
Kini sebagian murid sedang menunggu hujan reda dan sebagian lagi memilih pulang sambil hujan-hujanan.
Tadinya Tiara juga ingin pulang dengan keadaan hujan, namun Yuda melarangnya. Karena Yuda tidak ingin Tiara sakit lagi.
"Guys, gue pulang duluan ya" ujar Ayu.
"Masih hujan loh, Yu" kata Yuda.
"Iya gak apa-apa" ujar Ayu, lalu ia segera pergi kearah parkiran sekolah.
"Yud, kalau hujannya gak berhenti-henti gimana?"
"Ya jangan dulu pulang, kita tunggu sampai hujannya reda"
"Gimana kalau hujannya gak reda-reda sampai malam?"
"Berarti kita terpaksa harus nginep di sekolah" canda Yuda.
"Aku lebih baik pulan daripada nginep di sekolah"
"Pasti kamu takut ya?"
"Ya iyalah, soalnya pasti di sekolah ada hantu"
"Sok tahu"
"Semua sekolah kan emang ada hantunya, Yud"
"Kata siapa?"
"Kata orang-orang"
Sudah hampir satu jam, tetapi hujannya masih belum reda.
"Yud, pulang aja yuk"
"Tapi masih hujan, Ra"
"Ya udah kalau gitu aku pulang duluan ya, soalnya aku pingin cepet-cepet ke rumah"
"Ya udah ini pakai dulu jaketnya" ujar Yuda.
"Gak usah, lagian nanti juga pasti kehujanan"
"Pakai dulu, biar seragam kamu gak terlalu basah"
"Terus kamu gimana?"
"Ya gak apa-apa"
Yuda segera memakaikan jaket miliknya ke Tiara.
Setelah itu, mereka berdua segera pergi menuju parkiran.
Sesampainya diparkiran, Tiara dan Yuda segera menaiki motor. Lalu, Yuda langsung melajukan motornya.
Saat diperjalanan, Tiara melihat seseorang yang terjatuh dari motor.
"Yud, itu tolongin!" tunjuk Tiara pada pengendara yang jatuh dari motor.
Yuda memberhentikan motornya dipinggir jalan. Lalu, Tiara dan Yuda segera menghampiri orang itu.
Tiara menuntun orang itu ke pinggir jalan dan Yuda membawa motornya pengendara dan diletakkan dipinggir jalan agar tidak menghalangi pengendara lain.
"Kamu gak apa-apa kan?"
Cewek itu melihat kearah lututnya yang berdarah.
"Loh! kamu lagi" ucap Yuda sedikit terkejut karena ternyata orang itu adalah anaknya om Arifin.
"Kamu kenal sama dia, Yud?"
"Iya, dia anak temennya orang tua aku" jelas Yuda.
"Padahal tadi baru aja jatuh di kantin, eh sekarang jatuh lagi di jalan" batin Yuda.
"Hmm...boleh tolong anterin pulang gak?" ucap cewek itu.
"Oh boleh kok. Nanti kamu sama Yuda aja, terus aku yang bawa motor kamu"
"Ra, kamu beneran bisa bawa motor kan?" tanya Yuda memastikan.
"Bisa kok"
Akhirnya cewek tersebut diantar Yuda. Sedangkan Tiara, ia menyusul mereka berdua dengan mengendarai motor cewek itu.
Skip
Setibanya di rumah cewe itu, Tiara turun dari motor.
"Makasih ya udah nolongin aku" ucap cewek itu.
"Iya sama-sama" ujar Tiara dan Yuda bersamaan.
"Oh iya! nama kamu siapa?" tanya cewek itu ke Tiara.
"Aku Tiara. Kalau kamu?"
"Zahra"
"Zahra, kita pulang dulu ya" ujar Yuda.
"Iya" kata Zahra.
"Ra, ayo naik!" perintah Yuda, lalu Tiara segera naik ke motor Yuda.
Setelah itu, Yuda melajukan motornya.
(Diperjalanan)
"Kalau kedinginan, peluk aja aku" kata Yuda.
