Love Yourself

Love Yourself
Episode 67


__ADS_3

Skip


Hari ini, siswa dan siswi SMA Kenanga sedang mengikuti ulangan akhir semester.


Keadaan dikelas sangatlah damai dan tentram sebab mereka fokus pada ulangannya masing-masing.


"Akhirnya selesai juga" gumam Tiara.


Tiara mengumpul kertas ulangannya dimeja guru.


"Sudah selesai?" tanya guru.


"Sudah, bu"


"Ya sudah kalau gitu kamu boleh istirahat"


Tiara keluar dari kelas.


Saat keluar ternyata siswa dan siswi yang ulangan dikelasnya dan dikelas sebelah belum menyelesaikan ulangannya.


Karena Tiara tidak ingin ke kantin sendirian akhirnya ia menunggu Yuda, Ayu ataupun Randy.


Sudah hampir lima menit, tetapi belum Yuda, Ayu dan Randy belum keluar kelas.


Memang sih ada sebagian teman kelasnya yang sudah menyelesaikan ulangan, tetapi Tiara tidak mau istirahat dengan mereka. Karena ia tidak begitu dekat dengan orang itu.


"Tiara!" panggil Risa.


"Iya, ada apa?"


"Kamu mau istirahat bareng kita gak?" ujar Risa.


"Enggak. Soalnya aku mau istirahat bareng Ayu"


"Istirahat bareng Ayu atau bareng Yuda?" sahut Alifia.


"Istirahat bareng dua-duanya"


"Ya udah kalau gitu kita ke kantin dulu ya" kata Risa.


"Iya"


Mereka berdua meninggalkan Tiara.


Tak lama, Ayu keluar dari kelas sebelah.


Jika kalian bertanya kenapa Ayu keluar dari kelas sebelah, maka jawabannya adalah karena ruangan kita berbeda sebab Ayu berada diabsen atas, sedangkan Tiara absen bawah. Jadi ruangan kita berdua berbeda.


"Ra, ke kantin yuk!"


"Ayo!"


Sebab Yuda dan Randy dari tadi tidak keluar-keluar, akhirnya Tiara memilih pergi ke kantin bersama Ayu.


Dalam perjalanan ke kantin, tiba-tiba ada kakak kelas yang memanggil.


"Dek!"


Spontan Tiara dan Ayu menoleh kearah kakak kelas tersebut.


"Temen gue suka katanya" teriak kakak kelas tersebut.


"Bohong...bohong! jangan didengerin" ucap teman kakak kelas itu.


"Yu, ayo ke kantin" ujar Tiara karena malu sebab kakak kelas itu berbicara sangat keras.


Lalu, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju kantin.


"Ganteng juga ya yang tadi" ujar Ayu.


"Ya ampun, Yu! inget Ardiansyah!'?"


"Kan Ardiansyah cuma gebetan, belum jadi pacar"


"Cukup yang pasti aja, Yu"


"Btw, tadi kakak kelas suka sama siapa ya?"


"Ke kamu lah"


"Tapi bisa aja ke kamu, Ra. Kan kamu cantik"


"Ya enggak lah, aku kan udah punya pacar"


"Tapi kan dia gak tahu kalau lo punya pacar"


"Udah jangan dipikirin! lebih baik kita jajan aja"


Akhirnya mereka membeli makanan dan minuman.


Karena jam istirahatnya tidak lama, Tiara dan Ayu memutuskan untuk makan di kelas.


Diperjalanan menuju kelas, mereka berdua bertemu Yuda dan Randy.


"Kok kalian ninggalin aku sama Randy sih" ujar Yuda.


"Habisnya kalian lama"


"Gak solidaritas banget" ujar Randy.


"Apa sih, Ran" ujar Ayu sambil menahan tawanya.


Kemudian Tiara dan Ayu pergi ke kelas. Sedangkan Yuda dan Randy pergi ke kantin.


