Love Yourself

Love Yourself
Episode 84


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Tiara terkejut saat seseorang tiba-tiba masuk kelas. Ya, orang itu adalah Yuda. Setelah beberapa bulan tidak masuk, akhirnya hari ini Yuda masuk sekolah.


Tiara buru-buru menghampiri Yuda. "Yud, udah sembuh?"


"Udah"


Tiara memegang tangan Yuda agar Yuda tidka terjatuh. "Kakinya masih sakit ya?"


"Iya masih sakit sedikit"


"Kalau masih sakit, kenapa masuk sekolah?"


"Soalnya aku bosen di rumah mulu"


Keduanya duduk di kursi. Lalu, teman-temannya langsung mengerubungi Yuda. Mereka menanyakan bagaimana kronologi kecelakaannya, padahal waktu itu Yuda sudah menceritakannya kepada mereka saat mereka menjenguk Yuda.


"Guys, kalian bisa minggir gak? soalnya gue jadi sesak kalau banyak orang" ujar Yuda, lalu teman-temannya duduk dikursinya masing-masing.


"Kamu udah sarapan belum?"


"Udah kok"


"Tadinya pulang sekolah aku mau ke rumah kamu loh. Tapi karena kamunya sekolah, kayaknya gak jadi jenguknya"


"Ya gak apa-apa ke rumah aja"


"Ya udah nanti aku ke rumah kamu ya"


"Iya"


"Ngomong-ngomong tadi kamu ke sekolah naik motor atau diantar?"


"Diantar papah"


"Kalau pulangnya dijemput siapa?"


"Palingan dijemput mamah"


"Kalau mamah kamu gak jemput, nanti biar aku aja ya yang antar kamu pulang"


"Jangan, nanti aku malu"


"Malu kenapa?"


"Masa pulang diantar cewek"


"Ya emangnya kenapa?"


"Malu, Ra"


Tiara menatap datar kearah Yuda. "Sama cewek sendiri masa malu"


"Ya malu lah, nanti dikira cowok manja"


"Enggak lah, Yud. Kan orang-orang juga tahu bahwa kamu lagi sakit"


"Cuma anak kelas aja yang tahu, orang lain gak tahu" jelas Yuda.


Tak lama, guru datang. Dan semua anak kelas XI MIPA 1 memulai pembelajaran.


...****...


Kringgg! Kringgg!


Bel istirahat berbunyi.


"Yud, kamu mau nitip sesuatu gak? nanti biar aku yang beliin"


"Gak usah, soalnya aku bawa bekal"


"Ya udah kalau gitu aku ke kantin ya. Nanti aku kesini lagi" Lalu, Tiara berlari menuju kantin.


Skip


Sesudah dari kantin, Tiara kembali menuju kelas. Tiara berharap, Yuda belum selesai makannya, karena tidak enak jika ia makan sendirian.


Pada saat sampai, ternyata Yuda belum makan bekalnya. Tiara sempat terharu, padahal Tiara tidak menyuruh Yuda agar menunggu Tiara, tapi Yuda berinisiatif sendiri untuk menunggu Tiara.


Tiara duduk dikursinya. "Belum dimakan?" sebenarnya Tiara juga tahu bahwa Yuda belum memakan makanannya, tapi ia ingin basa-basi saja.


"Belum, kan mau nunggu kamu"


"Ya udah ayo makan"


Akhirnya keduanya memakan makanan masing-masing.


Mereka berdua menikmati makanan tanpa berbicara sama sekali. Lagipula Tiara juga tidak ingin berbicara, sebab ia tidak mau mengganggu Yuda yang sedang menikmati makanannya.


Tiba-tiba Yuda berbicara. "Ra, kalau misalnya aku gak bisa jalan, kamu bakal putusin aku gak?"


"Enggak lah, Yud. Ngapain juga aku putusin cuma gara-gara hal itu"

__ADS_1


"Kan cewek biasanya gitu. Kalau manusia biasanya gitu. Kalau misalnya pacarnya cacat, dia bakal putusin pacarnya"


"Aku gak gitu kok, beneran deh. Mau kamu cacat sekalipun, aku gak akan tinggalin kamu"


"Serius?"