Tiara tersenyum, ia tahu bahwa Yuda yang kedinginan. Soalnya baju seragam Yuda sudah sangat basah, sedangkan Tiara tidak terlalu karena ia memakai jaket milik Yuda.
Ia memeluk Yuda dengan erat. "Yud, jaketnya nanti aku kembalikan lagi ya. Soalnya kan basah"
"Gak usah, soalnya jaketnya mau aku bawa pulang"
"Oh iya, Ra. Cewek tadi juga jatuh loh di kantin"
"Oh ya?"
"Iya. Kayaknya itu cewek gak bisa jaga keseimbangan tubuh deh, makanya jatuh terus"
"Gara-gara lantai kantinnya licin kali, makanya dia jatuh"
"Iya sih lantainya licin, soalnya kan hujan"
"Oh iya, katanya Minggu depan UAS ya?"
"Iya"
"Belajar bareng yuk!"
"Ayo. Mau belajar dimana?"
"Di rumah kamu aja. Soalnya kan rumah kamu banyak orang"
"Perasaan cuma ada aku, orang tua aku sama bibi"
"Maksudnya ada orang yang di rumah selain kamu. Soalnya kan di rumah aku gak ada orang, nanti takutnya tetangga pada ngomongin"
"Ya udah di rumah aku aja"
"Nanti ajak Ayu sama Randy juga ya?"
"Iya"
...****...
Pada saat sampai rumah, Tiara segera turun dari motor Yuda.
Krining! Krining!
Tiba-tiba ponsel Tiara berdering dan ia langsung menjawab panggilan dari ibunya.
"Hallo, bu"
"Ra, ibu ada di rumah temen, soalnya anaknya mau nikah. Jadi ibu mau bantu-bantu disini. Mungkin nanti ibu pulangnya jam 7 malam"
"Oh gitu ya, bu"
"Nanti pintunya dikunci aja ya"
"Iya, bu"
"Ya udah kalau gitu ibu tutup dulu ya teleponnya"
"Iya"
Ibu mematikan panggilan teleponnya.
"Ra, aku pulang dulu ya"
"Iya"
Pada saat Yuda akan melajukan motornya, tiba-tiba ada seseorang yang menyalakan klakson mobil.
Sontak Tiara dan Yuda melihat kearah mobil itu.
Tiara terkejut karena itu adalah mobil yang persis dipakai anak tiri ibu.
Spontan Tiara langsung naik ke motor Yuda. "Yud, ayo pergi!"
"Tiara!!" teriak ibu kandungnya.
"Yud, ayo!!" teriak Tiara sambil menepuk pundak Yuda.
Akhirnya Yuda melajukan motornya.
__ADS_1
Saat diperjalanan, Tiara hanya diam saja.
"Ra, kita ke rumah aku aja ya. Soalnya takut hujannya tambah besar"
"Yud, aku turun disini aja deh"
"Turun disini? emang kamu mau kemana?"
"Gak tahu"
"Udah ikut ke rumah aku aja"
"Emang gak apa-apa?"
"Ya gak apa-apa lah"
...****...
[Rumah Yuda]
Yuda dan Tiara masuk kedalam rumah.
"Ra, ganti baju dulu yuk"
"Ganti baju?"
"Iya kan pakaian kamu basah"
"Tapi aku gak bawa pakaian ganti"
"Pakai punya aku aja"
"Eh ada neng Tiara"
Tiara mendekati bibi dan ia salam kepada bibi.
"Neng ganti pakaian dulu, nanti masuk angin lagi" ujar bibi.
"Ini juga mau ganti kok, bi" kata Yuda.
"Ya udah ayo ke kamar, Ra"
"Loh! jangan ganti baju barengan. Kalian kan belum jadi suami istri"
"Gak barengan, bi. Kita gantian ke kamar mandinya" jelas Yuda.
"Oh kirain mau bareng"
"Ya enggak lah, bi"
"Ya udah ayo ke kamar, Ra" ajak Yuda.
Tiara mengikuti Yuda ke kamar.