Walaupun Ayu berada di ruangan kelas berbeda, namun ia memutuskan untuk istirahat bersama di ruangan kelasnya Tiara.


Saat masuk ke kelas, ternyata ada kakak kelas yang sedang duduk disebelah kursi Tiara.


"Yu, makannya diluar aja. Soalnya ada kakak kelas"


"Ya udah ayo"


Tiara dan Ayu keluar kelas dan ia duduk di kursi depan kelas sambil menikmati jajanan yang tadi mereka beli di kantin.


"Ra, itu kakak kelas yang tadi kan?"


Tiara melihat kearah pandangan Ayu. "Iya, yang tadi"


"Mirip artis Korea gak sih?"


Saat dipandang, Tiara sama sekali tidak melihat ada muka Korea diwajah lelaki itu.


Memang sih tampan, tetapi menurutnya lebih tampan Yuda.


"Gak mirip!"


"Mirip loh! kayak idol-idol gitu"


"Style rambutnya doang yang mirip"


Kakak kelas itu melihat kearah Tiara dan Ayu. Sontak membuat Tiara dan Ayu langsung mengalihkan pandangannya masing-masing.


"Mampus! orangnya lihatin kita lagi" ujar Ayu.


Tiara melihat kearah Ayu. "Yu, kita pura-pura ngobrol aja. Biar gak terlalu malu"


"Mau ngomong apa?"


"Apa aja deh, biar seolah-olah kita gak lagi ngelihatin orang itu"


"Tadi dia beneran lihatin kita kan?"


"Iya"


"Sekarang dia masih lihatin kita gak?"


"Mana aku tahu, kan aku ngelihat ke kamu"


Ayu menengok lagi kearah kakak kelas itu dan ternyata kakak kelas itu masih melihat kearahnya dan Tiara.


Sontak Ayu buru-buru mengalihkan pandangannya ke Tiara. "Dia masih lihatin kita, Ra"


Tiara dan Ayu sama-sama gugup karena baru kali ini mereka keciduk memperhatikan seseorang.


"Kenapa makannya diluar?" ujar Yuda yang baru datang bersama Aldo.


"Soalnya ada kakak kelas yang duduk disebelah Tiara" ujar Ayu.


"Kalau gitu duduk di kursi lain aja" kata Yuda.


"Itu kan kursi orang lain, nanti kalau dia mau duduk gimana coba?"


Dengan pasrah, Yuda duduk disebelah Tiara. Sedangkan Randy duduk disebelah Yuda.


"Aneh banget ya makan dengan duduk kayak gini" ujar Yuda.


"Aneh aja gitu, kan biasanya ada orang yang duduk didepan. Tapi ini yang duduknya malah berjejer kesamping. Jadinya kayak habis pembagian makanan gratis"


Tiba-tiba kakak kelas tersebut lewat didepan Tiara, Ayu, Yuda dan Randy.


Tiara sangat yakin bahwa kakak kelas tersebut sedang caper, entah itu kepadanya atau Ayu.


"Ekhem! ekhem!" Ayu memberi kode dengan menyenggol lengan Tiara, lalu Tiara menoleh ke Ayu.


Kemudian keduanya melihat kearah kakak kelas itu yang sudah pergi lumayan jauh.


"Gila! ganteng banget" ujar Ayu.


Yuda melihat kearah Tiara yang juga melihat lelaki itu. Lalu, Yuda menutup mata Tiara dengan tangannya.


"Kenapa, Yud?" Tiara melepaskan tangan Yuda yang menghalangi pandangannya.


"Jangan genit!" ujar Yuda dengan ekspresi dingin.


"Aku gak genit, aku cuma lihat doang"


"Sama aja genit"


"Kan tadi Ayu yang nyuruh"


"Ya kamu jangan turutin Ayu" ujar Yuda, lalu ia masuk kedalam kelas.


"Hayo loh Ayu, gara-gara lo sih" ujar Randy.


"Kok jadi nyalahin gue sih" ujar Ayu.


