Love Yourself

Love Yourself
Episode 72


__ADS_3

Tiga hari kemudian, akhirnya Tiara kembali ke sekolah. Karena Yuda tidak tahu bahwa Tiara akan sekolah, jadinya Tiara berangkat dengan menggunakan ojek.


Saat sampai di sekolah, Tiara turun dari motor dan tak lupa ia membayar ongkosnya. Kemudian Tiara buru-buru pergi ke kelasnya karena ia sudah tidak sabar bertemu dengan teman-temannya.


Setibanya di kelas, semua orang melihat kearah Tiara. Mungkin karena ia baru masuk lagi, jadinya orang-orang pada melihat kepadanya.


"Kamu udah sembuh, Ra?" ucap Revan.


"Iya udah" ujar Tiara sambil menaruh tas nya.


Tiba-tiba Kezia datang menghampiri Tiara. "Ra, aku mau ngomong sesuatu sama kamu"


"Ya udah ngomong aja"


"Diluar aja ngomongnya"


"Ya udah"


Tiara dan Kezia pergi keluar.


"Mau ngobrol apa, Zia?


"Ra, katanya Revan suka ya sama kamu?"


Tiara terdiam sejenak. "Dia gak suka sama aku kok"


"Jangan bohong! aku tahu semuanya"


"Kamu tahu dari mana?"


"Gak penting tahu dari mananya"


Tiara hanya diam saja karena ia merasa bersalah karena telah berbohong.


"Kamu juga ngomongin aku kan? terus kamu ngejelekin aku didepan Revan"


"Enggak. Aku sama sekali gak jelekin kamu, malah aku ngomong yang baik-baik tentang kamu ke Revan, supaya dia mau sama kamu"


"Ara!" panggil Yuda sambil berlari kearah Tiara dan Kezia.


"Kamu udah sembuh, Ra?" ujar Yuda.


"Iya, aku udah sembuh kok"


"Kenapa gak ngasih tahu ke aku? mungkin kalau ngasih tahu aku bakal berangkat sekolah bareng kamu"


Lalu Kezia kembali masuk kedalam kelas karena ia merasa dikacangin.


"Tadi kamu ngobrol apa sama Kezia?"


"Kezia udah tahu kalau Revan suka sama aku"


"Terus dia marah gitu ke kamu?"


"Marahnya sih kayaknya bukan karena itu. Tapi karena katanya aku ngomongin dia dan ngejelek-jelekin dia ke Revan. Padahal kan aku gak pernah jelek-jelekin dia"


"Dia kok bisa nuduh kamu kayak gitu" heran Yuda.


"Mungkin ada orang yang ngehasut kali"


"Siapa orangnya?"


"Aku gak tahu"


Sesudah mengobrol tentang Kezia, Tiara dan Yuda masuk kedalam kelas.


Dikarenakan jam pelajaran pertama itu pjok, semua anak kelas XI MIPA 1 bergegas menuju lapangan karena pak Mario sudah menunggu di lapangan basket.


Ya, hari ini mereka akan bermain basket. Karena yang bermain pertama laki-laki dulu, akhirnya yang perempuan duduk dipinggir lapangan sambil melihat anak-anak cowok yang bermain basket.


Sepanjang permainan basket, Tiara terus fokus melihat Yuda. Tiara terpesona dengan Yuda saat bermain basket. Memang benar pesona anak basket tidak diragukan lagi, apalagi jika dia sedang mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Fokus banget lihatinnya" ujar Ayu.


Tiara menoleh kearah Ayu dan ia hanya tersenyum.


"Kamu beneran udah sembuh, Ra?"


"Aku udah sembuh kok"


"Eh tahu gak? waktu kemarin aku chat sama Daffa loh"


"Yu, kamu itu jadinya mau pilih yang mana sih?"


"Maksudnya?"


"Kan waktu itu kamu deketnya sama Ardiansyah, tapi kok sekarang berpindah haluan"


"Sekarang kayaknya Daffa deh, soalnya Ardiansyah terlalu cuek"


"Kalau Daffa nya udah punya pacar gimana?"


"Eh! iya juga ya"


"Hayo loh! Jadi yakin mau sama dia?"