[Kamar]
Yuda membuka lemari pakaiannya.
"Pilih aja pakaiannya"
"Sama kamu aja pilihnya"
Yuda mencari baju dan celana yang tidak terlalu besar.
"Yang ini mau gak?" Yuda menunjukkan baju dan celana kepada Tiara.
"Iya yang itu aja"
Yuda memberikan pakaian tersebut kepada Tiara.
"Ya udah cepet ke kamar mandi!" suruh Yuda.
Tiara masuk kedalam kamar mandi dan ia langsung mengganti pakaiannya.
Sesudah berganti pakaian, ia keluar dari kamar mandi.
Yuda yang melihat Tiara langsung menahan tawanya. Sebab pakaian miliknya masih kedodoran ditubuh Tiara.
"Lucu"
"Lucu apanya, Yud?"
"Kamu kalau pakai baju aku kelihatan lucu"
Tiara melihat ke pakaian yang ia kenakan. "Perasaan gak lucu" batinnya, karena menurutnya bajunya seperti cowok banget dan gak ada lucu-lucunya.
"Yud, minta kantong plastik dong. Soalnya buat menyimpan pakaian yang basah"
"Bajunya jemur aja sekalian, nanti pulangnya baru ambil"
"Tapi pasti masih basah"
"Setidaknya kan kering dikit"
"Jemurnya dimana?"
Yuda mengambil baju seragam dan rok Tiara. "Kamu tunggu disini dulu, nanti aku kesini lagi" ujar Yuda, lalu ia segera keluar dari kamar.
"Ra, makan yuk!" ajak Yuda.
"Gak mau"
"Bibi udah masak loh buat kita"
Karena merasa tidak enak karena sudah dimasakin, akhirnya Tiara mengiyakannya.
Tiara dan Yuda berjalan menuju ruang makan.
"Ini makanannya" ujar bibi sambil meletakkan nasi goreng untuk Tiara dan Yuda.
"Makasih, bi"
"Iya sama-sama" ujar bibi, lalu bibi segera pergi.
Tiara dan Yuda memakan nasi goreng buatan bibi.
"Ra, tadi ibu kamu bilang apa waktu teleponan sama kamu?"
"Ibu bilang katanya dia mau bantu-bantu temennya, soalnya ada anak temennya yang nikah"
"Berarti pulangnya lama dong?"
"Katanya sih pulangnya jam 7"
"Ya udah kalau gitu kamu disini aja sampai jam tujuh. Kalau ibu kamu udah pulang, nanti aku anterin kamu pulang"
"Emang gak apa-apa kalau aku disini sampai jam tujuh?"
"Gak apa-apa. Mau nginep juga gak apa-apa kok"
"Yud, kayaknya aku nyusahin kamu banget"
"Kok kamu ngomong gitu sih"
"Habisnya kamu selalu bantu aku mulu"
"Aku seneng bantuin kamu dan aku gak keberatan kalau kamu minta tolong ke aku"
"Kamu pasti ngerasa kasihan ya ke aku?" tebak Tiara.
Yuda sebenarnya memang kasihan kepada Tiara, tapi karena ia tahu Tiara tidak ingin dikasihani, jadi ia memikirkan ucapan yang sekiranya tidak membuatnya sedih.
"Kok kamu diem, Yud"
"Aku bukan kasihan, tapi aku sayang sama kamu. Jadi karena aku sayang, aku selalu ingin ngebantu kamu"
"Syukur deh kalau gitu, soalnya aku gak mau orang lain nganggap aku menyedihkan"
"Kok orang lain sih?! kan aku pacar kamu"
"Oh iya ya"
"Yud, tadi ibu kandung aku gak ngejar kita kan?"
"Enggak, soalnya kan aku melajukan motornya cepet. Jadi ibu kamu gak akan bisa ngikutin kita berdua"
"Tiara" panggil mamah Yuda yang baru datang.
"Eh mamah" Tiara menghampiri mamahnya Yuda dan tak lupa ia salam pada mamah Yuda.
"Ra, kamu udah sembuh?"