Karena merasa bersalah, akhirnya Tiara menyusul Yuda ke kelas.


Ia duduk di kursi sebelah Yuda karena memang orang yang duduk disitu belum masuk kelas.


"Yud, maaf" ujar Tiara sambil menunduk.


"Udah lah jangan dibahas" ucap Yuda sedikit kesal.


Tanpa sadar Tiara meneteskan air matanya karena baru kali ini ia membuat orang marah.


Tiara mengusap air matanya yang terus-menerus mengalir. "Maaf"


Karena mendengar suara isak tangis, jadi Yuda menoleh kearah Tiara. "Kok kamu nangis"


"Maaf" ucap Tiara sambil sesenggukan.


"Iya...iya. Aku udah maafin kamu kok" panik Yuda.


Yuda tidak tahu kalau Tiara akan menangis karena hal ini. Ia menyesali perbuatannya karena harusnya tadi ia tidak memarahinya.


Yuda mengusap air mata Tiara. "Jangan nangis, malu dilihat orang"


"Aku gak marah kok sama kamu" ujar Yuda sambil mengelus rambut Tiara.


"Tapi tadi kamu marah"


"Enggak, tadi aku cuma pura-pura marah doang"


"Maaf ya"


"Iya gak apa-apa"


Karena Yuda berkata seperti itu, akhirnya Tiara merasa tenang.

__ADS_1


"Mau gak?" Yuda menawari mie goreng kepada Tiara.


"Enggak, aku udah kenyang"


...****...


Ulangan mata pelajaran terakhir sudah Tiara selesaikan, kini ia segera mengumpulkan ulangannya.


Tak lama, Yuda juga ikut mengumpulkan ulangannya.


Setelah itu, Yuda mensejajarkan langkahnya dengan Tiara.


"Ra, maafin aku ya. Harusnya aku gak cemburu gara-gara hal tadi" ujar Yuda.


"Tadi emang aku yang salah kok"


"Sekali lagi aku minta maaf. Aku janji gak akan lihat cowok lain"


"Enggak...enggak! aku yang salah, harusnya aku gak cemburu cuma gara-gara hal sepele kayak gini"


Ketika sampai di parkiran, Tiara melihat kakak kelas yang tadi. Ia heran mengapa dia selalu muncul.


Saat Yuda ingin mengeluarkan motornya, ternyata motor yang disamping motor Yuda adalah motor lelaki yang dilihat Tiara dan Ayu.


Karena Tiara takut Yuda marah seperti tadi, akhirnya ia memutuskan untuk menunggu didekat gerbang.


Saat berada didekat gerbang, Tiara mencuri-curi pandang kearah parkiran. Takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Setelah ia melihat Yuda mengeluarkan motornya, Tiara merasa lega karena Yuda tidak bertengkar dengan lelaki itu.


Lagipula Yuda juga pasti tidak akan memulai pertengkaran, karena yang salah itu Tiara bukan lelaki itu.


"Ra, ayo naik!"


"Iya" ujar Tiara sambil menaiki motor Yuda, kemudian Yuda melajukan motornya.


Saat diperjalanan, Tiara baru sadar ternyata Yuda melajukan motornya kearah kiri.


"Yud, mau kemana?"


"Ke cafe" ujar Yuda, karena ia ingin mengobrol dengan Tiara sekaligus memperbaiki kesalahannya, supaya tidak canggung akibat pertengkaran kecil tadi.


Sekitar tujuh menit kemudian, akhirnya Tiara dan Yuda sampai di cafe mamahnya Yuda.


Mereka berdua masuk kedalam cafe. Lalu, mereka duduk ditempat yang paling pojok.


"Pulang sekolah bukannya langsung pulang, ini malah nongkrong dulu" ucap bang Tegar, lalu Yuda dan Tiara hanya diam saja.


"Bang, buatin ice americano sama jus strawberry ya" ujar Yuda.