Ayu berpikir sejenak. "Ra, nanti tanyain dong ke Daffa"


"Kok jadi gue yang nanya"


"Kan lo udah punya pacar, jadi gak masalah kalau nanya. Sedangkan kalau gue yang nanya, nanti ketahuan doang kalau gue suka"


"Padahal kamu baru kenal beberapa hari loh, masa langsung suka"


"Yuda juga kayak gitu kan"


Dipikir-pikir benar juga kata Ayu. Yuda juga suka kepada Tiara padahal waktu itu dia dan Tiara belum lama kenal.


Tiara jadi teringat waktu Yuda terus-menerus mengejar Tiara. Walaupun berkali-kali ditolak, tapi Yuda terus berusaha supaya bisa menjadi pacar Tiara. Entah apa yang dia sukai dari Tiara. Tadinya Tiara juga heran kepada Yuda, padahal kalau dilihat-lihat Yuda bisa dapat cewek yang lebih baik daripada Tiara.


Bahkan Tiara berpikir, cewek secantik Karin juga diputusin cuma gara-gara Karin terus-menerus nyuruh Yuda belajar. Tiara kadang berpikir, apakah nanti Yuda juga akan memutuskan Tiara dengan alasan yang klasik?


Kadang Tiara suka insecure melihat Karin, karena menurutnya Karin merupakan mantan Yuda yang paling cantik. Walaupun Tiara tidak pernah melihat Chelsea, Sarah dan Putri, tapi dengan Yuda menyebut Karin sebagai mantan tercantik, membuat Tiara sedikit insecure. Selain cantik, dia juga sangat berprestasi. Bahkan setiap selesai upacara, namanya selalu dipanggil karena Karin selalu mendapatkan juara lomba.


Sebenarnya Tiara udah bersiap dari awal jika Yuda memutuskannya, karena biasanya cowok kalau sudah bosen memang suka mencari alasan untuk putus.


Memang sih sekarang sepertinya Yuda sangat bucin kepada Tiara, tapi Tiara tidak tahu kalau nantinya seperti apa.


Kalau cinta sih Tiara benar-benar sudah jatuh cinta dengan Yuda. Tapi kalau dipikir-pikir harusnya tidak terlalu dalam mencintainya, karena takutnya Yuda membuat Tiara kecewa.


Yuda memang baik, peduli dan sayang sama Tiara dan begitupun Tiara. Tapi entah kenapa Tiara sedikit takut jika suatu saat nanti Yuda mencari perempuan lain. Ia takut seperti ayahnya yang ditinggalkan ibunya karena ibunya selingkuh. Tiara takut kejadian seperti itu. Memang sih Tiara dan Yuda belum menikah, tetapi walaupun pacaran tetap saja takut jika diselingkuhi.


"Ra, ayo main!" kata Ayu.


Saking memikirkan hal ini, sampai-sampai Tiara heran karena sekarang sudah giliran anak perempuan yang bermain basket. Ia buru-buru ke lapangan untuk bermain basket bersama anak-anak cewek lainnya.


...****...


Skip


Seperti biasa jika sedang istirahat semua orang pergi menuju kantin.


"Kamu mau jajan apa?" ujar Yuda.


"Aku mau beli jus aja"


"Makanannya mau apa?"


"Aku gak mau beli makanan"


"Kenapa gak beli makanan?"


"Soalnya aku gak nafsu makan"


"Kamu masih sakit ya?" ujar Yuda karena biasanya orang yang sedang sakit tidak nafsu makan.


"Enggak kok, aku udah sembuh"


"Tapi kok gak nafsu makan"


"Ya kan belum tentu orang yang gak nafsu makan itu lagi sakit"


Tiara pergi menuju penjual jus, lalu Yuda juga mengikuti Tiara dari belakang.


Pada saat mengantri untuk membeli jus, ia bertemu dengan Karin. Entah kenapa kalau Tiara sendirian, Karin selalu menyapanya. Sedangkan jika ada Yuda bersama Tiara, Karin sama sekali tidak menyapa Tiara.


Apakah Karin se-benci itu pada Yuda?


Sepertinya memang begitu, dilihat dari tatapannya yang seolah-olah benci terhadap pacar Tiara. Bahkan waktu itupun Karin sempat menjelek-jelekkan Yuda ke Tiara.


Tiba-tiba Yuda merangkul pundak Tiara, seakan-akan ia sedang membuat Karin cemburu.


Disitu Tiara berpikir, apakah Yuda sengaja berpacaran dengan Tiara karena dia cuma ingin menunjukkan ke Karin bahwa dia telah memiliki pacar lagi.


