorang maling. Ia yakin pasti setelah pulang ke rumah, mamahnya akan memarahinya.
"Yud!"
"Kenapa?"
"Aku jadi gak lapar"
"Lah! katanya tadi pingin makan mie goreng"
"Sekarang jadi gak lapar"
Yuda hanya bisa menghela nafasnya. "Terus jadinya pingin apa?"
"Aku pingin jalan-jalan aja"
"Mau jalan-jalan kemana?"
"Aku cuma pingin jalan-jalan yang tanpa tujuan"
"Jadi mau terus-terusan di motor?"
"Iya"
"Tapi nanti kalau aku pegel tukeran ya"
"Maksudnya?"
"Nanti kamu yang nyetir"
"Gak mau! motor kamu terlalu tinggi"
Yuda tertawa kecil. "Bukan motor aku yang tinggi, tapi kamu yang pendek"
Yuda melajukan motornya ke daerah perumahan. Lalu ia segera memberhentikan motornya.
Yuda turun dari motornya. "Ayo turun!"
"Ngapain turun disini?"
"Aku pingin lihat kamu naik motor aku"
"Gak mau! nanti aku jatuh"
"Pelan-pelan aja"
"Kalau nanti nabrak gimana?"
"Gak akan nabrak lagian gak ada kendaraan"
Pada saat Tiara menaiki motor, Yuda tertawa. Karena Tiara menaiki motornya sambil berjinjit.
"Kamu kenapa ketawa?"
"Lucu aja lihat kamu jinjit gitu"
"Ini caranya sama kan kayak motor biasa?"
"Ya sama lah"
Tiara mulai menyalakan mesin. "Yud, deg-degan"
"Kata aku juga pelan-pelan bawanya"
Tiara melajukan motornya perlahan-lahan.
Kemudian Yuda menyusulnya karena laju motornya pelan.
"Yud, udah" ujar Tiara.
Yuda menaiki motornya.
"Yuda berat!!!"
"Ayo maju!"
"Turun!!! nanti jatuh"
"Gak akan! nanti kalau jatuh aku tahan"
"Beneran ya"
"Iya"
Lalu Tiara melajukan motor mengelilingi perumahan.
"Ra, udah...udah!
Padahal Yuda yang menyuruh Tiara melajukan motornya, tapi dia sendiri juga yang menyuruh Tiara agar berhenti.
Pada saat berhenti, hampir saja Tiara akan jatuh karena kaki Tiara tidak sampai ke aspal. Tapi karena Yuda lebih dulu menginjakkan kaki di aspal, jadi mereka tidak terjatuh.
"Huh! hampir aja jatuh"
Keduanya turun dari motor.
"Yud, sepi banget ya"
"Ya iyalah, kan udah malam"
"Yud, aku ngantuk"
Yuda kembali menaiki motornya. "Ya udah ayo pulang"
Tiara menaiki Yuda, kemudian ia memeluk pinggang Yuda.
"Tumben banget meluk"
"Ya udah gak jadi meluk"
Yuda turun dari motor dan ia membuka jaketnya.
"Mau ngapain?"
Yuda memakaikan jaket ke tubuh Tiara.
"Peka ternyata"
Yuda tahu saat Tiara memeluknya itu karena Tiara merasa kedinginan. Makanya ia sengaja turun dan memberikan jaket kepada pacarnya.
"Iya dong, aku kan lelaki terpeka"
"Kamu gak dingin?"
"Dingin sih, tapi kan nanti dipeluk kamu"
Tiara hanya tersenyum.
Yuda mendekat kearah Tiara dan ia mencium bibir Tiara.
Chup
Entah kenapa semenjak kejadian kemarin, ia jadi ingin terus mencium Tiara.
Memang benar, nafsu lelaki tidak bisa dikontrol. Terbukti oleh Yuda yang saat ini sedang mencium Tiara.
Setelah berciuman, Yuda kembali menaiki motornya, ia menganggap seolah-olah tadi tidak terjadi apa-apa.
...****...
Setelah Yuda pergi, Tiara segera masuk kedalam rumah. Ia senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian tadi. Tiara heran kenapa Yuda seperti itu, apa karena dia benar-benar cinta kepada Tiara sehingga dia tidak bisa mengontrol nafsunya.
Kalau kata orang, jika seorang cowok sangat mencintai ceweknya, harusnya dia berusaha untuk mengontrol nafsunya. Tapi kenapa Yuda tidak bisa ya? apakah dia mencintai Tiara cuma untuk bahan nafsunya?
Senyum Tiara pudar saat otaknya memikirkan hal seperti itu. Ia takut Yuda mencintainya cuma karena ia ingin menyalurkan nafsunya.
Tiara bingung harus mengekspresikan perasaan seperti apa. Disatu sisi Tiara senang, tapi disatu sisi Tiara juga sangat gelisah. Ia takut jika Yuda akan berbuat lebih kepadanya.
Namanya juga cowok, pasti pikirannya sangat liar. Sehingga saat berduaan dengan cewek yang dia cintai, pasti dia tidak akan bisa mengontrol nafsunya. Itulah yang dipikirkan oleh Tiara saat ini.
Sepertinya besok-besok Tiara akan mencoba untuk tidak terlalu dekat dengan Yuda. Karena ia takut kalau Yuda akan berbuat yang lebih kepada Tiara. Tiara sangat takut jika Yuda melakukan lebih, nanti bisa-bisa Yuda dengan seenaknya meninggalkan Tiara. Memang belum tentu kejadian, namun Tiara akan selalu waspada dengan seorang cowok.
__ADS_1
Dari pada memikirkan kejadian tadi, alangkah baiknya jika Tiara tidur saja.