"Oke" ucap bang Tegar, lalu ia segera pergi untuk membuatkan pesanan.


Tiara dan Yuda sebenarnya ingin membuka percakapan, namun mereka bingung karena tidak ada topik.


"Hmm..."


Tiara menoleh kearah Yuda, karena sepertinya Yuda akan berbicara.


"Hmm.."


"Kenapa, Yud?"


"Hmm...aku ijin ke toilet dulu ya"


"Iya"


Lalu, Yuda pergi ke toilet.


Tiara mengira Yuda akan bertanya sesuatu kepadanya. Namun ternyata ia malah ingin ke toilet.


Saat ini Tiara sangat merasa bersalah kepada Yuda. Karenanya Yuda jadi harus meminta maaf, padahal seharusnya Tiara yang meminta maaf.


Sejujurnya Tiara sangat menyesali perilakunya, harusnya tadi ia tidak menangis seperti itu. Seolah-olah ia membuat Yuda merasa bersalah kepada Tiara.


Tiara bukan sosok yang manipulatif, namun entah kenapa tadi ia menangis. Mungkin karena ia takut kalau Yuda berkata kasar kepadanya. Sebab kata Ayu, Yuda akan berbicara kasar apabila ia sangat marah.


Yuda kembali menghampiri Tiara dan ia duduk di kursi.


Tiara berusaha untuk bersikap seperti semula, agar Yuda jadi tidak canggung kepadanya.


"Yuda"


"Iya kenapa?"


"Besok ulangan apa aja?"


Sebenarnya Tiara tahu bahwa besok ulangan bahasa Inggris, sejarah dan kimia. Namun, ia bertanya seperti itu supaya ada topik.


"Sebentar, aku lihat dulu" ujar Yuda sambil melihat jadwal diponselnya.


Bodoh sekali, entah kenapa Tiara menanyakan hal bodoh seperti itu. Padahal ia juga membawa ponsel.


Ia yakin saat ini Yuda tahu bahwa Tiara bertanya seperti itu karena supaya ada topik pembicaraan.


"Besok ulangan bahasa Inggris, sejarah sama kimia" ujar Yuda.


Bang Tegar menghampiri Tiara dan Yuda dan ia meletakkan pesanan Tiara dan Yuda di meja.


"Makasih"


"Iya sama-sama" ujar bang Tegar, lalu bang Tegar segera pergi melayani pelanggan yang lain.


Tiara dan Yuda meminum minuman tersebut.


"Enak gak, Ra?"


"Enak"


Tiara menahan tawanya, bagaimana bisa Yuda tidak tahu rasa jus strawberry yang ada di cafenya.


"Kamu mau nyobain?"


"Enggak. Soalnya aku sering nyobain"


"Terus tadi kenapa nanya enak atau enggak"


"Biar ada topik aja, soalnya canggung banget" ujar Yuda terus terang.


"Yud, tadi waktu kamu marah gak ngomong kasar didalam hati kan?" ujar Tiara karena ia merasa ada yang mengganjal dalam hati.


"Enggak kok"


"Syukur deh kalau gitu"


Tadinya Tiara *sempat takut jika Yuda mengatakan kata-kata kasar, sebab Tiara mudah sekali untuk menangis jika seseorang mengucapkan kata-kata kasar.


Mungkin juga karena saudara-saudaranya sering mengatakan kata-kata kasar kepadanya, sehingga membuat Tiara mudah menangis*.


"Emangnya kamu takut kalau aku ngomong kasar ya?" tanya Yuda memastikan dan Tiara hanya mengangguk.


"Katanya kamu kalau marah suka ngomong kasar"


"Kata siapa?"


"Ada pokoknya"


"Pasti Ayu yang ngomong kan?"


"Bukan Ayu kok" bohong Tiara karena ia takut Yuda akan marah kepada Ayu.


"Randy?'