Tiara menoleh kearah Yuda dan Yuda tersenyum dengan tulus kepada Tiara.


"Kenapa?" ujar Yuda, lalu Tiara hanya menggelengkan kepalanya.


Kalau dipikir-pikir Tiara kenal Yuda terlalu singkat, jadi wajar jika Tiara selalu overthinking seperti ini.


Tiara menghela nafasnya.


"Kenapa sih, Ra?" bingung Yuda.


"Aku gak kenapa-napa"


"Terus kenapa menghela nafas kayak gitu?"


"Emang gak boleh ya kalau aku menghela nafas?"


"Bukan gak boleh. Tapi kayaknya kamu kayak lagi mikirin sesuatu ya?"


"Enggak kok"


Sesudah membeli jus, keduanya segera duduk bersama Ayu, Randy dan Daffa.


Ayu berbisik ke telinga Tiara. "Ra, ayo tanyain ke Daffa"


"Sekarang?"


"Nanti tunggu beberapa menit, soalnya kalau langsung nanti ketahuan kalau aku yang nyuruh kamu buat nanya ke dia" bisik Ayu.


"Kalian berdua bisikin apa sih?" heran Randy.


"Itu kita lagi ngegosip tentang cewek kelas lain" bohong Ayu.


"Jangan nge-gosip, dosa loh ngomongin orang" kata Yuda.


"Kayak yang gak pernah ngomongin orang aja" ujar Ayu.


"Emang gak pernah" kata Yuda.


"Alah! pernah ngomongin mantan juga, pake bilang gak pernah segala"


"Yuda ngomong apa tentang mantannya?"


"Ngomongin tentang Rindu yang selingkuh" sahut Yuda.


"Selain itu, ngomong apa lagi?"


"Gak ngomongin apa-apa lagi kok"


"Bohong! dia bilang masih inget Putri katanya" ujar Randy.


"Mantannya yang udah meninggal itu?" tanya Ayu.


"Iya" kata Randy.


Memang benar, seseorang pasti memiliki mantan terindah. Dan sepertinya Putri adalah mantan yang terindah bagi Yuda.


Meskipun Tiara tahu bahwa Putri telah tiada, tetapi ia sedikit cemburu. Bahkan Putri sangat lama berpacaran dengan Yuda dan tentunya dia pasti mengenal Yuda lebih dalam. Sedangkan Tiara, ia tidak begitu mengenal Yuda dari dalam.


"Daf, lo ngomong kek. Diem mulu lo" ujar Randy.


"Ngomong apa?" bingung Daffa, karena ia tidak tahu harus bicara apa.


"Daf, lo udah punya pacar belum?" tanya Tiara, sontak membuat Yuda terkejut mendengarnya.


"Kamu ngapain nanya kayak gitu, Ra?" ujar Yuda sedikit cemburu.


"Aku pingin nanya aja"


"Aku gak punya pacar" kata Daffa.


Ucapan Daffa membuat Ayu tersenyum, ia jadi ada sedikit harapan untuk bisa dekat dengan Daffa.


Suasana menjadi canggung setelah Tiara bertanya kepada Daffa. Karena Yuda sedikit cemburu sebab Tiara bertanya seperti itu, seakan-akan Tiara akan mendekati cowok itu. Sedangkan Tiara, ia diam karena mengingat bahwa katanya Yuda sering berbicara tentang Putri ke Randy. Kalau Ayu diam karena terlihat jelas dari mukanya bahwa dia sepertinya sedang membayangkan jika dia berkencan dengan Daffa. Sedangkan Randy, diam karena ia bingung dengan teman-temannya yang tiba-tiba jadi canggung seperti ini. Padahal sebelumnya mereka tidak canggung.


...****...


Suasana di kelas hening, karena mereka sedang mengerjakan tugas masing-masing. Ditambah dengan jam pengumpulannya yang singkat, jadi mereka semua buru-buru mengerjakan tugas tersebut.


"Ra, nomer lima jawabannya yang mana?"


Tiara hanya menunjuk ke buku paket.


"Kamu baru nomer berapa?"


Lagi-lagi Tiara tidak berbicara, ia hanya memperlihatkan buku tugasnya kepada Yuda.


"Kenapa sih gak ngomong-ngomong?"


Tiara menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak apa-apa.


Yuda menghela nafas. "Pasti gara-gara ucapan Randy yang waktu di kantin ya?"