"Udah, mah"
"Kalau gitu mamah ke kamar dulu ya, nanti mamah kesini lagi" ucap mamah dan Tiara hanya mengangguk.
Setelah mamah pergi, Tiara kembali duduk di kursi dan ia melanjutkan makannya.
"Mamah kayaknya beneran pingin punya anak cewek deh" ujar Yuda yang sontak membuat Tiara menoleh kearahnya.
"Kalau gitu suruh mereka bikin lagi aja, Yud. Nanti kamu punya adik deh"
Ucapan Tiara membuat Yuda tidak bisa berkata-kata.
"Kalau mamah punya anak lagi kasihan, soalnya kan mamah udah berumur"
"Oh gitu ya"
Tak lama, mamah kembali menghampiri Tiara dan Yuda. Dan ia segera duduk di kursi.
"Mah" panggil Yuda.
"Kenapa, Yud?" tanya mamah.
"Masa Tiara nyuruh mamah punya anak lagi" kata Yuda.
Tiara menyenggol lengan Yuda. "Ih kok dibilang sih" ucapnya pelan.
"Mamah udah tua, Ra. Nanti pasti capek kalau punya anak lagi, belum lagi mamah harus kerja"
__ADS_1
"Emang mamah umur berapa?"
"37 tahun"
"Kirain Tiara, mamah masih umur 30 tahun"
"Emang mamah kelihatan muda gitu?"
"Iya, kelihatan muda"
"Bisa aja mujinya" sahut Yuda.
"Beneran kok, mamah emang kelihatan muda"
"Makasih loh pujiannya" ujar mamah Yuda.
Tiba-tiba papahnya Yuda datang. "Ada siapa nih?"
"Hallo, om" Tiara menghampiri papah Yuda, lalu ia salam ke papah Yuda.
"Tiara udah sembuh?" tanya papah Yuda.
Tiara tak habis pikir, kenapa bisa orang tua Yuda tahu bahwa ia sedang sakit.
Seperti memang benar bahwa Yuda selalu menceritakan Tiara kepada orang tuanya.
"Tiara udah sembuh kok, om"
Tak lama bibi datang membawa makanan dan minuman untuk mamah dan papah Yuda.
"Tiara, om ke kamar dulu ya. Nanti kamu makan aja duluan sama Yuda dan mamahnya"
"Tiara emang udah makan duluan, pah" sahut Yuda.
"Oh gitu ya"
"Ya udah kalau gitu om ke kamar dulu ya" ucap papah Yuda kepada Tiara.
"Iya, om" ujar Tiara, lalu ia kembali duduk.
"Ra, ayo nasi goreng nya tambah lagi. Masih banyak loh itu"
"Enggak usah, mah. Soalnya ini juga masih ada kok"
Sebenarnya Tiara udah tidak canggung dengan mamahnya Yuda, tetapi kalau dengan papahnya Yuda ia masih canggung karena belum begitu dekat.
Beberapa menit kemudian, papahnya Yuda menghampiri kami bertiga.
Suasana menjadi canggung saat papahnya Yuda datang.
Karena makanannya sudah habis, Yuda berniat mengajak Tiara untuk menonton televisi.
"Pah, mah. Yuda sama Tiara mau nonton tv ya"
"Nonton tv nya di ruang keluarga aja, jangan di kamar kamu" suruh papah.
"Iya siap" kata Yuda.
"Yud, aku mau ke dapur dulu"
"Mau cuci piring"
"Gak usah, nanti biar bibi aja yang cuci" ujar mamah Yuda.
"Ya udah ayo" Yuda menarik tangan Tiara, lalu mereka berdua pergi ke lantai dua.
Saat berada di ruang keluarga, Tiara melihat banyak sekali foto-foto yang dipajang. Tiara sungguh iri sebab ia tidak mempunyai foto keluarga.
"Itu kamu ya?" Tiara menunjuk foto anak kecil.
"Iya, itu aku"
"Kok lucu waktu kecil ya"
"Sekarang juga masih lucu kok"
"Enggak lucu, soalnya sekarang udah besar"
"Jadi menurut kamu cuma anak kecil yang boleh lucu?"