"Bukan Randy juga"


"Terus siapa? gak mungkin kan orang lain? soalnya kamu kan deketnya sama mereka berdua"


"Udah lupain aja"


"Jawab dulu. Lagian aku gak akan marah"


"Gak mau, nanti kamu marah"


"Enggak, aku ga akan marah"


Tiara menebak ekspresi wajah Yuda. Sepertinya memang ia tidak akan marah jika ia menyebut siapa orangnya.


"Janji ya jangan marah"


"Iya"


"Ayu yang ngomong"


"Coba cerita pada saat Ayu ngomong gitu" suruh Yuda.


"Katanya kamu dulu pernah berantem sama anak kelas sebelah, terus kamu ngomong kasar waktu berantem"


Yuda menatap Tiara yang sedang berbicara. Ia tahu bahwa Tiara sedikit takut jika Yuda akan memarahi Ayu karena Ayu telah memberitahu Tiara.


"Ayu cuma cerita gitu doang?"


"Iya"


"Kamu mau tahu gak cerita lengkapnya? kenapa aku berantem sama dia"


"Emangnya berantem kenapa?"


"Tapi kamu jangan kasih tahu ke orang lain ya"


Tiara mengangguk mengiyakan ucapan Yuda.


"Jadi waktu itu aku ngelihat dia konsumsi obat-obatan terlarang. Karena dia takut kalau aku ngasih tahu ke guru, akhirnya dia mohon-mohon ke aku. Tadinya aku mau ngelaporin dia, tapi karena aku kasihan, makanya aku gak jadi ngelaporin. Terus waktu istirahat, aku kembali ke kelas. Dan disitu aku ngelihat masukin barang haram itu ke tas aku, dan disitulah aku berantem sama dia sampai-sampai ngomong kasar. Bahkan orang-orang yang ada diluar kelas sampai ngelihatin dari luar" jelas Yuda.


"Kok dia jahat banget, padahal kan kamu gak akan ngelaporin"


"Mungkin dia ngira aku bakal ngelaporin dia ke guru. Jadi dia bermaksud nyimpen obat itu di tas aku, supaya aku yang jadi tersangkanya, karena obat-obatan itu ada didalam tas aku"


"Setelah itu gimana?"


"Guru datang ke kelas. Terus aku sama dia disuruh ke ruang BK. Lalu, aku jelasin deh ke guru BK yang sebenarnya. Bahkan kita sampai di tes urine segala karena orang itu nuduh aku pakai obat juga"


"Orang itu udah pindah?"


"Bukan pindah, tapi dikeluarkan dari sekolah"


"Orang-orang tahu gak kalau dia pindahnya karena masalah itu?"


"Enggak. Yang mereka tahu, dia pindah sekolah"


"Jahat banget ya orang itu, pake nuduh kamu segala"


"Jadi ngerti kan kenapa aku bisa se-marah itu"


"Iya, aku ngerti kok. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku juga akan ngomong kasar"


"Tapi aku gak yakin kalau kamu ngomong kasar"


"Kenapa gak yakin?"


"Karena kamu gak mungkin bilang kayak gitu"


"Aku bisa ngomong kasar"


Karena Yuda meragukan bahwa Tiara tidak bisa berbicara kasar. Akhirnya Tiara dengan berani menyebut nama-nama binatang didepan Yuda.


Harusnya Yuda kesal, tetapi karena cara Tiara mengucapkannya sambil tersenyum, maka Yuda jadi semakin gemas dengan Tiara.


"Kalau kamu yang ngomong kok malah jadi lucu" ujar Yuda.


"Aku ngomong kasar kok dibilang lucu"


"Kalau ngomong kasar itu harus sambil marah dan jangan senyum kayak gitu"


"Tapi kan aku cuma kasih contoh doang"


"Tapi itu salah contohnya"


"Coba kasih contoh sama kamu"


Yuda mempraktekkan ketika ia sedang marah sambil berkata kasar.

__ADS_1


Jujur saja, walaupun Yuda hanya mencontohkan, tetapi Tiara sedikit takut.