"Yuda, jangan ngobrol! cepat kerjakan! waktu pengumpulannya sebentar lagi" ujar Bu Anisa.


"Baik, bu" Yuda kembali mengerjakan tugasnya.


"Yang sudah selesai silahkan kumpulkan dan boleh pulang" ujar bu Anisa.


Tiara berjalan menghampiri bu Anisa dan ia mengumpulkan tugasnya. Sesudah itu ia memasukkan alat-alat tulisnya kedalam tas.


"Ra, tungguin didepan. Jangan dulu pulang" ujar Yuda, lalu Tiara kembali menghampiri bu Anisa dan ia salam kepada guru itu. Habis itu, Tiara menunggu diluar.

__ADS_1


Saat berada diluar, Tiara duduk dikursi. Ia berusaha untuk positif thinking kalau Yuda sangat mencintainya dibandingkan dengan mantan-mantannya.


Beberapa menit kemudian, Yuda keluar dari kelas dan ia menghampiri Tiara. Ia duduk disebelahnya sambil memikirkan kenapa Tiara melamun seperti ini. Bahkan sepertinya dia tidak sadar bahwa yang disampingnya adalah Yuda. Yuda memang sudah mengira bahwa Tiara sedang cemburu kepada mantan-mantannya Yuda. Ia tahu bahwa gadis disampingnya ini sering merasa tidak pantas untuknya.


Yuda memegang tangan Tiara. Karena terkejut, Tiara jadi menghempaskan tangan Yuda.


"Maaf, aku kira orang lain"


"Iya gak apa-apa. Ya udah ayo pergi!"


Mereka berdua pergi menuju parkiran sekolah.


Setibanya di parkiran, tiba-tiba Yuda menggendong Tiara dan meletakkannya di motornya. Lalu ia menatap Tiara.


Tiara bingung, kenapa Yuda mendudukkan Tiara dimotornya.


"Ra, kamu percaya gak kalau aku benar-benar cinta sama kamu?"


Tiara terdiam sejenak, kemudian ia mengangguk pelan.


"Kenapa harus mikir dulu?"


"Yud, aku mau pulang" Tiara mengalihkan pembicaraan.


"Nanti dulu. Aku mau ngomong dulu sama kamu"


Tatapan Yuda sangat mengintimidasi Tiara, hingga membuat Tiara merasa canggung.


"Aku lebih mencintai kamu dibandingkan dengan mantan-mantan aku"


"Hmm...buktinya apa?" tantang Tiara.


"Buktinya aku selalu ada buat kamu kan?"


Tiara terdiam karena waktu berpacaran dengan mantan-mantannya juga pasti juga selalu ada.


"Atau mau bukti yang lain?"


Tanpa aba-aba, Yuda langsung mencium bibir Tiara.


Karena takut ketahuan guru, Tiara langsung mendorong Yuda.


"Ayo pulang!" terlihat dengan sangat jelas bahwa saat ini Tiara salah tingkah, sebab pipinya sangat memerah.


Yuda berbisik ke telinga Tiara. "Itu first kiss aku" ujarnya, lalu Yuda menaiki motornya dan melajukannya menuju rumah Tiara.


Selama diperjalanan Tiara tidak yakin dengan ucapan Yuda tadi. Mana mungkin itu first kiss nya, secara kan mantan dia sangat banyak.


"Udah percaya belum?" ucap Yuda tiba-tiba.


"Apa?"


"Kalau aku lebih cinta sama kamu dibanding sama mantan-mantan aku"


Tiara tidak menjawab, karena bisa jadi Yuda berbohong.


"Masih gak percaya ya sama aku?"


Lagi-lagi Tiara hanya diam, bukan karena ia masih memikirkan mantan-mantan Yuda. Tapi ia diam karena ia berpikir kalau Yuda ini sedang bohong atau tidak


"Padahal udah aku buktikan, tapi masih aja kamu gak percaya sama aku" keluh Yuda.


"Wajar gak percaya. Lagian mantan kamu cantik-cantik, jadi pasti first kiss kamu bukan buat aku"


"Serius. Masa iya aku harus bawa kamu ke mantan-mantan aku dan nanya udah dicium atau belum sama aku"


"Jadi beneran aku yang jadi first kiss kamu?"


"Iya, beneran"


Sesudah sampai di rumah, Tiara turun dari motor.