"Iya lah"
"Kamu udah besar tapi kok masih lucu"
Perkataan Yuda membuat Tiara menahan senyumnya. "Masa?"
"Iya. Apalagi pipinya lucu banget"
"Jangan body shaming"
"Muji kok dibilang body shaming" heran Yuda.
"Kamu lebih kayak ngeledek bukan muji"
"Beneran lucu" ujar Yuda, lalu ia mencubit kedua pipi Tiara.
Pipi Tiara seketika merona.
"Jangan dicubit, nanti makin lebar pipinya" ujar Tiara sambil menjauhkan tangan Yuda dari pipinya, padahal sebenarnya ia salah tingkah karena baru kali ini pipinya dicubit oleh cowok.
"Yud, cepet nyalain tv nya!"
Yuda menuruti perkataan Tiara.
"Nonton film hantu yuk!" kata Yuda.
"Emang jam segini ada film hantu?"
"Ada" Yuda mencari channel yang biasanya ada film hantu.
"Nah! akhirnya ketemu"
"Oh iya, Ra. Aku mau ambil snack dulu ya"
"Iya"
Yuda segera pergi meninggalkan Tiara.
Karena takut menonton film hantu sendirian, akhirnya Tiara memutuskan untuk memainkan ponselnya.
Tidak menunggu lama, Yuda kembali menghampiri Tiara dengan membawa nampan yang berisi coca cola kaleng dan beberapa snack.
Lalu, mereka menonton film hantu bersama sambil menikmati coca-cola dan Snack.
"Ra, hawanya kayak dingin gitu gak sih?" kata Yuda.
"Mungkin karena habis hujan, makanya cuacanya dingin"
"Tapi ini hawanya beda"
"Yud, jangan nakutin"
"Apa ada hantu ya disini"
"Kamu hantunya" canda Tiara.
"Ra, tadi disebelah kamu kayak ada yang ngelewat"
"Yudaaa...jangan nakutinnn"
"Beneran tadi ada yang ngelewat warna putih"
MEOWW...MEOWW
Tiara terkejut karena tiba-tiba ada kucing yang menghampirinya.
"Kaget ya?" Yuda tertawa saat melihat Tiara yang terkejut karena didekati kucing milik mamahnya.
"Ya ampun, kirain hantu"
"Tuh kan! kata aku juga ada yang ngelewat warna putih"
"Ini kucing siapa, Yud?" Tiara mengelus-elus kucing tersebut.
"Punya mamah"
"Lucu banget kucingnya"
"Lebih lucu kucing atau aku?"
"Ya lebih lucu kucing lah"
Yuda menjadi bete saat mendengar ucapan Tiara. "Puji pacarnya dong sekali-kali"
"Kamu pingin dipuji?"
"Iya, tapi sekarang udah gak mau. Soalnya udah gak mood"
Pada saat Tiara akan mengambil snack, tiba-tiba Yuda mencegahnya. "Cuci tangan dulu! tangan kamu tadi habis pegang kucing"
Tiara baru sadar, harusnya tadi ia tidak mengelus kucing itu.
"Cuci tangan dulu sana!" suruh Yuda.
"Dimana cuci tangannya?"
"Disana" tunjuk Yuda pada toilet.
Ketika akan kesana, tiba-tiba Yuda berkata "Hati-hati, di toilet itu banyak hantunya"
Tiara menengok kearah Yuda. "Yud, anterin dong" ucap Tiara dengan wajah ketakutan.
Yuda tertawa melihat Tiara yang ketakutan. "Aku cuma bercanda, Ra"
"Aku gak jadi deh ke toiletnya"
"Dasar penakut" ujar Yuda.
"Ya udah ayo kesana" Yuda berdiri dan menghampiri Tiara. Lalu Yuda mengantar Tiara ke toilet.
__ADS_1
Tiara mencuci tangannya dengan menggunakan sabun, setelah itu ia langsung membasuhnya.