
Meskipun Tiara malas berolahraga, tetapi ia memaksakan untuk jogging karena dengan berolahraga bisa mengurangi stres. Memang sih dirinya telah berdamai dengan ibunya, tetapi ia masih belum berdamai dengan saudara-saudaranya ayah. Jadi ia masih overthinking tentang itu.
Sebenarnya Tiara tidak ada salah dengan salah dengan saudara-saudaranya ayah, toh Tiara hanya diam saja dan lebih memilih untuk pergi. Tapi karena mereka menginginkan harta warisan ayah, jadi mereka terus mengincar Tiara.
Tetapi kalau dengan saudara-saudaranya ayah sih sepertinya tidak akan mudah untuk memaafkannya. Karena Tiara terlalu sakit hati, katanya Tiara bukan anak kandung ayah, melainkan anak kandung selingkuhan ibu. Jujur sakit hati mendengarnya, tetapi setelah dipikir-pikir untuk apa juga dendam dengan mereka, toh nantinya karma akan datang ke mereka. Semua orang juga tahu bila orang yang berbuat jahat atau menyakiti orang lain akan mendapatkan karmanya. Begitupun saudara-saudara ayah, mereka juga pasti akan mendapatkan karma karena telah mengatakan hal-hal jahat kepada Tiara.
Akibat melamun, Tiara tak sadar bahwa ia telah mengelilingi lapangan hampir dua puluh menit. Karena ia merasa kelelahan, akhirnya ia beristirahat dipinggir lapangan.
Tiara melihat kearah ibu-ibu yang sedang senam bersama. Entah kenapa Tiara menahan tawa saat melihatnya. Bukan karena ia meledek ibu-ibu tersebut, tapi karena lucu melihat baju seragam olahraga ibu-ibu itu, sebab baju seragamnya seperti macan.
Tiara berpikir bahwa ibu-ibu tersebut sangat gaul, bahkan sampai ada yang memakai topi segala saat senam.
"DOR!!!"
Seseorang tiba-tiba mengagetkan Tiara, hingga membuat jantung Tiara berdegup kencang.
"Loh! kamu ngapain kesini?"
"Ya aku habis jogging bareng anak-anak basket"
"Anak-anak basket?"
"Iya, itu mereka" tunjuk Yuda.
"Tadi aku manggil-manggil kamu, tapi kamunya gak nengok. Makanya aku samperin kesini"
Sebenarnya tadi Tiara mendengarnya, tapi karena ia tidak ingin kepedean, akhirnya ia terus jogging mengelilingi lapangan.
"Kamu mau main basket?"
"Iya, aku sama yang lainnya mau main basket di sekolah"
"Emang mau ada lomba ya? kok tumben latihan"
"Iya"
"Kapan lombanya?"
"Dua Minggu lagi"
"Semangat ya, semoga menang"
"Kayaknya bakal menang sih kalau sekarang. Soalnya sekarang disemangati sama kamu"
"Emang waktu itu gak menang?"
"Iya gak menang"
"Aku doakan semoga kali ini menang"
"Aamiin"
"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya"
"Iya, hati-hati ya"
Tiara segera pergi menuju rumahnya.
...****...
Sesampainya di rumah, Tiara mandi karena badannya sangat berkeringat.
Setelah selesai mandi baru ia sarapan bersama ibunya.
"Bu, tadi waktu jogging, Tiara ketemu Yuda loh"
"Dia jogging juga?"
"Iya, dia jogging bareng temen-temennya"
"Oh iya, bu! nanti habis makan, Tiara mau pergi ke sekolah ya"
"Mau ngapain ke sekolah?"
"Tiara mau ngasih bekal ke Yuda. Soalnya dia kan mau latihan, jadi pastinya bakal lapar"
"Kamu mirip ayah deh, romantis orangnya"
Setelah selesai makan, Tiara segera membuat sandwich dan susu untuk Yuda. Ia harap nanti Yuda akan menyukai sandwich buatannya.