"Ya udah sana pulang. Kok malah diem"


"Aku mau mastiin dulu, kamu percaya atau enggak sama aku"


"Yud, aku masuk dulu ya soalnya aku sakit perut" bohong Tiara.


Saat Tiara mau membuka pagar rumahnya, tiba-tiba tangan Yuda melingkar dileher Tiara.


"Cepat jawab dulu!"


"Lepasin, nanti tetangga bisa salah paham kalau lihat kita kayak gini"


"Ya biarin aja"


"Iya...iya aku percaya. Tapi cepet lepasin aku!"


"Aku tahu kamu terpaksa ngomongnya"


"Iya, aku percaya kok"


Yuda membalikkan badan Tiara agar menghadap kearah Yuda. "Ngomong sekali lagi dan sambil tatap mata aku"


Tiara menatap Yuda. "Iya, aku percaya"


Setelah mendengar Tiara berkata seperti itu, Yuda langsung tersenyum dan ia mengusap kepala Tiara. "Ternyata pacar aku cemburu sama mantan aku"


"Aku gak cemburu"


Yuda tersenyum jahil. "Yang bener?"


"Iya"


"Jadi beneran cemburu?"


"Bukan gitu, maksudnya iya bener kalau aku gak cemburu"


"Kalau cemburu ngaku aja kali"


"AKU GAK CEMBURU!" teriak Tiara sambil masuk kedalam rumah.


Disisi lain Yuda tertawa melihat tingkah Tiara.


...****...


Yuda POV


Sesampainya di rumah, Yuda langsung menghampiri mamahnya.


"Kamu kenapa senyum-senyum kayak gitu?" ujar mamah.


"Kenapa, mah?


"Kamu kenapa senyum-senyum?"


"Yuda lucu aja lihat Tiara yang cemburu sama mantan-mantan Yuda"


"Mantan yang mana?"


"Ya semua manta Yuda lah"


"Alasan cemburunya karena apa?"


"Awalnya gara-gara Randy yang bilang katanya Yuda ngomongin Putri dan disitu awal mula Tiara cemburu"


"Masalahnya Yuda ngomong soal Putri nya udah lama, tapi Randy malah ngebahas itu"


"Putri mantan kamu yang udah meninggal kan?"


"Iya"


"Kamu ngomong apa emang ke Randy soal Putri?"


"Yuda cuma ngomong kalau Yuda pingin banget ke makamnya Putri"


"Emang kamu belum pernah ke makamnya?"


"Belum"


"Masa cuma kamu ngomong gitu, Tiara jadi cemburu ke Putri" heran mamah.


"Sebenarnya tadi Tiara gak nanya tentang apa yang Yuda omongin tentang Putri. Tapi pastinya dia pikir bahwa Yuda masih belum move on sama Putri"


"Harusnya kamu jelasin Tiara" ucap mamah.


"Pasti sekarang dia kepikiran deh tentang apa yang kamu bicarakan ke Randy tentang Putri" ucap mamah lagi.


"Yuda sengaja gak bilang, soalnya Yuda emang pingin buat Tiara cemburu"


"Sifat kamu itu mirip papah tahu gak, seneng banget kayaknya bikin cewek cemburu"


"Ya wajar lah mirip, kan Yuda anaknya"


"Yud, kamu lebih sayang sama mamah atau papah?"


"Dua-duanya lah, mah"


"Kalau pilih salah satu, kamu pilih siapa?"


"Yuda sih pilih yang sering ngasih uang" ujar Yuda sambil tertawa.


"Kamu uang mulu pikirannya"


"Mah, minta uang dong"


"Tuh kan! mamah dari tadi udah curiga nih saat kamu nyamperin mamah, pasti ujung-ujungnya minta uang"


"Ya udah mana?"


"Gak ada"


"Ya udah deh Yuda pilih papah aja" ujar Yuda sambil pergi ke kamarnya.


Tadinya kalau diberi uang oleh mamahnya, Yuda akan pergi ke suatu tempat. Soalnya dia sangat bosan berada di rumah.


Saat berada di kamar, Yuda segera berganti pakaiannya. Habis itu, ia menelepon Randy untuk mengajaknya main. Tapi karena Randy sangat lelah, ia menolak ajakan Yuda. Dengan terpaksa Yuda pergi sendiri.