"Yuda, Tiara. Kalian berdua ngapain disini?"


Tiara dan Yuda menoleh kearah seseorang yang memanggilnya.


Dan ternyata orang itu adalah mamahnya Yuda.


"Eh! mamah"


"Harusnya kalian kesininya sore, jangan setelah pulang dari sekolah. Kan habis sekolah pasti capek, jadi harusnya kalian istirahat" ujar mamah Yuda.


"Kita disini karena mau belajar, mah" ujar Yuda.


"Belajar apa?"


"Belajar ngomong kasar, mah" ujar Tiara dan ia mendapatkan tatapan tajam dari Yuda.


"Ya ampun Yuda! kamu ini malah ngajarin Tiara ngomong kasar"


"Enggak kok, mah"


"Tadi kata Tiara, katanya kamu ngajarin"


"Tiara bohong, mah" kata Yuda.


"Bohong, Ra?" tanya mamah Yuda.


Tiara hanya diam saja, karena memang benar tadi mereka sedang mencontohkan berbicara kasar.


Ia sangat bingung, jika ia berbicara yang sebenarnya, nanti mamah akan marah kepada Yuda. Tapi kalau tidak jujur, ia takut berdosa kepada mamah Yuda.


Dengan melihat Tiara terdiam, mamah Yuda yakin bahwa anaknya mengajarkan Tiara berkata kasar.


"Udah lah, mamah mau kesana dulu" ujar mamah Yuda sambil pergi menghampiri karyawan-karyawannya.


"Ra, kenapa gak bohong aja sih"


"Kalau bohong nanti dosa, apalagi bohong ke orang tua"


"Tapi kan tadi kita ngasih contoh aja"


"Tapi itu sama aja ngomong kasar"


Yuda terdiam, karena benar juga apa kata Tiara.


Sehabis dari cafe, Yuda mengantarkan Tiara pulang.


Sepanjang jalan mereka terus mengobrol, berbeda dengan saat perjalanan ke cafe.


Selama perjalanan, mereka berdua membicarakan hal-hal random. Saking keasikan mengobrol, sampai-sampai perjalanan menuju rumah Tiara terasa sangat singkat.


"Makasih ya" Tiara turun dari motor Yuda.


"Iya"


"Yud, nanti malam jangan telepon ya"


"Kenapa?"


"Aku mau belajar"


"Iya, nanti aku gak akan telepon kok"


"Kamu juga jangan lupa belajar"


"Iya, tapi kalau ingat" ujar Yuda sambil cengengesan.


"Hati-hati ya"


"Iya" ujar Yuda, lalu Yuda segera pergi.


Setelah Yuda pergi, tiba-tiba seseorang datang menghampiri Tiara.


"Tiara"


Tiara menoleh kearah seseorang yang memanggilnya.


Tiara mengingat orang itu.


Dan orang itu adalah temannya Yuda.


"Hai" Tiara menyapanya.


"Kamu tinggal disini?"


"Iya"


"Jadi tetangga dong kita"


"Kamu tinggal disini juga?"


"Iya. Aku baru pindah"


"Rumahnya yang disebelah sana, deket pohon besar"


"Oh rumah yang itu"


"Ini rumah kamu?" tunjuk temannya Yuda.


"Iya"


"Oh iya! nama kamu siapa sih? soalnya aku lupa"


"Aku Alvin"


Tiara merasa aneh, perasaan waktu itu ia mengatakan bahwa namanya Alfi.


Tapi mungkin karena waktu itu ia salah dengar, maka bisa jadi kalau orang itu namanya Alvin.


"Alvin, aku masuk dulu ya"


"Iya"


Tiara masuk kedalam rumah sambil bertanya-tanya. Perasaan dirinya waktu itu tidak salah dengar, tapi kenapa nama orang itu berganti yang asalnya Alfi menjadi Alvin.


Karena ia sedikit parno, akhirnya ia menghampiri ibunya yang sedang menonton televisi.