Selesai bersiap-siap, Tiara langsung pergi ke sekolah dengan mengendarai motor.
Skip
Tiba di sekolah, Tiara segera pergi menuju lapangan basket untuk menghampiri Yuda. Saat melihat dari kejauhan, ia terkejut karena banyak sekali anak-anak basket yang sedang latihan. Tadinya ia pikir, anak-anak basket yang latihan di sekolah adalah yang tadi berada di lapangan saat Tiara jogging. Ia pikir sekitar lima orang, tapi ternyata banyak sekali. Mungkin karena adik-adik kelas juga baru masuk ke ekskul basket, makanya sekarang latihannya disatukan dengan yang akan mengikuti lomba.
"Hai" sapa seseorang.
Tiara menoleh kearahnya. Dan orang itu adalah kakak kelas yang waktu itu bertemu dengan Tiara saat di perpustakaan.
"Hai, kak" Tiara menyapa kembali orang itu.
"Ada kumpulan ekskul ya?"
"Enggak, kak"
"Terus mau apa ke sekolah?"
"Mau nganter ini buat Yuda"
"Oh mau ngasih bekal ya?"
"Iya"
"Ya udah ayo kesana, ngapain bengong disini?"
"Malu, kak"
"Ya udah kalau gitu aku panggil Yuda dulu ya biar dia kesini samperin kamu"
"Iya, makasih kak"
"Iya" ujarnya sambil pergi ke lapangan.
Tak lama, Yuda berlari kearah Tiara. Terlihat dari wajahnya bahwa Yuda sangat senang saat Tiara datang menghampirinya.
"Kamu ngapain kesini?"
"Aku mau ngasih ini buat kamu" Tiara memberikan kantong plastik yang berisi sandwich dan susu.
Yuda mengambil kantong plastik tersebut. "Wah! makasih banyak ya"
"Iya sama-sama"
"Perhatian banget sih pacar aku"
"Ya udah aku pergi lagi ya"
"Gak mau nonton dulu gitu?"
"Enggak, soalnya kan cowok semua. Jadi aku gak mau"
"Ya udah kalau gitu hati-hati ya pulangnya"
"Iya, aku pasti hati-hati kok"
"Jangan ngebut-ngebut ya"
Tiara hanya mengangguk seraya mengiyakan ucapan Yuda.
"Ra, kamu disini dulu aja deh. Soalnya perasaan aku gak enak"
"Gak enak atau karena kamu pingin dilihatin waktu latihan?"
"Perasaan aku beneran gak enak. Semalam aku mimpi buruk tentang kamu soalnya"
"Mimpi buruk tentang aku?"
"Iya"
Yuda menceritakan tentang mimpi semalam. Ia bermimpi tentang Tiara yang ketabrak mobil. Mungkin itu hanya mimpi dan belum tentu kejadian. Tapi karena Yuda sangat khawatir, ia jadi menginginkan Tiara untuk diam dulu di sekolah.
"Tapi kan itu mimpi, Yud"
"Iya, aku tahu. Tapi aku takut banget, Ra"
"Yud, aku gak akan kenapa-napa kok. Aku bakal bawa motor dengan hati-hati"
Tiara melihat kekhawatiran diwajah Yuda. "Udah jangan khawatir, lagian itu cuma mimpi"
Yuda memeluk Tiara. "Kalau gitu hati-hati ya"
"Iya"
Setelah itu, Yuda kembali melepaskan pelukannya.
Habis itu, Tiara segera pergi. Sejujurnya tadi Tiara malu saat dipeluk Yuda, apalagi anak-anak basket melihat kearah Tiara dan Yuda.
Saat diperjalanan, Tiara memikirkan tentang mimpi Yuda. Semoga saja mimpi itu tidak benar-benar terjadi, karena sekarang Tiara tidak ingin mati. Dulu sih memang ia ingin cepat-cepat mati. Tapi sekarang, Tiara ingin panjang umur agar bisa membahagiakan orang-orang terdekatnya.