"Iya, aku serius"


"Kamu bener-bener sayang ya sama aku?"


"Iya lah, Yud. Waktu denger kamu sakit aja, aku langsung buru-buru pergi ke rumah sakit"


"Beruntung banget sih aku punya kamu"


"Lebih beruntung aku lah. Berkat ada kamu, hidup aku gak terlalu sedih lagi"


Yuda tersenyum mendengar ucapan Tiara. "Sekarang berarti masih sedih sedikit ya?"


"Iya, sedikit sedih. Soalnya aku gak bisa ketemu ayah"


"Walaupun gak bisa, tapi kan kamu bisa lihat fotonya"


Ucapan Yuda memang benar, tapi tetap saja Tiara sedih karena ayahnya sudah tidak ada.


"Oh iya, Ra! pulang sekolah kamu sendiri ke rumah akunya?"


"Iya. Tapi aku ke rumah aku dulu ya, nanti baru ke rumah kamu"


"Iya"


"Kamu mau makanan gak? nanti biar aku beliin"


"Gak usah, lagipula di rumah banyak makanan kok"


"Tapi gak enak kalau ke rumah kamu tapi gak bawa apa-apa"


"Ya udah bawa apa aja deh"


"Nanti dimakan gak kalau aku bawa makanan?"


"Pastinya dimakan dong"


Tiara memikirkan tentang makanan apa yang harus ia bawa. "Roti bakar mau gak?"


Yuda hanya mengangguk.


"Ya udah nanti aku beliin buat kamu"


"Makasih ya"


"Pokoknya jangan bolu, soalnya banyak banget saudara-saudara yang ngasih bolu"


Tiba-tiba kepala Tiara dihinggapi belalang.


"Ra, dikepala kamu ada belalang"


Tubuh Tiara seketika mematung. "Ambilin dong"


Yuda tertawa kecil karena melihat ekspresi Tiara yang ketakutan.


Karena sepertinya Tiara sangat ketakutan, akhirnya Yuda mengambil belalang itu. Setelah itu, Yuda segera membuangnya.


"Emang rambut aku bau ya? sampai-sampai dihinggapi belalang?"


"Coba sini, aku cium"


Tiara mendekatkan kepalanya kepada Yuda. Lalu, Yuda mencium rambut Tiara.


"Bau ya?"


"Enggak, rambut kamu wangi"


"Terus kenapa dihinggapi belalang ya?"


"Rambut kamu dihinggapi belalang bukan berarti bau. Tapi kalau dihinggapi lalat dan nyamuk, baru rambutnya bau"


Tiara mencari tahu di internet, tentang arti dihinggapi belalang.


"Katanya kalau dihinggapi belalang pertanda keberuntungan"


"Kata siapa?"


Tiara menunjukkan ponselnya Yuda.


Yuda menatap datar kearah Tiara. "Kenapa ya pacar aku percaya artikel kayak gituan" sindirnya.


"Ya siapa tahu benar"


...****...


Pulang sekolah, Tiara langsung mandi karena nantinya ia akan pergi ke rumah Yuda.


Sesudah mandi dan berganti pakaian, ia bersiap-siap untuk pergi membeli roti bakar.

__ADS_1


Selama diperjalanan, Tiara sama sekali tidak menemukan roti bakar. Wajar saja sekarang sudah siang, jadi tidak ada yang berjualan roti bakar.


Karena tidak ada yang berjualan, akhirnya Tiara membeli martabak.


Skip


Sesampainya di rumah Yuda, ia bertemu mamah Yuda yang hendak keluar dengan menggunakan mobilnya.


Mamah Yuda membuka kaca mobilnya. "Eh! mau ketemu Yuda ya?"