Sebenarnya saat ini Yuda tidak tahu mau kemana. Ia keluar hanya untuk menghilangkan bosannya. Kalau main berdua sama Randy juga seperti itu, tapi bedanya kalau berdua, mereka sering kulineran. Tadinya Yuda juga ingin kulineran, tapi kalau sendirian rasanya tidak seru.


Yuda ingin sekali mengajak Tiara, tapi ia tidak mau kalau Tiara kelelahan karena ia kan baru pulang sekolah. Kalau Yuda sih, ia sama sekali tidak lelah karena mungkin sudah terbiasa main sehabis pulang sekolah.


Karena merasa lapar, akhirnya Yuda berhenti disebuah tempat kulineran.


Ia turun dari motor, kemudian ia menghampiri pedagang yang berjualan mie ayam. Yuda memesan mie ayam, lalu ia menunggu ditempat yang telah disediakan.


"Yuda" panggil seseorang.


Yuda menoleh kearah orang itu. "Eh kamu"


Dan ya orang itu adalah Zahra, orang yang pernah Yuda tolong waktu ia terpeleset di kantin dan juga orang yang telah Yuda bantu saat sedang dijalan raya.


"Kamu kesini sendiri?" ujar Zahra.


"Iya"


"Aku boleh duduk disini?"


"Boleh, lagian gak ada yang ngelarang juga"


Zahra duduk berhadapan dengan Yuda.


Tak lama pedagang mie ayam menghampiri Yuda dan Zahra, lalu pedagang itu menaruh mangkuk yang berisi mie ayam di meja.


"Ini yang siapa, pak?" tanya Zahra.


"Punya dia" pedagang tersebut menunjuk ke Yuda. Setelah itu ia kembali membuatkan pesanan.


"Kamu dulu aja" ujar Yuda.


"Kamu aja, kan duluan kamu yang datang"


"Ladies first dulu" Yuda mendekatkan mangkuk tersebut.


"Pak!" panggil Yuda kepada bapak-bapak penjual es kelapa muda.


"Iya ada apa?" ujar bapak penjual es kelapa.


"Saya pesen dua es kelapa ya"


"Iya siap" ujar bapak penjual es.


"Pak, saya juga pesen es kelapa satu" ujar Zahra.


"Udah jangan, kan aku beli dua buat aku sama kamu"


Lalu penjual es kelapa itu segera membuatkan pesanan.


"Makasih"


"Iya sama-sama"


"Ngomong-ngomong orang tua kamu gimana kabarnya?"


"Orang tua aku baik kok" ujar Zahra.


"Btw, kamu gak sama pacar kamu?" tanya Zahra.


"Enggak. Soalnya dia pasti capek habis pulang sekolah"


"Oh gitu"


"Kamu dari sekolah langsung kesini?"


"Iya"


"Kenapa gak pulang dulu?"


"Gak kenapa-napa"


Sepertinya Yuda tahu kenapa dia tidak pulang terlebih dahulu. Yuda berpikir bahwa Zahra sedang ada masalah dengan kedua orang tuanya sebab ia melihat mata Zahra seperti yang habis menangis.


"Ini pesanannya, mas" ujar pedagang mie ayam dan pedagang es kelapa. Setelah itu mereka berdua pergi.


"Nanti mie ayamnya sekalian aku bayar juga ya"

__ADS_1


"Eh! gak usah"


"Gak apa-apa"


"Makasih"


"Iya"


Setelah itu, Yuda dan Zahra menikmati mie ayam tersebut.


Yuda mentraktir Zahra bukan karena ia suka, melainkan ia kasihan. Bukan kasihan karena Zahra tidak punya uang, lagian sebenernya Zahra ini orang yang berada. Tapi Yuda meneraktirnya karena Yuda pikir habis ini dia tidak akan pulang dulu ke rumah, dan pastinya ia akan pergi ke rumah temannya.


Yuda jadi teringat saat ia SMP, waktu itu ia berantem dengan orang tuanya. Bukannya pulang ke rumah, ia malah main ke rumah temannya. Pada saat itu uangnya habis, tapi karena teman-teman baik, jadi Yuda tidak kelaparan soalnya teman-temannya mentraktir dia.


Kalau dipikir-pikir Yuda juga heran, kenapa dulu ia sampai pergi dari rumah, padahal waktu itu ia yang salah.