Lagipula sekarang hidup Tiara tidak sesedih dulu. Dan juga karena Tiara sudah berdamai dengan masa lalunya, jadinya ia merasa hidupnya lebih bahagia.
...****...
Jam 18.00 WIB
Tiara memikirkan bagaimana jika mimpi Yuda menjadi kenyataan, sebab dulu dia selalu berdoa agar ia cepat meninggal. Apakah doanya akan terkabul dalam waktu dekat ini?
Ia jadi takut jika doanya benar-benar terkabul. Padahal akhir-akhir ini Tiara sudah lebih bahagia, tapi kalau misalnya memang ia ditakdirkan untuk mati, ya bagaimana lagi.
Handphone Tiara berdering. Tiara rasa itu panggilan dari Yuda. Entah kenapa ia jadi deg-degan disaat akan mengangkat panggilan telepon tersebut.
Tiara mengambil ponselnya. Tapi tebakannya salah. Ternyata itu panggilan telepon dari Randy.
Tumben sekali Randy menelponnya, apa jangan-jangan dia ingin menanyakan Yuda? karena kan Yuda pasti sibuk latihan basket, jadi pasti Yuda tidak sempat menjawab panggilan dari Randy.
Pada saat Tiara mengangkat panggilan tersebut, tubuh Tiara mematung. Ia mendengar bahwa Yuda mengalami kecelakaan. Tadinya Tiara mengira bahwa Randy hanya bercanda, tapi ternyata tidak. Bahkan Randy mengirim foto Yuda yang sedang terbaring di rumah sakit. Dengan cepat, Tiara langsung mematikan teleponnya dan ia bergegas menuju rumah sakit.
Skip
Saat sampai didepan ruangannya, Tiara bertemu dengan Randy dan Ayu.
"Gimana keadaan Yuda?" ujar Tiara yang terus meneteskan air matanya.
"Yuda belum sadar" ujar Randy.
Tiba-tiba seseorang keluar dari ruangan dan itu adalah papahnya Yuda.
Tiara semakin sedih ketika melihat papahnya Yuda yang menangis.
Rasanya Tiara baru tadi bertemu dengan Yuda, tapi sekarang dia sudah terbaring di rumah sakit.
Tiara kembali mengingat mimpi yang Yuda ceritakan. Ternyata yang tertabrak bukan Tiara, tapi Yuda sendiri yang tertabrak.
Rasanya hati Tiara hancur saat melihatnya hanya terbaring lemah seperti itu.
"Om, Tiara boleh masuk gak?" ujar Tiara, lalu papah Yuda hanya mengangguk.
Dengan perasaan sedih, Tiara masuk kedalam ruangan tersebut. Pada saat masuk, ia melihat mamah Yuda yang sedang menangis sambil menatap anaknya.
Tiara menangis tersedu-sedu. Ia takut jika Yuda meninggalkannya, sama seperti ayah Tiara yang meninggalkan Tiara untuk selamanya.
Tiara mengusap matanya berulangkali saat melihat jari Yuda yang bergerak. Tak lama, Yuda membuka matanya secara perlahan.
"Tante, Yuda bangun"
Mamah Yuda buru-buru keluar untuk memanggil dokter.
"Ra" gumam Yuda.
Tiara menangis sesenggukan saat Yuda memanggil namanya.
"Jangan nangis" ucap Yuda pelan .
Tiara mengusap air matanya tapi air matanya terus-menerus menetes.
Tak lama, orang tua Yuda, dokter dan suster masuk kedalam ruangan. Spontan Tiara langsung menjauh saat dokter memeriksa keadaan Yuda.
Karena Tiara sudah lega, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Yuda udah bangun ya?" ujar Ayu.
"Udah"
"Apa kata dokter? ujar Ayu.