"Kok baru pulang?" ujar ibu.


"Iya soalnya tadi ke cafe dulu sama Yuda"


"Tadi gimana ulangannya?"


"Lumayan gampang kok, bu. Soalnya Tiara kan belajar semalam"


"Nanti malam belajar lagi, biar besok mudah mengerjakannya"


"Iya siap, bu"


"Ya sudah sana ganti baju dulu"


"Iya, bu" Tiara pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Sesudah berganti pakaian, ia kembali menghampiri ibunya.


"Bu, ibu pernah salah denger gak?"


"Setiap orang pasti pernah salah denger, Ra" kata ibu.


"Kalau posisi ngobrolnya deket, emang bisa salah denger?"


"Bisa jadi. Mungkin karena orang itu sedang fokus, jadi dia gak denger apa yang dibicarakan temannya"


"Tapi posisinya kita saling natap satu sama lain"


"Mungkin pelafalan kata yang diucapkannya hampir mirip, makanya salah denger"


"Iya juga sih"


...****...


Jam 20.00 wib


Karena Tiara kepikiran soal lelaki itu, akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Yuda.


Tak lama, Yuda menjawab panggilan telepon dari Tiara.


"Hallo, Ra"


"Yuda, aku ganggu gak?"


"Enggak. Emang ada apa?


"Kamu punya temen yang namanya Alvin gak?"


"Aku gak punya temen yang namanya Alfi ataupun Alvin"


"Tuh kan! aneh banget"


"Aneh kenapa?"


"Jadi kan waktu itu dia ngasih tahu aku kalau dia temen kamu dan namanya itu Alfi. Tapi tadi aku ketemu lagi sama dia, tapi dia bilang kalau namanya Alvin"


"Coba kamu sebutin ciri-ciri orang itu, siapa tahu aku kenal"


Tiara mengingat-ingat wajah cowok itu.


"Ada luka diatas alisnya"


Yuda hanya diam, mungkin ia sedang mengingat-ingat.


"Ra, lain kali kamu jauhin orang itu deh"


"Emang kenapa?"


"Kayaknya aku kenal sama orang itu"


"Beneran temen kamu?"


"Bukan!"


"Terus dia siapa dong?"


"Dia orangnya, Ra"


"Maksudnya?" bingung Tiara.


"Dia yang masukan obat-obatan ke tas aku"


"Serius dia orangnya?"


"Aku yakin pasti dia"


"Terus gimana dong? mana rumah orang itu Deket sama rumah aku"


"Rumahnya deket rumah kamu?"


"Iya. Dia baru aja pindah"


"Aku yakin dia sengaja pindah. Dia pasti pingin nyelakain orang-orang yang deket sama aku. Waktu dulu aja Karin pernah hampir diserempet motor dan aku yakin dia yang hampir serempet Karin"


"Terus gimana dong, Yud? aku takut"


"Nanti kalau kamu lagi sendiri di rumah, jangan lupa kunci pintunya"


"Iya, nanti aku bakal kunci pintu kok"


"Pokoknya kalau ada apa-apa, nanti telepon ibu kamu atau aku aja ya"


"Iya"


"Ya udah kalau gitu aku matiin ya teleponnya. Soalnya aku mau belajar"


"Iya"


Tiara mematikan panggilan teleponnya.


Sejujurnya ia sangat takut, ia rasa yang dikatakan Yuda memang benar, bahwa cowok itu akan balas dendam ke Yuda dan dia membalaskan dendamnya melalui orang-orang terdekat Yuda.

__ADS_1


Tiara teringat saat orang itu mengatakan bahwa dirinya tidak sekolah. Dan ia membandingkan antara omongan orang itu dengan curhatan Yuda waktu di cafe. Dan ternyata memang benar ucapan Yuda kalau orang itu dikeluarkan oleh sekolah.


Tiara berusaha tidak memikirkan hal ini dan ia kembali membaca buku catatan sejarahnya.


__ADS_2