Dulu dia pergi itu karena ia pernah dipanggil BK karena ia ketahuan merokok di sekolah. Terus dipanggil lah orang tuanya. Bukannya minta maaf kepada orang tuanya, Yuda malah pergi dari rumah. Tapi sehari kemudian, ia balik lagi ke rumah karena ia sangat membutuhkan orang tuanya.


"Yud, kamu udah berapa lama sama Tiara?


"Baru tiga bulan"


"Tiara itu anak pindahan kan ya?"


"Iya, dia anak pindahan"


"Asalnya dia sekolah dimana?"


"Di SMA Merah Putih"


"Kenapa pindah?"


"Karena rumahnya pindah, makanya sekolahnya juga pindah"


"Tiara cantik banget deh, aku jadi iri"


"Iya Tiara cantik banget, tapi kamu juga cantik kok"


Yuda sengaja bilang begitu, karena ia takut Zahra jadi insecure.


"Aku gak cantik tahu, soalnya aku tuh gak suka pake makeup"


"Kamu gak pake makeup juga cantik kok"


"Beneran?"


"Iya. Kan semua cewek emang cantik"


"Kalau Tiara suka pakai makeup gak?"


"Waktu kelas sepuluh sih dia cuma pakai bedak sama lipbalm doang. Tapi sekarang dia mulai coba-coba pakai liptint sama buat ngelentikin mata"


"Maksudnya maskara?"


"Iya"


"Aku pingin deh bisa makeup kayak Tiara"


"Emang gak bisa pakai liptint atau bedak gitu?"


"Gak bisa"


"Bukannya bibir kamu pakai liptint ya?"


"Aku gak pakai liptint"


"Tapi kok bibir kamu warna pink"


"Bibir aku emang warna aslinya kayak gini kok"


Yuda hanya mengiyakan saja apa yang Zahra katakan. Sebenarnya Yuda juga tahu bahwa Zahra memakai liptint, cuma Zahra tidak mengaku saja.


"Oh iya! di kelas kamu ada anak baru lagi ya?" ujar Zahra.


"Iya"


"Namanya siapa?"


"Daffa"


"Aku denger-denger katanya dia pindah karena ada kasus"


"Kasus apa?"


"Aku denger-denger katanya dia anak geng motor yang suka berantem-berantem gitu. Makanya dia dikeluarkan gara-gara bikin orang babak belur"


"Emang itu kata siapa?"


"Ya kata temen-temen kelas aku"


"Awal mulanya kata siapa?"


"Aku juga gak tahu awal mulanya dari siapa. Tapi katanya emang bener kalau dia anak geng motor"


"Kayaknya saking penasaran sama anak baru itu,. orang-orang jadi kepo sama kehidupannya ya" heran Yuda.


...****...


Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Tadinya Tiara ingin tidur, tapi karena Yuda menelponnya, terpaksa Tiara bangun dan menjawab panggilan telepon dari Yuda.


"Ada apa?"


"Ra, aku gak bisa tidur"


"Kalau gak bisa tidur kenapa malah telepon aku?"


"Soalnya aku harus denger suara kamu dulu, baru nanti aku bisa tidur"


"Sekarang udah denger kan? jadi ya udah tidur sana!"


"Aku harus denger kamu nyanyi dulu, baru aku bisa tidur"


"Aku gak bisa nyanyi"


"Jangan bohong"


"Beneran, aku emang gak bisa nyanyi"


"Ya udah kalau gak mau nyanyi, berarti kamu harus temenin aku teleponan sampai aku tidur"


"Yud, masalahnya aku udah ngantuk"


"Oh gitu ya. Ya udah matiin aja"


Tiara mematikan teleponnya.


Karena haus, Tiara keluar dari kamar dan ia pergi menuju dapur.


Pada saat melewati ruang tengah, Tiara melihat ibu yang sedang memeriksa tugas murid-muridnya.


"Bu, mau Tiara bantuin gak?"


"Boleh"


"Ya udah kalau gitu Tiara mau minum dulu ya, nanti habis itu Tiara kesini lagi"


"Iya"


Tiara berjalan menuju dapur untuk minum. Sesudah minum, ia kembali menghampiri ibu dan membantunya memeriksa tugas murid-murid ibu.


Pada saat memeriksa, tiba-tiba Tiara teringat ketika ia membantu ayahnya memeriksa ulangan murid-murid ayah.


Satu jam kemudian, akhirnya tugasnya sudah selesai diperiksa dan dinilai.