"Pokoknya yang tadi aku denger katanya Yuda patah tulang doang"
"Anjir banget si Yuda. Bikin gue deg-degan aja" ujar Randy sambil mengusap air matanya.
Kemudian dokter dan suster keluar dari ruangan.
Tak lama, orang tuanya Yuda keluar.
"Kalian masuk sana, Yuda pingin ngobrol katanya" ujar mamah Yuda.
Tiara, Ayu dan Randy masuk kedalam.
"Kalian bertiga khawatir ya?" ujar Yuda sambil tersenyum.
"Ya iyalah, Yud"
"Kalian kok pada nangis sih, aku kan masih hidup" ujar Yuda.
"Kan tadi kita ngiranya lo akan mati, Yud" ujar Randy.
"Randy, jahat banget sih omongannya. Harusnya sebagai sahabat kamu itu doakan Yuda yang baik-baik"
Yuda menahan tawanya saat Tiara memarahi Randy.
"Maaf, Ra" ujar Randy.
"Minta maaf nya ke Yuda jangan ke aku"
"Maaf, Yud" ujar Randy.
"Ra, Randy nya minta maafnya gak tulus" kata Yuda.
"Ran, minta maaf itu yang tulus dong"
Randy terpaksa tersenyum. "Yuda, maafin Randy yang berdosa ini ya"
"Karena gue baik, gue akan maafin" kata Yuda.
"Yud, kejadiannya gimana sih? kok bisa sampai kecelakaan gini" ujar Ayu.
"Sebenarnya aku juga gak inget gimananya, tapi yang jelas pengendara motor yang nabrak itu ngebut dan nabrak aku dari samping" jelas Yuda.
"Padahal motor lo baru loh, sekarang udah rusak lagi" ujar Randy.
"Gak apa-apa motor rusak, yang penting kan Yuda nya selamat"
"Nanti malam pada nginep dong disini, kan besok libur ini" ujar Yuda.
"Gue pasti nginep sih" kata Randy.
"Aku juga bakal nginep deh" kata Ayu.
"Ra, mau nginep gak?" ujar Yuda dengan tampang memelas.
"Aku bilang ibu dulu ya"
Tiara mengirim pesan kepada ibunya untuk memberitahu bahwa Yuda sedang dirawat dan Tiara juga meminta ijin ke ibunya tentang Tiara yang akan menginap. Tak lama ibu membalas pesan dari Tiara dan ia mengijinkan Tiara untuk menginap di rumah sakit.
"Gimana, Ra?" tanya Yuda.
"Ibu aku ngebolehin kok"
"Ya udah kalu gitu aku ambil kasur lantai sama bantal dulu ya, buat kalian berdua" ujar Randy.
"Terus kamu tidur dimana?"
"Ya di lantai, tapi aku gak akan pakai kasur" kata Randy.
"Nanti kedinginan dong"
"Enggak, soalnya aku udah biasa tidur dilantai" kata Randy.
"Ya udah aku pergi dulu ya" ujar Randy.
"Hati-hati, Ran" ucap Tiara dan Ayu bersamaan, lalu Randy segera pergi.
"Yud, sakit?" tanya Ayu.
"Ya sakit lah" kesal Yuda, udah tahu Yuda patah tulang, eh Ayu malah bertanya seperti itu.
Mamah Yuda masuk kedalam ruangan yang ditempati Yuda. "Yud, mamah sama papah ambil pakaian sama makanan dulu ya, nanti kita berdua kesini lagi"
"Iya, mah" ujar Yuda, lalu mamah Yuda segera pergi.
Sekarang Tiara sudah tidak cemas lagi kepada Yuda. Walaupun memang Yuda patah tulang, tapi tetap saja Tiara bersyukur karena Yuda tidak sampai meninggal.
"Yu, boleh tolong beliin minum gak?" suruh Yuda, padahal sebenarnya ia ingin berduaan dengan Tiara.
"Ya udah aku beliin dulu" ujar Ayu, lalu ia segera pergi.