"Iya, mah"


"Ya udah masuk aja kedalam"


"Iya, mah"


"Kalau gitu mamah pergi dulu ya, soalnya temen mamah ada yang meninggal"


"Iya, mah"


Karena sudah diijinkan masuk, akhirnya Tiara memasukan motornya. Setelah itu, ia turun dari motor dan langsung mengetuk pintu rumah Yuda.


Tak lama, seseorang membukakan pintu.


"Siang, bi"


"Eh! neng Tiara"


"Bi, Tiara boleh gak jenguk Yuda?"


"Ya boleh lah, neng. Ya udah ayo masuk"


Tiara segera masuk kedalam rumah.


"Langsung aja ke kamar den Yuda ya. Soalnya bibi mau ngambil minuman dulu buat neng Tiara"


"Iya, bi"


Tiara berjalan menuju kamar Yuda. Lalu, ia mengetuk pintu kamar Yuda.


"Masuk aja, bi" teriak Yuda.


Tiara membuka pintu kamar Yuda. "Hai"


"Eh! kamu siapa?"


Tiara hanya menatap datar kearah Yuda.


"Sini duduk" Yuda menepuk kasurnya, lalu Tiara duduk dipinggir kasur.


Ku pandangi wajah Yuda yang begitu bahagia saat aku duduk disebelahnya. Terkadang aku selalu takjub kepadanya, sebab dia selalu tersenyum kepadaku, walaupun aku tahu dia masih sakit, tetapi dia selalu menebarkan senyuman kepadaku.


Kadang aku selalu merasa tak pantas untuk bersamanya, karena aku sadar diri kalau aku selalu mengandalkannya, tetapi dia sama sekali tidak pernah mengandalkan ku.


"Kenapa bengong?" Yuda mengerutkan keningnya saat Tiara menatapnya.


"Oh iya, Yud! Ini aku bawa martabak buat kamu"


"Makasih ya" ujar Yuda, lalu Tiara hanya mengangguk.


Yuda mencicipi martabak yang telah Tiara beli. Terlihat dari matanya bahwa dia menyukai martabak yang Tiara beli.


Tiba-tiba pembantu Yuda datang bersama seorang perempuan yang Tiara tidak tahu siapa perempuan itu.


"Ini minumnya, neng" ujar bibi sambil meletakkan minuman dimeja, lalu setelah itu ia pergi keluar.


Tiara memandangi perempuan yang berada didekat pintu. Perempuan itu sangat cantik, hingga membuat Tiara sedikit insecure.


"Ra, itu saudara aku. Dia yang waktu itu ngaku-ngaku jadi pacar aku" jelas Yuda.


"Hai" sapa saudaranya Yuda, lalu Tiara kembali menyapanya.


Tiara dan saudaranya Yuda berkenalan satu sama lain dan entah kenapa kita berdua sangat se-frekuensi. Mungkin juga karena saudaranya Yuda banyak bicara, makanya Tiara jadi tidak canggung dengannya.


Sepertinya keluarganya Yuda semuanya ekstrovert, makanya mereka gampang berbaur dengan orang. Beda lagi dengan keluargaku, keluarganya sangat introvert dan jarang mengobrol dengan sesama anggota keluarga. Oh iya! aku lupa, kalau saudara-saudaraku sama sekali tidak akrab denganku dan mereka juga sepertinya tidak menganggap ku ada, setelah ayah sudah tidak ada.


"Tiara, maafin soal yang waktu itu ya" ujar Adelia.


"Maaf soal apa?"


"Yang waktu itu aku ngaku-ngaku jadi pacar Yuda"


"Oh iya gak apa-apa"


Tiara teringat dan ia sedikit malu karena waktu itu ia menangis gara-gara Adelia yang mengaku sebagai pacar Yuda.


"Gara-gara kamu, Tiara jadi nangis" sahut Yuda.


"Kamu nangis?" tanya Adelia memastikan.


"Enggak kok" bohong Tiara.


"Ih! kok gak ngaku. Udah jelas-jelas waktu itu kamu nangis" ujar Yuda.

__ADS_1


"Waktu itu aku cuma kelilipan"


__ADS_2