"Makasih ya udah bantuin ibu"


"Iya sama-sama, bu"


"Ya udah kamu tidur sana!"


Tiara pergi menuju kamarnya. Entah kenapa saat berada di kamar, ia menjadi tidak mengantuk. Padahal tadi waktu teleponan dengan Yuda, ia sangat mengantuk.


Sebab Tiara jadi tidak mengantuk, akhirnya ia menelpon Yuda. Aneh memang, padahal tadi ia yang ingin mengakhiri panggilan telepon dari Yuda. Tapi sekarang, ia malah balik menelepon.


Tak lama, Yuda menjawab panggilan telepon dari Tiara.


"Maaf, lelaki yang anda telepon sedang tidur" Yuda menirukan suara wanita yang bisanya ada ditelepon.


"Oh udah tidur ya, ya udah gak jadi deh teleponnya"


"Eh! jangan dong!"


"Tadi katanya udah tidur"


"Bercanda, sayang"


"Sayang sayang, emang aku pacar kamu?"


"Kan aku emang pacar kamu"


"Aku jomblo"


"Jahat banget gak diakuin"


"Yud, aku mau curhat"


"Mau curhat apa?"


"Tadi aku ngantuk, tapi sekarang enggak"


"Itu curhatnya?"


"Iya"


Tiara tertawa kecil, ia tidak tahu kenapa menjadi random seperti ini.


"Kalau gitu aku juga mau curhat" ujar Yuda.


"Curhat apa?"


"Tadi ada cewek, terus dia sering melamun gitu. Aku tanya dong dianya tapi dia gak jawab"


"Ini cerita horor ya?"


"Ih jangan dipotong dulu! aku belum selesai ngomong"


"Maaf. Ya udah cepet lanjut!"


"Aku tanya dia, tapi dianya gak jawab. Dan ternyata...."


Tiara semakin penasaran.


"Dia cemburu sama mantan-mantan aku"


"Kamu nyindir aku ya?"


"Emang kamu ngerasa?"


"Ya ngerasa lah, kan itu aku"


"Nyadar juga ternyata"


"Sebenarnya aku itu gak cemburu, tapi lebih ke insecure"


"Ngapain insecure?"


"Habisnya mantan-mantan kamu pada cantik"


"Kamu cantik loh, Ra"


"Aku gak secantik mantan kamu"


"Kamu lebih cantik dari mantan-mantan aku"


"Enggak! mantan kamu lebih cantik"


"Banyak loh yang bilang kamu cantik. Jadi kamu gak boleh insecure"


"Siapa yang bilang aku cantik?"


"Aku, mamah sama papah aku, Ayu, Randy, Amanda"


"Kamu bohong, itu kan orang yang deket sama aku dan kamu. Jadi pasti mereka pasti muji"


"Ada satu lagi, yang waktu itu kita bantuin di jalan raya. Dia bilang kamu cantik"


"Emang dia pernah bilang ke kamu?"


"Iya, tadi habis pulang sekolah aku ketemu dia di tempat yang jual mie ayam. Dan dia bilang kalau kamu cantik banget"


"Aku gak percaya"


"Serius. Atau aku perlu tanya satu-satu siswa di sekolah, biar kamu tahu bahwa cantik"


"Ya gak gitu juga"


"Terus gimana caranya biar kamu gak insecure lagi?"


"Gak ada caranya. Soalnya cewek kan biasanya emang sering insecure, Yud. Mau secantik apapun, tapi kalau dia merasa kurang. Dia pasti insecure"


"Aku saranin ya, jangan insecure. Dengan insecure, kamu akan selalu membandingkan kekurangan kamu dengan orang lain dan itu akan membuat kamu menjadi iri. Kalau iri sama orang kan gak baik. Maka dari itu sekarang lebih baik kamu cintai diri sendiri aja supaya kamu selalu bersyukur"


"Makasih sarannya, Yud"


"Sekarang udah gak insecure kan?"


"Masih dikit"


"Ya ampun! aku sampai berbusa-busa nasehatin kamu, tapi kamu malah tetap insecure"


Tiara tertawa saat mendengar nada bicara Yuda dan ia tahu bahwa Yuda sangat kesal dengannya.


"Malah ketawa lagi, bukannya mikir"


"Mikir apa?"

__ADS_1


"Ya mikir supaya kamu lebih bisa mencintai diri sendiri"


__ADS_2