"Ra, ternyata mimpi aku salah. Ternyata aku yang ketabrak"
"Yud, lain kali kalau mimpi buruk jangan diceritakan"
"Kamu takut aku meninggal ya, Ra? tadi nangisnya sampai sesenggukan gitu"
"Iya, aku takut kamu ninggalin aku"
"Oh iya, berarti aku gak bisa ikut lomba dong". keluh Yuda.
"Gak apa-apa. Kan lain kali bisa ikut, kalau kakinya udah sembuh"
"Patah tulang berapa lama sih sembuhnya?"
Tiara mencari informasi di internet mengenai patah tulang. "Katanya sih 8 sampai 12 Minggu"
"Ya ampun lama banget dong. Terus gimana aku bisa sekolah kalau kayak gini caranya"
"Kamu jangan sekolah dulu lah"
"Tapi kalau dimarahin guru gimana?"
"Nanti tolong ijinin ya"
"Iya, pasti aku ijinin kok"
"Nanti kamu sendiri dong duduknya"
"Ya gak apa-apa"
"Nanti kamu suruh Ayu duduk sama kamu aja ya, biar kamu gak bosen"
"Tapi Randy gimana?"
"Ya Randy sama Daffa aja"
"Yang patah tulang sebelah mana, Yud?"
"Kaki yang sebelah kanan"
"Tadi kamu pura-pura pingsan ya?"
"Enggak. Aku tadi emang pingsan, mungkin juga karena kecapean habis main basket"
Tiara mengelus rambut Yuda. "Cepet sembuh ya, biar bisa main lagi bareng aku, Ayu dan Randy"
"Makanya sering-sering jenguk aku, biar aku sembuh"
"Iya, nanti aku bakal sering jenguk kamu. Sekalian aku juga mau bawa permen" ujar Tiara sambil tertawa.
Yuda menatap datar kearah Tiara. "Mulai deh"
"Yud, kamu mau beli sesuatu gak?"
"Beli apa?"
"Ya apa aja gitu, nanti aku beliin"
"Gak usah, lagian nanti mamah sama papah bawa makanan sama minuman kok"
"Oh ya udah kalau gitu"
"Aku cuma pingin dipeluk sama kamu" ucap Yuda tiba-tiba.
"Gimana cara peluknya? kan kamunya lagi tidur"
"Ya udah cium aja"
"Ih gak mau"
"Ya udah deh kalau gak mau" keluh Yuda.
Karena tidak mau Yuda merasa sedih, akhirnya Tiara mencium pipi Yuda.
Bertepatan saat Tiara mencium Yuda, tiba-tiba Ayu masuk. "OMG!!!!"
Tiara spontan menjauh dari Yuda.
"Kenapa, Yu?" tanya Yuda.
"Yud, aku gak salah lihat kan?" ujar Ayu.
Yuda melirik kearah Tiara sekilas. "Gak salah lihat kok"
"Yu, jangan dibilangin ya. Lagian tadi Yuda yang nyuruh"
"Lah, bukannya kamu yang tiba-tiba nyium aku" kata Yuda.
Kamu kok bohong sih, kan tadi kamu yang nyuruh aku"
"Aku gak akan dibilangin ke siapa-siapa kok. Jadi kamu gak perlu panik kayak gitu" kata Ayu.
"Janji ya"
"Iya, aku gak akan bilangin ke siapapun" kata Ayu.
"Oh iya! mana?" ucap Yuda kepada Ayu, lalu Ayu memberikan air mineral kepada Yuda.
Tiara merasa canggung akibat kejadian tadi. Meskipun Ayu tidak akan melaporkan kejadian tadi kepada orang tua Yuda, tapi tetap saja ia canggung karena Ayu mengetahui Tiara mencium Yuda.
"Ra, tolong matiin AC nya dong" suruh Yuda, lalu Tiara buru-buru mematikan AC agar Yuda tidak kedinginan.
"Masih dingin gak, Yud?
"Masih"
"Terus gimana dong? aku gak bawa jaket"
"Ya udah kalau gitu peluk aja"
"Yud, jangan mentang-mentang sakit. Kamu jadi seenaknya ke Tiara, pake nyuruh cium lagi" kata Ayu.
"Ra, maafin aku ya. Aku tadi niatnya cuma bercanda, tapi kamunya malah beneran"
"Mana ada bercanda kayak gitu" sahut Ayu.
"Serius, Yu. Aku tadi cuma bercanda" ujar Yuda.
"Itu namanya modus, bukan bercanda" kata Ayu.
"Udah biarin aja, Yu. Lagian tadi yang salah aku, harusnya aku gak nurutin apa kata Yuda"
"Kamu gak salah. Yang salah itu emang aku, tadi aku emang pingin dicium sama kamu" ucap Yuda terus terang.
"Tuh kan! udah ketebak" kata Ayu.
"Emang salah ya kalau pingin dicium sama pacar sendiri?" kata Yuda.
"Salah lah. Kalian kan belum resmi suami istri" kata Ayu.
"Emang yang boleh ciuman cuma suami istri doang ya?"
"Iya, Ra" kata Ayu.
__ADS_1
"Tapi masa waktu itu aku pernah lihat anak SMP ciuman"
"Serius?" Ayu terkejut mendengarnya.
"Iya, aku lihat sendiri. Mereka lagi ciuman"
"Cium bibir atau cium pipi?" ujar Yuda.
"Cium bibir"
"Ya ampun parah sih itu. Aku aja gak pernah cium bibir" ujar Yuda sambil menahan tawanya.
Tiara hanya diam saja setelah Yuda berkata seperti itu, padahal sebenarnya Yuda pernah mencium bibir Tiara bahkan sudah dua kali.
"Yakin gak pernah?" curiga Ayu.
"Gak pernah kok, tanya aja sama Tiara" ujar Yuda.
"Tapi bisa aja kan sama mantan kamu pernah" tuduh Ayu.
"Jangan fitnah, dosa loh" ujar Yuda.
Tiara cemberut sebab bisa jadi yang dikatakan Ayu benar. "Jadi pernah ya sama mantan kamu?"
"Gak pernah, Ra. Kan aku udah bilang waktu itu sama kamu"
"Jadi sebelumnya Tiara pernah nanya kayak gitu?" kata Ayu.
"Iya" kata Yuda.
10 menit kemudian, Randy datang dengan membawa kasur lantai dan bantal. Lalu, ia segera meletakkan kasur lantai tersebut dilantai.
"Ran, lo kesini naik mobil atau naik motor?" tanya Ayu.
"Naik mobil lah, kalau naik motor mana bisa bawa kasur sama bantal" kata Randy.
"Ran, itu sarung bantalnya diganti sama yang baru gak?" ujar Yuda, karena ia kasihan kalau Tiara dan Ayu tidur dibantal yang kotor.
"Ya diganti lah, mana mungkin gue gak ganti" kata Randy.
Mamah dan papah Yuda masuk kedalam ruangan dengan membawa pakaian, makanan dan minuman.
"Kalian bertiga mau nginep disini?" ujar papah Yuda.
"Iya, om"
"Papah sama mamah pulang aja, lagian disini banyak yang nemenin Yuda kok" ujar Yuda, karena ia tahu pasti orang tuanya akan pegal-pegal jika tidur dilantai.
"Tapi mamah khawatir, Yud" ujar mamah Yuda.
"Tenang aja, mah. Kalau Yuda kenapa-napa kan nanti ada mereka yang nolongin" kata Yuda.
"Ya udah kalau kamu pingin sesuatu, nanti telepon papah atau mamah ya" ujar papah Yuda.
"Iya, pah" ujar Yuda.
Mamah Yuda berjalan kearah Yuda, lalu ia mencium kedua pipi Yuda. "Besok mamah dan papah kesini lagi kok"
"Iya, mah" ujar Yuda.
"Tolong jagain Yuda ya" ujar mamah Yuda kepada Tiara, Ayu dan Randy.
"Iya" ujar ketiganya.
"Nanti kalau kalian mau, ambil aja ya" mamah Yuda meletakkan kantong plastik berisi makanan dan juga tas berisi pakaian Yuda.
"Iya" ucap Randy dengan semangat.
Setelah itu, mamah dan papah Yuda pergi.
Randy dan Ayu langsung membuka kantong plastik yang tadi dibawa oleh mamah Yuda.
"Mau ya, Yud" ujar Ayu dan Randy.
"Ya udah ambil aja" kata Yuda.
"Ra, tolong ambilin roti tawar dong" suruh Yuda.
"Mau pakai susu gak?"
Yuda mengangguk.
Tiara memberikan roti tersebut kepada Yuda.
"Suapin dong, tangan aku kayaknya masih sakit deh" ujar Yuda, lalu Tiara menyuapi Yuda.
"Ra, maaf ya. Kotak makan kamu sama botol minum kamu hilang, mungkin udah rusak waktu tadi tabrakan"
"Iya, gak apa-apa kok"
Tiara bahkan tidak peduli dengan kotak makan atau botol minumnya, yang ia pedulikan hanyalah Yuda.
"Aku deg-degan tahu gak waktu Randy bilang kalau kamu kecelakaan"
"Maaf ya udah buat kamu khawatir"
Tiara menghela nafasnya. "Nanti kalau naik motor lagi, hati-hati ya. Jangan lupa lihat sekitar, takutnya ada orang yang nabrak kamu lagi"
"Iya, nanti aku akan lebih hati-hati lagi bawa motornya"
Karena rotinya sudah habis, Tiara menyuruh Yuda untuk segera tidur. Tetapi Yuda tidak ingin tidur sebelum dinyanyikan oleh Tiara. Dengan terpaksa, Tiara harus menuruti kemauan Yuda. Karena kalau tidak dituruti, takutnya itu permintaan terakhir dari Yuda.
Sebenarnya Tiara sangat malu karena Randy dan Ayu juga melihat kearahnya. Tapi tak apa, yang penting Yuda senang.
"Karena udah dinyanyiin, sekarang kamu tidur ya"
"Ya udah aku tidur" Yuda memejamkan matanya.
Setelah Yuda tidur, Tiara juga tidur di lantai bersama Ayu. Sebenarnya bukan mau tidur, tapi Tiara ingin rebahan sambil memainkan ponselnya.
...****...
Tengah malam, Tiara terbangun saat mendengar ringisan Yuda. Ia buru-buru menghampiri Yuda karena takut Yuda kenapa-napa.
"Yud, kamu mau kemana?"
"Aku pingin buang air kecil, Ra"
"Kamu tunggu dulu disini. Aku mau panggil perawat dulu" ujar Tiara sambil pergi.
Tiara menghampiri perawat lelaki yang sedang berjaga. "Kak, pasien yang namanya Yuda katanya mau ke toilet, tapi dia gak bisa jalan.
"Oh iya, tunggu sebentar" ujarnya sambil mengambil sesuatu yang Tiara tidak tahu itu benda apa.
Setelah itu, Tiara dan perawat tadi masuk kedalam ruangan yang ditempati Yuda.
"Mau buang air kecil ya?" ujar perawat kepada Yuda.
"Iya" kata Yuda.
"Ya udah buangnya kesini aja" perawat itu menunjukkan pispot.
"Saya pingin di toilet aja" ujar Yuda.
"Kaki kamu kan masih sakit, nanti kalau dipaksakan jalan pasti tambah sakit" ujar perawat.
"Tapi saya malu" jelas Yuda.
"Kenapa malu? kita kan sama-sama lelaki" ujar perawat.
Yuda melihat kearah Tiara. Spontan perawat itu juga melihat kearah Tiara.
"Kamu jangan lihat kesini dulu" perintah perawat itu kepada Tiara. Lalu Tiara spontan membalikkan badannya agar tidak melihat kearah Yuda.
Tak lama, perawat itu keluar.
"Yud, udah kan?"
"Udah kok, Ra"
Tiara kembali membalikkan badannya. "Hmm...nanti kalau ada apa-apa lagi, panggil aku aja ya. Nanti aku akan minta bantuan lagi ke perawatnya" ujarnya, lalu Tiara kembali tidur karena ia sangat mengantuk.
Skip
Pada pukul 6 pagi, Tiara bangun karena ia mendengar suara televisi. Pada saat dilihat ternyata orang yang sedang menonton televisi adalah Yuda.
Tiara menghampiri Yuda. "Yud, kamu semalam sesudah buang air kecil, kamu tidur lagi gak?" tanyanya memastikan.
"Enggak, soalnya aku gak bisa tidur"
"Pasti sakit banget ya?"
"Iya"
"Oh iya, Yud. Aku boleh minta air mineral gak?"
"Boleh"
Tiara meminum air mineral karena tenggorokannya sangat kering.
"Yud, aku ijin pulang dulu ya soalnya aku mau mandi sama sarapan. Tapi nanti aku kesini lagi kok"
"Ya udah, tapi hati-hati ya"
"Iya" ujar Tiara, lalu ia segera pergi.
...****...
Sesampainya di rumah, Tiara menekan bel rumahnya karena pagarnya masih dikunci. Tak lama setelah ia menekan bel, ibunya keluar dan ia menghampiri Tiara.
"Gimana keadaan Yuda?" ujar ibu sambil membuka kunci gembok.
"Yuda patah tulang di kaki, bu" Tiara masuk kedalam rumahnya.
"Ditabrak atau gimana?"
"Iya, ditabrak"
"Terus orang yang nabrak Yuda gimana? sama-sama patah tulang atau enggak?"
"Tiara gak tahu, soalnya Yuda gak cerita tadi. Mungkin Yuda gak inget karena waktu kejadian dia pingsan"
"Pasti dia syok ya? makanya dia pingsan"
"Syok sekaligus kecapean kayaknya, soalnya kan Yuda habis latihan basket"
"Oh iya! kamu udah sarapan belum?"
"Belum"
"Ya udah ayo sarapan dulu"
"Tiara mau mandi dulu deh, bu. Nanti habis itu baru sarapan"
"Ya udah terserah kamu aja deh"
Kemudian, Tiara segera pergi ke kamarnya.
Skip
Ketika menikmati sarapan, Tiara melamun. Ia memikirkan segimana sakitnya patah tulang yang dialami Yuda. Sepertinya jika Tiara yang mengalaminya, ia akan terus menangis kesakitan.
Semalam juga Tiara mendengar ringisan Yuda. Tapi ketika Tiara bangun dan menghampirinya, Yuda menjadi sok kuat. Padahal kan tidak apa-apa jika meringis juga, lagian Tiara tidak akan meledeknya.
"Bu, Tiara kasihan deh ke Yuda. Semalaman dia meringis kesakitan mulu"
"Ya kan dia patah tulang dan pastinya sakit banget"
"Tapi waktu Tiara bangun dan nyamperin dia, dia kayak yang biasa aja"
"Emang lelaki suka sok kuat ya didepan pacarnya?"
"Ya iyalah. Bukan cuma pacar, tapi orang yang disukainya"
"Kenapa ya sok kuat gitu" heran Tiara.
"Soalnya dia gak mau kalau ceweknya khawatir"
"Oh iya, bu. Habis makan, Tiara mau ke rumah sakit lagi ya"
__ADS_1
"Kalau mau ke rumah sakit lagi, jangan lupa beli makanan buat Yuda. Gak enak kan kalau kesana gak bawa apa-apa"
"Ya udah nanti Tiara beli buah-buahan deh buat Yuda"